Aku memandang seluruh kebun itu, merasakan terpaan angin yang mengibarkan rambutku. seorang pemuda berlarian ke arah kami, napasnya terengah ketika tepat berdiri di hadapan Alexander. "Tuan, anda datang? kenapa tidak memberi kabar?" sapa pemuda itu. "Aku memang tidak memiliki rencana ke sini, tapi istriku, Alana ingin melihat kebun." jawab Alexander dengan senyum di bibirnya. "Oh, Selamat pagi, Nyonya, apa kabar?" pemuda itu sedikit membungkuk. "Halo." jawabku singkat. "Dia Axa, yang kuceritakan tadi, dia mandor di kebun ini. Semua pekerja berada di bawah pengawasannya. Dia pemuda yang hebat." Alexander terkekeh, menepuk bahu pemuda itu. "Semua berkat kepercayaan anda, Tuan." "Hahaha....kau sangat pandai berbicara, Axa. Bawa kami berkeliling, istriku juga ingin melihat proses pem

