Meskipun masih diliputi keraguan yang belum sepenuhnya reda, Aira akhirnya mengangguk pelan. Ia membiarkan Eric melangkah pergi, meninggalkan dirinya berdiri sendiri di tengah keramaian yang terasa asing dan jauh dari dunia yang biasa ia kenal. Riuh suara, gelak tawa, serta denting musik yang mengalun lembut justru semakin menegaskan bahwa ia tidak benar-benar menjadi bagian dari tempat itu.
Aira belum pernah menghadiri acara seperti ini sebelumnya. Semuanya terasa kaku dan canggung. Sebagian besar perempuan di sana mengenakan gaun mewah dengan potongan terbuka yang memperlihatkan kulit mereka tanpa ragu. Sementara itu, Aira berdiri sebagai satu-satunya di antara ratusan perempuan yang memilih pakaian tertutup—sederhana, tanpa upaya mencuri perhatian, namun justru membuatnya semakin menonjol dalam cara yang tidak ia inginkan.
Tatapan yang ia terima pun jauh dari kata ramah. Beberapa pasang mata meliriknya dari ujung kepala hingga kaki, penuh penilaian yang tak diucapkan namun terasa jelas. Ada yang berbisik pelan di balik gelas minuman mereka, ada pula yang terang-terangan melemparkan senyum tipis bernada sinis. Semua itu membuat Aira semakin sadar bahwa kehadirannya di tempat ini dipandang sebagai sesuatu yang ganjil.
Berulang kali Aira menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri yang mulai goyah. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya sementara, bahwa ia hanya perlu bertahan sedikit lebih lama. Namun, semakin keras ia berusaha mengendalikan perasaannya, semakin kuat pula rasa tidak nyaman itu mencengkeram. Berdiri di sudut yang ia kira tersembunyi pun tidak benar-benar memberi perlindungan.
Aira akhirnya memutuskan untuk menyusul Eric ke kamar mandi. Ia mulai melangkah, menyusuri lorong demi lorong yang dipenuhi cahaya temaram dan ornamen mewah. Kepalanya celingukan ke sana kemari, mencari sosok pria itu di antara orang-orang yang berlalu-lalang, berharap segera menemukan satu-satunya wajah yang ia kenal di tempat itu.
Sampai akhirnya,—
Bugh!
Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai. Rasa nyeri langsung menjalar dari pinggulnya yang membentur permukaan keras. Aira meringis, menahan ringisan kecil yang hampir lolos dari bibirnya, sementara tangannya refleks memegangi bagian yang terasa sakit.
Sebuah tangan terulur di depan wajahnya. Aira tertegun sejenak. Pandangannya yang semula tertunduk perlahan terangkat, mengikuti arah tangan itu hingga akhirnya bertemu dengan sepasang mata yang terasa begitu dikenalnya.
Ia tersentak kecil. Tubuhnya beringsut mundur secara refleks. Pria itu … adalah sosok yang pernah ia temui di dalam lift. Orang yang menolongnya—dengan cara yang masih membuat dadanya berdesir tidak nyaman—memberinya napas buatan tanpa peringatan.
"Kamu ...." Suara Aira lirih, hampir tenggelam oleh suara musik dan percakapan di sekitar mereka.
Respati.
Pria itu memang orang yang sejak awal mengharapkan kehadiran Aira malam ini. Manik mata hitamnya terpaku tajam pada gadis itu, seolah tidak ingin melewatkan satu pun perubahan ekspresi di wajahnya. Wajahnya tegas, serius, dengan sorot yang sulit ditebak—antara memastikan dan menilai.
Aira menepis tangan yang masih terulur itu. Dengan susah payah, ia bangkit berdiri tanpa menerima bantuan Respati, menahan rasa nyeri sekaligus gengsi yang menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria tersebut. Di dalam hatinya, masih tersisa kekesalan yang belum benar-benar hilang—tentang kejadian di lift, tentang ciuman tak terduga yang terasa seperti pelanggaran baginya.
"Jangan kamu pikir aku bakal masuk ke jebakan kamu lagi, ya!" omel Aira, nadanya tajam, meski napasnya masih sedikit tersengal menahan emosi dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu.
Respati hanya diam. Ia menegakkan tubuhnya dengan tenang, lalu merapikan jasnya yang sempat berantakan akibat benturan tadi. Gerakannya terukur, seolah insiden barusan tidak berarti apa-apa baginya. Raut wajahnya tetap dingin—tak terbaca, tak tergoyahkan.
Brian yang sejak tadi berdiri di belakang Respati akhirnya maju selangkah. Tatapannya mengeras saat diarahkan pada Aira. “Jaga bicaramu dengan Tuan Respati. Kalau bukan karena Tuan, kamu mungkin sudah—”
Ucapannya terpotong begitu saja ketika Respati meliriknya tajam. Satu tatapan singkat, namun cukup untuk membuat Brian langsung menunduk dan mengangguk patuh. Ia paham, sang tuan tidak membutuhkan pembelaan, apalagi dalam situasi seperti ini.
"Aku juga nggak minta diselamatkan sama dia! Jadi, jangan belagu!" Aira masih belum berhenti meluapkan emosinya. Suaranya meninggi, penuh perlawanan, meski dadanya berdebar tidak karuan.
Namun, pria yang menjadi sasaran amarah itu justru tetap berdiri dengan ekspresi datar. Tidak ada reaksi berarti di wajahnya, hanya sepasang mata yang terus mengunci sosok Aira, mengamatinya tanpa berkedip, seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam.
Sialnya, perhatian Respati justru tertuju pada wajah yang tertutup cadar itu. Ia seperti berusaha menerka-nerka ekspresi di baliknya, sementara mata bulat milik Aira tanpa sadar membawa ingatannya kembali pada kejadian malam sebelumnya—momen yang masih melekat jelas di benaknya.
"Kamu akan memperhitungkan ini pada saya, Aira."
Suara rendah itu meluncur pelan, namun sarat tekanan. Seketika, Aira membeku di tempatnya. Ia bisa merasakan bagaimana tatapan pria itu berubah—lebih tajam, lebih menekan, seolah menyampaikan ancaman tanpa perlu mengeraskan suara.
"Aku nggak takut!"
Aira tetap bertahan dengan sisa keberanian yang ia miliki. Tatapannya ia balas, sama tajamnya, meski tubuhnya menegang tanpa ia sadari. Wajah di balik cadar itu kaku, menyembunyikan gejolak yang sebenarnya mulai goyah.
Namun beberapa detik kemudian, ia berpaling. Perhatiannya jatuh pada pergelangan tangan Respati. Di sana, terlihat jelas bekas cakaran yang masih sedikit basah, kontras dengan kulitnya.
Ingatan Aira langsung kembali pada kejadian pagi tadi—bagaimana ia mencengkeram tangan pria itu saat terjebak di dalam lift. Melihat bekas itu sekarang, keberaniannya perlahan terkikis. Tenggorokannya terasa kering, ludahnya tertelan kasar.
Respati menyunggingkan senyum miring saat menyadari perubahan fokus Aira. Persis seperti yang ia inginkan. Ia sengaja membiarkan bekas itu terlihat—cukup untuk menekan Aira dengan rasa bersalah yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Respati berbalik dan meninggalkan perempuan itu begitu saja. Langkahnya lebar dan mantap, menuju sebuah ruangan di ujung lorong yang tampak lebih sepi dari area lainnya.
Di dalam ruangan itu, Eric sudah menunggu. Ia duduk di sebuah kursi, tubuhnya sedikit tegang. Sementara Respati tetap berdiri, menatap pria itu dengan sorot yang membuat udara di antara mereka terasa berat.
"Saya butuh dia malam ini," ujar Respati tegas, tanpa basa-basi. "Bawa dia ke kamar nomor empat."
Napas Eric tertahan. Permintaan itu terasa seperti hantaman keras di dadanya—tajam, menyesakkan, dan sulit ia abaikan. Ada sesuatu yang berdenyut di dalam dirinya, perasaan yang tidak mudah ia jelaskan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membawa Aira. Dalam keadaan sadar, dia pasti akan menolak untuk berhubungan dengan orang lain."
"Bukan urusan saya."
Jawaban itu keluar dingin, tanpa jeda. Bagi Respati, penolakan bukanlah sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Ia hanya menginginkan hasil—tanpa peduli bagaimana cara mencapainya.
Brian, yang sejak tadi diam, akhirnya bergerak. Ia melempar sebuah bungkusan kecil ke atas meja dengan gerakan singkat. "Pakai itu. Dan pastikan dia ada di kamar untuk melayani Tuan Respati."
Eric melirik singkat. Ia jelas tahu isi dalam bingkisan kecil tersebut. Obat perangsang. Dan Aira pasti akan seperti cacing kepanasan ketika obat tersebut beraksi.
Pria tersebut tidak lagi menjawab. Pikirannya berisik. Eric ingin menolak. Namun, sadar bahwa konsekuensinya cukup besar jika saja membantah.
"Ingat baik-baik imbalan yang kamu dapat." Brian memperingati Eric yang masih belum memberi jawaban.
Respati langsung pergi tanpa menunggu tanggapan Eric. Ruang itu sunyi. Yang berisik hanya pikiran pria yang kini mengambil bingkisan kecil itu. Ia meremasnya.
"Mas."
Lamunan Eric buyar saat mendengar suara lembut Aira memanggilnya. Ia menoleh. Perempuan bercadar itu sudah ada di ambang pintu.
"Aira?"
"Ternyata kamu di sini. Aku nyari kamu ke mana-mana." Aira langsung menggandeng tangan Eric.
Pria itu hanya menampilkan senyum getir. "Tadi sekalian terima telfon dari teman."
"Oh. Aku kira kamu ke mana, Mas."
"Kita ke bawah sekarang."
Aira hanya membalasnya dengan anggukan. Ia melangkah. Tangannya menggandeng Eric yang langkahnya lebih cepat.
Sampai di lantai bawah, keduanya berdiri di sebuah meja. Eric mengambilkan minuman untuk Aira.
"Makasih, Mas."
"Iya."
Eric mengambil segelas wine. Ia meneguknya. Pandangannya mengedar, mencari-cari seseorang yang tak terlihat semenjak ia datang.
"Kamu tidak mau mengenalkan istrimu pada saya, Eric?"
Deg!
Suasana yang semula kembali tenang bagi Eric kini kembali menegang. Pria tersebut mengenali pemilik suara bariton itu. Perlahan, ia bawa pandangannya ke sumber suara.
Aira yang berdiri di samping Eric pun tercengang mendengarnya. Ia menatap Respati. Jangan-jangan ... pria itu adalah atasan suaminya?
“Ah, iya.” Eric tersenyum sebagai formalitas. Ia menggenggam pergelangan Aira. Membawa istrinya sedikit maju agar posisi berdirinya sejajar dengannya. “Namanya, Aira.”
Respati tersenyum penuh arti ketika menatap Aira. Drama akan segera dimulai. Ia menikmati peran dua orang bodoh yang berada dalam kendalinya.
“Aira, ini ... Tuan Respati. Bosku.” Eric memandang istrinya.
Aira tidak berkutik. Tubuhnya gemetar. Ia gugup ketika ingat semua kejadian dari pagi. Malu sekali ketika beberapa menit lalu ia terang-terangan menantang Respati.
“Em, Mas. Aku ... kayaknya nggak enak badan, deh.”
Perempuan itu meletakkan minumannya yang masih penuh. Ia berharap kali ini Eric menyadari ketidaknyamanannya.
Eric sempat menatap Respati. Atasannya itu memberi kode dengan menggerakkan dagunya ke samping. ia mengangguk ringan tanpa disadari oleh Aira.
“Mas, aku ... aku kayaknya harus pulang, deh.” Aira kembali merengek. Ia berharap bisa langsung pergi dari sana.
“Saya bawa istri saya ke mobil dulu, Tuan.” Eric berpamitan dan langsung merangkul Aira pergi dari sana.
Respati tersenyum penuh arti. “Awasi b*****h itu, Brian.”
***