Bab 8

1073 Kata
Dua minggu kemudian .... “Mas. Kamu nggak kerja? Ini ... udah dua minggu semenjak pesta itu, ‘kan.” Aira bertanya bingung. Pasalnya, Eric selalu di rumah semenjak membawanya pulang dari pesta beberapa waktu lalu. Bahkan, ponselnya dibiarkan tergeletak di laci nakas. Eric menggeleng. “Tuan Respati memberi saya cuti setengah bulan. Besok baru berangkat.” “Cuti?” Aira bertanya dengan dahi mengerut. “Atas dasar apa sampai cuti selama itu, Mas?” Bibir merah gelap itu mengembangkan senyum ragu. Ia bersandar di sofa. Jujur, ia memang menghindari Respati. Pada pesta malam itu, ia tidak melakukan apa yang diperintahkan Respati. Bingkisan obat itu dibuang begitu saja ke tempat sampah yang ada di basemen hotel. Entah sebab apa ia melakukannya, tetapi Eric hanya mengikuti kata hatinya untuk tidak kembali menjebak Aira. Selama dua minggu ini pula, ia benar-benar merasakan bagaimana tulusnya Aira dalam memenuhi semua kebutuhannya. Sikapnya lembut dan selalu menuruti apa pun perkataan Eric. “Mas?” Aira mengulangi panggilannya ketika tidak mendapat jawaban. Eric menoleh lemah. “Dispensasi khusus ke pengantin baru.” “Oh, gitu.” Aira mengangguk-angguk paham. Perempuan tersebut berdiri. Ia mengambil secangkir kopi yang baru saja dibuat saat Eric turun dari kamar tidur. Aira membawanya ke meja. Ia kembali duduk di samping sang suami. “Kopinya, Mas.” Rasa bersalah Eric pada Aira makin besar. Pantaskah ia menukar ketulusan perempuan di sampingnya demi materi dan kekuasaan? Ia berpikir cukup lama. Tatapannya kosong ketika menyeruput kopi yang masih panas. Pria tersebut menerawang jauh ke masa lalunya. Sampai akhirnya, ia sadar bahwa Aira bukanlah tujuannya. Ia bersama perempuan tersebut demi menguasai semua usaha milik ibunya yang sudah dipindah hak kepemilikan atas nama Aira. Selain itu, Eric juga mendapat keuntungan. Karier mentereng. Jabatan tinggi. Materi lebih dari cukup. Dan setelah itu, ia bisa menikah dengan Nadia--kekasihnya. “Sarapannya juga sudah siap, Mas. Hari ini aku masak semua makanan kesukaan kamu.” “Boleh.” “Mau aku ambilin, Mas?” Mata Aira tersenyum ketika memberi tawaran. “Iya.” Jawaban singkat itu membuat Aira semangat untuk gegas melakukan apa yang ia tawarkan. Perempuan tersebut mencentong nasi, beberapa sendok sayur asam, dan semur telur. Tidak lupa dengan sambal teri yang tidak terlalu pedas. “Ini, Mas.” Eric menerima pemberian itu. Dari aromanya saja sudah menggoda. Satu hal yang harus ia akui, Aira memang pandai memasak. Bahan apa pun yang perempuan itu olah selalu lezat. Suap demi suap ia kunyah perlahan. Menelannya teratur. Tidak ada percakapan apa pun selama ia menghabiskan makanan itu. Aira dengan setia menemani di sampingnya. Perempuan itu sesekali mengecek ponsel yang menampilkan laporan keuangan beberapa panti asuhan. Menyadari Eric sudah menghabiskan makanannya, Aira kini meletakkan ponselnya kembali ke atas meja setelah ia mematikannya. “Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau Tuan Respati bos kamu?” “Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?” Aira menggeleng. “Cuma merasa bersalah atas kejadian di lift itu, Mas.” Hening. Suasana kembali sepi. Aira menatap pria tersebut dari samping. Sebenarnya, ia cukup penasaran dengan Eric karena selama ini tidak pernah mau memintanya untuk membuka cadar. “Mas.” “Ya?” Eric meneguk kopinya sedikit. “Kenapa kamu nggak pernah mau lihat wajah aku?” Kopi yang masih ada di mulut tidak tertelan sempurna. Eric tersedak. Ia memukul dadanya yang tak nyaman. Cepat, Aira mengambil segelas air putih. Ia memberikannya pada Eric. Pria itu meneguknya cepat sambil menguspa dadanya. Setelah sedikit lebih baik, Eric menatap dingin ke arah Aira. “Jangan sekali-kali kamu membahasnya.” “Lho, kenapa, Mas?” Aira bertanya heran. “Aku istri kamu. Kamu berhak atas aku.” “Kalau aku bilang nggak, ya, nggak, Ra.” Eric lebih tegas. “Jangan minta penjelasan apa pun.” Sedikit kecewa, tapi Aira tidak bisa berbuat banyak. Ia menunduk. Matanya memanas. Sebisa mungkin, perempuan tersebut menahan tangisannya. Eric tidak lagi bicara. Ia butuh pelarian atas pikirannya yang kacau. Apalagi selama dua minggu ini juga ia menutup akses komunikasi dengan Nadia. Wanita itu pasti khawatir padanya. Pria tersebut akhirnya berdiri. “Aku keluar dulu, Ra.” “Kamu mau ke mana, Mas?” Pria itu tidak memberi penjelasan. Ia langsung keluar meninggalkan Aira setelah mengambil jaket dan kunci mobilnya. Aira masih duduk. Ia termenung. Cadar itu dibuka. Tangisannya tidak lagi ditahan. Wajah itu kini basah, seiring dengan air mata yang terus mengalir. Pikirannya berkecamuk. Entah kenapa, Eric juga hanya menyentuhnya sekali. Pada saat malam pertama. Padahal, dongeng yang ia dengar dari temannya tentang pengantin baru sungguh indah. Namun, kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia alami. Perempuan tersebut justru merasa sikap Eric tidak seperti itu. Satu sisi Eric begitu perhatian. Di sisi lain, pria tersebut sering kali berubah tiba-tiba menjadi lebih ketus dan dingin. Ia mengusap air matanya cepat. Wanita itu memilih mengalihkan kesedihannya dengan mengerjakan pekerjaan sehari-hari. ** Sementara itu, di perjalanan, Eric dihadang oleh dua mobil. Ia membanting setir ke kanan, menghindari tabrakan. Tidak lama, Brian turun. Membukakan pintu mobil untuk seseorang. Respati turun. Tatapannya tertuju ke Eric. Dalam mobil itu, Eric membeku. Ia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi jauh-jauh hari. Sialnya, pria tersebut ceroboh karena melewati markas besar atasannya. Tempat yang seharusnya dihindari justru Eric lewati. Sama saja pria tersebut menjadikan dirinya umpan pada kucing yang kelaparan. Jentikan jari di udara yang Respati lakukan mengundang beberapa anak buahnya untuk bergerak. Mereka mengepung mobil Eric. Satu di antaranya membuka pintu kasar, menariknya keluar dari sana. Eric tidak melawan. Ia biarkan dirinya dibawa oleh anak buah Respati. Tubuhnya kini dilempar ke aspal, tepat di depan sang tuan. Respati menatap pria yang kini bersimpuh di hadapannya. Wajah dan matanya benar-benar menunjukkan sisi gelap dirinya. Lantas, tanpa perkataan apa pun .... Bug! Tendangan keras itu mendarat ke rahang Eric. Sepatu pantofel yang keras memberi luka lebam hanya dalam sekali tindakan. Wajah Eric sampai terhempas. Tubuhnya yang bersimpuh hilang keseimbangan. Darah keluar dari sela kedua bibirnya. Tidak ada ucapan apa pun. Langit mendung itu seolah mendukung sifat bengis Respati. Pria tersebut maju selangkah. Sepatu mahalnya kembali bekerja. Jari-jemari tangan Eric yang masih bertumpu di aspal diinjak kuat. Ruasnya tertekan. Hanya menggunakan sedikit kekuatannya saja, Respati berhasil membuat jari itu berdarah. “A-ampun, Tuan ....” Eric meringis, menahan sakit di rahang sekaligus jari-jemarinya. Ia benar-benar tidak tahan lagi menerima hukuman selanjutnya. “Berani kamu mempermainkan saya, Eric?” Mata Eric memejam. Ia berusaha menggunakan sisa kekuatannya untuk berucap, meski sepatah dua patah kata. Respati melirik Brian yang ada di sampingnya. “Bawa dia ke ruang eksekusi.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN