“Kamar nomer 10, Tuan.”
Eric menyerahkan kartu akses masuk ke atasannya. Setelah benda itu berpindah tangan, ia kembali membuka suara.
“Sebelumnya, maaf, Tuan. Saya memang belum pernah melihat wajahnya. Jadi, saya tidak bisa memastikan bahwa calon istri saya itu cantik atau—“
Ucapan Eric terpotong ketika pria di depannya mengangkat satu tangannya—memintanya untuk berhenti bicara.
“Tahu konsekuensi kerja sama dengan saya?” Suara itu berat. Menekan.
Eric mengangguk cepat. Ia menunduk segan. “Paham, Tuan.”
Seringai tipis menghias di bibir. Pria itu langsung pergi meninggalkan Eric begitu saja.
“Jadi, kamu merelakan keperawanan gadis itu untuk pria lain, Eric?”
Suara lain tiba-tiba dari arah belakang menginterupsi. Ia berbalik, melihat kehadiran sahabatnya.
Eric hanya tersenyum mendapat pertanyaan tersebut. Ia menunjukkan ponselnya pada Berto.
Layar menyala itu memperlihatkan seorang gadis yang baru saja menikah tadi pagi sedang duduk di tempat tidur. Jelas gadis itu menunggu kehadirannya malam ini.
Ah, tetapi apa peduli Eric? Semua tidak ada yang penting selain bisnis. Demi uang, jabatan, dan status, ia rela melepas segalanya, termasuk perempuan yang sudah menemaninya selama dua tahun.
Tidak masalah jika ia bukan orang pertama yang menikmati. Di luar sana, masih banyak gadis perawan yang bersedia menjajakan tubuhnya.
Lagi pula, ia tidak tertarik sedikit pun pada perempuan tersebut. Pria tersebut menikahinya karena perjodohan.
“Nggak ada yang lebih penting daripada kekuasaan. Kamu tau keuntungan yang akan kita dapat setelah Tuan Respati menikmati keperawanan Aira, ‘kan?”
Pria di sampingnya—Berto—hanya menggeleng tak habis pikir. “Benar-benar nggak waras! Kamu bahkan tega mencekoki minuman keras kepadanya sebelum melakukan itu?”
Eric hanya menampilkan seringai tipis. Di kursi sudut ruangan, ia berdiri diam, menyalakan sebatang rokok dengan korek api.
Mata gelapnya menatap bagaimana gelisahnya Aira menunggu melalui layar monitor yang menyala. Asap putih mengepul, menutupi senyum tipisnya yang penuh kelicikan.
Baginya, ini bukan sekadar transaksi. Ini adalah skandal yang ia ciptakan dengan sadar—menjual gadis yang dijodohkan padanya pada bos dengan jaminan posisi. Sebentar lagi, mimpinya menjadi manajer perusahaan akan terwujud.
Satu tangannya lantas menyaku di celana. Netra tajamnya memandangi layar 12 inch tersebut. Ia melihat bagaimana Respati masuk ke kamar dan langsung mematikan sakelar lampu.
Tidak ada kata sakit hati. Bahkan, sekalipun kehilangan Aira, ia tak akan menyesal. Pernikahan itu murni skandal yang susah payah Eric ciptakan.
“Kalau ternyata wajah Aira cantik, apa kamu juga nggak akan menyesal, Ric?”
Eric berpikir beberapa saat setelah mendengar pertanyaan Berto. Ia termenung. Bagaimana jika yang dikatakan Berto benar? Apakah yang ia lakukan kali ini tidak keterlaluan?
Dengan cepat, layar monitor tersebut mati. Tanda bahwa Respati sudah memulai aksinya. Ia tidak mau memikirkannya lagi.
Harus Eric akui, ada sekelebat rasa berkecamuk yang bergelayut.
Pria tersebut akhirnya berdiri. Ia mengajak Berto pergi ke sebuah tempat untuk meluapkan segala kegundahan hatinya.
Di kamar nomor 10 ....
Aira terkejut ketika mendapati lampu kamar itu mati. “Mas ... kenapa lampunya dimatiin?”
Perempuan itu bertanya dengan nada gemetar, seiring dengan kesadaran yang terkikis setengahnya. Kepalanya menoleh ke segala arah. Mencari rasa aman dari gelisahnya dalam kegelapan.
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar derap langkah yang makin mendekat. Perasaannya makin gelisah. Menunggu sesuatu yang kata orang mendebarkan bagi pengantin baru.
Tiba-tiba saja tubuhnya terlonjak ringan saat sebuah tangan menyentuh helai jilbab tipis yang sudah setengah tersibak.
Sentuhannya perlahan, tetapi cukup membuat Aira menegang. Tangan itu bergerak. Perlahan naik, menyentuh lengannya yang gemetar.
“Kalau lampunya dimatiin, kamu nggak bisa lihat wajahku, Mas.”
Aira berujar lagi. Sungguh, ia ingin menunjukkan apa yang seharusnya menjadi hak bagi sang suami.
Respati diam. Pria bertubuh tegap itu hanya memandangi sepasang mata hazel milik perempuan tersebut.
Dalam gelapnya kamar itu, ia masih bisa melihat sedikit bayangan dari perempuan yang kini duduk di tepi tempat tidur.
Ia berdiri di depan Aira. Tangannya mulai menyentuh wajah Si Perempuan yang tertutup cadar.
Respati mengapit kedua pipi Aira dengan kasar. Jari telunjuknya meraba bibir ranum yang tertutup sehelai kain tipis itu. Meski begitu, ia bisa merasakan bagian tersebut lembut dan dingin.
Meski begitu, sentuhan tersebut menimbulkan sensasi aneh dalam diri Aira. Ada panas dan dingin yang menyergap, tetapi berhasil mengundang rasa penasaran.
Rasanya seperti menuntut supaya apa yang pertama kali ia rasakan segera terlampiaskan.
Respati menyingkirkan tangannya dari sana. Satu per satu kancing kemejanya dilepas kasar.
Ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Pria tersebut menaikkan satu kakinya ke atas ranjang. Bertumpu di sana dan menghapus jarak keduanya.
Dalam beberapa detik, Respati bisa merasakan embusan napas Aira yang mulai memburu dan panas.
Ia kembali meraih wajah Aira. Menarik paksa kain cadar itu. Memaksa miliknya yang sudah menegang masuk ke dalam mulut kecil perempuan tersebut.
Aira tergagap. Kepalanya refleks mundur. Ia tidak terbiasa dengan ini. Tangannya mendorong milik Respati yang sudah berada di depan wajahnya.
“A–aku nggak bisa melakukan ini, Mas. Maaf ....”
Suara lembut Aira membuat Respati terdiam. Ia kembali membelai wajah perempuan tersebut kasar. Memaksa melakukannya lagi.
Kali ini, ujungnya berhasil masuk, meski hanya beberapa detik. Sebab, kini Aira kembali mendorong Respati dan menjauhkan wajah untuk yang kedua kali.
“M–Mas ... aku ... nggak bisa.”
Menyadari bahwa perempuan itu benar-benar menolak, Respati naik pitam. Ia mendorong tubuh Aira kasar hingga terlentang.
Tanpa pertimbangan apa pun lagi, Respati bersiap melakukan apa yang menjadi tujuannya malam ini.
Tidak ada sepatah kata sebagai pengantar. Respati membuka tiap helai pakaian yang melindungi tubuh Aira. Tenaganya yang besar itu tidak sulit untuk merobek paksa pakaian tersebut.
Respati mengungkung Aira yang sudah terlentang. Ia melebarkan kedua kaki perempuan tersebut.
Detik berikutnya, ia mendesak miliknya yang sudah menegang masuk ke bagian tubuh perempuan itu.
Penyatuan itu dilakukan tanpa pemanasan. Tubuh kaku Aira makin tegang. Sensasi perih dan nyeri menjalar. Merambat pelan dari bagian inti ke seluruh tubuh.
“To-long ... pelan sedikit, Mas.”
Suara itu lemah. Penuh permohonan. Aira memejam. Setetes air yang keluar dari matanya membasahi pelipis. Ia benar-benar berusaha beradaptasi dengan sesuatu yang asing di bagian bawah tubuhnya.
Respati menahannya beberapa saat. Memasukkan ibu jari tangan kanannya ke mulut Aira.
Refleks, perempuan tersebut menggigitnya keras ketika Respati mulai menggerakkan pinggulnya keras.
Rasa sakit itu makin menyiksa. Tubuhnya terentak kasar. Gerakan itu ... menuntut. Aira hanya bisa mencengkeram lengan kekar pria tersebut.
“Arghhh ....” Desahan itu keluar dari mulut Respati.
Pria itu merasa mabuk kepayang saat merasakan milik Aira yang masih kering terlalu sesak.
“Sa–sakit, Mas ....”
Persetan dengan rintihan kesakitan perempuan di bawahnya. Makin mendengar Aira kesakitan, makin puas pula senyum yang terukir di bibir.
Semua yang terjadi malam ini hanya untuk satu tujuan--Respati ingin menghancurkan mimpi dan masa depan Aira dengan cara yang paling menyakitkan.
Tidak ada satu pun orang tahu, Respati memiliki dendam terpendam pada Aira. Maka ketika perempuan itu hancur di tangannya ... itu adalah sebuah kemenangan besar baginya.
***