Bab 4

1061 Kata
Lift masih gelap. Pintu belum terbuka. Tanda-tanda pertolongan dari luar juga belum terlihat maupun terdengar. Sementara kini napas Aira makin sesak. Ia hampir tidak bisa menghirup. Suasana gelap itu terasa makin menyempitkan ruang di kotak besi tersebut. Cengkeraman itu kembali terasa. Respati menghentikan tindakannya beberapa saat ketika kuku panjang Aira kembali menggoreskan luka di pergelangan tangannya yang lain. Respati bisa mendengar napas Aira yang makin pendek. Terlalu cepat, sebelum akhirnya tiba-tiba hilang seperti ritmenya. Dalam jarak yang hanya sejengkal, Respati menatap wajah perempuan itu di bawah kegelapan. Jarinya menyapu bibir Aira yang setengah basah. Sial. Ada resah yang tidak bisa Respati jelaskan. Ada keinginan yang menuntut melakukan hal lebih jauh. Hal yang lebih intens. Hal yang serupa dengan kejadian semalam. Tanpa menunda lagi, tangannya rendah mengangkat dagu Aira. Mengapit kedua pipi perempuan itu untuk memastikan jalan napasnya terbuka. Wajah Respati mendekat. Satu detik. Dua deti. Jarum jam itu berlalu teratur. Namun, degup jantung Aira makin menggila. Ia tahu ini salah. Paham bahwa apa yang akan dilakukan pria aisng itu adalah tindakan di luar batas. Hanya saja ... tidak ada cara lain. Ia juga tidak mau mati konyol hanya karena kehabisan napas di lift yang mati. Respati menutup hidung Aira dengan jarinya. Selanjutnya, ia menempelkan bibirnya ke bibir perempuan tersebut. Embusan napas pertama diberikan. Perlahan. Presisi. D.a.da Aira terangkat sedikit. Respati memberi jeda. Menunggu reaksi. Satu tangan yang semula menjepit hidung mancung Aira kini turun. Berpindah ke d.a.da untuk menekannya perlahan. Tidak ada reaksi. Respati mengulanginya lagi. Kali ini lebih lambat. Perlahan. Bahkan, dalam tindakannya itu, ia bisa menyesap aroma cherry yang ada di bibir Aira. Dalam gelap itu, dua pasang mata itu saling bertemu. Entah dorongan dari mana, Respati benar-benar mengambil kesempatan untuk menyesap bibir yang membuatnya candu. Pada saat yang bersamaan, bunyi nyaring terdengar. Lampu menyala. Pintu lift terbuka perlahan. Eric berdiri di luar. Atensinya langsung jatuh pada sosok Respati yang masih melumat bibir Aira. Ia membeku. Rahangnya mengetat. Otot uratnya menonjol jelas di pelipis. Respati cepat-cepat mengakhiri kegiatannya. Aira pun langsung memalingkan wajah dengan gerakan lemah. Pria itu berdiri. Tubuh tegapnya berbalik. Menatap pertugas yang memberinya pertolongan dengan tabung oksigen. Namun, ia menepisnya tegas. “Bantu dia.” Dagunya bergerak, menunjuk Aira yang masih terbaring lemas. Ia melangkah. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut, Respati sempat bertemu pandang dengan Eric yang menatapnya penuh arti. Seringai tipis Respati terlihat. Pria tersebut melenggang pergi, diikuti tiga ajudannya yang baru saja datang. Kini, atensinya tertuju pada Aira. Istrinya masih terbaring di lantai lift yang dingin. Selang masker oksigen masih terpasang di hidung. ** Siang hari .... Semenjak kejadian tadi, Eric masih diam. Pria itu hanya duduk di sofa. Meneguk alkohol. Mengisap dalam rokok yang terselip di antara jemarinya. Wajahnya masih kaku. Ia menatap sang istri yang masih terbaring di atas tempat tidur. Tatapannya menyipit, tapi tajam. Tiap napas yang diembuskan terasa berat, seolah membawa beban berat dari kepalanya. Puntung rokok yang masih panjang itu ditekan ke permukaan asbak. Sisa asapnya dibiarkan hilang di udara. Eric meneguk alkoholnya lagi. Entah sudah seberapa banyak minuman yang ia teguk untuk sekadar menghilangkan penat yang mengganggu. Namun, bukannya lega, semua yang bersarang di kepala seperti makin banyak. Makin menggumpal hingga menjadi bola emosi yang siap menghantam apa pun. Jarinya saling meremat. Eric meluapkan emosinya dengan geraman singkat. Ia memukul tangannya ke udara. Shit! Umpatan itu keluar spontan. Desisan panjang terdengar saat ia mengusap wajahnya frustrasi. Bayang-bayang tentang apa yang disaksikan di lift tadi memenuhi ruang kepalanya. Eric tahu, itu bukan sekadar bentuk pertolongan. Pria itu bisa melihat bagaimana ciuman Respati di bibir Aira yang bertahan selama beberapa detik setelah pintu terbuka. Pikirannya makin berisik saat mengingat Aira yang hanya diam. Perempuan itu seolah membiarkan dirinya dicium oleh pria lain. “Sial!” Suara itu keras. Eric membantah pikirannya yang terfokus pada Aira. Padahal, jelas-jelas ia tidak mencintai perempuan bercadar itu. Semua semata-mata demi pangkat dan uang. Eric membenturkan kepalanya ke dinding. Ia ingin mengusir jauh-jauh pikiran itu. Bukannya hilang sesuai keinginan, justru hanya rasa nyeri yang membekas. “M-Mas ....” Panggilan dari Aira membuat Eric mematung beberapa saat. Suara serak tersebut malah mengantarkannya pada bayangan ketika perempuan itu melayani Respati di ranjang tadi malam. Ia meliriknya. Aira terbangun dalam kondisi yang masih pusing. Ia mengambil posisi duduk. Membenarkan kain cadarnya yang sedikit tersingkap sampai dagu. Eric membuang napas kasar. Ia menghampiri Aira. Berdiri di sebelah tempat tidur dengan tatapan yang sulit dibaca. “A-aku ... aku minta maaf.” Perempuan tersebut menunduk. Tatapannya tidak berani mengarah ke Eric. Rasa bersalah dalam hatinya mencuat. Sesak. Sakit. Namun, ia tidak bisa mengontrol apa yang terjadi pagi tadi. Hening. Eric tidak menjawab. Atau lebih tepatnya, tidak memiliki jawaban. Ia hanya menatap datar istrinya yang masih menunduk. “Tapi, aku beneran nggak berniat ....” Aira menggantung ucapannya. Perlahan, ia mengangkat wajah. Sorot penuh ketakutan dan rasa bersalah itu seperti menghukumnya. “Apa yang aku lakukan tanpa sadar, Mas. Aku nggak bisa mengontrol rasa takutku.” Dalam beberapa detik, tatapan mereka saling bertaut. Selama itu pula pikiran Eric berisik. Terlalu berisik dan liar. Mungkinkah ia harus menggunakan kesempatan ini untuk menjerumuskan Aira dalam rasa bersalah? Lemah, Aira meraih tangan kanan Eric. Ia menggenggamnya. Wajahnya bergerak maju. Ia mengecup penuh takzim tangan suaminya. “Aku minta maaf, Mas. Aku beneran nggak ada niat mengkhianati kamu.” Tidak ada respons. Eric hanya menatap kepala Aira yang kini menunduk. Punggung tangannya tiba-tiba hangat. Disusul dengan suara isak tangis yang terdengar. Aira menangis. Dalam kecupannya yang lama, ia tergugu. Bahunya bergetar. Sungguh, ia merutuki kebodohannya sendiri karena tidak bisa melakukan apa pun untuk mengatasi ketakutannya sendiri. Sampai-sampai, ia harus berakhir dicium oleh pria lain. Menyaksikan bagaimana tangisan itu, ada getaran halus yang terasa menyakitkan. Eric melepas genggaman Aira cepat. Mundur selangkah untuk menjaga jarak dari istrinya. Ia bimbang. Dua pilihan membuat Eric makin kehilangan arah. Ingin rasanya pria tersebut menjerumuskan Aira makin jauh. Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang menahannya dari dalam. Linang air mata makin deras dan mengalir di pipi. Perempuan itu merasakan sesak di dadanya. Ia menatap lamat-lamat wajah Eric. “Kamu ... nggak mau maafin aku, Mas?” tanya Aira dengan suara bergetar. Eric diam seribu bahasa. Bersamaan dengan itu, dering telepon berbunyi. Ia menariknya dari dalam saku jaketnya. Brian. Nama asisten pribadi Respati membuat Eric menelan ludah. Ia segera menggeser panel hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga kanan. “Ya?” “Datang ke ruang Tuan sekarang.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN