Bayu menatap ketiga junior di hadapannya dengan tatapan horor. Dia bersedekap dengan dagu terangkat. Wajahnya sudah tak semengerikan kemarin.
Dengan paksaan Yasin dan Haikal tubuh ringkihnya diseret ke kamar mandi tadi pagi. Ya, mereka sangat gemas memandikan Bayu. Menggosok badan Bayu yang dekil nggak ketulungan dengan sikat WC. Hingga warna kulit gelap kusamnya luntur dan memaparkan kulit berwarna kuning langsat.
Rambutnya juga dikeramasi dengan sebotol sampo total demage. Membuang aroma tak sedap dari lembaran surai hitam keriwil itu. Bau belerang dari kawah merapi menghilang tanpa jejak. Rambutnya sekarang jatuh sangat halus. Setiap helainya bisa menari disapu angin. Sulit dikendalikan sehingga Bayu harus mengikat rambutnya ke atas, membuat wajahnya yang bersih dari jambang-jambang.
Haikal dan Yasin juga sudah membabat habis jambangnya tak bersisa—terlihat lebih jelas. Bersih, terawat, membuat junior-junior cewek di kampusnya semakin terpikat akan pesonanya. Coba kalau tubuhnya berisi dikit, pasti Andis dan Yasin lewat.
Dia mengenakan T-shirt hitam dibalut kemeja biru muda kotak-kotak milik Yasin yang dihibahkan padanya tadi pagi. Serta celana denim biru dongker robek-robek dibagian lutut dan paha hadiah dari Haikal. Plus sepatu sneakers pemberian Budi.
Bukan tanpa alasan mereka memperkosa Bayu di kamar mandi. Mendandani Bayu sedemikian rupa. Sosok Bayu yang muncul dari dalam kamarnya tadi pagi—setelah selama tiga hari mendekam dalam kamarnya semenjak insiden penjemputan nobita di bengkel Gaple— bisa membikin siapa saja yang melihatnya kesurupan.
Bayu yang biasa saja sudah mengerikan apa lagi tadi pagi. Rambut gimbalnya yang kata Gempita mengembang kayak dikasih baking powder kian menjulang, wajahnya gelap dan kusam tertutup debu, kantong matanya berlipat-lipat. Bau tembakau menyengat tanpa ampun. Matanya juga merah. Sungguh dia tak ubahnya sosok genderuwo kemasan mini. Mereka memiting dan menelanjangi Bayu—memperlakukannya seperti anak TK. Tak lupa juga menyemprotkan serangkaian parfum aroma kayu manis dan bunga Krissan ke tubuhnya.
---
Bayu sekarang fresh. Se-fresh otak dan pikirannya mengolah data dari tiga mahasiswa di hadapannya yang menatapnya dengan binar Puppy Eyes. Dia menghela nafas berat. Memijit keningnya. Tadi pagi dia sedang mengedit proposal panitia ospek yang setuju dengan usulnya untuk mengadakan malam inagurasi di Arung Jeram Songa.
Bram dengan antusias menemaninya di samping meja komputer di base camp komunitas mapala. Bertanya ini itu yang mendapat hadiah toyoran dari Bayu karena mengganggu konsentrasinya. Belum ada semenit Bram berhenti merecoki Bayu, sekonyong-konyong datang Andra dan dua konco-konconya sambil tersenyum cerah secerah sinar Matahari menyinari Surabaya pukul sepuluh saat ini.
Kedatangan mereka sebenarnya tidak digubris Bayu. Bagaimanapun juga secerianya Bayu di dunia ini dia paling nggak suka diganggu saat kerja. Tapi pernyataan yang terlontar dari mulut Andra yang beberapa hari lalu menemukan seekor kucing dan mengadopsinya itu cukup membuat seluruh perhatiannya serta merta terusik. Pecah berkeping-keping lalu berderai berserakan di lantai base camp. Bayu mengernyit. Alis kanannya naik beberapa senti.
"Ayolah Mas Bayuuu, cuma Mas Bayu yang bisa menolong kami. Daya pikat Mas Bayu tuh nggak bisa ditolak ama orang-orang," itu suara Ferdi. Mahasiswa teknik industri semester tiga. Dipergelangan tangan kiri sampai pangkal sikunya tercetak tato berbentuk semburan api. Sementara pergelangan tangan kanannya ada tato bentuk gelang duri. Pemuda asal Gresik bertubuh gempal yang di telinga kanannya tersemat sebuah anting bulat berwarna hitam.
Kerutan di kening Bayu semakin bertambah. Sungguh siapapun dia tolong ingatkan pada laki-laki cadas di hadapannya kini bahwa sumpah demi apapun Ferdi nggak pantas mengeluarkan jurus Puppy Eyes. Mata hitamnya malah melotot mengerikan. Seperti memberi kesan ngajak Bayu tawuran.
"Semua mahasiswa di kampus ini udah tahu kemampuan Mas Bayu. Kelihaian ama vokal Mas Bayu tuh emang tidak bisa diragukan lagi," kini suara keceklik sangat sumbang keluar dari mulut Rega pemuda dengan rahang runcing, serta rambut poni lempar ala-ala Boy Band Korea. Tubuhnya ramping dengan balutan blezer coklat dan celana skinny yang menunjukkan kaki-kaki jenjangnya.
"Tuh kan Mas Bay. Kemampuan Mas Bay benar-benar kami butuhkan. Tolonglah kami Mas Bay. Kami benar-benar membutuhkan kemampuan Mas Bay," interupsi suara Andra langsung mendapat pelototan dari Bayu. Spontan dia cengengesan, meremas tas plastik warna putih berisi makanan kucing yang baru dibelinya di pet shop depan kampus.
"Kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin sih?" tukas Bayu jengkel, menuding hidung Andra gemas dengan telunjuk kurus panjang dementornya. "Kalian nggak lihat aku lagi ribet ama acara ospek kampus?" Dia mendelik gusar.
"Lho bukannya dari pertemuan pertama kita di Auditorium gedung Fakultas Hukum gue udah bilang ya kalau gue ada perlu penting ama Mas Bay. Cuma Mas Bay nya aja yang sibuk-sibuk mulu nggak mau dengerin gue," protes Andra keki, menunjuk d**a Bayu dengan jarinya, matanya berkilat sebal," Bahkan gue bela-belain ke kos Mas Bay, ngantar Mas Bay ke benkel ambil nobita tapi tetep aja Mas Bay nggak mau dengerin gue."
Bayu mendengus, dalam batin meng-iyakan. Diliriknya Bram yang tengah sibuk dengan notes dan proposalnya di sebrang sana, "Ya tapikan kemarin aku emang benar-benar sibuk. Sekarangpun masih sibuk. Ck ah.... " Dia kesal, melempar tinjunya di udara bebas.
"Pliss Mas Bay pliis. Kita latihannya Cuma akhir pekan aja kok. Nggak akan menyita seluruh kesibukan Mas Bay," Rega mencoba bernegosiasi. Tatapan mata berairnya meluluhkan, tapi Bayu bergeming. Suara-suara merajuk model marketing sempak seperti dia sih sudah sering dia dengar dari mulut Andis. Jadi wajar kalau Bayu berpendirian teguh.
"Nggak usah kebanyakan mikir lah Mas Bay. Kalau menang hadiah utamanya sepuluh juta dibagi rata berempat."
Telinga Bayu berdiri seketika. Tanpa ada negosiasi bermulut gombal dengan kata-kata rajukan murahan ala sales kalimat Ferdi barrusan sukses men-skaknya. Bayu diam tak berkutik. 10 juta jelas benar-benar menggelitik. Mengingat bagaimana dia masih menanggung hutang dengan teman bee talknya.
"10 juta?" lirihnya. Pendirian teguhnya goyah. Ferdi, Rega dan Andra saling lempar lirikan dengan senyum menyeringai.
"Iya Mas Bay. Juara pertama dapat hadiah sepuluh juta. Mas Bay Cukup bawain tiga lagu, dan didukung performa apik kita, gue jamin 10 juta bakal jatuh ke tangan kita!" seru Andra berapi-api, menaruh bungkusan makanan kucing ke meja komputer.
"Apalagi suara Mas Bayu juga bagus. Aku sih yakin seratus persen kalau kita bakal menang," Rega meluncurkan aksi persuasinya, menepuk bahu Bayu dengan tegas seraya menampilkan aura positif di kedua mata jernih berairnya.
"Come on Mas Bayu. Sabtu minggu kita tunggu di Dalton Music Studio ya. Jam tiga sore. Ntar kita diskuisikan musik yang bakal kita bawa apa," timpal Ferdi merangkul Bayu.
Ah.. Pemuda bertubuh tipis itu semakin tergoda. Imannya sungguh tidak kuat. Walaupun dia menegaskan bahwa dia nggak bakal terjun di dunia band maupun sejenis itu tapi 10 juta benar-benar tidak bisa ditolak akal sehat dan nalurinya. Dia memang suka bermain gitar. Sudah termasuk pemain pro lagi. Suaranya juga seksi aduhai. Tapi dari dulu, dari jaman masih mengenakan seragam biru putih Bayu sudah memproklamirkan diri kalau dia nggak bakal sudi dengan yang namanya main band begituan apalagi Boy Band, cuih naudzubillah sorry ya. Makanya tadi saat andra mengajaknya bermain band dengan tugas sebagai vokalis, Bayu terang-terangan menolak mentah-mentah.
"Kita-kita ngajakin Mas Bayu sebenarnya udah lama," tutur Andra dengan suara membujuk manis.
"Cuma dari dulu Mas Bay selalu menolak ajakan kita. Ya udah deh kita akhirnya mengajak Firhan untuk menjadi vokalis band kita. Suaranya sih emang nggak sebagus Mas Bay tapi gaya panggungnya mampu mendongkrak band kampus kita ke kancah regional," nada bicaranya lugas, lancar, terkesan sudah menyusun dari jauh hari teks bujuk membujuk senior tua di hadapannya.
"Tapi semenjak semester lalu Firhan pindah kuliah di kampung halamannya di Jogjakarta sana, posisi vokalis band kita jadi kosong. Dan itu nggak bisa dibiarkan, karena kita udah mendaftar kompetisi groub band seJawa Timur dari kapan hari."
Sungguh itu rayuan maut sepanjang sejarah yang Bayu dengar. Apalagi ada embel-embel kata 'kita' seolah-olah Bayu emang diciptakan untuk melengkapi kekosongan band kampus yang sangat terkenal seantero jagad kampus tersebut. Bayu sangat terbuai. Ini kata-kata manipulasi termanis yang pernah dia dengar. Bahkan kalimat-kalimat indah penuh berlian tiap kali Andis membujuknya tak pernah semanis ini.
Nama 'Elek Yo Band' yang anti mainstream di lingkungan kampus memang mampu menarik perhatian siapapun yang mendengar. Apalagi penampilan Andra dan kawan-kawan dalam setiap performanya yang memang memikat itu. Firhan selaku vokalis dengan suara tenor melengking tinggi, Ferdi drummer, Andra bassis, serta Rega sang gitaris yang memunggawai grup band kampus tersebut selalu meluluh lantakkan audiencenya. Berbagai macam lomba antar kampus berkali-kali mereka menangkan. Sampai memicu dendam kesumat mahasiswa its yang selalu menjadi runner up di tiap kejuaraan. Membuat nama 'Elek yo ban' melambung. Tenar.
Namun, dengan hengkangnya Firhan selaku ujung tombak membuat Andra kelimpungan. Apalagi mereka sudah mendaftar kompetisi band bergengsi seJawa Timur yang diadakan tiap dua tahun sekali. Andra sang pendiri 'Elek yo band'. Harus berpikir keras. Mengadakan audisi dadakan beberapa minggu lalu yang hasilnya gagal total. Sampai ketemulah dia dengan Bayu di Auditorium Fakultas Hukum. Secercah harapan itu terpantik di mata kelabunya.
"Oke!!" pungkas Bayu membawa angin sejuk elek yo band, "Asal bagi rata hadiah 10 jutanya."
Ketiga pemuda tangguh dihadapannya mengangguk mantap. Bersalaman mengikrarkan deal. Dan sabtu nanti dia sudah diharuskan mengikuti latihan perdananya.
---
Taman Bungkul sore hari menggeliat di tengah-tengah kota. Udara panas dengan sapuan angin-angin sejuk mampu merengkuh berbagai macam insan untuk turut bercengkerama di taman terbesar surabaya tersebut. Di tempat ini semua persoalan seolah sirna ditelan keramaian dan keindahan suasana taman asrinya.
Ada suara tawa renyah bocah-bocah ditemani orang tuanya yang sedang bermain di tengah semburan air mancur, sekumpulan anak yang berlarian mengitari bundaran tengah taman, muda-mudi yang sedang menikmati sore mereka di Jogging Track. Tak jarang pula terlihat sekumpulan pemuda belasan tahun yang tengah asik melakukan atraksi di arena sepeda BMX Track.
Bayu sendiri sedari jam tiga sore tadi sudah bergabung dengan komunitas skateboardnya. Menggunakan papan skate berwarna hitam yang ada lukisan matahari. Melakukan berbagai macam manuver di kawasan yang khusus diperuntukkan para skater.
Kaki kirinya menjejaki lantai semen untuk memberikan dorongan sementara kaki kanannya bertumpu pada papan. Dia meluncur mulus sambil melontarkan berkali-kali papan skate ke arah atas.
Gerakan Bayu sungguh lincah—keseimbangan tubuhnya mantab. Meliuk berseliweran diantara anak skateboard lain. Tak jarang pula ia memutar papan skateboarnya sambil melompat. Tubuhnya seakan sudah terampil dan terasah profesional, mendarat dengan sempurna di atas papan tiap kali melompat. Hampir tidak pernah limbung.
Bayu meluncur dengan kecepatan stabil, papan skatenya melaju kemanapun ia kehendaki. Melenggok kanan kiri.
Suara roda-roda skateboardnya yang beradu dengan alas semen terdengar klatak-klatak menggairahkan semangat, pandangannya fokus kedepan lalu setelah beberapa saat papannya meluncur lurus tiba-tiba dia melompat tinggi.
Tubuh kerempengnya yang diposisikan sedikit jongkok melambung ke atas dengan sebelah tangan memegangi bagian tengah papan, untuk sesaat dia bisa merasakan tarian angin membelai wajahnya, dan pacuan adrenalin semakin menggenjot denyut jantung kemudian klatak klatak papannya kembali landing sempurna dan meluncur lurus.
"Push off Mas Bay...!!" teriak Erick tak jauh dari tempatnya meluncur.
Bayu memalingkan wajah ke arah sumber suara, tersenyum lebar seraya mengangkat dua jempol begitu manik iris madunya mendapati salah saatu kawan sekomunitas. sejurus kemudian dia mengarahkan skateboard yang seolah sudah menyatu dengan kaki-kakinya ke arah tiang slide. Memposisikan tubuh sedemikian rupa, menjaga keseimbangan di atas papan lalu berancang-ancang di hadapan tiang slide yang tak jauh dari tempatnya meluncur.
Bayu semakin kuat menjejak lantai untuk menambah kekuatan dorong lalu hap.... !!! Dia melompat dengan kecepatan penuh, menaiki dan meluncur dengan lurus melewati tiang slide dengan menempatkan papan bagian tengah skateboard kearah tiang slide.
Papan meluncur di atas tiang lalu landing mulus, berselancar lurus menuju Erick yang juga asik dengan skateboardnya, melakukan High Five sepintas lalu kemudian membelokkan papannya untuk menghadapi tiang Slide lagi.
Bayu Sedikit membungkukan tubuh dan dengan sekali hentakan keras penuh tenaga Bayu kembali Menaiki tiang Slide, meluncur dengan lurus melewati tiang slide tapi kini menggunakan bagian belakang skateboardnya dengan posisi kedua tungkai lutut diketuk. Kedua tangannya terentang diudara untuk menyeimbangkan berat tubuhnya. Skateboardnya berlari mulus lalu mendarat lagi dengan sempurna. Klatak...klatak...
Erick bertepuk tangan di tempatnya yang mendapat gelengan kepala Bayu. Suara teriakannya bersemangat menyemangati sambil melakukan manuver-manuver kecil dengan skateboard birunya.
"50-50 Mas Bay," gerecokinya lagi.
Bayu tertawa dan kini membawa arah luncur skateboardnya menghadapi dinding seluncuran setengah lingkaran yang menjulang tinggi.
Teman-teman lainnya termasuk Erick sudah berakrobat di sana. Tubuhnya meluncur ringan dan luwes. Bayu menambah laju kecepatannya. Sedikit membungkukkan tubuh.
Papan dia ajak ke area seluncuran, berlari terus sampai papannya Menyentuh pinggir seluncuran skateboard yaang tinggi itu dengan bagian antara papan tengah dan roda belakang skateboard.
"Wuhuuu.... lama nggak latihan ternyata kemampuan lo masih oke juga Mas Bay," seloroh Erick mengikuti Bayu yang menepikan skateboardnya di rest area setelah aksi akrobat cantiknya barusan.
Bayu tertawa kecil, turun dari papan skate kemudian duduk di bangku semen. Membuka tas backpackingnya dan mengeluarkan botol air mineral di sana.
"Kemana aja lo Mas Bay nggak pernah memunculkan batang hidung lo ke sini lagi?" tanya Erick menyusulnya duduk.
Bayu membuka tutup botol air mineral, meneguk isinya sampai separuh lalu separuhnya lagi dia siram ke kepalanya yang banjir keringat. " Biasalah sibuk travelling," jawab Bayu sekenanya, memalingkan muka ke arah Erick sambil terkekeh.
Erick ikut tertawa, menoyor lengan Bayu pelan, "Kebiasaan buruk lo tuh." Dia menyambar botol air Bayu yang masih tersisa sedikit lalu merenggut isinya dengan bibir ungu tebalnya, " Urusin tuh skripsi. Nggak bosan lo jadi mahasiswa abadi?"
Cengiran di bibir Bayu melebar, "Bosan?" bahunya bergoncang menahan tawa, "Selagi aku belum bosan dengan aktifitas mapala aku nggak akan bosan dengan kampusnya. Hehe..."
"Ah... muka udah kayak gunung aja lo masih juga mikirin yang kayak begituan."
"Mau gimana lagi ya Rick, aku udah diciptakan menjadi anak gunung deh kayaknya."
"Mbah Marijan, lo?"
Tawa keduanya pecah. Lalu sama-sama memalingkan muka ke arena skateboard track yang semakin sore semakin rame akan anak-anak remaja. Erick dulu mahasiswa dua tingkat dibawah Bayu jurusan komunikasi. Dia sama-sama tergabung komunitas skateboar surabaya bareng Bayu semenjak semester pertama. Erick sudah lulus beberapa tahun lalu dan kini menjadi salah satu karyawan di perusahaan telekomunikasi di Surabaya.
"Rick, bantuin aku dong," Celetuk Bayu tiba-tiba, kedua mata coklat dengan iris kuning kecoklatan seperti madu tersebut memandang intens pemuda bertubuh matang di sampingnya.
"Bantuin apa?" tanya Erick, meremas botol minuman yang udah kosong di tangannya lalu membuangnya ke tong sampah tak jauh dari mereka duduk, "Tumben banget nih minta bantuan? Kesurupan lo?" dia menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring.
Bayu meninju bahu Erick pelan sambil terkekeh, "Bantuin aku cari kerjaan dong."
Erick tersedak air liurnya sendiri, ditatapnya Bayu dengan ngeri, "Gue nggak lagi dengerin Tukul Arwana nglawak kan?"
"Ah. sialan kamu Rick. Aku serius nih."
"Gue juga serius kali Mas Bay. Lo minta bantuan gue nyari kerja? Kesambet setan apa lo? Tunggu. Ini bukan april mop kan? Lo nggak lagi nistain gue dengan candaan lo kan?"
Bayu mengeplak kepala mantan juniornya gemas, Erick meringis sambil mengusap kepalanya.
"Seriusan napa Rick?"
"Sorry-sorry, habis gue shock banget denger lo butuh kerjaan. Kayak bukan mas Bayu yang gue kenal gitu?"
"Emang muka aku nggak pantes mohon-mohon pekerjaan apa?"
"Muka lo lebih pantas mohon diceburin ke Kawah Ijen sih."
"Kampret lu!!!!"
Erick tergelak melihat mantan seniornya yang manyun. Lucu, "Di tempat gue kerja lagi butuh maintenance mas bay. Lo bisa kirim surat lamaran kesana. Ntar gue temenin," ujarnya menambahi.
Bayu menatapnya antusias, "Serius? Makan tidur di sana nggak? Shift kerjanya bisa nego nggak? Kan kamu tahu aku masih ada tanggungan di Kampus."
"Anjrit lo, mau cari kerja apa mau jadi majikan?"
Pemuda tipis itu meringis cekikikan, menggaruk tengkukknya yang tidak gatal, kedua tangannya bertumpu pada lutut, lalu mendongakkan kepala memandang cowok ganteng dengan kulit putih bersih di sampingnya tersebut.
"Hehe... " Tawanya tanpa dosa. Menaik-naikkan kedua alis.
"Ah. Sial, ya nggak ada lah kerjaan makan tidur di tampung. Emang lo pembantu apa?"
"Pembantu pun nggak apa-apa deh. aku lagi butuh penampungan nih. Di kosan aku nggak ada kasur. Makanya aku butuh kerjaan yang tidur ama makan ditampung majikan."
Erick tersedak liurnya lagi, terkejut bukan main dengan ucapan sahabatnya, "Wah... wah... nggak waras lo Mas Bay."
"Aku serius Rick. Aku bener-bener butuh kerja yang mau menampungku tidur dan menyediakan makan buatku. Kalau menjadi pembantu ada, kenapa aku tolak. Ayolah tolongin aku. Pleaseeee...." Bayu mencoba memainkan puppy eyes, tapi yang ada Erick malah bergidik melihatnya.
Sumpah demi apapun walaupun kini Bayu sudah terlihat terang dia tetap tidak pantas dengan yang namanya puppy eyes. Matanya yang dipaksa membulat, dipaksa berair dan dipaksa mengeluarkan sparkling-sparkling ajaib ala-ala Gempita malah semakin terlihat seperti anjing sange minta disodomi. Ah, sungguh mengerikan pokoknya. Bulu tengkuk Erick sampai berdiri.
"Bentar dulu deh Mas Bay," Erick mengambil jeda, " Pertama elo minta dicariin kerja aja masih terlalu ajaib di telinga gue, nah sekarang minta dicarikan kerja sebagai pembantu? Otak gue belum nangkep sinkronnya nih. Sekarang jelasin dulu kenapa tiba-tiba lo kegatelan minta dicarikan kerja? Trus kenapa pula minta yang makan ama tidurnya disediakan majikan? Lo nggak lagi mau magang jadi calon TKI kan?"
"Ah. Sialan lu Rick," Bayu menoyor kening erick yang yang langsung meringis sambil mengusap-usap bekas toyorannya, "Aku lagi terlilit hutang nih. Makanya aku butuh banget duit buat bayar hutang-hutang aku. Kamu tahu kan seumur-umur aku nggak pernah punya yang namanya hutang. Ini hutang pertama aku. Jumlahnya gedhe lagi. Makanya aku nggak bisa tenang sebelum aku membayar hutang-hutang aku. Nah untuk masalah makan minta ama calon bos aku tuh supaya gaji yang aku terima nggak berkurang buat beli makan, biar cepet terkumpul buat bayar hutang. Kalau masalah tidur sih... yah, kebetulan sebulanan yang lalu kasur kos ku aku jual buat beli rokok. Kamu tahu kan aku nggak bisa hidup tanpa rokok. Nah jadi selama sebulan ini aku tidur nggak pakai kasur. Cuma beralas kardus mi instant. Dan itu sumpah nggak enak banget meeen. Tiap bangun tidur rasanya tulang punggungku banyak yang geser dari tempatnya."
Erick terbengong-bengong. Sumpah ini adalah cerita termenye-menye versi live yang pernah dia dengar. Seolah-olah dia sedang menonton sinetron stripping di RCTI yang episodenya sampe beribu-ribu dengan tajuk derita anak kos. Rahangnya menganga, kalau bisa jatuh pasti sekarang udah tergilas ama roda-roda skateboard. Ini asli nggak sih. Atau semacam serial realityshow dengan Bayu sebagai umpannya? Dia celingukan ke kanan ke kiri untuk mencari tahu kamera tersembunyi. Siapa tahu tak jauh dari mereka duduk dan bercurhat ria sembunyi seorang presenter TV yang lagi mau menguji tingkat ketulusannya menolong mahasiswa mengenaskan di hadapannya tersebut? Ah itu jelas terlalu mengada-ada. Erick menggelengkan kepalanya, untuk mengenyahkan imajinasi liar yang tidak ada pada tempatnya.
Ditatapnya Bayu yang masih stuck di ekspresi failed puppy eyes mengerikan. Dilihat dari point of view manapun, mahasiswa teknik elektro di hadapannya itu memang sedang sekarat menanggung hidup.
Tubuhnya kian hari kian tipis. Walaupun wajahnya terlihat fresh dan tampan tapi komposisi ketipisan tubuhnya seolah-olah sedang ingin memberi tahu pada siapapun yang melihatnya bahwa dia tengah mengalami busung lapar dan sedang memikul beban besar. Tak tahulah, Erick sendiri juga masih shock mendengar pengakuan mengejutkan sahabat sekomunitasnya itu.
Dia membuang nafas panjang sambil mengusap wajah berkumisnya dengan kedua tangan besarnya, "Cerita lo miris banget sumpah. Ngalahin sinetron kisah sedih di hari minggu aja. Gue nggak tahu lo bohong atau nggak, walaupun mata jelek lo ngomong kalau lo jujur tapi otak dan pemahaman gue masih ngeraba-raba tingkat keontetikan kejujuran lo."
"Ah. Bego kamu Rick. Lu kata teks proklamasi sampe ada nilai tingkat keontetikannya. Aku serius. Bener-bener butuh bantuan kamu. Minta bantuan temen-temen kampus juga belum ada yang bisa. Ayolah mana pernah sih Mas mu ini bohongin kamu."
Dan di belahan bumi bagian manapun, siapa saja yang mengenal Bayu luar dalam lengkap dengan sempak bergambar doraemonnya itu, jika Bayu sudah menyebut dirinya sendiri dengan kata 'mas' itu berarti kata-kata yang terucap dari bibir merah pucatnya adalah Kebenaran. Ketulusan. Kejujuran. Erick tak menyangkal itu. dia memyampirkan tangan ke punggung Bayu, mengusapnya pelan penuh kelembutan.
"Dalam mimpi yang nggak pengen gue jumpai pun gue ngga pernah mau ngelihat lo berprofesi sebagai pembantu. Imajinasi nista gue aja setujunya paling nggak llo jadi maintenance lal, secara nilai praktikum lo dahsyat-dahsyat. Tapi meeen, pembantu?? Really, Mas Bay?"
Bayu mengangguk mantab. Meditasi abal-abalnya selama tiga hari ini selalu menuju arah satu yaitu 'pembantu'. Walaupun sangat rendahan dan nggak selevel ama pendidikannya tapi dia sangat yakin dengan profesi tersebut.
Seperti ada gelanyar aneh yang menyusup di rongga perutnya. Toh selama ini dia sduah tidak menomor satukan pendidikan lagi.
Skripsinya masih stuck di bab satu. Sangat putus asa untuk merevisinya dan melanjutkan sampai selesai. Dan tenaga yang dimilikinya saat ini sangat sia-sia rasanya untuk menyentuh lembaran-lembaran kertas hvs putih 60 gram di almari kardus dalam kamar kosnya yang penuh coretan dari dosen pembimbing.
Sementara janji manis 'Elek yo band' dalam kompetisi grup band sejawa timur bernilai 10juta juga masih misteri. Ya kalau menang, kalau kalah, lah mau bayar hutang pakai apaan. Latihan aja juga belum.
"Kalau lo benar-benar serius gue nggak bisa ngapa-ngapain lagi," kata Erick dengan suara bass besar, " Entah ini rejeki, keajaiban, kebetulan, atau apapun itu lo datang pas banget Mas Bay." Dia mengambil nafas besar lalu melepasnya perlahan, " Budhe gue sekarang lagi butuh banget seorang pembantu plus Baby Sitter. Dia udah pasang iklan di harian jawa timur sampai jawa pos. Tapi tak kunjung juga mendapatkan pembantu. Padahal syarat-syaratnya juga nggak muluk-muluk, Cuma harus bersih, wangi, pinter masak, ama pinter jaga anak. Budhe gue juga udah obral gaji yang intinya mau minta gaji berapapun bakal dikasi. Nggak usah mikirin masalah kebersihan rumah maupun nyuci, karena udah ada yang ngurusin. Tugasnya Cuma masak ama jaga anak umur lima tahun doang. Tapi sampai mulut gue berbusa ngomong ke lo, tuh iklan belum juga membuahkan hasil yang artinya Budhe gue tak juga dapat pembantu. Kalau lo mau gue bisa anterin lo ke rumah Budhe gue."
Jackpot!! Itu yang Bayu tunggu-tunggu. Seperti bertemu oase di sepanjang gurun surabaya yang gersang ini. matanya berbinar-binar takjub. Wajahnya merona. Semangat hidupnya seperti dicolokkan ke power bank. Terisi lagi, bernyawa lagi. Dia melonjak-lonjak kegirangan, memeluk ala teletubbies yang langsung dapat tinjuan dari erick.
"Ada tapinya Mas Bay. Diem dulu, dengerin gue dulu. Gue belum selesai ngom—ah Mas Bay..." Erick kelimpungan menahan bibir Bayu yang udah monyong-monyong mau menyosornya. Itu menjijikkan banget. Susah payah dia menopang d**a Bayu dengan kedua tangannya. Padahal dia mau menyelesaikan beritanya tapi Bayu yang sudah kegirangan malah menulikan kedua telinganya. Ah, kamu ceroboh Bayu. Setidaknya dengerin dulu kek, nanti nyesel tahu rasa kamu.