Di hotel ....
Eric kembali pada sore hari. Langit oranye itu menjadi pemandangan indah yang sedang dinikmati Aira. Perempuan itu duduk di kursi menghadap ke jendela hotelnya.
“Kemasi barang kamu.”
Suara Eric menginterupsi. Aira langsung menoleh. Perempuan itu berdiri dan berjalan mendekati suaminya. Ia memeluk pria tersebut.
Namun, Eric langsung menolaknya lembut. Ia sengaja melepas kedua tangan Aira yang melingkar di pinggang. Menjauhkan tubuhnya hingga menciptakan jarak lebih dari sejengkal.
“Kita nggak punya waktu banyak, Ra,” kata Eric dengan nada datar. “Kemasi barangmu dan kita check out.”
Aira membisu. Ia menatap wajah Eric. Masih sama seperti saat pria itu meninggalkannya di kamar tersebut. Ekspresinya benar-benar tertekuk masam.
“Kamu masih marah sama aku, Mas?”
Eric tidak menanggapi. Ia lebih memilih mengambil koper untuk diletakkan ke atas tempat tidur. Semua pakaian dan barang-barang pribadinya ditata di sana.
Perasaan Aira makin kecil. Ia hanya berdiri. Diam. Tidak ada reaksi apa pun. Tidak ada perkataan apa pun. Perempuan tersebut seperti mempunyai beban yang menahannya dalam posisi tersebut.
“Kalau kamu masih marah soal kejadian itu ....” Aira menjeda kalimatnya. Jari-jarinya yang bertaut saling meremas. “Aku siap menerima hukuman apa pun, Mas.”
Bukannya lega karena mendengar ucapan itu, perasaan Eric justru makin tidak terkendali. Ia menarik napasnya panjang, kemudian mengembuskannya berat.
“Jangan dibahas lagi, Aira.” Ia menatap Aira dan menggenggam kedua lengannya. “Siap-siap. Kita akan tinggal di rumah yang sudah aku siapkan.”
Dalam beberapa detik, Aira menatap mata Eric. Ia mencari sesuatu yang sepertinya hilang semenjak pagi tadi. Sesuatu yang jelas perempuan tersebut tahu bahwa semua adalah salahnya.
Eric menyingkirkan tangannya dari lengan Aira. Ia menampilkan senyum tipis yang singkat. Pria tersebut membimbing Aira untuk duduk di tepi tempat tidur.
“Biar aku yang mengemasi semuanya.”
“A–ah, enggak, Mas.” Aira menolak. Ia berdiri. Mengambil kopernya dan memasukkan semua barangnya sendiri. “Aku aja. Biar cepet, Mas.”
Tidak mau memaksa, Eric hanya mengangguk. Hanya butuh beberapa menit, dua koper itu kini tergeletak di lantai.
Keduanya keluar dari kamar hotel. Melakukan check out, kemudian pergi dari sana. Mereka kini berada di dalam mobil.
Namun, keanehan terjadi. Kursi tempat duduk Aira terasa mengganjal. Ia mengangkat pinggulnya singkat. Menoleh ke sana dan melihat sebuah lipstik.
Benda itu diambil. Aira duduk kembali. Memperhatikan lipstik itu dan menunjukkannya pada Eric yang sedang sibuk memasang seat belt-nya.
“Mas, ini ... lipstik siapa?”
Gerakan Eric memasang sabuk pengamannya terhenti. Ia melihat ke arah lipstik yang berada di tangan Aira.
Sial.
Nadia meninggalkan jejak keberadaannya malam itu di sini. Lipstik itu pasti sengaja diletakkan oleh kekasihnya untuk mengundang kecurigaan Aira.
Sadar bahwa Aira sudah mulai curiga, Eric tetap berusaha memasang ekspresi tenang.
“Punya pacar bosku, Ra,” jawabnya santai. “Jadi, kemarin malam mobilku dipinjam sama Pak Bos. Mobil dia rusak pas bawa pacarnya.”
Aira mengangguk. Ia menarik tangan kanan Eric, meletakkan lipstik itu di telapak tangannya.
“Jangan lupa balikin ke bosmu, Mas.”
Eric menyimpan barang itu ke dasbor. Ia mengangguk. “Iya, Ra.”
Suasana kembali hening. Tanpa Aira tahu, Eric menghela napas lega. Ternyata, tidak susah membohongi perempuan itu.
Mobil tersebut melaju. Perjalanan diisi keheningan panjang. Sesekali ia melirik ek arah Aira yang menatap keluar jendela.
“Nanti malam kamu ikut aku, Ra.”
Aira menoleh. Menatap wajah Eric yang serius. Pria itu fokus pada setir dan jalanan di depan sana.
“Ke mana, Mas?”
“Acara bosku.”
Perempuan itu mengangguk. “Aku ikut aja apa kata kamu, Mas.”
**
Malam hari ....
Eric sudah siap dengan setelan formalnya. Jas dan celana warna putih itu melekat di tubuhnya yang tegap.
Ia menunggu Aira keluar dari kamar. Sesekali pria tersebut melihat jam yang melingkar di pergelangan kirinya.
“Cepat sedikit, Aira!” serunya pada Aira yang masih sibuk bersiap di dalam kamar.
“Iya, Mas. Bentar lagi!”
Sahutan dari dalam terdengar nyaring. Eric berjalan ke teras rumahnya. Ia duduk di kursi. Memainkan ponselnya sebentar. Jarinya yang bergerak berhenti saat sebuah panggilan video masuk.
Nadia.
Nama itu menghias layar. Tanpa sadar, Eric tersenyum. Ia menggeser layar tersebut. Panggilan video terbubung. Menampilkan sosok kekasihnya yang menyapanya hangat.
“Udah mau berangkat, Babe?”
“Sebentar lagi, Sayang.” Eric membalasnya tak kalah hangat. “Nanti tolong tetap jaga jarak, Nad. Aku nggak mau orang-orang kantor curiga.”
Wajah Nadia di seberang sana merengut. Bibirnya mengerucut. Dengkusan kasar terdengar.
“Kenapa, sih? Kamu mau jaga perasaan cewek sok alim itu?!”
Entah harus berapa kali Eric menjelaskan supaya kekasihnya paham. Cemburu Nadia tidak bisa dikendalikan semenjak hari pernikahan itu.
“Ingar, Eric. Kamu dan Aira itu sebenarnya nggak pernah me—“
“Mas.”
Ucapan Nadia terpotong oleh panggilan Aira. Eric menoleh cepat, mendapati Aira yang berada di ambang pintu.
Ponsel yang masih terhubung panggilan video dengan kekasihnya langsung diputus tanpa pertimbangan.
“Kamu lagi telfonan sama siapa, Mas?”
Aira menyempitkan jaraknya dengan Eric setelah menutup dan mengunci pintu utama rumahnya. Tatapannya berganti, dari mata Eric lalu ke ponsel.
“Teman kantor, Ra.” Eric menjawab sedikit gugup. Ia berdiri. “Sudah siap?”
Aira mengangguk. Ia merasa janggal dengan sikap suaminya yang sering kali seperti orang terkejut saat ia menegurnya.
Sejenak, Eric terpaku pada penampilan Aira malam ini. Gaun putih tertutup dengan jilbab dan cadar warna senada menambah keanggunan perempuan tersebut.
Manik mata hitam Aira memancarkan kehangatan yang nyata. Binarnya terlihat jelas bahwa perempuan itu bahagia ketika di dekat Eric.
Tatapan Aira begitu dalam. Bahkan, hanya dari netranya saja Eric bisa melihat bahwa Aira sedang tersenyum padanya.
“Kenapa, Mas?” Aira bertanya ketika menyadari suaminya hanya diam menatapnya.
Eric diam seribu bahasa. Ia memilih menggenggam tangan Aira yang berhias nail art warna nude. Jemari lentik itu bahkan berhias cincin pernikahan.
“Kita berangkat sekarang?”
Aira mengangguk. “Iya, Mas.”
Sesampainya di tempat acara ....
Ballroom sebuah hotel ternama di tengah ibukota kini terlihat ramai. Acara pesta itu dihadiri oleh banyak tamu undangan dari kalangan atas.
Berbagai aroma parfum mewah menyeruak di setiap sudut. Dekorasinya indah dan mahal. Berbagai jamuan lengkap dan tertata rapi di tiap meja.
Sesekali Eric tersenyum hangat sebagai bentuk sapaan dari beberapa yang menyambut kedatangannya. Tangannya tidak melepas pinggang Aira yang sedari tadi direngkuh posesif.
“Aira. Kamu di sini sebentar, nggak apa-apa, kan?” Eric bertanya, memastikan.
“Memangnya ... kamu mau ke mana, Mas?”
“Ke belakang. Nggak lama, kok.”
Aira menggigit bibir bawahnya. Wajahnya cemat. Sorot matanya ragu, menyetujui permintaan Eric.
“Tapi, beneran nggak lama, kan?”
Pria itu mengangguk. Ia mengusap puncak kepala Aira. “Iya. Aku janji cuma sebentar.”
***