Bayu lagi nongkrong ama anak-anak kos lainnya di depan bangunan rumah lantai dua yang udah menampung dirinya tujuh tahun lebih selama hijrah di kota pahlawan.
Gang kecil kompleks perkos-kosan yang tak jauh dari kampusnya rame berseliweran pemuda-pemudi yang lagi menikmati malam rabu mereka, sekedar mencari makanan di depan gang, atau jalan-jalan. Suasana lepas maghrib memang selalu pas di jadikan anak-anak kos untuk kongkow-kongkow melepas penat setelah seharian bergelut di kampus dengan seabreg tugas maupun presentasi di depan dosen-dosen killer. Gerobak tukang bakso sesekali lewat dengan membunyikan denting khasnya menjajakan bakso kikil dagangan mereka. Pedangang sate madura tak jarang pula ikut meramekan gang sempit komplek perumahan tersebut seraya memanggul angkringan di pundaknya. Suara logat kasar surabaya dengan timpalan cuk-cuk, logat unik banyuwangian, serta aksen madura yang tajam saling beterbangan. Meriah. Kayak di pasar malam aja. Tumpang tindih ama suara anak-anak kecil yang merengek dengan ingus berlelehan di hidung mereka, kawin dan berbaur ama suara cempreng emak-emak dengan daster kedodoran tanpa lengan yang mengomel harga cabai masih saja merangkak naik.
Bayu mengenakan setelan baju koko biru telur asin yang kebesaran di tubuhnya, sarung kotak-kotak merah hitam, serta peci putih di kepala. Dia memeluk ukulele berwarna biru dengan rokok dji sam soe kretek menyumpal bibir merah keunguannya. Menggenjreng senar ukulele tersebut diiringi suara sumbang teman-teman se kos menyanyikan lagu iwan fals. Suara bas kerendahan, bariton picy, tenor tercekik keluar dari bibir enam pemuda yang sedang ingin mengenyahkan masalah di pikiran mereka.
"gila!! kemarin kelas i (ai) didatangi dosen baru lak galak tak iye. Dia mengajar teknik elektro optik yang sulit itu jadi tambah lit sulit aja." Itu suara budi-tapi jangan sampai panggil nama budi jika tidak ingin dilempar clurit olehnya, panggil dia buddy(di-baca baddi), biar kayak orang inggris katanya, mahasiswa sejurusan Bayu semester tiga, asli madura dan punya bapak petani tambak kaya raya-disela iringan dentum suara ukulele dari tangan Bayu, "masa baru masuk langsung kasih gas tugas aja. Iya kalau tugasnya mudah, ini tugas sulit banget. Nggak kasih contoh lebih dulu. Langsung dihajar. Bleh, dancuk banget kan tu dosen. Kalau ketemu i diluar kampus bakal tak kasih clurit itu dosen tak iye."
"ah masa sih bud." Itu jelas kesalahan. Dilarang memanggil bud atau budi. Tapi laki-laki udik bertubuh mini tersebut-ah tidak kuat menjelaskannya. Dia langsung mendapat hadiah tendangan dari buddy di tulang keringnya. Menjerit nyaring kayak bencong biasa mangkal di depan pasar turi. Jangan salahkan suara tenornya yang seperti kecekik itu saat berteriak jalang, tapi salahkan kaki buddy yang tahun lalu didaulat sebagai pemain sepak bola terbaik sejawa timur.
"panggil aku buddy. For yur informesien anak muda. Grendfader i itu ada hubungan darah ama pangeran william. Past aja when prince william got merrit ama kate middleton keluarga i dapat golden undangan. Jadi kalau yan sampeyan nggak pengen i kasih celurit panggil i buddy. B-a-d-d-i. Andesten?" buddy geram, menjewer hidung marvin gemas nama laki-laki mungil tadi yang khilaf keceplosan manggil dia bud.
Sementara teman-teman lain tertawa mendengar logat madura medok buddy yang memperkosa bahasa inggris dengan sangat keterlaluan, marvin si pria mungil Cuma manyun sambil ngelus-ngelus betis kecil mulusnya.
"iya-iya bat maaf-maaf." Bibirnya manyun, melihat buddy sedikit keki.
"eh bad dosen elektro yang kamu maksud itu pak mada bukan?" tanya haikal-laki-laki asal lamongan kesayangan Bayu karena sering menghadiahinya soto lamongan-bertanyan seraya melirik buddy dari tempat duduknya.
"ya. Kok sampeyan hu-tahu tak iye?"
"yah kabar ada dosen baru nyampe keles di fakultas ekonomi. Aku sih nggak peduli ya. Lagian ngapain gosipin bapak-bapak tua nggak menarik. Enakan gosipin toketnya jupe yang besar sebelah. Tapi sepanjang hari ini kupingku panas juga. Seluruh cewek di kelas bahkan di kampus pada ngomonin tuh dosen. Bikin kuping penging aja." Imbuh haikal, membuka bungkus rokok marlboro light yang baru di belinya di minimarket depan gang, mengambil sebatang, lalu menyulutnya. Sejurus kemudian asapnya mengepul berbaur dengan asap milik Bayu.
"ah ngapain gitu wadon-wadon itu ngomongin dosen killer segala tak iye? They dunno andesten apa galaknya tuh orang udah ngalahin jin penunggu toilet kampus?"
"katanya sih orangnya gateng gitu. Halah paling juga gantengan aku kemana-mana."
"ngaca dulu kalau mau ngomong ganteng." Itu interupsi suara erlang, asli kediri, yang kalau habis mudik suka bagi-bagi tahu kuning ke teman-teman sekosnya, dia ngambil udud di bungkus marlboro yang baru dibuka haikal, "muka kamu kayak tutup botol oplosan gitu di bilang ganteng." Menyalakan korek bensol dan tak berapa lama kemudian asap rokok dari mulutnya ikut menyumbang suasana teras semakin sesak.
"kampret banget kamu cuk. Gini-gini yang penting aku udah punya cewek. Lha kamu, masih aja jomblo gitu." Semua tertawa mendengar celoteh haikal. Erlang Cuma mesem-mesem sambil garuk-garuk tengkuk, menyedot rokoknya dengan nikmat sambil masang tampang nista.
"tapikan aku sekarang lagi pdkt ama yani. Anak akper itu."
"wong edan!!!" dengan tanda seru tiga yang menunjukkan itu umpatan nggak main-main. Keluar dari bibir tebal cipokable yasin yang hafal surat yasin dan sering dipanggil tahlilan ama emak-emak kompleks, "dia primadona kampus cuk. Foto profil fesbuknya aja suka dibuat hayalan c**i ama anak-anak fisip. Ngayal gedhe kamu pdkt ama dia." Nyengir, condong ke seringai. Menakutkan. Mahasiswa sastra prancis asal ponorogo yang jadi rebutan cewek-cewek sefakultasnya.
"halah mentang-mentang kamu ganteng aja ngejekin aku kayak gitu?" desis erlang sebal.
Yang lain Cuma ketawa menanggapi. Sudah jadi konsumsi umum kegantengan yasin. Dia ganteng pakai banget. Kalau Andis ganteng karena ada blesteran darah china, maka yasin ganteng khas pribumi. Dengan kulit kuning langsat mainly, serta perawakan tubuh atletis walapun nggak segedhe dan setinggi Andis.
"akukan emang ganteng. Tapi walaupun yani ngejar-ngejar aku, aku juga nggak mau ama dia." Selorohnya yang langsung dapat toyoran dari haikal ama erlang.
"ah belagu banget kamu sin." Tukas haikal, "sedenialnya kamu, pasti nggak bakal nolak lah ama tubuh seksinya yani. Ikan asin nggak bisa ditolak ama kucing garong kayak kamu. Apalagi kamu mantannya banyak banget. Kalau dikumpulin bisa satu kompi." Dia menowel kening yaasin lagi yang ditanggapi dengan gelak tawanya.
"secara yanni feri butiful so mad tak iye. Skin putih plus kecang. Toketnya bleh 38 - 40 gitu. Pasti pepeknya aduhai nget banget tak iye. Smell gud. Dinding rahimnya kalau jepit tol k****l pasti rapet banget cuk. Sial jadi ni horni gini tak ye." Ujar buddy meringis, ngelus-ngelus selakangannya, "karina mah wat lewat ama yani tak iyeh. Paling toketnya karina Cuma nyampe 36an aja."
"ah kamu bat. Emang m***m. Udah punya pacar masih aja ngayal cewek lain." Marvin menyenggol lengan buddy.
"sorry vin. Bocah kecil kayak yan sampeyan, nggak akan paham ama omongan pria dewasa tak iye. Mending sampeyan diem. Buka-buka hp main game pow aja."
"sialan kamu but..."
tawa meledak lagi, berbaur ama asap-asap rokok kretek ama lights dan abu tembakau di lantai. Suara ukulele ditangan Bayu yang sedari tadi Cuma diam menanggapi obrolan adik-adik tingkatnya terdengar samar. Berdenting-denting merdu walaupun nadanya lirih. Dia tersenyum geli sesekali, ketawa-ketawa ngakak karena gemas. Seraya terus menyumpal bibirnya dengan rokok yang entah udah batang ke berapa. Rokok pemberian haikal yang hari ini syukuran karena presentasinya tentang laba-rugi mendapat nilai A+, biasanya dia Cuma mentok di huruf C nggak naik juga nggak turun.
"dengar ya bleh, meskipun mantan aku banyak tapi aku pilihnya yang perawan. Nggak mau aku nusukin k****l aku ke p***k yang udah dibobol duluan. Lower dower, nggak bisa bikin klimaks. Sensasinya nggak nendang, nggak kayak pepeknya perawan. Selaput dara yang kesobek ama kepala k****l aku yang tajem warna merah itu bikin tambah ngaceng ama b*******h. Jadi semangat genjot ngobrak-abrik rahimnya, muncratin p**u ampe lemes. Tapi kalaau dia udah nggak perawan, nggak ada sensasi itu. k****l aku nggak bisa turn on" Yasin menaik-naikkan alisnya dengan cengiran khas yang menaikkan level kegantengannya naik satu pringkat.
"kampret maksud kamu ngomong gitu apa?" erlang bersungut-sungut, menjentikkan ujung rokoknya di atas asbak seng berwarna emas, menyedotnya lagi lalu menbuang asap hingga membumbung di langit-langit teras.
"kamu nggak lihat tubuh yani udah pada dower?" balas yasin mengangkat dagunya dengan tangan bersedekap.
"dower yur head yang peyang tak iyeh?" buddy menggetok kepala yasin, "jelas-jelas tubuhnya kencang tak iyeh kebanyakan jamu rapet wangi kayaknya. sampeyan lihatnya ri dari sedotan yang ujungnya ditutup kali tak iyeh."
"makanya kalau lihat orang tuh yang jelas." Seloroh yasin mengusap kepalanya yang kena getokan, sial kuat banget tangan buddy. "Yang lebih detil. Kalau ketemu yani, lihat baik-baik tubuhnya. Toketnya emang gedhe tapi udah melorot. Kayak pepaya. Bokongnya juga sempor, turun dan gedhe sebelah kanan. Dia tuh udah nggak perawan. Pepeknya udah dijebol berkali-kali. Kalau jalanpun ngangkang. Aku tebak dia n*****t sehari paling nggak dua kali."
Kali ini erlang, buddy, ama haikal sukses menjitak kepala yasin tanpa ampuh. Membuat si empunya mengerang mendapat kesakitan bertubi-tubi sambil mengusap-usap kepalanya yang masih dibungkus peci. Marvin senyum-senyum sendiri. Mahasiswa semester dua jurusan akuntansi yang merupakan satu-satunya cowok termuda di kos-kosan tersebut.
"eh bat beneran dosen barumu si mada om-om ganteng itu?" yasin bertanya tiba-tiba.
Baddy bergumam membenarkan sambil mengangguk.
"damput... berarti dia selama ini yang n*****t yani." Kali ini Bayu yang sedari tadi Cuma diem aja menaikkan sebelah alis. Memasang pendengaran setajam mungkin. Membungkus tubuh yasin yang baru saja mengeluarkan statement mengejutkan.
Suara celoteh di jalan semakin ramai seiring suara adzan isa yang udah berkumandan beberapa waktu lalu. Rumah kos di sebelah kosan Bayu sedang mengadakan birthday party. Seorang cowok yang mungkin hari ini sedang berulang tahun tubuhnya berlumuran telur dan tepung. Dia mengumpat marah-marah tapi tertawa keras setelahnya.
"babi taik, jangan fitnah kamu." Hardik erlang menuding d**a yasin dengan telunjuknya sambil memasang wajah tak kalah terkejut dari Bayu.
"ih yasin ini suka bikin sensasi aja deh. Kalau goosip kamu didengar ama anak-anak kampus bisa kena scorsing kamu." Kata marvin memperingati seraya memicingkan matanya.
"beneran bleh. Aku nggak gosip atau fitnah. Kalau nggak salah sekitar setahunan lalu aku ketemu yani ama tuh orang booking salah satu kamar di hotel. Sialnya kamar yang mereka booking berada tepat di sebelah kamarku. Suara desahan mereka yang f**k itu terdengar kerass banget dari kamarku. Dan kamu-kamu tahu nyet, sesudah hari itu aku sering memergoki mereka jalan bareng sambil gandengan tangan, bahkan rangkulan. Pas aku ke kenjeran ama temen-temen sekelas juga ketemu mereka. sial banget kan bleh nasibku, mana aku sempat nggak sengaja lihat mereka n*****t di semak-semak lagi. Kan monyet banget bleh. Bahkan seminggu lalu waktu aku n*****t rima di hotel grand surya lagi-lagi aku ketemu mereka. anjing banget kan. Makanya kemarin aku kaget banget lihat wajah ganteng sundelnya tuh om-om ada di pelataran kampus. Aku kira dia mau jemput yani ngajakin n*****t kayak biasanya. tapi aku shok banget lihat dia keluar dari ruang rektor sambil jabat tangan pak burhan. Aku yang kemarin lagi mau ke ruang dosen sempat dengar apa yang mereka ucapkan. Tambah nggak percaya lagi pas pak burhan ngasih selamat buat tuh orang b******n karena udah diterima jadi dosen di kampus kita. Silit banget kan. Untung dia bukan dosenku. Kalau aja tuh om-om ganjen jadi dosenku udah kuhajar habis-habisan dia. Gedeg banget ada orang tua hidung belang seperti dia. Mana ngentotnya ama mahasiswanya sendiri lagi." Jawab yasin panjang lebar yang sukses membungkam seluruh pemuda di teras tersebut.
Bayu sedikit menegang. Bergidik ngeri dengan sorot mata yang sulit dimengerti. Pandangannya menerawang, seperti mengeja sesuatu di dalam benaknya. Marvin yang mengetahui air muka Bayu berubah secara tiba-tiba bertanya kenapa. Tapi Bayu Cuma tersenyum menggeleng. Lalu menggenjreng ukulelenya yang sempat berhenti. Disesapnya rokok kretek ditangannya tersebut lebih dalam dengan perasaan tak tergambar. Lalu menghembuskannya pelan.
Sementara temen-temen sekosnya udah mengalihkan topik pembicaraan ke liga premier tadi malam. Bayu masih berkutat dengan pikirannya sendiri yang terus berputar-putar seperti black hole yang mampu menyedot seluruh perhatiannya saat ini. Suara senar ukulele yang dipetik ama jarinya mengeluarkan serentetan not-not nada yang berkesinambungan dan harmonis. Serasi dan selaras. Dia lalu bergumam dengan suara serak seksi khasnya. Bait demi bait nada yang entah malam itu melintas begitu saja dalam kepalanya.
Seperti bintang-bintang
Tak selalu bersinar
Pada setiap datangnya malam
Seperti lautan
Yang terlihat indah
Tapi kadang bawa petaka
Semaunya bisa
Dan tercipta begitu
Tepat pukul sembilan malam lewat tiga belas menit empat cowok tetangga sebelah kos yang tadi ngerayain ulang tahun salah satu penghuni kosnya gabung ama Bayu cs. Nraktir kawanan Bayu bakso lontong yang kebetulan lewat sambil bagi-bagi bungkus rokok dunhill black menthol. Bayu yang tidak suka rokok aroma mint karena bisa bikin perutnya kembung dengan berat hati menolak rejeki menggiurkan tersebut. Dan tanpa malu sambil nampilin cengiran kuda malah minta jatah rokoknya diganti ama dji sam soe kretek.
"oke deh. Besok gue ganti sesuai pillihan lo." Ujar Kevin - cowok yang lagi ulang tahun - mengambil kembali rokok yang udah dihadiahkan buat Bayu.
Kali ini Bayu yang masih setia dengan ukulelenya bercerita pengalamannya sebulan traveling ke jogja dan sumatra. Kesembilan pemuda yang mengelilinginya mendengarkan antusias seraya menimpali dengan bertanya ini itu. terkesima ama perjuangan dan kekerean Bayu selama diperjalanan. Obrolan bergulir seiring jalannya perputarran waktu. Menginjak semakin malam obrolan ganti dengan topik video bokep terbaru. Yasin yang petang tadi baru pulang tahlilan ama Bayu di rumah pak rt yang sedang nyunatin anaknya mengambil laptop dari kamarnya dan dengan bangga menunjukkan vidoe bokep mp4 koleksinya yang memenuhi folder movienya. Memutar salah satu film di sana. Yang dibintangi ama mia khalifa.
Si mia khalifa udah posisi nungging, memperlihatkan auratnya yang kata yasin itu udah jebol dan nggak ada selaput perawan menggairahkan saat sebuah motor bebek warna merah yang suara mesin cempreng pecah bertalu-talu berhenti di depan kosan Bayu. Mengganggu konsentrasi sepuluh pemuda yang lagi dibebat birahi. Bahkan yasin ama buddy yang tanpa malu-malu udah c**i dipojokan mengumpat jengkel panjang lebar lalu berlari ke dalam rumah untuk menuntaskan hasrat.
Sesosok pemuda berkulit putih blesteran buton betawi turun dari motornya sambil menenteng kardus sabun colek di tangan kirinya. Nyengir tanpa dosa di depan cowok-cowok yang menatapnya jengkel karena udah mengganggu acara nobar bokep terbaru. Mereka udah pada nendangin kaki andra, tapi dia malah semakin tertawa lebar. Sama sekali nggak merasa bersalah. Lalu seperti biasa andra ngasih brohug sambil ciumin pipi pemuda-pemuda itu tak terkecuali Bayu. Jadi semakin keki dan bikin illfeel.
"bikin k****l gue lemes aja lu dra. Ah ngilu lagi. Gue cabut dulu." Erlang menggerutu sebal, memegangi selakangannya lalu berlalu ke dalam mengikuti yasin ama haikal.
"heh ngapain malam-malam gini ke sini?" tanya Bayu dengan nafas terengah susah payah menahan hasrat panas sambil ngelihatin andra yang duduk di sampingnya dengan kardus di atas paha.
"lho tadi siang kan mas bay nyuruh gue kesini. Gue kan ada perlu ama mas bay." Katanya mengabaikan suara desahan bule cewek yang kencang neriakin "f**k me harder.... oh..uhh.. yeahh..." dari dalam laptop yasin.
"e buset lupa. Kan tadi aku ngomongnya lepas maghrib nggak tengah malam kayak gini." Balas Bayu menepuk keningnya.
"belum tengah malam kali mas bay. Baru jam sebelas gini. Dan ini kan emang lepas maghrib. Jadi aku nggak salah donk." Dia nyengir lagi, membuka kardusnya dan menatap sesuatu entah apa di sana dengan penuh sayang, matanya sampai berkaca-kaca kayak kristal, "tadi di jalan gue ketemu meri. Dia kasihan banget deh mas bay. Udah badannya kurus, kelaparan, kedinginan mencret lagi. Ya udah gue bawa aja dia ke klinik, buat disuntik dan dikasi vitamin. Tadi gue ngotot supaya meri diinfus eh kata dokternya nggak usah, katanya penyakit meri nggak kronis. Jadi nggak perlu diinfus trus ngamar."
Bayu mengernyit. Meri? Seingatnya dia nggak pernah kenal atau bertemu dengan cewek bernama meri. Apa dia mahasiswa baru? Atau pacarnya andra?"siapa meri?"
"ini nih meri." Tangan andra masuk ke dalam kardus, sejurus kemudian dia mengeluarkan seekor kucing kurus berwarna kuning keemasan dan putih.
"meow..."
"ukh sayang. Kamu kedinginan ya.. daddy janji nanti daddy beliin kamu s**u. Kata doker kamu harus minum s**u banyak biar nggak mencret. Sabar bentar ya sayang?" Andra menciumi bulu-bulu lembut kucing itu. "Tadi gue nemu dia di dekat kampus. Kasian banget kan mas bay."
Lipatan di kening Bayu mengkuadratkan diri melihat tingkah ajaib juniornya. Dia menggeleng sambil mengedikkan bahu. Nggak mau ambil pusing ama tingkah lovey dovey andra and what ever meri itu.
"dapat dari mana tuh kelinci?" timpal marvin tak manusiawi. Mungkin udah malam matanya tak fokus lihat ditambah suasana teras yang semakin panas seirama suara desahan cewek lebanon telanjang ntuh.
"eh kecebong cilik. Mata lo picek apa? Ini tuh kucing, kucing!!! set dah mana ada kelinci suaranya meow. Udah tidur sono lo. Ngapain sih ikutan nonton bokep. Bintitan ntar mata lo." Umpat andra jengkel mengibaskan tangannya di depan marvin membuat si mungil di antara pria-pria blangsat itu cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Dia bersedekap manyun. Menghentak-hentakkan kaki.
"ih andra ini kalo ngomong nggak difilter dulu. Aku sumpahin jadi homo mampus kamu." Astaghfirullan marvin. Itu jahat banget. Cowok-cowok yang lagi asik ngelanjutin nonton bokep sampei memalingkan mukanya ke arah marvin.
"kampret lo vin." Pekik andra kesal, "kalau gue homo gue sumpahin cowok yang gue tusuk itu elo."
Suasana tiba-tiba hening, hanya menyisakan suara desahan binal yang semakin menaikkan libido, "oh yes... uh... yes right there.... oh more... uhhh ahh.. uhh..."
"b*****t lo lo pada. Gangguin gue nonton bokep aja. Minggat sana lo!!!" hardik teman sekos kevin yang memakai jamper baseball kuning geram sambil melempar telunjuknya ke arah luar, guesture mengusir dengan mata melotot, sementara tangan lainnya astaga dragon..... itu udah pegangin burung item banyak bulunya yang udah tegang tegak lurus aja. Marvin baca ayat kursi berkali-kali setelah sekilas nggak sengaja mata polos nan sucinya bersirobok ama tuh barang gedhe banget. Dia merinding takut, lalu berdiri dan lari pontang panting ke dalam rumah.
===
Sepeda motor bebek andra membelah jalanan daerah rungkut yang tidak begitu ramai. Andra yang berada di boncengan Bayu ngelus-ngelus meri dengan mata berbinar-binar. Setelah tadi mengajak Bayu untuk mampir sebentar ke minimarket untuk membeli s**u sgm llm ama curcuma plus rasa jeruk untuk kesembuhan dan kesehatan meri, motor terus melaju ke arah selatan. Angin dingin malam membungkus tubuh dua pemuda yang tengah terlibat obrolan ringan tersebut.
"ih mas bay ini pakai ngajakin gue ke bengkel segala. Gue kan mau ngomong penting ama mas bay. Masa dari tadi siang ketunda-tunda mulu sih?" kata andra sedikit berteriak mengalahkan suara deru angin ama mesin motor yang ngeblend ama suara klakson mobil pick up hitam di belakang mereka.
Bayu cengengesan. Tangan kanannya sibuk mengendalikan gas ama rem sementara tangan kirinya masih setia menjepit rokok yang asapnya berterbangan di sambut angin.
"kita ngomongnya di bengkel aja. Tadi siang gaple ngasih tahu aku kalau nobita udah sembuh dan bisa diambil. Makanya sekarang kita ke sana. Udah kangen nih ama nobita." Jawab Bayu, suaranya timbul tenggelam ditelan malam. Andra yang menempelkan telinganya di perpotongan leher Bayu manggut-manggut saja untuk menanggapi.
Motor terus berpacu sampai hal tidak diinginkanpun terjadi dan memperkosa mata Bayu. Dia terbelalak dengan jantung yang rasanya anjlok dari engselnya. Bayu menepikan motor andra tak jauh dari bengkel, menstandarkan motor, membuang sekenanya rokok dari jepitan ruas jarinya dan secepat kilat berlari menuju ke tkp yang udah mencabik-cabik palung hati terdalamnya.
Di sana tak jauh dari motor andra terpakir, sebuah mobil corona sport warna putih dengan sengaja bin tega bin tak berpersaan bin tak manusiawi memundurkan mobil dan tak tahukah dia di belakang bamper mobil jahatnya, terparkir dengan sangat manis dan terpelajar, nobita tepat di depan bengkel milik gaple. Tubuh nnobita yang ringkih dan kedinginan itu libung. Jatuh berderrai-derai ke sisi kanan. Suara bruaakk dari sekumpulan besi tua yang menyusun nobita terdengar pilu di telinga Bayu, nyaring tak terpelakkan membuat sekumpulan orang bengkel keluar tunggang langgang.
Bayu menyongsong si tua nobita. Dibantu dengan gaple yang baru keluar dari bengkel menarik tubuh nobita yang sebagian kerangkanya tersimpan di bawah mobil tersebut. Dia lalu kalap menggedor-gedor kaca hitam sisi kiri mobil setelah menitipkan nobita kepada gaple dan kedua teman bengkelnya.
"dancuk!! Keluar kamu!!" sengitnya tajam. Terus menggedor tanpa sopan santun. Tak berapa lama kemudian pintu disisi kemudi terbuka. Lalu sosok pria asing keluar dari sana. Pria itu berjalan mengelilingi mobilnya menuju Bayu berdiri.
Untuk sesaat Bayu sedikit shok. Nggak!! Sangat shok. Dia meneguk ludahnya, membuat jakun mungilnya naik turun. Dalam benaknya selama ini satu-satunya makhluk gigantisme yang matanya lihat itu hanya Andis sama 186cm plus badan gedhe dengan otot-otot bertonjolan pasnya. Tapi makhluk di hadapan Bayu saat ini, mementahkan anggapan Bayu. Tinggi Bayu yang 175cm itu bahkan hanya sampai d**a tuh orang. ditambah kemeja slim fit biru tua yang pria tersebut kenakan, semakin memaparkan bentuk lekuk tubuhnya yang - Bayu sangat terpaksa mengakui - mempesona. Dua bongkahan dadanya bidang, bahkan bentuk putingnya tercetak dari sana. Tiga kancing atas yang dibuka menampilkan semburat bullu-bulu halus dari dalanya. Perutnya kencang dengan kotak-kotak yang juga menempel diri balik kemeja. Kedua lenganya kokoh dengan otot trisep bisep yang seolah berebut ingin dikeluarkan kemeja ketat yang mengurung mereka. siapapun cowok di bumi ini yang memiliki tubuh kerempeng seperti Bayu pasti akan iri melihat bentuk tubuhnya.
Bayu mendongakkan kepalanya. Dan terlihatlah pahatan tuhan paling sempurna yang pernah Bayu lihat. Artis-artis papan ataspun kalah dengannya. Pasti pas menciptakan laki-lakki tersebut tuhan lagi senang banget. Dan para malaikat lagi kondangan. Makanya dia terlahir dengan sosok yang begitu-sempurna? Entahlah. Bayu yakin sih nggak ada hal yang sempurna yang tertinggal di muka bumi ini setelah rosul terakhir wafat. Tapi laki-laki dihadapannya-ah Bayu nggak ingin membandingkan dia dengan muluk-muluk.
Dia ganteng pakai banget. Berkulit putih terang dengan Rambut klimis berwarna coklat gelap belah pinggir lurus yang menampilkan kullit kepalanya yang juga berwarna putih.Wajahnya berwibawa dengan dua pasang rahang kokoh. Alis hitam menukik, sepasang mata tajam berwarna coklat terang, hidungnya mancung tak terbantah, bibir bagian bawahnya yang berwarna merah tebal tapi tipis bagian atasnya. Dagunya panjang, sedikit ada belah tengah. Dia mendengus keras sehingga menampilkan segurat cekungan di kedua belah pipinya. Laki-laki ini luar biasa memikat, perpaduan aura maskulin, berwibawa dan bijaksana serta fashionable dalam waktu bersamaan.
Andra ama kardus meri bareng gaple plus ketiga temannya nyamperin Bayu dan menatap tajam ke arah laki-laki tersebut.
"mata lo picek!! Nggak lihat dibelakang mobil lo ngejogrok motor!!! jangan main mundur aja cuk!!" itu pekikan reza, laki-laki rambut gimbal ala bob marley dengan kaos oblong tanpa lengan yang menampilkan lengan berotot penuh tatonya.
Si laki-laki penabrak bergeming. Menatap sekumpulan cowok dekil di hadapannya dengan pandangan angkuh.
"oh itu motor. Saya kira tadi rongsokan!!"
Bayu tersengat. Dia kesetanan. Harga dirinya dihina begitu saja. Dia merangsek, berjinjit untuk bisa mencengkeram kerah tersangka-akh sungguh memalukan harus berjinjit segala. Matanya yang kecil membulat sempurna, memaparkan warna iris madunya yang tersamarkan, "tarik omongan kamu!! Nggak ada yang boleh menghina nobita?" desisnya tajam seraya menunjuk-nunjuk d**a seksi pria di hadapannya.
"nobita?" pria itu mendengus, tingkat meremehkan akut dengan pandangan mata tajamnya, "saya baru tahu kalau sampah mempunyai nama."
Bayu melayangkan tinjunya seketika. Tapi belum sempat kepalan tangan kurusnya mencederai wajah pria dewasa itu, gaple terlebih dulu menahan lengan Bayu. Reza yang terkejut melihat respon Bayu buru-buru menarik tubuh Bayu yang ekspresif
"tahan mas bay. Ini su malam eh. Seng usah biking ribut. Malu didengar tetangga."
Bayu berkelit,menatap marah pria itu, "nggak ple. Dia nggak bisa didiamkan. Dia udah menghina nobita. Dan dia pantas dihajar." Cicit Bayu dengan suara kecekik.
Reza ikutan menahan tangan Bayu yang masih bertengger di kerah si pria. Dia takut. Bukan pada laki-laki itu yang tengah diancam ama Bayu tapi pada Bayu sendiri yang jika si pria mengkibasnya sekali tebasan Bayu bisa langsung terpental. Oh for mencretnya meri sake tubuh Bayu setipis kulit ari-ari kalau kamu pengen tahu.
Si pria berdecih. Meludah di dekat sandal jepit swallow Bayu, "maaf saya sibuk. Saya tidak punya kelebihan waktu untuk berurusan dengan manusia nggak guna seperti kamu." Mata coklat tajamnya berkilat menakutkan, Dia merogoh saku celana kainnya, mengambil dompet dan mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah, "saya harap uang ini bisa membungkam mulut baumu. Urus rongsokan itu. dan pastikan kamu dan sampah nobitamu itu nggak pernah muncul di hadapan mata saya."
Renggutan tangan Bayu di kerah baju si pria refleks terlepas. Bukan karena tarikan gaple maupun reza, tapi karena harga dirinya telah dilumat habis-habis ama pria itu. bahkan Bayu merasa direndahkan hanya degan kilatan tajam mata pria itu. dan ludahannya tadi sangat melukai perasaannya. Ini adalah kali pertama dalam dua puluh tiga tahun pertama Bayu merasa bahwa dirinya dihina sehina hinanya. Dilukai. Dicabik. Rasa amarahnya, rasa egois dan gengsinya, takhluk di hadapan si pria.
Kemudian dia tersenyum getir. Merasa familiar dengan kondisi seperti ini. seperti de javu. Bayu mengambil uang dari tangan si pria dengan senyum miring lalu menghamburkannya. Lembaran-lembaran kertas berwarna merah membumbung sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas aspal. Dia berbalik, menerobos tubuh gaple ama reza yang mematung melihat tingkahnya. Naik ke atas nobita, melepas nobita yang terikat standarnya, menyalakan mesin lalu hilang di telan malam.