Bab 15

4740 Kata
Bayu melajukan skuter tuanya di sepanjang jalan Sepanjang. Kecepatannya yang ugal-ugalan membuat knalpot Nobita terbatuk-batuk dan mengeluarkan asap hitam. Tapi Bayu sama sekali tidak mengindahkan niatan untuk mengistirahatkan Nobita barang sejenak, meskipun jarak dari kampus ke bengkel tempat Gaple kerja bisa dikatakan jauh. Pikiran Bayu sedang berkecamuk saat ini. Seluruh harddisk dalam otaknya terasa penuh sesak dengan tinta-tinta merah. Masalah robot, masalah malam puncak inagurasi, masalah Mike, dan yang paling menguras emosi adalah semua ucapan Yani tadi sewaktu di basecamp mapala. Demi apa, Bayu pengen benar-benar berdoa bahwa segala serapah yang dikatakan Yani tadi adalah bualan-bualan semata yang tidak memiliki makna penting di baliknya. Tak pernah terpikir sedikitpun dalam benak Bayu selama ini, jika dia akan masuk ke dalam lingkaran permainan Yani yang tidak dia kenal selama menjadi mahasiswa di kampusnya tersebut. apakah memang seperti itu energi sebuah cinta? Melakukan segala cara agar mendapat atensi yang sama dari lawan jenisnya? Bayu tidak tahu. Kejadian pagi ini terlalu mengejutkannya. Berpusing hebat dalam pusaran dilema yang diciptakan oleh sebuah situasi. Jika Einstain merumuskan teori relativitas energi yang berbanding lurus dengan massa dan kuadrat kecepatan cahaya apakah cinta juga memiliki teori yang demikian? Semakin besar massa atau dalam hal ini kadar keinginan seseorang untuk memiliki cinta, dan semakin besar cahaya cinta atau dalam kasus ini perasaan yang dimiliki seseorang maka energi atau kekuatan untuk mendapatkan cintanya juga semakin besar? Sehingga melanggar pagar-pagar norma kehidupan? Apakah memang seperti itu? Dan jika Mahatma Gandhi pernah mengeluarkan Statement bahwa kekuatan berdasar cinta seribu kali lebih efektif dan permanen dari rasa takut pada hukuman, apakah hal itu juga yang melandasi cinta dan keyakinan seorang Yani? Meresonansikan kekuatan hebat dari maha ajaib cinta dan melengserkan ketakutannya terhadap hukum? Jujur Bayu tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu. Dia belum pernah mengalami keajaiban dunia yang tak pernah UNESCO catat dalam sejarah yaitu cinta. Seluruh kiblat dari sensoriknya berjalan searah jarum jam. Yang tidak pernah melanggar kaidah alam, maupun memacu gegas energinya untuk mempertahankan apa yang hatinya mau. Bayu selama ini datar, sedatar jembatan suramadu. Riaknya tenang, setenang hembusan gemawang di atas laut musim kemarau. Bayu menstandarkan nobita dengan terburu-buru di parkiran bengkel Bang Reza. Dia berlari kesetanan menuju Gaple yang nampak sedang mentune-up busi salah satu skuter pelanggannya. "Yo mas bay, belum jam dua belas su kesini sa. Seng ada kegiatan di kampus kah?" tanya Gaple memamerkan tonjolan gigi putihnya di balik skuter gembel yang banyak ornamen panci dan kaleng-kaleng bekas yang sedang dia service. "reza ama Steven dimana?" tanya Bayu dengan muka ditekuk mengacuhkan pertanyaan Gaple. "Beta seng tahu Mas Bay. Mungkin lagi ada buat anak di kamar." Jawab Gaple cengengesan. Bayu melengos, membawa segenggam amarah lalu masuk ke dalam kantor. Dan tepat di kamar Bang Reza keluar kemarin terdengar suara dua orang laki-laki yang saling mendesah. Tanpa permisi Bayu mendobrak pintu kamar tersebut kuat, membuat engselnya seketika patah. "Goddamn!! Who is the f*****g b***h that broke down the door ...ahh...." suara Steven meraung di tengah erangannya dari sana. Muka Bayu seketika memanas melihat pemandangan absurd yang tersuguh di depan matanya. Dua orang laki-laki telanjang nampak sedang b*******h melepaskan nafsu. Tubuh Bang Reza yang kecil kayak Bayu itu terlihat tengah kusu menyodomi a**s si gigantisme Steven yang terlihat terkurung di bawahnya. "bayyyy!!! What the hell akh... manwhore you are. Get out here, ouhh.. yes right there honey. Love you, my bunny. Deeper,,, ahh..." Mendengar suara erangan dan rintihan dari kekasihnya, Bang Reza semakin bersemangat dan antusias memaju mundurkan pinggulnya, kedua tangannya erat mencengkeram lutut Steven yang tertekuk sampai d**a. Dia kemudian menoleh ke arah Bayu. Pancaran matanya penuh nafsu, dengan lelehan-lelehan keringat di sekujur tubuhnya. "Ah... ada apa Bay?" tanya Bang Reza sambil menggeram keenakan. "Gue kasih waktu lo berdua lima menit buat selesai n*****t. Kalau dalam lima menit lo berdua belum selesai gue bakar bengkel b******n ini." Bayu dengan seperangkat suara elo gue yang terlolos dari mulutnya adalah pertanda bahwa dia sedang dalam amarah besar. Bang Reza, Steven maupun anak-anak Kanvas sudah mengenali peringai Bayu yang seperti itu. Dan ancaman dalam tiap elo-gue-annya itu bukan isapan jempol. Dia akan benar-benar menuntaskan ancamannya jika keinginannya tidak sampai terkabulkan. Dulu waktu dia marah sama bang gahar, Bayu mengancam akan membakar skuter bang gahar. Karena menurut bang gahar ancaman Bayu Cuma tarian kalimat tak bermakna, bang gahar cuek-cuek saja dan membiarkan Bayu tersulut dalam emosi, alhasil setengah jam berikutnya skuter kebanggaan bang gahar tinggal rangka doan, hangus dilalap api dari Bayu. "f*****g shit.... get the hell lo bay..!!" "Lima menit anjing!!! Gue bilang lima menit." "Oh Bay, saya tahu kamu ada marah. Tapi kasih sepuluh menit ahh..... my f*****g prostat. Ahh... right there hunny. Faster- faster. Ya tuhan Bayu... saya punya k****l mau kel aahhh.. uar." BRAAAKK!!! Bayu membanting seperangkat komputer yang sudah rusak di dalam ruangan tersebut. Membuat Bang Reza ama Steven terlonjak. "Lima menit atau gue bakar!!!" Lalu dia pergi dari sana sambil membanting pintu kamar. Bayu menghempaskan tubuh penatnya di atas sofa. Kedua tangannya menumpu di atas dahi. Emosinya kali ini benar-benar berantakan. Nafasnya tidak tenang. Jakunnya naik turun kepayahan menelan saliva. Dia membusungkan d**a berkali-kali, meraub berkubik-kubik oksigen apak di ruangan tersebut untuk mensirkulasi karbon dioksida yang membengkak di paru-parunya. Setelah sekian lama dibebat hening akhirnya kamar Bang Reza terbuka, Steven yang jalan di belakang Bang Reza tampak memasang tampang kesal. "If you get angry for an unobvious things like this, i'll make sure you'll get to repay that in a same way." Suara berang Steven menyusup ketengangan yang diusahakan Bayu. Bayu melepas kedua tangan dari kepala lalu meraih postman bag yang dia taruh asal-asalan tadi. Membuka tas tersebut kemudian melempar laptop milik rizal yang sudah rusak padanya. "Fix it Steve. My mind is a mess. Gue benar-benar kacau sekarang. kepala gue rasanya mau pecah." Bayu mengerang frustasi, kontur mukanya terlihat awut-awutan. Steven membuka laptop perak yang ada logo apel digigit separoh tersebut, "Laptop jenis ini seharusnya anti dengan virus." Gumamnya sambil mengotak-atik tuts-tuts keyboard pada laptop itu, kemudian sebuah kekaguman lolos dari bibirnya, "Amazing." Matanya berbinar lalu melempar pandangannya pada Bang Reza. "Kenapa sayang?" "Virus ini langsung menyerang komputer punya jantung. That f*****g processor are being attakced." Dia mendesah, "Bay, kamu ada masalah sama seorang hacker?" Bayu melongo tidak mengerti. Bang Reza kemudian berdiri ikut mengamati laptop dalam tangan Steve. Raut mukanya serius dengan alis yang tertekuk lurus. Sebelah tangannya memegangi bahu Steven, sebelahnya lagi mengotak-atik laptop tersebut. "Bay lo ada masalah besar." Gumam Bang Reza serius. "Masalah? Gue emang ada masalah dari tadi kalau kalian nggak nyadar juga." Desis Bayu sebal melihat opera sabun di hadapannya. Keningnya berkerut tidak sabar, dia bersedekap sambil menatap miring kedua sahabat komunitasnya tersebut, "Bisa kita perjelas masalah yang sedang gue hadapi seperti apa? Gue lagi nggak pengen ngelihat kalian berdua kagum-kaguman ama virus b*****t itu." "Sebelum gue jawab pertanyaa lo Bay, gue tanya dulu apa yang ada di dalam laptop ini sampai ada seorang hacker sadis mau bersusah payah menginvasi laptop ini ama virus mematikan tersebut?" Bang Reza memalingkan mukanya pada Bayu, mengabaikan Steven yang masih berkutat dengan laptop itu. "Rancangan robot yang mau gue lombakan sebulan lagi," Jawab Bayu ragu, yang dia tahu sih seperti itu, tapi nggak tahu apa yang rizal simpan di dalam laptopnya, "Dan nggak Cuma itu aja masalah yang membekukan kesadaran gue dari tadi. Yang membuat gue seperti orang gila seperti sekarang ini." "Maksud lo?" "Droone yang susah payah gue buat ama tim selama kurang lebih enam bulan terakhir ini juga ikut-ikutan dihancurleburkan sampai remuk dan menjadi remahan-remahan. Gue yakin seratus persen orang yang menghancurkan droone gue adalah orang yang sama yang menjangkiti virus di laptop temen gue." Bang Reza nampak berfikir sejenak, menumpukan dagu di salah satu tangannya. Matanya berkilau tajam menembus kornea Bayu, "Lo tahu siapa pelakunya?" "Kalau gue tahu gue tidak akan kemari bego. Langsung saja gue hajar dia tanpa perlu menunggu waktu lama. Im clueless. That f*****g bastard tidak meninggalkan jejak maupun bukti. Tapi menurut pendapat gue, b******n yang sudah merusak robot gue dan menyerang laptop rizal pasti orang yang pengen ikutan lomba robot namun nggak mau menunjukkan hasilnya pada gue langsung. Babi!!!" "Apa sosoknya tidak ketangkap di layar cctv?" Bayu mendesah berat, "Gue nggak tahu ini ada hubungannya atau tidak. Ketika robot gue ditemukan sudah tidak bernyawa, gue dan pihak kampus baru sadar jika seluruh cctv yang ada di gedung teknik rusak. Semua cctv di empat lantai tidak ada yang berfungsi." "Gue tanya sekali lagi Bay." Bayu mengangguk ragu-ragu. "Apakah selama ini prestasi robot lo di kancah nasional selalu membanggakan?" "Emm.. bisa dibilang gitu sih. Tapi nggak terlalu amat. Setidaknya berkali-kali kami masuk dalam jajaran tiga besar. Tapi untuk menjadi juaranya Cuma beberapa kali saja. Nggak terlalu sering. Tapi walaupun begitu robot tetap menjadi prioritas aku. Segila apapun aku dengan gunung, atensiku juga sama besarnya buat dunia robotic. Makanya walaupun kejuaraan robot yang kuikuti jarang menjadi juara tapi aku selalu memberikan perhatian penuh padanya. Emangnya ada apa Bang?" Bang Reza nampak berfikir, kemudian berdiri dan berlalu ke dalam. Selang berapa lama dia balik lagi dengan segelas besar air putih dalam genggamannya. Diteguknya air putih tersebut sambil memaku tatapannya pada Bayu yang terlihat salah tingkah. "Kalau menurut asumsi gue orang yang sengaja merusak robot lo dan menginvasi virus di laptop lo bukanlah mahasiswa yang ingin menunjukkan kemampuannya di bidang robot." "ermm..." netra Bayu berotasi tidak tenang, "Terus?" "Orang yang merusak robot lo bukanlah orang yang benar-benar ingin melihat hasil robot lo hancur. Tapi lebih dari itu, yang sangat dia inginkan adalah melihat diri lo sendiri yang hancur. Jika dia seorang hacker dia hanya akan menyerang laptop lo dengan virus mematikan ini. Dan jika dia Cuma mahasiswa yang ingin ikut serta dalam perlombaan robot maka dia pasti hanya akan merusak robot yang lo buat. Tapi ini, yang dia hancurkan dua-duanya. Membuat lo tak berkutik untuk dapat membuat robot yang baru lagi. Sehingga lo dipastikan tidak bisa mengikuti lomba itu. Lomba yang sudah menjadi prioritas lo. Robot yang sejajar kedudukannya dengan gunung dalam kehidupan lo. Bay, siapapun pelakunya itu, dia benar-benar menginginkan lo hancur. Dia memiliki benci dan dendam ama lo. Dan Bay, pelakunya itu ingin menyamarkan sifat busuknya di hadapan lo. Mungkin lo tahu dan mengenal siapa dia, tapi dia tidak ingin terlihat sebagai musuh di hadapan lo. Kenapa gue sampai bisa yakin? Hanya bencana alam saja yang bisa membuat seluruh listrik di gedung empat lantai mati total. Tapi ini aneh, terlalu normal untuk dikatakan kecelakaan jika seluruh cctv di fakultas teknik rusak secara bersamaan." Bayu bergidik sedikit ngeri mendengar penuturan Bang Reza. Antara percaya dan tidak. Seumur-umur baru kali ini dia mempunyai musuh. Rasanya janggal saja, dunia tenangnya selama ini tiba-tiba ada yang mengusik. Pertanyaanya adalah, siapakah gerangan musuh Bayu? "Ehm... Yo bay. You are really in big dangerous." Suara Steven yang masih tenggelam di balik layar laptop menengahi. Dia kemudian berpaling menatap Bayu dengan pandangan sulit diartikan. "Maksudnya Steve?" Bayu menaikkan sebelah alis, kedua tangannya bertautan saling meremas tidak santai. Steven memutar laptop dalam pangkuannya. Menampilkan layar yang dari tadi berkedip biru ke hadapan Bayu. Dan seketika itu juga jantung Bayu rasanya seperti dilorot dari tempat. Membengkak kemudian meledak bersenggama dengan rasa keterkejutannya yang likat. Alih-alih melihat layar kedip berwarna biru, yang ada Bayu malah melihat sebuah jendela penuh dengan bahasa pemrograman serta kode-kode yang tidak dia tahu. Dan tepat di tengah lautan kode tersebut, sebaris tulisan besar-besar menggunakan huruf kapital tercetak sangat kentara di sana. YOU WILL DIE BAYU S. LENCANA!!! Seluruh bulu di tubuh Bayu meremang serempak. Mata madunya melonjak sempurna. Dua kawan di hadapannya saling adu tatap kemudian berpaling kearahnya sama-sama. "Bay, lo ada musuh yang menginginkan lo mati?" Suara Bang Reza yang berwibawa dan tertegun bijak tersebut seperti terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Kesadaran Bayu rasanya diayun bak selembar daun tak tentu arah. 'Seorang musuh yang menginginkan lo mati?' Dan sebuah nama melintas begitu saja dari salah satu lokus otak berkerutnya tanpa bisa dibantah. Seseorang yang beberapa jam lalu baru saja mengibarkan bendera perang tepat di bawah hidungnya. Yang dengan gampangnya menghilangkan nyawa seseorang demi mendapat cinta besarnya. Yang dengan sekali kedip menjatuhkan ancaman mengerikan demi memuluskan nasib percintaannya. Kalau dia bisa dibilang musuh. Bayu tak akan ragu menyebut nama Yani di hadapan Bang Reza sekarang ini. === Tangan Gempita yang halus itu mencengkeram lucu telapak Bayu lalu menggeretnya di sepanjang kawasan wisata pasar antik di Jalan Bodri. Kaki-kakinya bergerak antusias, membuat dua pemuda di belakangnya kelimpungan menyamai langkahnya. Gempita mengajak Bayu melihat-lihat barang-barang antik yang tersebar di setiap lapak di sana, ketika yang dicari tidak ada dia menyeret Bayu lagi. Andis di belakangnya manyun nggak ketulungan. Bibirnya monyong sampai belasan meter - ah, itu lebay. "Ya ampun Pita sayang seharusnya yang lo pegang kan tangan gue bukan tangan si gimbal itu." itu interupsi suara Andis yang jika Bayu boleh lebai sudah ke tiga puluh tiga kali. Tapi Gempita tak mengindahkan suaranya. Mata Gempita yang menyala bak kejora tersebut lebih terfokus di tiap benda antik yang dilaluinya. "Gempita kan kangen mas Bayuuuuu!!! Udah lama ngga ketemu. Makanya Gempita mau sayang-sayangan ama mas Bayuuuuu!!!" bibir Gempita yang manyun, lancip kayak kue cucur. Merah merona dan sedikit lembab. "Cowok dekil dari dia apa yang mau dikangenin elah?" desis Andis sebal tapi tetap mengekor kemanapun p****t Gempitata melenggok. Tiba-tiba Gempita melonjak, membuat Bayu juga ikut-ikutan melonjak padahal dia tidak tahu apa yang membuat Gempita melonjak. Tepat di salah satu lapak yang menjual lampu gantung antik, Gempita menemukan tiga buah gelang yang terbuat dari ukiran kayu jati dan dipelitur cantik. Gempita membeli tiga-tiganya sekaligus, setelah membelinya dia mengajak Bayu dan Andis ke sebuah caffe di daerah Manyar. "Bagus tidak?" tanya Gempita dengan mata memancarkan sparkling-sparkling ala-ala barbie. Di hadapannya Bayu nampak sumringah dengan sejum satu juta jarinya sambil melihati gelang yang melingkar pas di pergelangan tangan kirinya, sementara di samping Gempita Andis nampak mengernyit tidak suka. "Ini apa-apaan sih Pit? Dikasih gelang samaan lagi. Dikate penghuni panti apa? Dan kenapa pula gue harus kembaran ama anak monyet itu? gue ogah dikatain kembarannya dia." Andis bersungut-sungut, menunjuk Bayu dengan dagunya. "Ya Tuhan Andis tinggal pake doang apa susahnya sih," senyum menawan Gempita terkembang, "Andis boleh kok nggak pakai gelang ini asal nanti malam Andis nggak Gempita kasih jatah nusukin burung Andis di p****t Gempita. Gimana?" Bayu tersedak kopi hitam yang dia minum mendengar ucapan Gempita. Sementara Andis yang mukanya putih kayak kain kafan itu langsung merona merah salah tingkah. "Jangan gitu dong sayang. Oke-oke gue pakai dan bakal sayang-sayangi terus gelang ini." Tadi sewaktu Bayu masih uring-uringan nggak jelas keluar dari bengkel Bang Reza mobil ford merah maskulin milik Andis tahu-tahu ngejogrok di depan bengkel. Gempita dan Andis sudah menunggunya di sisi-sisi mobil. Begitu mereka menangkap sosok Bayu Gempita langsung berteriak histeris seperti biasa. Melompat-lompat nggak jelas lalu memeluk Bayu. Dia kemudian berceloteh kayak burung beo tentang hari jadi persahabatan mereka yang entah keberapa hari tersebut. Mulutnya terus mencicit menginginkan sesuatu untuk mengabadikan kisah persahabatan mereka. Bayu tentu saja senang bukan main. Melihat Gempita saja rasanya sangat membahagiakan apalagi mendapat gelang yang lucu itu. Sementara Andis hanya bisa pasrah melihat kelakuan si marmut mungil tersebut. Gempita merogoh tas cangklong yang dia kenakan, sejurus kemudian sebuah doshbook hape merk terkenal yang juga ada gambar apel digigit sebagian kayak laptop rizal dia sodorkan kepada Bayu. "Ini ponsel buat mas Bayu. Sudah Gempita isi kartunya dengan nomor mas Bayu dulu. Pulsanya juga sudah Andis isi 1juta. Mas Bayu pakai baik-baik hape ini. Tapi mas Bayu jangan sampai jual hape ini. Ponsel ini Gempita beli pakai uang Gempita sendiri hasil dari gaji Gempita kerja di toko mamih. Jadi mas Bayu nggak punya alasan untuk menolak ponsel pemberian Gempita. Dan... semenjak kartu mas Bayu, Gempita aktifin watsapp mas Bayu bunyiiiiii mulu. dari nomor yang sama. Gempita nggak tahu itu siapa. Gempita juga nggak buka isi pesannya apa." Kata Gempita seraya tersenyum lebar. Bayu gelagapan. Tidak menyangka akan mendapat hadiah semahal ini. Dia ragu untuk menolak tapi jika dia menolaknya maka pemuda kurus tersebut dipastikan akan mati sekarang juga. Andis yang duduk di samping Gempita memasang wajah angker kayak penyamun yang bernafsu memperkosa puluhan anak kambing. Tampang chinesenya menyalak-nyalak kek anjing sange. Berkerut-kerut dengan kening berlipat banyak. Lubang hidungnya melebar seperti kerbau. Dan sungguh pemandangan mengerikan tersebut sangat tidak sehat jika dia ganggu dengan memantik kobaran api - pokoknya pemikiran Bayu benar-benar lebay saat ini. Tangan Bayu terulur ragu-ragu. Benda semahal ini pasti kalau dijadiin duit bisa dibuat untuk membeli rokok dji sam soe neh. "Kalau sampai gue denger lo jual tuh hape demi membeli rokok bakal gue cekek lo sampe mati." Bayu melonjak terkaget-kaget mendengar selakkan Andis. Sial! Bagaimana dia bisa tahu pemikiran Bayu sih. "Muka lo yang kayak serbuk rokok itu udah menjawab semua pikiran lo!" lagi-lagi Andis membentak dengan tepat isi kepala Bayu. Bayu mingkem, nurut saja. Dia membuka kardus tersebut dan menarik sebuah hape mewah berwarna platinum dari sana. Bayu menggeser lock screen yang mengunci ponsel itu, dan benar saja kata Gempita ada puluhan notifikasi dari aplikasi pesan berwarna hijau tersebut. 087858722xxx Jun lo udah nyampe mana? 087858722xxx Jun lo udah nyampe sbya kah? 087858722xxx Jun hape lo kenpa g bisa gw hubungin? 087858722xxx Bangke!!! Jun anjink, knp hp lo g bsa gw hbungin anjink...!!! 087858722xxx Jun, gw serius lo lg dmana skrg? 087858722xxx Jun 087858722xxx Juuuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnnnnnnn 087858722xxx Jun, kl lo metong gw berhrap lo masuk neraka cz udh bkin gw cemas 087858722xxx Bego!! Kl lo terima psn gw lgsng hbgin gw!!! 087858722xxx Jun b******k jgn blang klo lo ngjual hp lo bwt byar 5jta kampret sialan t. Gw g akn nerima speser uangpun dri lo anjink!! Lupain uang 5jt yg gw ksi buat trbang ke sinabung. Gw g brniat ngutangin lo setan. 087858722xxx Jun, gw serius kl lo ngebalikin uang 5jt t, gw bkal trbang lgsng ke sbaya dan mkulin wajah biadab lo smpe mati 087858722xxx Jun lo bkin gw cemas 087858722xxx Jun plisss bls psan gw 087858722xxx Jun lo tw kan gw cmasin lo 087858722xxx Jun lo udah mkan? 087858722xxx Are you oke Jun? I have a bad feeling about you 087858722xxx Jun i have a hunc that you're in a danger 087858722xxx Jun my feeling told me that you're not save. Jun pls reply my mssgs. Thus isn't gud, i knew it!! 087858722xxx Jun, i swear im going to fly there if u don't immediately reply my messages!!!! 087858722xxx Im Jin, and i swear that i'll kill my f*****g bst friend named Jun if he ignores me. 087858722xxx Goddamn Jun, i got an evening flight at 07.00 Pesan terakhir dari watsapp terakhir itu baru saja bayu terima beberapa menit lalu. Dia terkesiap, mengabaikan Gempita ama andis yang penasaran dengan isi dari watsappnya. Buru-buru bayu mengetik jawabannya supaya si pengirim pesan tidak nekat terbang ke Surabaya. Me Hi Jin. Im Ok right now. You dont have to worry abt me 087858722xxx Fuck u Jun!! Lo msh napas? Me Brta bruknya paru2 q msh bsa brfgsi. U g jdi k sbaya kan? 087858722xxx Demi tuhn gw bnci ama lo. Gw mgntuk dri gw sndri yg pnya rsa sayang pada mnsia kmpret macam lo. Banke, lo bkn slrh prhtian gw cm unk mkrin insn busuk kyak lo. Me :D :D love u 2 my Jiiiinnn... sorry q sbuk akhir2 ne. Jd u g jdi ksini kan? 087858722xxx Is typing a massage Is typing a massage Is typing a massage Is typing a massage Is typing a massage Is typing a massage Im really worry abt u Jun. Ok gw gk jdi ke sna. Tp kl lo bkin gw sakaw gra2 g bsa dhbgin lagi, gw bklan trbang k sna. Is typing a massage Is typing a massage Is typing a massage Is typing a massage I miss you my Jun :* Bayu tertawa kecil membaca pesan terakhir dari nomer tersebut. Dia mendongak dan menemukan dua sahabatnya yang memasang tampang kepo bin mupeng tiada tara. Bahkan Andis sampe berkerut-kerut dengan tubuh miring 45derajat condong ke arahnya dengan hidung mengendus-endus. "Siapa tuh nyet, lo sampe ketawa-tawa kyak manusia gitu?" suara Andis mendramatisir kayak pembawa acara gosip. "Oh adekku sayang mas mu ini kan emang manusia!!" jawab Bayu sarkas, memamerkan senyum lebarnya. "Najis gue jadi adik lo. Mending gue mati aja dari pada punya kakak biadap kayak lo." Andis menarik tubuh, menyender pada bangku lalu menyeruput vanilla lattenya yang hampir dingin. "Tidak ada kata-kata kasar Andis sayang!!!" geram Gempita tersenyum miring. "Sorry pit, di dekat manusia jadi-jadian seperti mas Bayu lo itu kosa kata halus gue lari kocar-kacir dari lidah gue. Gue bawaannya pengen nyantet dia mulu biar otaknya waras dan kelakuannya lurus." "Ow begitu!!!" mata sempit Gempita memicing dengan smirk menakutkan, "kalau sampai Gempita dengar kata kasar lagi, Gempita nggak bakalan mau nelen s****a kamu yang kayak air tajin itu, dan Gempita nggak akan sudi dimasukin o***g Andis yang kayak belalai gajah ntu, Gempita pokoknya marah." Ya ampun si marmut, kalimatnya frontal banget. Bayu tersedak. Jika dia sedang minum kopinya, dipastikan bakal muncrat kemana-mana. Andis gelagapan. Meminta maaf berulang kali sambil merayu Gempita supaya tidak marah. Gempita memandang Andis angkuh, kemudian berpaling pada mas Bayunya, "kalau boleh tahu siapa tadi yang watsapp mas Bayu?" tanyanya dengan senyum cerah tiada banding mengabaikan Andis yang merana dicuekin. Bayu menggaruk tengkuk, menyesap kopi paitnya yang hampir habis, netra madunya melihat jalanan di balik kaca yang ada di sampingnya, "Hanya seorang teman." Dia menghela setengah nafas, "Dia menanyakan kabar itu aja." Jawab Bayu sedikit ragu, membuat Andis dan Gempita saling pandang dengan tatapan tak percaya. === Bayu mematutkan dirinya di depan cermin. Ya Tuhan, Bayu benar-benar tidak menyangka bahwa dia pada akhirnya bakalan menggunakan pusaka sialan yang ditemukan oleh Justus Von Liebig itu untuk menelisik penampilannya sudah keren atau belum. Setelan jas mahal berwarna abu-abu mengkilap terpasang pas di tubuh tipisnya. Dasi kupu-kupunya juga tersemat dengan pantas dan serasi di kerah. Rambut Bayu tertata rapi. Klimis digelung ketat ke atas. Dia membolak-balikkan badan. Keren. Sangat. Ingatkan Bayu untuk menambah porsi makannya supaya dia bisa semakin mirip dengan artis papan atas Reza Rahardian. Pintu kamar Bayu terbuka, Mike dengan setelan jas senada dengan Bayu berlari kecil dan memeluk kaki-kaki Bayu. "Papah ganteng bangeeeettt..." teriak Mike seperti biasa. Bayu tertawa lalu menggendong malaikat kecil tersebut, "Anak papah juga tampan." Bayu mengecup kecil-kecil permukaan wajah anaknya. "Iewh.... papaaah muka Mike jadi basaah." "Habis anak papah gemesin banget sih..." Bayu mencubit pipi gembul Mike sampe lebar membuat si empnya merengut lalu Bayu melepaskannya dan tertawa kencang. "Gemesin kan nggak harus dicubitin juga kali papaaaahhhhh.... bikiin kezel kezel kezel nih papah." "Iya-iya sayang. Maafin papaaahh." "Lencana!!!" Suara berat itu menginterupsi derai tawa Bayu. Bayu kontan menoleh dan mendapati sosok luar biasa tampan Panji yang mengenakan setelan jas serupa dengannya di ambang Pintu. Panji berjalan dengan langkah bijak. Barisan alis lebatnya membingkai netra coklat terang yang menyala kayak mata singa. Dadanya membusung, bahunya terangkat. Setiap keletuk sepatu pantofelnya membias aura ketegasan yang tak akan pernah bisa dibantah. Dia menatap Bayu percaya diri. Dengan rahang terkatup dan bibir tertutup rapat Panji menilai penampilan pemuda udik di hadapannya tersebut dari atas ke bawah. Hembusan nafasnya teratur dan mengintimidasi Bayu dalam waktu bersamaan. Panji tertegun begitu dirinya sampai di hadapan Bayu dengan Mike berada di tengah keduanya dalam gendongan Bayu. Kedua tangan panji terulur di pangkal lengan Bayu, mengapit Mike yang menatap mereka dengan senyuman menyeringai khasnya. Dia mendesah possesive kemudian suara bisikan yang meremangkan seluruh bulu roma Bayu dan menggetarkan daun lonceng dalam hati Bayu terdengar, "Kamu tampan sekali malam ini Lencana." Bayu terkesiap, dengan tubuh sedikit menegang, dan tak berapa lama kemudian dia merasakan bibir familiar panji menggesek bibirnya, melumat dan menghisapnya lembut. "Kamu sangat tampan sekali Lencana." Pungkas panji lagi, melepas ciumannya, "Ayo kita berangkat sekarang!!" Itu tadi apa? Sweet kiss hah? Dengan posisi Mike ada di tengah-tengah mereka? Oh sial, Bayu benar-benar merasa jadi mamanya Mike sekarang. Pesta pembukaan perusahaan pak burhan sama sekali tidak pernah masuk ke dalam agenda hidup Bayu. Bahkan jika panji tidak memaksanya, Tuhan juga tidak akan menjadwalkan Bayu untuk mendatangi pesta begituan. Ayolah, cowok kapur tulis itu mana mengerti sih yang namanya pesta selain elektunan di acara sunatan anaknya pak rt kos-kosannya? Dia sebenarnya nggak mau diajak kesana, walaupun diiming-imingi makanan mewah dan lezat. Bukan karena bakal formalnya pesta begituan tapi memang Bayu tidak pernah bisa akur dengan yang namanya pesta. Dalam hidupnya seolah nama pesta masuk ke dalam black list di bawah olahraga anti mainstream ama klinik kesehatan. Yang tidak akan pernah dia datangi, yang tidak akan sudi dia hampiri. Tapi Bayu bisa apa? Pembantu hanya boleh menjawab yes disetiap perintah atasannya. Dari pada gajinya dipotong? Tadi selepas Bayu pulang dari kongkow ama Andis dan Gempita panji menjatuhkan sebuah ultimatum mengejutkan. Bayu wajib menemaninya ke sebuah pesta pembukaan perusahaan baru milik rektor kampus Bayu. Karena Budhe Irma masih berseteru sehidup semati dengan sosok itu Bayu yang diharuskan datang untuk mewakilinya. Dan disinilah Bayu sekarang, di ballroom sebuah perusahaan empat puluh lantai yang luar biasa mewah dan megah. Dengan ratusan orang berpakaian resmi dan gaun. Irama musik jazz mengalun di tiap sudut. Aroma alkohol yang tidak pernah Bayu minum mengudara. Orang-orang tertawa busuk dengan memasang topeng tebal untuk menyembunyikan sifat aslinya. Oh Bayu tahu itu dari sekali lihat. Manusia-manusia kamuflase. Mengingatkan Bayu akan sosok Yani si ratu kamuflase. Ngomong-ngomong tentang Yani. p*****r mengerikan yang sekarang sedang berciuman dengan panji itu kan?? Fucking s**t!!! Kenapa tuh sundel bisa ada di sini? Yani menoleh ke arah Bayu. menatapnya sadis, kemudian dia berjalan mendekati. "Mike anak mamah ganteng bangeeettt!!" suara ditarik ulurnya melengking teredam suara musik, dia tersenyum lebar ke arah Mike. Bayu langsung mendengus. Senyum palsu. Bahkan matanya tidak ikut tersenyum. Yani membelai surai hitam Mike. Mencium kuncup kepala bocah mungil tersebut, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil alih gendongan Mike yang masih namplok dalam gendongan Bayu, "ikut mamah yuk sayang. Mamah kenalin ke teman-teman kamu." Bayu merasakan pelukan tangan Mike di lehernya menguat. Dia lalu membelai punggung Mike, menenangkan. Seperti sebuah bahasa isyarat yang hanya dia dan Mike yang tahu. Tapi Yani tetap ngoto menarik tubuh Mike. "Maaf nyonya, Mike tanggung jawab saya. Biarkan Mike saya saja yang jaga." Kata Bayu teratur. "Maksud kamu apa hah? Kamu nggak percaya pada aku yang notabene calon mama Mike? Mike aku yang urus, kamu minggat saja dari sini." "Maaf saya tidak bisa nyonya. Majikan saya bukan nyonya tapi Tuan Panji. Nyonya tidak bisa menyuruh saya. Seb-" belum sempat Bayu menyelesaikan kalimatnya panji sudah datang menghampiri mereka. Dan kalimat yang menyusul dari bibirnya membuat Bayu hanya bisa terpekur dan menuruti. "Biarkan calon istri saya mengajak anak saya Lencana. Supaya Mike bisa merasa terbiasa dengan calon mamahnya." Bayu terluka mendengar itu. Dia tidak rela. Mike terlihat ketakutan walaupun dia memasang tawa bahagia palsu buat menjangkau gendongan Yani. Sebuah pemandangan nanar. Diusianya yan baru menginjak lima tahun Mike harus menyembunyikan perasaannya demi orang yang sama sekali tidak memberikan atensi lebih padanya. Bayu ingin menjerit. Walaupun dia hanya seorang pengasuh, tapi dia sudah memiliki ikatan batin dengan Mike. Dia akan bahagia jika Mike juga bahagia. Dan akan sakit hati jika batin Mike teraniaya. Seperti saat ini. Tapi Bayu tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk dan patuh. Dia hanya pengasuh, ingat?? Bayu berjalan tak tentu arah, menyenggol orang-orang. Tatapannya menjelajah kemudian dia tersenyum kecut. Jelas pesta ini bukan dunia Bayu. hidup Bayu liar, beralaskan bumi dan beratapkan langit dengan sebilas sinar dari matahari dan bintang. Berada dalam kubah resmi seperti ini seperti mengkotakkan ruang gerak Bayu. Dia tidak habis pikir dengan orang-orang yang menggemari sebuah situasi bernama pesta. Enaknya apa coba? Tatapan Bayu tertumbuk dari satu orang ke orang yang lain. Satu meja ke meja yang lain, satu makanan ke makanan yang - Bayu terhenyak. Tubuhnya menegang tak bisa ditahan. Tepat di sana, di antara kerumunan bos-bos glamor itu menjulang seseorang yang akhir-akhir ini menjadi momok di dunia bisnis. Burhan Satya Lutung Kasarung b******n Taik Babi kata Erick. Laki-laki gagah di usia tuanya. Pria setengah bule yang memiliki darah campuran Bugis-Rusia. Tampan dan memikat. Tubuhnya tinggi, ramping dengan rambut putih keperakan. Hidungnya bengkok. Memiliki sepasang alis tipis senada dengan warna rambutnya. Dan memiliki sepasang mata berwarna hijau tenang tapi merampas semua kuasa. Laki-laki itu berdiri angkuh, tak bisa disentuh. Setiap dia melihat, semua orang merasa terintimidasi. Tiap kali dia tertawa, semua orang terpekur menciut. Dalam sekali lihat Bayu sudah bisa menyimpulkan bahwa dia bukan manusia. Benar kata Erick. Laki-laki penuh pesona tersbut jelmaan iblis. Semua gesture tubuhnya dingin dan berkuasa. Kemudian dalam satu detik mengejutkan, mata hijau laki-laki tua tersebut memaku netra madu Bayu. Dan Bayu terhisap dalam sebuah pusara mematikan. Dunianya berhenti berotasi. Semua yang ada di sana bak pion-pion yang sukses menjelma menjadi ketakutan-ketakutan Bayu. Tapi satu hal yang pasti, yang selama ini Bayu timbun dalam hidupnya. Bahwa dia sangat membenci sosok itu. Benci lebih dari apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN