Bab 2

1134 Kata
Respati meremas d.a.da Aira kasar. Bagian penuh dan sintal perempuan itu menjadi sasaran paling pertama yang menerima liarnya gerakan tangan keras miliknya. “Enggghhh, E–ric ....” Aira melenguh. Menyebut nama itu pada saat dirinya merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Pria tersebut terus menggerakkan pinggulnya. Tubuh Aira menggelinjang di bawah kungkungannya. Respons itu membuat Respati makin menggila. Ia belum pernah merasakan sensasi menantang seperti ini. Milik Aira begitu sesak. Denyut itu seperti menjepit bagian inti Respati yang tenggelam di tubuh perempuan tersebut. “Arghhh ....” Respati mendesah. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sialan itu. Pria itu menenggelamkan wajahnya ke d.a.da Aira. Mengambil sesuatu dari ujung warna merah mudanya yang sudah menegang. Ia memagutnya rakus. Meraup apa yang ada di sana. Merasakan manis yang belum pernah Respati rasakan pada tubuh gadis mana pun. “Yah ... di situ, Ric. Akhhh ....” Aira lepas kendali. Tidak munafik, pengalaman pertamanya bercinta terasa penuh gairah setelah melewati fase menyakitkan. Respati makin liar. Gerakan panggulnya lebih cepat. Lebih menuntut. Ritmenya makin meningkat, seiring dengan desahan dan racauan yang keluar dari mulut Aira. Ada sensasi hangat di pipinya saat pria yang dipercaya sebagai sang suami mengecupnya. Lantas, tanpa disadari, dunia seakan membawanya pada suasana syahdu. Dalam pandangan yang berkabut, ia merasakan tubuhnya diangkat dan diposisikan setengah berbaring. Ranjang yang berhias lembaran bunga mawar putih itu menimbulkan bunyi derit panjang. “Arkhhh, Eric ... aku mau—“ “What you want? Hm?” Suara bariton Respati makin berat. Kelopak mata Aira mengerjap. Suara itu ... asing. Ah, tidak. Ia menggeleng. Menyangkal dugaannya bahwa yang kini menggagahinya adalah pria asing. Aira menggenggam kedua lengan Respati. Ia tetap menganggap pria tersebut sebagai Eric. Suaminya. “Engghhh, faster, Ric.” Sesuai perintah, Respati mempercepat dorongan pinggulnya. Ia melihat bagaimana wajah Aira menengadah. Perempuan tersebut benar-benar larut dalam kegiatan panasnya. Sadar bahwa hendak mencapai pelepasan, Respati menarik miliknya keluar. Ia membalikkan tubuh Aira kasar hingga posisinya membelakanginya. Ia melakukan sesuai dengan gaya fantasinya. Rambut panjang yang lembut milik Aira Respati kumpulkan dalam genggaman. Pria tersebut menariknya, memaksa wajah Aira mendongak. Kembali, Respati melakukan penyatuan. Kali ini gerakannya tidak terkendali. Derit panjang itu terdengar panjang. Keras. Ia menggunakan sepenuh tenaganya untuk menyalurkan semua hasratnya. “A–aku mau—arkhhh ....” Teriakan itu terdengar keras ketika Respati mengentakkan lebih keras pinggulnya. Keduanya melakukan pelepasan bersama. Sensasi hangat di bawah sana membuat Aira mengerang. Aira tersenyum samar. Malam pertama … akhirnya terjadi. Ia bahagia, yakin bahwa semua ini adalah bentuk cintanya yang dijaga selama dua tahun hanya untuk Eric. Penantian panjang, perjuangan yang tak mudah, serta berbagai hantaman, telah berhasil ia lewati. Dan, malam ini adalah puncak di mana Aira membuktikan cintanya. Memberikan tubuhnya kepada pria yang memang berhak atasnya. “You’re so damn hot, My f*****g Girl.” Kata-kata kasar itu keluar refleks. Satu tangannya mencengkeram pinggang Air. Lantas, memberi kecupan di telinganya, sebelum akhirnya memberi gigitan kasar di sana. Mendapati perlakuan cukup kasar itu, perempuan tersebut merasa tengah bersama dengan orang yang berbeda. Suara. Aroma tubuh. Dan, semua perlakuan kasar ketika pertama kali melakukan penyatuan membuat Aira berpikir di tengah kepalanya yang pusing. Tidak. Aira tidak percaya bahwa yang melakukannya adalah orang lain. Tidak mungkin. Hanya Eric yang mempunyai akses masuk ke kamar hotel tersebut Menepis semua pikiran buruk itu, ia berusaha meraba wajah Si Pria. Rahangnya tegas. Hidungnya mancung. Sepasang alis tebalnya lembut. Cukup lama ia menyentuhnya, sampai pada akhirnya pria tersebut pun menggenggam tangannya. “You’re mine, Aira ....” Bisikan itu terdengar rendah. Menegangkan. Suara itu membuat Aira terjebak dalam ilusi. Seolah-olah yang ia dengar adalah Eric. Alkohol dosis banyak yang dikonsumsi sungguh membuatnya dalam keadaan mabuk parah. Aira bahkan sama sekali tidak bisa melihat jelas wajah Eric di tengah kegelapan tersebut. Istirahat itu, hanya sebentar. Deru napasnya yang belum normal kembali memburu ketika tubuhnya dipakai lagi. Tubuhnya dipaksa menyesuaikan. Bibir Aira dicium dengan rakus hingga ia hampir kehabisan napas. Ada sedikit rasa sakit, tetapi pikirannya yang kabur dan terus berisik. Air mata perlahan mengalir di sudut matanya, antara rasa sakit dan pasrah. Sesuatu yang besar, bahkan dua kali lipat melebihi ukuran normal mendesak masuk lagi. Makin dalam tubuhnya diseret, makin Aira yakin bahwa ia sedang dicintai. Dalam benaknya, malam ini adalah momen suci, meski kenyataannya adalah kebohongan brutal yang tidak perempuan tersebut tahu. Ranjang berderit. Serpihan mawar-mawar berjatuhan ke lantai. Tangisnya tertahan di antara desahan yang dipaksa keluar. Tangannya sesekali meremas seprei hingga kusut saat merasakan perih lagi di bagian tubuhnya yang paling berharga. Berulang kali Respati melakukannya dengan berbagai posisi. Pria itu berupaya melakukan banyak cara untuk mencari puas pada tubuh Aira. Dan ketika kelelahan, tubuh Aira hanya gemetar. Ia tertidur dengan senyum tipis di bibir. Senyum naif seorang istri yang percaya bahwa dirinya baru saja menjalani malam pertama dengan suaminya. Sementara di sampingnya, Respati tersenyum puas. Untuk kali pertamanya, ia bercinta begitu hebat dengan seorang gadis yang masih suci. “Mulai sekarang, kamu akan ada di bawah kendaliku, Aira.” ** Pagi hari .... Mata Aira mengerjap. Ia terbangun dari tidurnya yang lelap. Satu tangannya meraba ke samping tempat tidur. Kosong. Ia menoleh untuk memastikan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Eric entah ke mana. Embusan napasnya yang lelah menguar. Perempuan itu berusaha mengambil posisi duduk di tengah rasa sakit di pangkal pahanya. Semua hal yang terjadi semalam, membuat Aira tersenyum tanpa sadar. Ia ingat betapa hebatnya Eric bermain dengan tubuhnya. Selimut yang menutupi tubuh polosnya kini disibak pelan. Rasa bangga itu makin terpancar ketika melihat noda merah di seprei. “Aku bahagia karena akhirnya kamu yang mengambilnya, Mas.” Pelan, kakinya turun bergantian. Rasanya sakit. Namun, itu bukan apa-apa baginya dibandingkan bahagianya karena berhasil melayani Eric. Dengan langkah tertatih, Aira menuju ke kamar mandi. Ia berendam di dalam bak mandi yang berisi air hangat. Mencoba merelakskan tubuhnya yang lelah. Setelah benar-benar marasa lebih baik, perempuan tersebut membersihkan diri dengan air yang mengalir dari shower. Sekitar satu setengah jam di kamar mandi, kini Aira keluar. Mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ia mengambil pakaian ganti di kopernya. Aira berdiri di depan cermin. Memperhatikan tubuh polosnya ketika handuk baru saja dilepas. Noda merah di beberapa titik melukis indah kulitnya yang putih. “Kamu lebih hebat dari dugaanku, Mas.” Jelas hal itu menjadi kebanggaan karena akhirnya ia berhasil menjaga sepenuhnya untuk sang suami. Tanda merah itu ... sebagai bukti betapa hebatnya kegiatan panas semalam. Tidak mau membuang waktu lebih banyak, Aira akhirnya mengenakan rok panjang dan blouse warna merah mudanya. Jilbab segi empat itu diatur rapi setelah menutup rambutnya. Sehelai cadar menutupi wajah yang berhias makeup tipis. Kain itu ... bukan sebagai simbol agamisnya. Hanya saja, masa lalu yang menyakitkan membuatnya terpaksa memakainya. Sampai sekarang, Aira bersembunyi dalam lembutnya cadar yang menjadi simbol ketaatan bagi banyak orang. “Aira.” Panggilan itu membuat Aira terenyak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN