Bab 3

1067 Kata
Tumitnya berputar lambat. Kini Aira bisa melihat bagaimana wajah suaminya. Ia melangkah kecil, tetapi cukup cepat untuk menghampiri Eric. Perempuan tersebut berhambur. Memeluk Eric erat. Dagunya bertumpu ke salah satu pundak sang suami. “Kamu dari mana aja, Mas?” Eric tidak menjawab. Tangannya mengepal di masing-masing sisi. Tatapannya menjelajah ke tempat tidur yang masih berantakan. Melihat noda merah di sana, rahangnya mengeras refleks. Ada sesuatu yang hadir tanpa diminta dalam hatinya. “Makasih buat tadi malam, ya, Mas.” Aira berujar lagi. Ia mengeratkan pelukan di tubuh suaminya. Senyum lebarnya tercetak di wajah lelah yang penuh kebahagiaan. Menepis semua perasaan berkecamuk itu, Erik menggenggam lengan Aira. Mendorongnya sedikit kasar supaya pelukan di tubuhnya terlepas. Perempuan itu tertegun beberapa saat setelah Eric melepas pelukannya. Ia menatap baik-baik ekspresi wajah suaminya yang datar. Satu tangannya terangkat, membelai wajah Eric. Hanya beberapa detk bertahan, sebelum akhirnya pria tersebut menghindar. “Aku capek, Ra. Mau mandi.” Aira mengangguk. “Biar aku siapin air hangat buat kamu berendam, Mas.” “Hm.” Jawaban singkat itu membuat Aira bergegas ke kamar mandi. Sementara Eric kini duduk di pinggiran tempat tidur. Tatapannya kembali tertuju ke bekas darah dan beberapa sisi seprei yang basah oleh sesuatu yang jelas ia tahu asalnya. Helaan napas kasar terdengar jelas. Eric meremas kemeja yang baru saja dilepas. Ia memejam sebentar, berusaha menormalkan perasaan dan pikiran yang sempat kacau karena melihat suasana di kamar ini. Tidak. Eric menggeleng cepat. Mengusir semua hal yang menjadi beban dalam dadanya. Kembali, ia menegaskan bahwa semua ini memang tujuannya dari awal. Memanfaatkan Aira demi bisa naik pangkat. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Ia jelas tahu siapa Respati. Atasannya itu bukan pebisnis ecek-ecek. Latar belakang keluarganya tidak pernah habis menjadi konsumsi publik berkat ketenaran dan kepiawaiannya dalam dunia bisnis. Lantas, jika bisa menjadi orang kepercayaan Respati, bukan hal sulit baginya mencapai tujuannya untuk menggeser posisi seseorang dalam sebuah perusahaan. “Mas. Airnya udah siap.” Ucapan Aira membuat pikiran Eric buyar. Ia menoleh. Bisa ia lihat dengan jelas bagaimana sorot mata istrinya yang berbinar. “Iya.” Aira terdiam beberapa saat. Ia merasa ada yang berbeda pada sosok Eric. Suaminya itu ... jadi lebih pendiam. Tatapannya juga selalu menghindar ketika berbicara dengannya. “Mas ....” Aira memanggil lembut. Ia turut duduk di samping sang suami. Satu tangannya menggenggam punggung tangan Eric. “Kamu ... ada masalah?” Eric menggeleng. “Cuma butuh istirahat lebih banyak.” Jawaban itu datar. Ekspresinya benar-benar dingin. “Aku mandi dulu.” “Iya, Mas.” Perempuan itu membiarkan suaminya masuk ke kamar mandi. Aira beranjak. Mengambil ponsel yang semenjak kemarin ia simpan di dalam nakas. “Duh, baterainya lobet lagi.” Aira berdecak. Ia mencari charger yang biasa disimpan di tas kecilnya. Setelah memeriksa tiap sekat tas tersebut, ternyata barang yang dicari tidak juga ia temukan. Tatapannya berpindah ke atas, mencoba mengingat kapan terakhir kali meletakkan benda tersebut. Cukup lama mengingat, Aira akhirnya menepuk dahinya sendiri. “Teledor banget sih, kamu, Ra.” Perempuan itu gegas menyambar kunci mobil milik Eric yang tergeletak di meja rias. “Mas. Aku izin keluar sebentar, ya.” Aira berseru, meminta izin pada suaminya yang masih di dalam kamar mandi. “Iya, Ra.” Sahutan itu membuat Aira langsung meninggalkan kamar hotelnya. Ia keluar. Langkahnya terburu-buru. Perempuan tersebut berdiri di depan pintu lift. Menunggu kotak besi itu terbuka. Hanya beberapa detik, pintu terbuka. Ia sempat terkejut ketika melihat seorang pria sudah ada di dalam lift. Meski ragu, Aira akhirnya masuk dan berdiri di bagian pojok sambil menggenggam kuncinya erat. Pria tersebut melirik tajam ke arah Aira. Sialnya, pikirannya justru mengarah pada adegan panas semalam. Bagaimana suara indahnya ketika mendesah, bagaimana rintihannya, dan ... bagaimana cara kaku perempuan itu berusaha mendominasi permainan. Respati. Tidak salah lagi, pria tersebut kini berada dalam satu ruang sempit dengan Aira. Perempuan yang semalam ia tiduri dengan cara jauh dari kata lembut. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba lampu di dalam lift itu berkedip sekali. Aira menatap gelisah ke atas. Perasaan tak tenang itu makin menjadi ketika kotak besi itu mati total. Brak! Getaran halus itu menghentak lantai. Tubuh Aira kehilangan keseimbangan selama sekian detik. Gelap itu makin membuat napasnya sesak. Beda halnya dengan Respati. Pria itu hanya menatap langit-langit singkat. Berdiri dengan tubuh tegap. Seolah masalah kali ini bukan acaman besar baginya. Napas Aira mulai tersengal. Cepat. Tidak teratur. Tangannya berusaha mencari sebuah tumpuan untuk menguatkan. “Ini ... ini kenapa?” Aira bertanya dengan suara sesak. Respati tidak menjawab. Ia meraba slaah satu dinding lift itu. Mencari letak tombol, menekan alarm. Belum sampai tindakannya selesai, tiba-tiba pergelangan tangannya perih. Aira. Perempuan itu menggenggam tangannya erat. Saking eratnya, kuku itu sampai menggores kulit Respati. Ia menggeram rendah. “A-aku .. takut ....” Suara lirih itu membuat Respati berkecamuk. Ia ingin melepas, tetapi tubuhnya tiba-tiba terasa terbebani. Seketika pria tersebut sadar jika Aira bersandar di bahunya. “Aku mau keluar. Tolong ... aku takut gelap.” Gemuruh di d.a.da Respati makin hebat. Ucapan itu ... mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam. Nada bicaranya, kalimatnya, dan semua hal yang kini ia dengar menghantam makin keras ingatannya tentang masa lampau. “Tolong jangan pergi ....” Genggaman itu bukan lagi sekadar keinginan untuk mencari tumpuan. Namun, ada hal yang tidak bisa Aira jelaskan melalui kalimat apa pun. Respati bisa merasakan bagaimana napas Aira yang mulai sesak. Deru perempuan itu terlalu jelas untuk diabaikan. “Tarik panjang dan hembuskan pelan.” Satu kalimat itu membuat Aira tersadar. Ia mencoba. Mengulangi beberapa kali. Namun, rasnaya tetap sama. Gagal. Ia tidak bisa mengontrol ketakutannya. Isak kecil mulai terdengar. Genggaman erat itu berubah jadi cengkeraman. Masih menancap di kulit keras Respati yang kini perih. “A-aku n-nggak bisa ....” Ucapan itu terputus-putus seiring dengan napasnya yang kian sesak. Cengkeraman di tangan Respati melemah. Tubuh perempuan itu lemas. Belum sampai luruh ke lantai, Respati menopang dengan satu tangannya yang kokoh. Aira lemas dalam dekapannya. Tidak ada cara lain. Respati terduduk. Tangannya masih menjadi sandaran kepala Aira. Lantas, dalam kegelapan itu, satu tangannya berusaha meraba wajah perempuan tersebut. Ia menyingkap sedikit kain cadar yang menjadi penghalang sebagian wajah Aira. Bibir itu ia usap dengan jarinya. “Ja-jangan ....” Aira menggeleng lemah. Sungguh, ia tidak ingin itu terjadi. “Kamu akan mati jika menolaknya.” Kalimat itu membuat tubuh Aira yang sudah lemas membeku. Perempuan tersebut mengerjap lemah. Tenaganya sudah habis hanya untuk membantah. Bibir pria itu kini menyentuh bibirnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN