Menurut Bayu cinta adalah partitur-partitur ajaib yang Tuhan pernah ciptain pada selembar kertas kehidupan. Dimana tiap notasi baloknya jika ditekan atau dimainkan akan mengeluarkan sebuah bunyi. Entah sumbang, fals, tercekik, ataupun harmonis. Terserah pada hati yang memegang partitur tersebut. Mau dimainkan secara baik, senada, serampangan atau hanya sekedar mencoba saja. Intinya jika partitur tersebut tersemat di hati setiap manusia di dunia ini dia akan mengeluarkan nada-nada indah, yang menyatu dan berirama dalam hidup. Yang menggenggam dan bermelodi di setiap takdir. Hanya saja dalam dua puluh tiga tahun hidup Bayu, dia tidak pernah bisa mendengar nada tersebut. Lonceng yang ada dalam sudut hatinya terpekur dan aus selama ini. partitur yang Tuhan kasih pun terhempas di kolong hatinya yang tak pernah terendus. Hidupnya selama ini hanya berisi warna gelap yang menjelaga di setiap sisinya. Dingin dan lembab. Sunyi dan senyap.
Namun walaupun Bayu tidak pernah merasakan keajaiban cinta dan tidak pernah mengalami hidayah menjalin komitment dengan lawan jenis tapi biologisnya masih berjalan normal. Dia selalu memenuhi libidonya yang bisa memuncak kapan saja dengan one night standing di sebuah klub malam yang Andis ajak. Dia tak bisa memungkiri nafsu biologis yang terpusat di seputar selakangan tersebut. Sebagai jasmani yang sehat dia selalu bisa menuntaskan hasratnya dengan lawan jenis yang mungkin tidak dia kenal. Tidak peduli laki-laki atau perempuan asal birahinya tertuntaskan dia sih oke-oke saja. Dia sangat puas dengan produksi spermanya yang selalu berlimpah setiap dia melakukan hubungan 'ini-itu', bahkan saking melubernya s****a yang dia hasilkan, dia pernah menjual spermanya kepada seorang dokter spesialist obgyn setelah berhubungan badan. Tak tanggung-tanggung duit sepuluh juta dia terima dari kejadian absurd tersebut. Tapi sesudah itu dia tidak tahu apa yang terjadi dengan spermanya, pun tak mau menahu tentangnya. Dia juga sudah tidak pernah bertemu dengan dokter yang sangat liar saat disenggama di atas kasur tersebut.
Bayu melepas piyama bergambar Bernard Bear milik Mike yang masih memasang muka mengantuk. Mata kecil Mike berair, bibir merah mungilnya terbuka lebar saat menguap. Dia sesekali mengucek matanya. Rambutnya berantakan khas bangun tidur.
"Paah bolehkah Mike tidak mandi? Mike masih mengantuk papah?" rajuknya manja saat Bayu mengangkat tubuhnya yang polos ke kamar mandi.
"Tidak sayang." Jawab Bayu lembut, "Hari ini kamu ada kelas menghitung dan membaca. Papah tidak ingin anak papah sampai absen ke sekolah. nanti kamu ketinggalan pelajaran gimana?" Bayu mencelupkan Mike ke dalam bathup yang sudah penuh air hangat dan busa beraroma anggur. Kemudian dia menanggalkan bajuna hingga telanjang lalu turut berendam di belakang tubuh Mike. Bayu mengambil botol sabun yang ada di rak di dekat bathup. Mengusap-usap sabun ke talapak tangannya hingga berbusa lalu mulai menggosok Mike dengan busa lembut beraroma jeruk.
"Pah tahu tidak masa kemarin ibu guru memberi tugas menceritakan sosok mama di depan kelas?" Mike mulai bercerita saat tangan Bayu yang terampil memijat-mijat halus permukaan kulit anaknya.
"Lalu?" tanya Bayu penuh perhatian, tangannya yang kurus dan penuh busa tersebut mengusap perlahan-lahan tubuh belakang Mike yang mungil itu.
"Ya Mike jawab aja, mamah Mike itu rambutnya keriwil, kadang merokok kalau di luar rumah. sudah tua tapi belum lulus kuliah, suka naik gunung dan berpetualang, sering meninggalkan Mike untuk acara kampus. Tapi dia sayang banget sama Mike. selalu menciumi Mike sepanjang waktu. Memasakkan Mike makanan yang luezaaat luezaaat. Sering mengajari Mike main ukulele dan main skateboard di taman bungkul. Pokoknya mamanya Mike luar biasa."
"Sayang, yang kemu ceritakan sepertinya papa deh."
"Memang."
"Hah? Maksudnya?" Bayu bertanya penasaran, mulai menggosok leher Mike dan belakang telinganya.
"Papah kan sekaligus mamah Mike. Habis kalau papah, Mike ama daddy belanja bareng papah kelihatan seperti emak-emak bawel yang suka cerewet, sementara daddy selalu menuruti permintaan papah. Jadi ya bagi Mike papah itu mamahnya Mike."
Ada apa dengan isi kepala si cebol itu? Bayu mamahnya Mike? Siapa sih yang menginvasi otak si cerewet satu itu hingga punya pemikiran sedemikian absurd? Bayu menggeleng-gelengkan kepala. Untung dia sangat menyayangi si cebol yang kini tubunya kian hari kian bertambah tambun tersebut. Coba kalau dia nggak sayang, udah dia jitak kepalanya karrena sudah seenaknya mengeluarkan perkataan nggak masuk akal.
"Kalau papah Bayu jadi mamahnya Mike, terus mama Yani mau dikemanain?" tanya Bayu nggak habis pikir. Serius nggak sih Mike masih berusia lima tahun dan masih bersekolah di paud?
"Hmm pahh Mike mau ngomong rahasia sama papah, tapi janji ya papaah jangan ngomong siapa-siapa?" suara Mike memasang wajah serius.
Bayu menaikkan alisnya dia menjawab iya kemudian Mike berdiri dan berbalik kepadanya. Mulutnya yang kecil di arahkan ketelinga Bayu lalu dia berbisik dengan intonasi yang bisa di dengar semua orang di ruangan tersebut.
"Sebenarnya Mike nggak suka dengan Mamah Yani pah. Dia jahat, sering mencubit Mike. Tapi kalau Mike melapor ini ke daddy atau ke eyang Mamah Yani bilang mau mengambil daddy Mike selamanyaaa. Mike sayangnya sama papah. Sebaiknya papah aja yang menikah sama daddy, lalu bikin adek baru buat mMike. Ya pah ya..."
Astaga dragon. Mata Bayu melebar sempurna. Amarah di dalam perutnya melonjak. Yani berani mencubit anaknya? Siapa dia sampai bisa melakukan hal haram tersebut? Ya tuhan bahkan untuk melihat tangisan ketakutan Mike beberapa minggu lalu di Jembatan Merr saja rasanya sangat menyakitkan sekali buat Bayu dan sekarang ada seorang yang begitu berani-bearninya mencubit kulit malaikat tanpa dosa seperti Mike. Yani benar-benar bukan manusia. Wanita seperti dia sangat laknat. Bayu memejamkan mata, rasa sakit dan ngilu menyayat ulu hatinya. Dia sangat menyanyangi Mike. Dan tak akan dia biarkan seorangpun melukai anaknya.
"Ap—" belum sempat Bayu menyelesaikan kalimatnya pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Dan Bayu refleks melotot, matanya nyaris melompat dari engsel. Dia buru-buru mendudukkan Mike di seputar selakangannya supaya tititnya yang mengkeret kayak kacang tanah ukuran semi jumbo tersebut tersembunyi dari mata Panji, "Ngap—
Lagi-lagi kalimat Bayu terpenggal, kali ini suara cempreng besi rongsokan dari Mike mencicit kayak burung pipit.
"daddyyy.....!!!" teriaknya antusias, memamerkan barisan giginya yang kecil-kecil dan rapi-rapi, "Daddy udah mandi??? Ayo mandi bareng kita daddy!!"
Itu masalah bocah. Sekali lagi masalah. Bayu merapatkan bibir, menggelengk-gelengkan kepalannya ke arah Panji, niatannya mau kasih kode kayak sandi morse gitu biar Panji menolak dengan segan keinginan si malaikat berhati setan dalam bungkus mini yaitu Mike. tapi sandi dari Bayu gagal. Yang ada Panji malah melangkahkan kakinya mendekati Mike dan Bayu setelah menutup dan mengunci daun pintu kamar mandi.
"daddy memang belum mandi Mike." katanya tegas dengan suara tenang. Mata coklatnya mengintimidasi Bayu yang menggerak-gerakkan matanya salah tingkah.
"mandi sama kita aja daddy. Papah jago menggosok. Nanti daddy pasti ketagihan gosokan tangan papah." Bayu buru-buru menutup mulut cempreng nggak tahu diri itu. bagaimana bisa sih kata-kata ambiigu barusan melompat tanpa saringan dari mulut Mike?
"jangan hiraukan rac—
"tentu Mike, daddy dengan senang hati bergabung mandi dengan kalian."
Bayu tersedak, refleks menarik tubuh Mike semakin menempel padanya, supaya daerah selakangannya terhindar dari mata memangsa Panji.
Panji melepas baju tidur yang sedang dikenakannya satu persatu, lalu membuangnya sembarang. Kemudian dia melepas celana kolornya, dan seketika muka Bayu memanas dengan hasrat yang tidak bisa diungkapkan. Melihat begitu besarnya p***s Panji yang sedang ereksi, sesuatu di dalam tubuh Bayu menggeliat. Seketika Bayu teringat perkataan gempita kapan hari yang mengatakan burung Andis segedhe singkong. Hmm p***s Panji memang besar. Mungkin segedhe singkong jadi bisa saja penisnya sama besar dengan burung Andis.
Demi apaaah Bayu membandingkan p***s sahabatnya sendiri dengan p***s majikannya? Tubuh Panji yang telanjang benar-benar adonis. dewa yunani seolah tersketsa di badannya. Kekar dengan otot-toto yang menonjol. Apalagi penisnya yang mengacung tegak lurus itu tampak gagah dan berurat.
Tubuh Bayu panas dingin. Dia menengang. Dan menahan nafas tanpa sadar. Panji mencelupkan kaki jenjangnya ke dalam bathup lalu perlahan dia menceburkan tubuhnya tepat di belakang tubuh Bayu, merapatkan tubuh telanjangnya hingga menempel di punggung telanjang Bayu. ke dua pahanya terbuka lebar dan menopang kedua kaki Bayu dari bawah. Dengan tangan besarnya dia menarik perut Bayu ke belakang untuk semakin melekat tubuhnya, hingga p***s panjang dan besarnya mendesak belahan p****t Bayu.
Panji mengambil sabun cair dari rak, menuangkan sabun ke telapak tangannya, lalu menggosok-gosokkan telapak tangannya sampai menciptakan busa sabun beraroma jeruk. Sejurus kemudian kedua tangannya masuk ke celah lengan Bayu, lalu mulai menggosok dengan lembut dan sangat pelan perut Bayu.
Kulit Bayu meremang dibuatnya. Apalagi menerima pijatan-pijatan dari tangan Panji. Dia menggigit bibir bawahnya supaya tidak mengerang. Karena sumpah demi apapun gosokan Panji di tubuhnya sangat mengenakkan.
Tangan Panji naik ke atas. Memijit dan meremas-remas d**a Bayu, jarinya yang kuat menekan p****g Bayu yang mulai mengeras. Mengulur sambil memelintirnya. Sensasinya bagi Bayu sangat luar biasa. Perpaduan panas dari bakaran nafsu dan dingin dari busa lembut aroma jeruk. Bayu keenakan. Birahinya bergelora. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Panji. Matanya merem-melek keasikan. Nafasnya memburu. Jakunnya naik turun. Dia sampai tidak fokus dengan gosokan tangannya di tubuh Mike. tanpa sadar Bayu menggoyangkan pinggulnya, merangsang p***s Panji yang menubruk kulit luar pantatnya.
Panji membenamkan wajahnya di persinggungan leher Bayu. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Bayu. hidungnya yang bangir menggesek erotis kulit leher Bayu. Mencium dan menggigitnya kecil-kecil.
"paah... ayo gosok Mike..." suara Mike mengusik hasrat Bayu. Dia gelagapan dengan nafsu yang semakin memuncak.
"i..iya say..ang!!" suara Bayu mendesis antara desahan dan erangan yang kuat-kuat dia tahan.
Gemetar Bayu mulai menggosok tubuh Mike. pikirannya tidak fokus. Sementara keringat sebesar biji jagung lolos dari permukaan kulitnya.
"enggh...." Bayu merintih hebat tanpa bisa dicegah saat jari Panji masuk ke dalam lubang anusnya.
"papah kenapa?" Mike memutar tubuhnya menghadapi Bayu, tangannya yang kecil memegang bahu Bayu yang sudah mengejang, "muka papah merah. Papah sakit?"
Bayu tidak bisa menjawab. Otaknya melayang menahan rasa perih di anusnya yang terasa dirobek dan dicabik. Apalagi dengan kusu jari Panji yang terbenam di dalam anusnya mulai menggerakkan maju mundur.
"Panjiihhh... akuh.. mohonn..." Bayu merintih. Merapatkan bokongnya di p***s Panji.
"Mike, papah sedang tidak enak badan. Daddy harus menyabuni papah biar papah bisa selesai mandi. Mike sudah selesai kan? Mike keluar dulu yaa. Tadi daddy sudah menyiapkan baju perlengkapan sekolah di atas kasur Mike. Mike bisa memakai baju sendiri kan?" kata Panji dengan suara berat.
"oke daddy. Papah cepat sembuh ya."
Mike keluar dari bathup lalu berlari-lari dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
"kita lanjutkan permainan semalam lencana." Bisik Panji sambil mencium telinga belakang Bayu.
Bayu mengerang lagi, jari tangan Panji masih menerobos keperawanannya. Maju mundur secara amat sangat pelan. tubuh Bayu meremang. Bergetar dan sedikit nelangsa akibat permainan pelan Panji. Dia ingin lebih. Ingin Panji lebih dalam di lubangnya.
"engh... Panjiiihhh." Bayu mendesis ketika jari Panji menyentuh prostatnya. Tubuh Bayu menggelinjang dan mengejang sambil Semakin menggoyang pinggulnya, membuat akses jari Panji di dalamnya bertambah leluasa. Jari Panji mengurut prostat Bayu, memijitnya perlahan. Ketika Bayu merasa menggelepar, Panji menarik jarinya. Sungguh sangat menyiksa Bayu dengan kenikmatan seperti ini, "kumohon Panjiih." Bayu meracau. Dia seolah sudah menjadi b***k seks dari seorang Panji. Pantatnya mendesak p***s Panji yang mengeras.
Bayu merintih. Kedua tangannya mencengkeram sisi bathup erat saat Panji menambah ruas jarinya untuk mendobrak liangnya. Bayu merasa penuh. Birahi dan nafsunya terbakar. Desahan nafasnya tersengal. Panji mulai menggerakkan dua jarinya di dalam a**s Bayu yang terasa sangat sempit dan menjepit. Saat kedua jarinya menobrak prostat Bayu dia akan menariknya mundur. Seperti itu terus menerus, lagi dan lagi. Menyiksa Bayu dengan kenikmatan setengah tanggung. Kedua jari Panji Memijit dinding a**s Bayu yang lain. Menggunting daging padat dan berkerut tersebut dengan sangat intim.
"kamu milik saya Lencana. Kamu milik saya. tidak akan saya biarkan kamu disentuh sama orang lain." Panji terus membisikkan kata-kata seduktif diantara cumbuannya, membikin Bayu melenguh dalam erangannya.
Bayu kembali memekik. Kepalanya refleks menengadah. Panji baru saja menambah jarinya dilubang Bayu. Merudalnya perlahan dan terus memainkan titik kenikmatan Bayu tanpa memiliki keinginan untuk mengabulkan permohan Bayu yang merintih ingin disentuh lebih dalam lagi. Tangan Panji yang lain bermain-main di daerah p****g Bayu. Menariknya, lalu memutarnya, mencubit kemudian menekannya. Berulang-ulang membuat Bayu tak kuasa diayun kenikmatan sedemikian hebat. Dia terus menggeram, apalagi lidah Panji terus menjilati tiap jengkal lehernya. Menggigitnnya dengan lembut.
"kamu menyyukainya lencana?" Panji menubrukkan deru nafas panasnya di permukaan kulit leher Bayu.
Bayu merinding, bulu kudunya meremang, "enaak Panjiihh. Aku mohonn.. sentuh aku lebih dalam. Kamu menyiksaku Panji."
Penis Bayu berkedut. Sesuatu akan keluar dari sana. Bayu memegang penisnya berniat untuk mengocok dan menuntaskan o*****e pertamanya, namun belum sempat dia mengurut, Panji sudah lebih dulu melepas tiga jarinya di lubang Bayu. membuat p***s Bayu terasa ngilu dan lubangnya berkedut-kedut. Kemudian Panji berdiri, menarik Bayu dari bathup dan menggendongnya di depan.
Kepala Bayu yang terasa pusing akibat o*****e yang tertunda menelungkup di bahu liat Panji. Memasrahkan apa saja yang akan dilakukan Panji padanya. Kedua kakinnya dengan erat mengapit pinggul Panji. Panji mengajak Bayu di tempat pembilasan, di bawah sebuah shower, dia menyalakan shower tersebut lalu menghimpit Bayu di salah satu sisi dindingnya.
"saya akan membuat kamu melayang lebih jauh lagi lencana. Saya akan membuat kamu kecanduan dengan kenikmatan yang saya berikan sehingga kamu tidak akan mempunyai pikiran untuk berpalling dari saya. kamu pembantu saya lencana. Kewajiban kamu melaYani saya seutuhnya."
Percikan air shower yang menyiram tubuh telanjang mereka berdua membuat Panji semakin berhasrat mendekap dan memakan Bayu. dia mencengkeram dan meremas p****t Bayu. menariknya agak keatas dan detik berikutnya dia mulai memasukkan penisnya di a**s Bayu.
"Panjiiih.. kamu yakin? Saya takuut. Punya kamu sangat besar." Bayu meratap saat melihat tangan Panji yang memegangi p***s besarnya sudaah siap di permukaan daging a**s Bayu.
"kamu tenang saja sayang. Rileks. Ini tidak akan sakit. saya sangat menginginkan kamu lencana. Kumohon ijinkanlah saya menyentuhmu."
Seorang Panji memohon kepada Bayu? itu baru keajaiban. Bayu merona. Merasa senang, untuk kali pertama dalam hidupnya ada seseorang yang sangat menginginkan dan memohon padanya penuh harap. Dengan nada erotis dan intim. Bayu mengangguk, menarik nafas dalam-dalam. Kedua tangannya meremas bahu telanjang Panji yang kial.
"enghhh...." Bayu menjerit histeris begitu kepala p***s Panji mencumbu mulut anusnya. Luar biasa sakit, sangat perih, seolah lubangnya dirobek tanpa ampun.
"ah..." erangan Bayu teredam ciuman Panji yang lembut di bibirnya. Panji menggerakkan mulutnya di sekujur bibir Bayu. Mencium dalam-dalam tiap sudut mulut Bayu. liidahnya menyappu permukaan bibir Bayu, menggigitnya perlahan. Menghisapnya penuh perasaan. Bayu mengerang keenakan, dan hal itu digunakan Panji untuk memasukkan lebih dalam penisnya di lubang Bayu yang terasa hangat dan menjepit.
"ya ampun lencana, kamu sangat sempit sekali. saya suka." Panji tersenyum dalam ciumannya. Dan itu sumpah membikin Bayu meleleh. Panji tidak pernah tersenyum setulus itu selama ini. bibirnya selalu terangkat menyeringai membuat Bayu sering bergidik dalam ketakutan, tapi kali ini, dia bisa melihat senyum Panji. Senyum ketulusan dan penuh pengharapan. d**a Bayu menghangat, dan dia mulai rileks.
Panji terus memasukkan penisnya, hingga batang memiliki panjang 20cm saat ereksi tersbut terbenam sepenuhnya di lubang Bayu.
Bayu merasa sangat aneh. Seperti ada sebuah bambu menyumpal anusnya. Dia memekik, mendesis dalam ciuman Panji yang semakin menaikkan temponya. Tubuh Bayu mengejang. Dan bergelanyar hebat.
Ciuman Panji pindah ke rahang Bayu. menggigitinya dengan semangat, "Lencana may i move it now?" pintanya dengan mata coklat terang yang memancar penuh nafsu.
Bayu menggigit bibir bawahnya ragu, kemudian mengangguk pelan.
"Panjiiiihh..." Bayu mendesis saat p***s Panji mulai ditarik ulur. Rasa sakit yang dia dera kian membuaatnya kesetanan. Enusnya seperti koyak, seolah telah tercabik-cabik dengan kuku runcing. Dia bahkan sanksi bakal ada darah yang keluar dari sana.
"demi tuhan lencana, a**s kamu mencengkeram k****l saya erat.. enggh..." Panji menggeram, menggoyangkan pinggulnya. Tangan satunya memegangi p****t Bayu untuk terus merapat di penisnya. Pergerakan penisnya semakin lama semakin intens, dan saat kepala penisnya menyentuh prostat Bayu, rintihan kesakitan Bayu langsung terganti dengan desahan nikmat. Dia mempererat genggaman tangannya di bahu Panji dan mulai ikut menggerak-gerakkan pinggulnya agar Panji memiliki kebebasan bergerak di lubang sempitnya.
Panji terus menyetubuhi a**s Bayu. Memijit dan mengurut prostat Bayu. mengobrak-abrik isi Bayu, membikin Bayu benar-benar berantakan dan pecah berkeping-keping dalam permainan Panji. Panji kian memaju mundurkan penisnya dengan tempo yang semakin intens dan cepat, sementara ciumannya mulai ganas di leher Bayu, menghisap dan menyedot dalam. Bayu kesetanan, tubuhnya naik turun dalam gendongan Panji. Kakinya semakin erat terkalung di pinggul Panji. Tangannya liar memainkan surai hitam Panji, menjambaknya, lalu membenamkannya di ceruk lehernya. Dia terus merintih. Menyuarakan nama Panji dengan desahan seksinya untuk memberi semangat pada Panji supaya terus mencumbu dan menyodomi anusnya.
Tubuh Bayu benar-benar terbakar. Setelah sekian tahun jajan seks di bar kelas atas akhirnya sekarang dia bisa merasakan kenikmatan bercinta yang luar biasa ganas. Sensasinya benar-benar mendebarkan. Tubunya bergetar, hatinya menjerit, dadanya memanas. Perpaduan erotis yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia melayang dan diayun dengan sangat profesional. Dia sangat menikmati permainannya kali ini. Dia menikmati ciuman rakus Panji yang posesiv, dia menikmati p***s Panji yang mengisi dan bersatu dengan tubuhnya, dia menikmati suara desahan Panji yang membakar birahi, dia sangat mikmati semua itu.
Bayu merasakan penisnya berkedut-kedut, dan p***s Panji yang tertanam di dalam tubunhya bergetar-getar.
"Lencana im cuming." Panji menggeram, semakin merojok a**s Bayu. merudalnya tanpa ampun. Menghantam prostat Bayu berkali-kali dan detik berikutnya dua pemuda telanjang tersebut sama-sama o*****e. Melepaskan cairan berwarna putih dan kental. Tubuh Bayu langsung lemas, lalu ambruk dalam pelukan Panji yang mendekapnya erat.
===
Bayu berjalan dengan sedikit timpang dari kamar Mike menuju ruang makan. Kedua kakinya mengangkang akibat rasa perih yang dia terima dari bercinta tadi. Setelah kesusahan berjalan dia akhirnya sampai di ruang makan dan sudah akan menyapa seluruh isi rumah termasuk Panji yang telah memakai pakaian kerja lengkap tatkala langkah kakinya terhenti begitu saja. Dan amarah saat mendengar cerita Mike tentang mamah Yaninya tersulut begitu saja tatkala manik mata madunya menangkap sosok itu. w************n itu. Yang sedang bergelayut manja di lengan Panji itu, yang ketawa-tawa penuh sparkling di samping Panji yan menatapnya penuh cinta itu. Dasar b******n!!! Bayu marah. Dia muntab.
Bayu melangkahkan kakinya mendekati Mike, "Biar saya saja yang menyuapi Mike Budhe." Desis Bayu menahan emosi sambil menatap tajam Yani yang mengikat matanya dengan pandangan menginterogasi.
"oh iya Bayu. dia dari tadi mencari-cari kamu." suara lembut budhe irma, memberikan semangkok bubur ayam buatan Bayu kepadanya seraya tersenyum memaparkan guratan-guratn nyata di sekitar matanya.
Bayu mengangguk, mengambil mangkok dari tangan budhe irma, kemudian dia mengangkat tubuh Mike dan mendudukkan si cebol itu ke dalam pangkuannya. Dan itu sebuah kesalahan besar. Maksudnya Benar-Benar Kesalahan Besar. Rasa perih di anusnya lansung menyengat. Bayu memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Menghela nafas panjang berkali-kali untuk merilekskan daging anusnya. Saat membuka mata, Bayu bisa merasakan tatapan penuh perhatian dari mata Panji yang kali ini menggunakan kaca mata bacanya — dan hal itu membuat Bayu sadar jika majikannya tersebut tengah memegang koran harian jawa timur — serta tatapan mengintimidasi dari mata Yani.
"bukankanh tidak seharusnya seorang pembantu makan di meja yang sama dengan majikannya sendiri." Suara melengking dan ditarik ulur di ujungnya keluar dari bibir merah Yani yang mungkin digincu pakai serbuk batu-bata. Oh Bayu jahat saat ini. Dia bahkan tidak menemukan sisi kebaika dari iblis di hadapannya.
Bayu mengacuhkan perkataan Yani yang jujur menyinggung harga dirinya, dia mulai menyuapi Mike dengan suapan-suapan kecil tapi kalimat Panji berikutnya membuat Bayu kesulitan menelan ludah.
"lencana bisa kamu menyuapi Mike di taman belakang? Calon istri saya tidak nyaman dengan keberadaan kamu."
Bayu menatap Panji tidak percaya. Matanya memicing. Benarkah kalimat tadi diucapkan oleh majikannya yang maha sempurna itu? Pertanyaan menuntut penjelasan menggebu-gebu meracuni otak Bayu. Ayolah baru sejam lalu dia bersenggama begitu intim di kamar mandi Mike, dan baru beberapa detik lalu dia mendapat perhatian penuh dari matanya, tapi sekarang dia didepak begitu saja? Hanya karena seorang wanita? Parahnya wanita tersebut telah banyak berbuat dosa pada Mike. Bayu masih bergeming. Tatapannya nanar. Demi Tuhan dia sangat ingin marah sekarang, ingin mencaci maki seluruh orang tua di dalam ruangan ini, ingin berteriak lantang di depan muka Panji bahwa wanita yang dia bela adalah penjilat. Tapi urung. Dijatuhkan kelopak matanya. Dihembuskannya hafas berat. Kalimat budhe irma yang mengayun di permukaan telinganya cukup memberi kesadaran buat Bayu bahwa posisinya di sini tak lebih dari seorang nanny. Seorang laki-laki miskin yang tak memiliki apa-apa untuk membela Mike.
"Nak Bayu, mohon kesadarannya ya. Yani belum terbiasa dengan orang asing. Kalau dia sudah tinggal di sini dia pasti akan mulai terbiasa dengan kamu."
Bayu tersenyum penuh luka. Lupakan tentang prosesi masuknya k****l majikannya di silitnya. Luka yang mencabiknya sekarang lebih karena derita yang Mike tanggung. Dia mengeratkan pelukannya ke tubuh Mike. Demi apapun jika dia punya selembar uang lebih dia akan mengkasuskan masalah Mike di KPAI. Dia mempunyai cukup bukti. Mike adalah korban sekaligus saksi mata kuat. Pasti KPAI akan melarang keras seorang p*****r mengasuh dan membesarkan Mike.
"baiklah." Pungkas Bayu, lalu berdiri membuat kaki-kaki kursi yang dia duduki berderit. Bayu menggendong Mike menuju ke taman belakang rumah. Lalu mengajak Mike untuk duduk di ayunan yang ada di sana. Dia menyuapi Mike dengan tangan bergetar. Dan air mata yang menggenang di pelupuk. Lihatlah dunia, disaat kedua orang tua yang seharusnya mengasihi bocah sekecil ini sedang menyantap sarapan penuh kebahagiaan, malaikat tanpa dosa yang seharusnya mereka dekap dengan penuh kelembutan malah diungsi dan diasingkan ke belakang rumah hanya gara-gara ada seorang calon ibu rumah tangga yang tidak suka melihat ada pembantu menyuapi Mike. Bayu mendesah berat.
"paah.. lihat kan mamah Yani sangat jahat." Suara cempreng Mike menendang saraf pendengaran Bayu, "Mike sangat tidak suka dengan dia pah hiks..." ya Tuhan Mike menangis, "Mike mohon paah, tidak perduli papah sama laki-lakinya dengan daddy, Mike ingin papah menikah dengan daddy, dan membahagiakan Mike hiks.. hik.. mamah Yani jahat. Suka pukulin Mike. suka mengancam Mike paahh... hiks hiks... dia suka cubitin Mike." Mike mendongakkan kepalanya, memeperlihatkan mata indah yang basah air mata itu memancar ketakutan dan kesedihan yang sangat mencekam, "paah Mike tidak suka mamah Yani. Sangat tidak suka paah.. hiks.. hiks.. papah aja yang jadi mamah Mike ya pah... Mike Cuma mau papahh...ya pah ya..."
Dan air mata itu menggores permukaan pipi Bayu tanpa bisa dibendung. Dia meletakkan mangkok bubur ayam milik Mike di sisi ayunan, lalu menenggelamkan anak kesayangannya itu ke dalam pelukannya. Menyalurkan hangat tubuhnya untuk melipur lara Mike. ya Tuhan. Dia masih kecil, Mike masih kecil. Masih sangat kecil. Dosa apa dia Tuhan? Dosa apa?
===
Emosi Bayu pada sosok Yani terbawa ke area pelataran parkir gedung fakultas teknik. Tadi saat dia mengantar Mike ke paud lalu capcus menuju kampus, Nico — tim robotic Bayu dari fakultas teknik industri — dan Rizal — tim robotic Bayu dari fakultas teknik informatika— mendatanginya dengan tergopoh-gopoh. Raut muka mereka terlihat pucat dan tubuh mereka sedikit berguncang.
"gawat Mas Bay, gawat!!" Nico berseloroh heboh, pemuda sama kurusnya dengan Bayu yang memakai kaca mata tebal dan kawat gigi itu mencekal lengan Bayu lalu menariknya menuju gedung teknik.
"hei, kenapa main tarik-tarik sih?" tanya Bayu sebal, mengikuti jejak langkah Nico di hadapannnya.
"Mas Bay pasti tidak akan suka melihatnya." Timpal Rizal, cowok dua puluh satu tahun berambut keriting itu turut berlari di sisi Bayu.
"maksudnya?" tanya Bayu tidak mengerti, dia kesulitan mengimbangi langkah dua juniornya tersebut. For k****l Panji si b******k itu sake pantatnya masih ngilu bleeh. Kalau dibuat goyang-goyang seperti ada yang menggores luka perih itu di sana.
"pokoknya sangat mengerikan Mas Bayu. mengerikan banget. Mas Bayu harus kuat melihatnya." Nico mendramatisir, sesekali membenarkan letak kaca mata minusnya yang melorot di batang hidung.
"ini ada apa sih? Program kalian debug lagi?"
"lebih mengerikan dari itu Mas Bayu." balas Rizal ikut-ikutan drama.
Dan ketika mereka berada di laborat elektro, jantung Bayu mencelos seketika. Tubunya langsung dingin. Dan bulu-bulu di sekujur tubuhnya merinding. Dia melangkah dengan berat menuju TKP. Tepat di sana, di atas meja kerja sana, pesawat droone — robot pendeteksi suhu tubuh manusia yang akan diikutkan lomba Baronas — teronggok merana. Kondisinya sangat mengenaskan. Hancur lumat. Bahkan kepingan-kepingannya menjadi serbuk. Kabel-kabel penyusunyya tak dikenali. Microchipnya ludes.
"ANJIIIINKKKKK!!" Bayu berteriak murka. Emosi yang lindap beberapa saat lalu menyemburat di kuncup kepala. Tangannya bergetar menyentuh bangkai droone tersebut, "Padahal tinggal sebulan lagi. Tinggal sebulan." Desisnya parau. Suaranya tercekat. Bahkan Bayu sendiri tidak mengenal suara yang barusan keluar dari tenggorokannya.
"Ada yang lebih mengerikan lagi Mas Bay." Suara Rizal terdengar takut-takut.
Bayu menoleh ke arahnya putus asa. Rizal menarik sebuah laptop di dekat sana lalu memperlihatkan sebuah layar yang menyala kedap-kedip dengan warna biru.
"Semua rancangan awal kita, semua daftar keperluan kita, semua sistematika kerja robot kita, semua program robot kita dihancurkan virus ganas yang aku nggak pernah lihat sebelumnya. Bahkan laptop ku tidak bisa digunakan lagi sekarang."
Bayu memejamkan matanya. Kemudian menyambar sebuah komputer lcd di dekatnya lalu membantingnya sekuat tenaga di lantai hingga komputer itu mengalami nasib serupa dengan droonenya, walaupun tak separah itu.
Nico dan Rizal berjengkit kaget. Meihat Bayu kesetanan adalah hal pertama buat mereka. Dan Bayu sangat mengerikan sekarang ini.
"b******n!!! ANJINK!!! ANJINK!!!!" Bayu meraung, menendang-nendang peralatan elektro yang tersebar di sana. Kedua tangan Bayu memegangi kedua sisi kepalanya, dan menundukkannya dalam-dalam. Bahunya naik turun cepat. Dan keringat membanjiri seluruh kuitnya.
BRAAAKKK!!!!! Kini sebuah papan circuit besar terguling dari tangan Bayu hingga komponen-komponen elektro yang ada di badannya terlepas satu-satu. Kemudian Bayu menginjaknya sampai terbelah menjadi dua. Belum puas dengan amarah yang menyulutnya, Bayu menginjak lagi papan tersebut sambil terus menjerit histeris. Hingga kondisinya kini benar-benar hancur tak tebentuk
"BRENGSEKKK!!! SETAN!!! IBLISSS!!!" Bayu menggeram frustasi, dijambaknya rambut kriwilnya kuat-kuat, "Enam bulan gue susah payah ngedesign ama tim, ngerangka, nyiptain. Dan sekarang hancur seperti ini??? BIADAPP!!!" mata Bayu memerah. Tubuhnya berguncang hebat, "Padahal sebulan lagi lomba robotnya ANJINKKKK!!! Kenapa harus sekarang sih? Kenapaaa????" Bayu memekik, tubuhnya melengkung. Dia menatap tak percaya pada bangkai pesawat droone kebanggaannya. Dengan tangan bergetar dan netra terluka, Bayu meraba body droone yang sudah berantakan. Serpihan-serpihan badan pesawat yang lancip menusuk kecil-kecil permukaan jari Bayu.
Bayu memejamkan mata dalam. Menghela nafas panjang. Berkali-kali seraya membusungkan dadanya lebar. Perlahan-lahan Bayu mencoba menenangkan amarah. Kemudian dia mendongak dengan sisa emosi yang menguras energinya, lalu berpaling pada dua pemuda di hadapannya yang mengkerut ketakutan melihat perangainya, "apakah.. apakah..." Bayu mengambil jeda, paru-parunya menghimpit saat mau melanjutkan ucapannya, ditariknya setengah nafas enggan, "apakah diantara kalian ada yang tahu siapa yang kira-kira melakukan ini kepada kita?" suaranya tercekat di tenggorokan waktu mengucapkan kalimat barusan dan bibirnya bergetar menahan diri supaya bukan teriakan lagi yang terlontar dari sana. Dipandanginya dua rekan setimnya tersebut dengan tatapan memohon. Setidaknya dalam gempuran amarah ini Bayu masih berharap pada setengah keajaiban yang mungkin masih menginap, akan sosok dalang di balik semua ini. paling nggak dia bisa tahu kepada siapa amarahnnya akan berlabuh.
"Maaf Mas Bay. Ketika kami kesini, robot kita sudah hancur seperti itu." jawab Nico dengan suara melengking tinggi takut-takut.
"Bagaimana dengan cctv? Pasti cctv yang ada di ruangan ini merekam kejadiannya kan?"
Rizal mendesah dalam, dipandanginya senior yang sedang frustasti berat itu dengan tatapan nanar, "Beruntungnya kita Mas Bay, semua cctv di gedung teknik mati. Semua. tak terkecuali. Termasuk di sini."
Tubuh Bayu nyaris limbung. Kepalanya berdenyut-denyut bak ditombak sama bambu runcing. Rasanya meledak-ledak. Dan menggesek seluruh persendian. Dia mengerjap berkali-kali lalu minggat dari tempat itu dengan meminang emosi yang mencekik paru-parunya.
Bayu berlari-lari kecil menuju lobby gedung teknik. Langkah kakinya lebar-lebar sangat tidak sabar. Tubuhnya terasa mengangkasa dan sangat ringan. Untung dia sempat sarapan tadi walaupun Cuma sedikit, jadi begitu melihat hal mengejutkan barusan tubuhnya tidak ambruk. Dia melirik sudut jam dinding yang bertengger di sisi tembok lalu semakin memacu gegasnya dan sudah akan membuka pintu kaca lobi tatkala dari arah berlawanan datang dengan sangat tergesa pula tubuh yang jauh lebih besar dari Bayu. Bayu yang tidak menyadari keberadaanya sukses menabrak orang tersebut dan nyaris terjatuh apabila orang itu tidak memegangi lengan Bayu sigap.
"ops sori-sori..!!!" ucap Bayu buru-buru kemudian tertegun melihat sosok Kevin yang menangkap sikunya, "ops maaf Kev aku nggak lihat."
"Hei lo kenapa Bay? Muka lo merah gitu?" suara berat Kevin mengayun tenang di sensorik pendengaran Bayu.
"Aku nggak apa-apa kok Kev. Aku duluan ya." Bayu menepis cengkeraman tangan Kevin, tapi urung saat dirasanya kuku ibu jari Kevin sedikit menancap ke kulitnya.
"Hei Bayu lo kenapa sih? Kenapa tergesa-gesa gini?"
"Nggak apa-apa. Aku benar-benar buru-buru banget. Ada masalah yang harus aku selesaikan sekarang."
"Gue mau ngomong sebentar bisa?"
"Nggak Kev aku benar-benar dikejar waktu sekarang." Bayu menarik diri tapi lagi dan lagi Kevin menahannya.
"Mau kemana sih? Gue anterin lo ya." Kata Kevin seduktif.
"Nggak usah Kev makasih. Aku bisa sendiri. Bisa lepasin tangan kamu? aku benar-benar harus bergegas sekarang.Kalau nggak cepat-cepat..." Bayu malah meracau sejadinya, dia menunduk dalam dan bergerak-gerak gelisah, sementara lidahnya mengecap kata-kata yang dia sendiri tidak tahu.
"Bay..!!!"
"..aku benar-benar sibuk sekarang... aku harus mengatasinya.. sendiri!!"
"Bayu!!" Kevin menangkup wajah Bayu dengan dua tangannya, sehingga wajah Bayu yang menyirat amarah dan kebingungan itu terekspos netra kopinya, "Lo kenapa?" nada bicara Kevin lembut.
"Aku benar-benar harus pergi sekarang Kev. Aku benar-benar kacau. Aku...."
"Bayu, gue akan ngebiarin lo pergi kalau lo udah bisa nenangin diri lo sendiri."
"Kepala.aku.pusing.Kev.aku.benar-benar.sekarat.aku...." dan suara racauannya Bayu sukses terbungkam bahu kokoh Kevin saat dia tiba-tiba di dekap Kevin ke dalam pelukan.
Bayu tersentak, tubuhnya menegang. Gumpalan emosi yang menderas lubang hatinya perlahan susut dan tergantikan dengan kilasan ciuman panas mereka beberapa hari lalu. Bayu sedikit merona. Tiba-tiba dia merasakan sebuah usapan lembut dan menenangkan di punggungnya yang sedari tadi menegang. Entah mengapa, medapat elusan halus dari tangan besar Kevin, otot-otot punggungnya yang beberapa jam belakangan ini mengalami tensi tinggi mengendur perlahan-lahan. Bayu mengatur nafas. Membiarkan Kevin terus memeluknya. Kedua tangan kurusnya bergerak refleks mengait di pinggang Kevin.
"Bay gue nggak tahu masalah apa yang sedang lo hadapi saat ini." deru nafas Kevin yang hangat dan lagi-lagi beraroma green tea tersebut menyinggung sebagian permukaan kulit pipi dan leher Bayu, "Gue mohon lo tenangin diri lo. Gue nggak suka lihat lo berantakan gini Bay. Gue nggak tenang. Karena gue sangat yakin ketika seluruh perhatian lo sekarang tersita dengan masalah, lo nggak akan bisa rileks dan refresh. Lo akan terus bergelut dalam masalah lo tanpa pernah beristirahat dan hal itu akan membuat lo jatuh sakit Bay. Gue nggak mau itu terjadi."
Bayu terpekur. Terkesima kata-kata Kevin. Walaupun Kevin selalu mengungkapkan sisi jujur dari hidupnya sendiri, tapi Bayu selalu bisa nyaman dari setiap eksplanasi yang terlontar dari mulutnya. Frontal tapi sangat merenggut.
"Ingat Bay. Lo bukan robot. Setiap susunan sel dalam jaringan lo itu butuh ketenangan sesekali. Lo nggk bisa menghajar diri lo di luar batas kemampuan lo. Gue dan semua penghuni kampus ini tahu Bay, kalau lo itu mahasiswa hebat meskipun reputasi lo di bidang pelajaran masih tiarap. Tapi menjadi mahasiswa hebat bukan malah menjadi yang paling sempurna Bay. Lo tahu kan tidak ada kesempurnaan didunia ini? Jadi lo nggak bisa Bay memaksa tubuh lo untuk bergerak sempurna."
"Sempurna..." Bayu berbisik setengah ragu, "Maksud kamu?"
"Lo sadar nggak sih Bay, kalau selama ini lo itu terlalu menuntut diri untuk menjadi yang nomor satu. Berusaha maksimal itu wajib Bay, tapi memaksakan kehendak menjadi yang paling wahid itu sia-sia. Perjuangan lo akan terhempas begitu saja jika lo terlalu memaksakan diri. Lo itu Cuma manusia Bay, kemampuan lo terbatas. Dan nilai yang menjadi standar itu sekedar deretan angka dan bilangan manis yang seharusnya bukan menjadi tujuan hidup lo."
Bayu semakin bingun, dilepasnya pelukan Kevin lalu diamatinya pemuda tampan di hadapannya tersebut dengan pandangan menelisik.
"Aku apa?" dia menunjuk hidung dengan jari kurus dementornya.
"Gue emang bukan menjadi manusia paling dekat dalam hidup lo Bay. Tapi selama ini gue bisa membaca manuver kehidupan lo. Lo akan menjadi manusia bebas saat lo nggak memiliki tanggung jawab. Tapi lo akan menjadi manusia egois yang haus pujian dari adik-adik junior lo tiap lo dikasih wewenang."
"Sorry, kayaknya ada yang tidak beres dengan pemikiran kamu." kata Bayu tersinggung.
"No Bay. Lo sadar nggak sih kalau selama ini lo selalu meloloskan permintaan junior lo di kampus ini hanya karena keangkuhan harga diri lo yang ingin dipuji bahwa lo bisa melakukan segala hal? Di acara malam inagurasi nanti? Acara touring kemarin? Perekrutan Band? Lo sadar nggak, lo ngelakuin hal itu karena apa?" tidak ada jawaban dari Bayu, Kevin mengambil jeda, menghela setengah nafas, kemudian katanya, "Karena lo manusia hedon Bay. Bukan yang mendewakan kekayaan, tapi mendewakan kemampuan lo. Jujur gue nggak tahu masalah apa yang kini menggayuti pikiran lo. Tapi gue sangat yakin ini berhubungan erat dengan kemampuan lo yang ingin lo tunjukkan ke dunia bahwa lo adalah mahasiswa bisa segala hal."
Bayu tersengat dengan kata-kata nggak masuk akal yang Kevin lontarkan kepadanya. Sangat dingin dan menyinggung harga dirinya. Tapi Bayu tetap bergeming. Dengan sudut kalbu mengharu biru. Karena ya, pemuda bermulut pedas tersebut selalu bisa menginterpretasikan siapa wujud Bayu sesungguhnya dengan sangat gamblang. Bahwa Bayu selama ini penghamba pujian sebagai mahasiswa serba bisa. Walaupun hasrat itu menyempil di bawah ketidaksadarannya tapi Bayu mengakui keberadaanya. Sekali lagi Kevin sukses memetakan sifat dan karakter Bayu dari sisi yang selama ini tidak bernah disibak siapapun. Bayu terlena. Terkesima biji kopi netranya semakin dalam. 'lo sebenarnya siapa sih Kev?'
===
Bayu berlari menuju basecamp mapala untuk meluapkan amarah akibat pesawat droonenya yang sudah dia ama timnya garap selama enam bulan ini hancur lebur tanpa ada yang tahu siapa orangnya. Beruntung sekali sekarang mapala sedang kosong. Sebagian Para penghuninya masih melakukan travelling kloter kedua di tiga tempat itu.
Bayu melesakkan p****t teposnya di kursi putar depan meja komputer di basecamp mapala. Menengadahkan kepala lalu menelungkupkan sebelah lengannya untuk menutupi matanya. Demi tuhan dia sangat capek. Tubunya letih. Kapan dia bisa beristirahat? Seluruh pikirannya seakan terasa sesak dijejali masalah,masalah, dan masalah. Apalagi kemarin waktu mau turun dari bus pariwisata Karina ngomong kalau dia harus mengisi acara malam puncak inagurasi yang bakal di adakan di auditorium gedung sastra yang sering dibuat acara pertunjukan seni tersebut. Dia harus menyanyi di sana kata karin. Bleeehh itu kan hari minggu, dan sabtu minggu dia memiliki jadwal wajib latihan ngeband bareng Elek Yo Band. Ya tuhan semoga Meri tiba-tiba diare lagi supaya Andra nggk kesetanan memaksa para personelnya latihan. 'Maafkan daku Meri, aku capek banget kampreet'
Pikiran Bayu berkeliaran, berkelana tak tentu arah. Tapi yang jelas semua fokusnya terpusat pada hancurnya robot yang dia garap. Siapa kira-kira gerangan yang berani menghancurkan sesuatu milik Bayu? Selama ini Bayu tidak pernah mendapatkan hal buruk mengenai perlombaan robotnya. Apakah sekarang ada mahasiswa lain yang mau unjuk gigi di kancah regional prihal robot? Bego banget kalau memang ada yang seperti itu. Dia kan bisa bergabung dengan tim Bayu. Lagian Bayu membuka lebar-lebar kepada para penghuni kampus yang mau gabung membuat robot dengan timnya. Tapi selama ini tak ada seorangpun yang minat dengan komunitas yang didirikan Bayu tersebut yah kecuali Nico ama Rizal sih.
Lalu mengenai virus komputer itu?? Pasti orangnya hebat banget dalam masalah komputer sampai Rizal yang Ipnya 4 itu tidak bisa mengatasinya. Pelakunya tak salah lagi, pasti orang yang sangat-sangat prof—
Belum sempat Bayu menyelesaikan pikirannya, sesuatu menyengat ubun-ubun Bayu. dia melonjak saking semangatnya lalu melompat menuju pintu mapala sebelum sosok monster yang membuat pagi Bayu seketika berubah malam tahu-tahu nongol di ambang pintu. Bayu nyaris menabraknya kalau saja dia tidak memiliki refleks mengerim yang ekstream.
Bayu menatap wanita j*****m tersebut tidak suka. Hasrat ingin membunuh orang tiba-tiba menggerayangi telapak tangannya yang terkepal erat.
"Gue nggak suka lo mencuri perhatian Mike." desis wanita jalang itu dengan suara melengking yang ditarik ulur di ujung nadanya, "Pakai ngeracunin anak gue dengan nyebut lo papah lagi!! Lo siapa? Lo Cuma sampah yang dipungut Mama Irma dari jalanan." Yani menyalak sengit.
Bayu mendengus kasar, dadanya bergemuruh, "Anak lo?" tatapan mata Bayu miring, "Lo siapa dia? Di dunia ini nggak ada seorang ibu yang tega mencubiti anaknya sendiri."
Yani kontan melotot mendapat serangan dadakan, dia sampai mundur beberapa langkah, "Ma-maksud loh?" bibirnya sedikit bergetar saat menanyakan hal tersebut.
"Luka memar di tubuh Mike bisa menjadi bukti kalau aku mempermasalahkan masalah kekerasan pada anak ini ke KPAI."
"Hah..."
"Nggak usah kamu tutupi lagi Yan. Kamu itu busuk, nggak akan aku biarkan kamu menyakiti Mike lagi bahkan seujung kukupun. Kalau bisa, menyentuhnya pun nggak akan aku kasih ijin."
Yani menggeram tidak suka. Dia melangkahkan kakinya mendekati Bayu lagi, telunjuknya teracung sempurna. Nafasnya sangat tidak tenang, "Gue nggak nyangka kalau lo sampai tahu segitunya tentang rahasia gue ama anak sialan itu. Tapi Bay akan gue buat lo menyesal seumur hidup lo kalau masalah gue ama bocah itu bocor ke Panji ama irma."
"Aku nggak takut dengan ancamanmu Yani. Demi tuhan kamu itu kenapa sih? Otak kamu sudah nggak waras?"
"Lo tahu Bay, gue sangat cinta ama Panji jauh sebelum dia ditunangkan dengan kakak gue. Rasa cinta gue semakin hari semakin bertambah besar. Sehingga gue memiliki hasrat untuk menjadi miliknya seutuhnya. Dan gue akan melakukan apapun asal Panji menjadi milik gue, termasuk melenyapkan penghalang busuk seperti lo."
Bayu sedikit bergidik.
"Kalau kakak k*****t gue aja bisa gue lenyapkan dari muka bumi ini, kenapa lo yang Cuma gembel ini tidak bisa?"
Giliran Bayu yang kini melotot sempurna, "Mak.. sud lo?"
"Yes, Bay, siapa yang menyangka kalau seampul dopamin yang gue injeksikan keinfusnya dia malah langsung merenggut nyawanya secepat itu? Dan sekarang dia mati meninggalkan nama baik. Mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan seorang anak. Oh dia menjadi artis beberapa tahun ini. Gue kira kematian kakak b******n gue bisa membuat gue lebih mudah mendapatkan cinta Panji. Tapi rupanya nggak!!! Panji ternyata memiliki cinta sedahsyat itu buat kakak gue. Gue kerja keras demi memalingkan dunianya Bay. Mati-matian gue merebut cintanya dari kakak gue. Hampir tiga tahun gue jungkir balik untuk mendapat perhatian dari seorang Panji. Dan sekarang setelah hasil kerja keras gue nikmati, lo datang untuk mengacaukan segalanya. Percaya sama gue Bay lo bakal menyesal kalau lo sampai membeberkan masalah gue ama Mike." Yani mengambil jeda, "Lo tahu Budhe Irma kesayangan Panji itu Bay?"
Kini Bayu tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya pada sosok mak lampir di hadapannya.
"Dia menderita penyakit jantung selama dua puluh tahun ini Bay. Akan bahagia rasanya jika mendengar dan melihat kematiannya besok pagi. Jadi Bay... pilih pilihan yang tepat sebelum lo menyesal di kemudian hari." dia tertawa menyeringai.