Bab 13

6397 Kata
Bayu menghempaskan bokongnya di sofa apak yang langsung melesak menopang tubuhnya. Dia menyalakan rokok dji sam soe, sejurus kemudian asap tembakau kretek itu membumbung di ruangan sempit yang sesak akan perkakas motor. Merasa pening dia menyandarkan kepalanya di tangan sofa. Mukanya sudah sukses kucel-kucel. Kantong matanya berlipat-lipat. Dia yang hampir lima hari tidak mandi hanya berenang doang terlihat jadi kayak siluman genderuwo lagi. Kulitnya juga kering. Bibirnya menghitam. Dia Menghirup dalam-dalam lagi asap rokok candunya, mengendapkkan lebih lama di rongga mulut, tak berapa lama dari mulutnya keluar asap bulet-bulet sempurna. "Mas bay su kayak orang mati aja eh." Suara cempreng Gaple beserta aksen Malukunya menginterupsi kenyaman Bayu menyesap rokok. Bayu melirik sekilas, kemudian melanjutkan senam bibirnya mengganyang lintingan tar tersebut. "Mas Bay, beta paling bingung eh pulang-pulang dari touring Mas Bay malah kayak mayat sa. Mas May ada masalah kah pa? Mas Bay bisa sharing par katong toh." Lanjut Gaple sambil meletakkan knalpot-knalpot modifikasi di gantungan tembok sebelah sana. Dia kemudian keluar ruangan yang sebenarnya kantor dan kasir tempat para pengguna jasa bengkel membayar, menuju bengkel yang berada tepat di depan kantor untuk menyervis nobita yang akhir-akhir ini sering banget macet. Masalah? Heh... Bayu berdecih kecil. Kalau kepergok majikannya sedang ciuman panas ama cowok lain di bawah air terjun bisa dibilang masalah berarti Bayu sedang dalam masalah sekarang. Sayangnya Bayu dan seperangkat penyusun otaknya sedang tidak ingin memusingkannya. Sebodo amat dengan Panji yang marah atau gimana melihatnya berciuman dengan cowok lain. Peduli kampret juga dengan alasana Kevin yang main nyosor bibirnya. Pake ngeklaim kalau Bayu miliknya lagi. Hallo.. siapa dia? Bayu kan sebelas dua belas ama Sun Go Kong. Lahir dari batu dan tidak ada yang berhak memilikinnya. Kalau ciuman sama Karina? Emang kemarin itu bisa dibilang ciuman? Oke Bayu tidak menghitung kecupan seperempat detik itu ke golongan ciuman, bleeh kulit bibir Bayu kan kulit badak, yang namanya kecupan sekilas nggak pernah berasa dari sana. Tadi begitu turun dari bus setelah perjalanan melelahkan pikiran selama tiga hari di Probolinggo itu, Bayu langsung mengambil nobita yang terparkir di halaman kampus lalu mengarahkan skuter tuanya di daerah rungkut ke bengkel Gaple. Dia ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak. Walaupun Gaple bukan orang yang pandai mendengar cerita orang lain tapi bersemedi di bangunan tidak terlalu luas yang dari sudut ke sudut isinya Cuma perkakas skuter bisa sedikit mengendapkan kegalauan Bayu. Bang Reza keluar dari salah satu kamar yang ada di sana. Rambutnya gimbal seperti biasa. Dia yang memakai singlet berwarna hitam itu memperlihatkan segenap macam tato di kedua lengannya. Kedua telinganya ditindik dengan anting hitam besar. Tapi bagian telinga kanannya ditambahi dengan tindikan rantai sampai ke puncak telinga. Hidung, bibir bawah dan lidahnya juga ikutan ditindik dengan logam berwarna perak. Tubuh Bang Reza setinggi Bayu tapi sedikit berisi dari pada Bayu yang kayak kapur tulis itu. Bibirnya berwarna merah pucat, karena dari semua anak skuter Cuma tuh cowok yang tidak kecanduan nikotin. Bang Reza adalah salah satu manusia langka penggila segala sesuatu yang berhubungan dengan skuter dan perangkat lunak, asli orang Bandung yang jatuh cinta dengan Surabaya sejak dia berkunjung ke rumah eyangnya pas usia lima belas tahun. Makanya ketika orang tuanya mengajaknya balik ke Bandung Bang Reza tidak mau dan memilih untuk menetap di Kota Pahlawan tersebut menemani eyang sampai beliau meninggal. Dia juga pemilik bengkel yang ditempati Gaple. Bang Reza dulu adalah ketua Kanvas saat usianya baru menginjak tujuh belas tahun, namun ketika diusia kedelapan belas Bang Reza touring ke New Zeland selama kurang lebih setahun jadi posisi kepemimpinannya di ambil alih sama Bang Gahar yang seusia Bang Reza sampai sekarang. Itulah sedikitnya yang Bayu ketahui tentang pemuda sangar sejak pertama dia bergabung di Komunitas Vespa Sepanjang. "Ntar sore Kanvas mau mengadakan penggalangan dana buat korban kabut asap di Kalimantan dan Sumatra lu ikut nggak?" Tanya Bang Reza langsung, menepis kedua kaki Bayu lalu turut menghempaskan bokongnya di samping Bayu yang malah menumpukan kedua betisnya di paha Bang Reza. "Badan aku rasanya mau remuk Bang, baru juga dua jam nyampai dari Probolinggo udah diajak penggalangan dana aja. Lihat nih mata aku merah kayak tomat? Aku belum tidur selama lima hari. Aku mau istirahat aja ntar." Jawab Bayu sekenanya sambil memejamkan matanya dengan terus menyulut rokoknya. Bang Reza memijiti kecil-kecil betis Bayu, membuat si empunya terlena keenakan, "Kalo lo mau denger si Gahar ngamuk ya lo tidur aja di kamar sana. Tungguin tuh setan ngulitin lo. Semenjak lo nggak ikutan touring di Jamus beberapa minggu lalu dia uring-uringan terus bawaannya. Apalagi lo nggak bisa dihubungi. Tiap kali nelpon lo suara operator cewek sialan itu yang terus menjawab. Di samperin ke kosanpun, anak-anak nggak ada yang tau keberadaan lo. Eh yang ada malah diajak nobar bokep threesome ama Yasin dan Buddy." Bayu terkikik kecil. Masih aja tuh dewa m***m senengannya nonton begituan bareng-bareng, "Bang Gahar pasti mau menolelir aku lah bang. Aku beneran capeek." "If you don't want to join fundraiser then don't follow us touring." Suara aksen kebarat-baratan menengahi tiba-tiba. Bayu tak perlu membuka mata untuk melihat siapa gerangan dia yang muncul mendadak kayak jailangkung. Dari kamar yang sama Bang Reza keluar tadi, muncul seorang bule guanteng banget kalau Bayu boleh lebai. Tingginya sama dengan tinggi Panji. Hidungnya mancung kayak pinokio, iris matanya biru terang, dan rambutnya pirang kotor, "people who don't have any sanse of humanity like you are a bastard." Sentaknya marah dengan raut muka tidak senang. "Hei wait bro. What are you talking about? Touring? What is touring about? No one told me." Bayu bangkit dari tidurannya, mendongak menghadapi bule itu yang berdiri menjulang. "I'm telling you bastard." "no anger please, mr. Blondie." Bayu mendengus jengkel. Bule itu memutar matanya malas, dia bersedekap lalu maju selangkah dan mengambil batang rokok yang masih terjepit di bibir Bayu kemudian menghisapnya, "you heard me boy, we have been annoyed with your behavior that always missing on Kanvas." Kepulan asapnya diarahkan langsung ke muka Bayu. Bang Reza terpingkal melihat Bayu yang tidak berkutik di depan bule itu. Sementara Bayu hanya menggerutu tak suka. Bule itu namanya Steven, asal Selandia Baru. Dia ketemu dengan Bang Reza sekitar sepuluh tahun lalu waktu Bang Reza berlibur ke Auckland. Kegilaannya dengan komputer dan skuter membuatnya nyambung dengan Bang Reza. Jadilah dia yang menjadi guide selama Bang Reza berada di negeri antah berantah sana. Dan ketika Bang Reza akhirnya mau balik lagi ke Surabaya dia ngotot ikut, meninggalkan keluarganya dan memilih hijrah ke Indonesia. Dia sebenarnya sudah fasih berBahasa Indonesia walaupun logatnya akan terasa aneh jika diucapkan, Cuma dia akan menggunakan bahasa ibunya jika sedang marah. Seperti saat ini. Menghadapi si pemalas Bayu. Oh,, bagaimana ceritanya Bayu bisa tahu seluk beluk tentang Steven? Seluruh anggota Kanvas pasti mengenal dia luar dalam karena kisah percintaan kontroversialnya dengan Bang Reza. Hohoho, yupz dia adalah pasangan gay-nya Bang Reza. "oh come on Steve,Im busy lately. i have a lot of work which kept me being everywhere. Take Care the children, campus, band and much more." "you are- doing what? Taking Care the children? You must be kidding me bastard. Whose kid is that? Oh god, don't tell me the reason you disappeared lately is because you have a child. Who is that poor girl which you have been made pregnant?" Steven mengernyit, matanya sedikit memicing, dihembuskannya kembali asap rokok itu ke wajah Bayu. Dan seketika itu juga sebuah asbak melayang ke muka Steven, untung dia bisa mengelak. Bang Reza yang melihat kekasihnya sedang beradu argumen Cuma ketawa-tawa. "Keep your tongue Steve." Dengus Bayu, "I worked as a nanny now." "Mother fucker!!! Which people wants to employ humans bastard like you to become their nanny?" "Actually up to you. Lately im very busy." Bayu mengerang frustasi. Steven tidak pernah berubah, dari dulu seperti itu selalu saja membuat Bayu kewalahan mengimbangi sikapnya. Dan kalau dia marah well, bule itu pasti akan mengadu ke kekasihnya yang selalu senantiasa membelanya sepenuh hati. "What the hell with your f*****g busy activities. Now im asking you, do you want to join that fundraising event or not? Because if you don't, then you banned from the tour." "From before you always talk about tour, actually what the f*****g tour that are you talking about?" "Tour to Madiun. We will see S.I.D concert there." "f*****g you Steve. Why did not you tell me sooner hah?" "I'm telling you right now bastard!!!" Bayu mencak-mencak. Dia sudah sangat capek sekarang. Kemampuan tubuhnya benar-benar di ambang batas. Tapi begitu mendengar Kanvas mau tur ke Madiun untuk melihat konser S.I.D, dia jadi jengkel. Pesona grup band favoritnya itu memang selalu bisa menarik perhatian Bayu. Pun seperti sekarang ini. Bayu menghunuskan pandangannya pada Steven yang masih menghisap rokoknya. Bule itu Cuma menatap Bayu dengan senyuman miring. Di dunia ini satu-satunya orang yang bisa memaksa Bayu dengan kata-kata pedasnya adalah dia. Bahkan Andis manusia keras kepala dan pemarah itu tak pernah bisa membelokkan keteguhan Bayu. "Fine i want to join." Bayu mendengus kasar, menyalakan rokok lagi lalu kembali rebahan, "Satisfied with my answer?" Desis Bayu memutar bola matanya, mengabaikan Steven yang sekarang tersenyum lebar lalu duduk di pangkuan Bang Reza. Beberapa detik kemudian dua sejoli itu saling menghisap wajah. Bahkan Steven tak malu-malu mengeluarkan suara desahannya yang membuat Bayu ikutan panas. "f*****g you guys, get the room now. Don't making love here." Bang Reza dan Steven tertawa nista. " Do you wanna join with us honey?" Bayu tidak menjawab, hanya mengacungkan jari tengahnya ke arah Steven yang langsung terpingkal-pingkal lalu mencium Bang Reza sekali lagi kemudian menuju bengkel membantu Gaple melayani para pengguna skuter lainnya yang sedang menyervis. Bayu memejamkan matanya. Demi Tuhan dia benar-benar lelah. Sambil sesekali menghisap rokok ditariknya beberapa kali helaan nafas panjang. Mencoba menikmati oksigen apak di dalam ruangan tersebut. Perlahan-lahan otot-otot yang menegang di sekitaran pelipisnya mulai mengendur. Bayu mulai rileks. Jepitan rokok di tangannya terasa diambil orang. Paling Steven kalau nggak Bang Reza. Bayu tak ambil pusing, dia menelungkupkan sebelah lengannya menutupi mata. Nafasnya teratur. Dan dia terjatuh dalam tidur. Namun tidak begitu lama dia berhibernasi, bahkan belum sampai mengecap mimpi suara berisik dari bengkel menyandera pendengaran Bayu. Dia menggeliat jengkel. Membenarkan posisi tidur dengan miring ke sandaran sofa, mencoba mengabaikan suara berisik tersebut. Tapi lagi dan lagi suara itu menyatroni kenyamanan Bayu. Oh Tuhan, sekarang apa lagi? Bayu terbangun gusar. Kepalanya berdenyut sakit. Dan matanya terasa pedih. Dia mengerjap berkali-kali lalu bangkit dan berjalan dengan geram menuju bengkel. "b*****t aku ma-" Belum selesai umpatan melompat dari bibirnya, mata Bayu sudah lebih dulu melotot melihat seorang cowok penuh luka darah di wajahnya yang sedang di obati ama Bang Reza. "Erick?" Pemuda itu, Bang Reza, Steven ama Gaple dan beberapa pengunjung di sana menoleh ke arah Bayu. Erick juga terkejut melihat sosok Bayu. Dia berdiri, kemudian berlari memeluk Bayu sambil menangis. === Tangisan Erick sudah susut. Tapi tampangnya sangat berantakan, walaupun luka lecet yang dia dapat saat kecelakaan tepat di depan bengkel Bang Reza tadi sudah diplester. Gaple ama Steven kembali ke bengkel karena pengunjung yang masih silih berganti berdatangan. Bang Reza mengangsurkan segelas air putih buat Erick. Sementara Bayu duduk di sampingnya dengan tatapan selidik. "Ini semua gara-gara biadap satu itu Mas Bay." Erick mulai bercerita, menenggak air putih pemberian Bang Reza, lalu menyulut batang rokok yang disodorkan Bayu. Kepulan asap rokok menyusul ceritanya kemudian, "Gue benci banget sama dia. Maksud dia tuh apa? Kalau dia mau mengambil alih perusahaan tempat gue kerja fine gue terima karena bagaimanapun juga gue Cuma karyawan di sana. Tapi yang nggak gue terima tu dia memecat semua karyawan di sana. Semua. Nggak terkecuali. Termasuk gue. Taik babi tuh biadap!! Gue sampai saat ini masih nggak percaya dengan kenyataan yang menimpa gue. Gue berharapnya ini Cuma mimpi siang gue paling buruk. Lo tahu Mas Bay, baru bulan lalu gue dipromosiin naik jabatan menjadi Manager Marketing di perusahaan gue, dan sekarang gue didamprat kayak anjing begitu saja dari sana? Walaupun pesangon yang gue terima sepuluh kali lipat gaji gue tapi tetap aja gue nggak terima." d**a Erick naik turun. Bayu Cuma bisa mengelus-elus punggungnya, karena Bayu masih belum bisa menarik benang merah cerita pemecatan Erick yang mendadak itu. "Lo bisa mempermasalahkan ini ke hukum Rick." Ujar Bang Reza serius, "Lo punya surat kontrak perjanjian kerja kan? Di situ pasti ditulis kalau perusahaan nggak bisa memecat lo seenak jidatnya. Lo bisa gunakan kekuatan kontrak kerja lo untuk menuntut pimpinan perusahaan yang sekarang." Erick menggeleng gemas. Tatapannya penuh amarah. Dia mendengus berkali-kali, "Masalahnya, yang gue hadapi bukan manusia bang." Katanya kesal, "Tapi iblis berujud manusia." Sejak mengetahui jika pembuat keonaran tadi ternyata Erick, Bayu langsung menarik Erick ke dalam kantor dan mengenalkan Erick ke penghuni bengkel lainnya. Tadi Erick sempat meledak-ledak. Menangis uring-uringan di pelukan Bayu. Bahkan dia sampai memukuli d**a Bayu berkali-kali, Untung ada Steven yang menengahi aksi brutal dan tak terkendali Erick. Sekali tempeleng, bule itu menghentikan tangis Erick yang seketika takut melihat amarahnya. Sungguh pemandangan yang sangat tidak sinkron. Mengingat betapa maskulinnya cowok itu lalu tiba-tiba berkelakuan kayak anak TK yang permennya direbut sama kakak kelas. "Bentar deh Rick." Dan Bayu masih belum berubah, tetap dengan ketelmiannya yang menjengkelkan itu. Dalam sekali cerita saja Bang Reza sudah memetik sebuah kesimpulan, tapi pemuda setipis lidi tersebut malah masih meloading informasi Erick dalam harddisknya yang karatan, "Maksudmu apa sih? Perusahaan tempat kamu kerja diambil alih? Trus kamu dipecat gitu? Kenapa memangnya? Maksudku kenapa ada orang asing yang mengambil alih perusahaan kamu? Secara perusahaan tempat kamu kerjakan perusahaan nasional yang bisnisnya mencakup pasar internasional? Bagaimana perusahaan sebesar itu bisa diambil alih kuasa gitu aja sih?" Erick mendesah berat, menghisap lagi rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya pasrah, "Iblis yang mengambil alih perusahaan tempat gue kerja membeli semua saham di sana dengan harga 50 milyar dollar. Itulah mengapa para petinggi melepas begitu saja perusahaan mereka. Apalagi perkembangan pasar internasional terpuruk beberapa bulan ini. Negara-negara pengguna jasa perusahaan tempat gue kerja mengalami pailit, membuat anak cabang perusahaan tempat gue kerja di beberapa negara terancam bangkrut. Apalagi dollar semakin menguat, para pejabat perusahaan semakin kesusahan menutup kerugian besar di perusahaan anak cabang. Dan kenapa gue ama ratusan karyawan lainnya dipecat karena well.... iblis itu menganggap kami semua nggak berkompeten. Tai babi apa? Dia tahu gue ama lainnya nggak berkompeten dari mana hah?" "Tapi kan Rick, yang namanya hak karyawan dilindungi pemerintah kan?" Kata Bang Reza, dia berdiri bersandar di tepian meja komputer sambil bersedekap, "Lo ama karyawan lainnya bisa demo. Bisa menaikbandingkan masalah ini ke jalur hukum. Jangan diam begitu saja. Lo juga bisa melaporkan masalah pemecatan masal ini ke perserikatan buruh. Pokoknya berjuang biar bisa mendapatkan hak kalian lagi." Kevin meratap, lalu mendesis parau dengan guratan keputusasaan, "Kan tadi gue udah bilang bang, yang ada di hadapan gue bukan petinggi-petinggi biasa. Bukan boss-boss biasa tapi iblis. Dia nggak Cuma kaya, tapi dia juga licik, akalnya bulus. Dan bang, iblis satu ini tidak bisa terendus ama hukum. Hukum tidak bisa menyentuhnya. Dia manusia suci di mata hukum bang." "Maksud lo suci dari hukum?" "Sekarang hakim agung mana sih yang nggak bakal terpincut tiap kali dia disodori dengan kekayaan berlimpah yang iblis itu tawarkan tiap kali dia tertangkap? Khasus hukum yang menyeretnya nggak Cuma sekali tapi berkali-kali bahkan lebih. Dia sudah terkenal sebagai predator bertangan dingin di kawasan pebisnis. Bahkan jika dia mau, dia bisa membeli Surabaya termasuk abang. Kekuasaannya merangsek jajaran kepolisian. Kekayaannya membungkam pengadilan." "Deportasi aja elah. Kalau dia merugikan buat bangsa kita ini kenapa dia dipertahankan segala?" Kata Bayu mulai ngeh dengan cerita Erick. "Bro, lembaga sekuat hukum aja Cuma angin lalu buat dia apalagi departemen imigrasi yang banyak liciknya? Hanya sekali kedip mereka pasti bakal patuh. Lagian mau di deportasi kemana? Dia asli orang Indonesia. Asli orang Makassar. Taik kucing!!! Dan kalaupun dia bisa dibasmi, pasti pemerintah nggak bakal bisa membasminya. Perusahaan internasionalnya yang menyebar sejagad raya ini penyumbang devisa terbesar nomor dua buat Indonesia setelah sektor minyak dan gas." "Serius iblis yang lo omongin orang Indonesia? Baru dengar gue ada orang Indonesia sehebat dia. Memang perusahaannya apa aja sampai dia bisa menimbun kekayaan sedahsyat cerita lo?" Suara Bang Reza takjub. "Yang gue baca di majalah bisnis, dia memiliki perusahaan berlian di beberapa negara di Eropa, punya Perusahaan Tour n Travelling terkenal di Hawaii, Maldives, Newzeland, Jepang, atau mana lagi gue nggak tahu, Perusahaan Provider di negara-negara tetangga, bahkan dia memiliki saham di klub sebesar Manchester United dan Barcelona. Jangan tanya bisnisnya di Indonesia. Banyak banget, gue sampai nggak hafal, tapi yang pasti dan yang terbaru perusahaan jaringan telekomunikasi bekas perusahaan gue dan yah-" dia melirik Bayu yang memasang wajah tanpa ekspresi, "Dia pemilik tunggal kampus tempat gue dulu kuliah." Bayu berjengkit, dia menatap Erick tak percaya. "Yes Mas Bay, iblis itu. Mantan rektor gue dan sekarang bahkan sampai dia meninggal masih dan akan tetap menjadi rektor di sana. Burhan Satya Lutung Kasarung b******n Taik Babi." === Percayalah gengs. Maksudnya benar-benar percayalah, jangan pernah sekali-kali membuat seorang Gahar Setia Budi tersulut amarah. Akibatnya horor. Mengerikan. Menakutkan. Buktinya lima belas menit tadi pemuda 28 tahun tersebut yang kepalanya botak, yang otot-ototnya terlatih, yang dadanya kayak bongkahan es balok, baru saja sukses mendaratkan dua bogem mentah di pipi kiri dan pipi kanan Bayu. Nggak tanggung-tanggung bleh, begitu tubuh Bayu tersungkur di lantai dia kembali menendang perut tuh bocah. Pokoknya mengerikan lah. Bayu Cuma bisa pasrah, Bang Reza ama Steven tidak bisa berkutik. Apalagi Gaple yang baru beberapa tahun tergabung menjadi anggota Kanvas, Cuma menciut di sudut markas besar pecinta skuter tersebut. Sementara anggota lainnya hanya mampu menelan ludah. Ngempet!!! Dia orang setengah samson. Sereting ama Andis sang manusia kekerasan. Tapi levelnya lebih tinggi dari Andis. Tidak punya cinta dan nurani. "Lo mangkir lagi dari acara Kanvas. Lo mati ditangan gue!!!" Mingkem. Semuanya tidak berani menengahi emosi Bang Gahar yang kayak banteng itu, "Kalau lo bukan orang kepercayaan gue, gue nggak akan semarah ini b*****t. Seharusnya lo yang bakal gue percaya untuk menjadi penerus gue menunjukkan sikap positiv pada komunitas." Tegas. Tidak bisa digugat. Bayu yang sudah bisa berdiri, mendudukkan p****t teposnya di sofa di ruangan itu sambil mengusap darah segar yang menalir di sudut bibirnya, "Ngilang kemana aja lo dua bulan ini?" Ancamnya mencekik keberanian Bayu yang terus menunduk, "Kenapa nggak sekalian mati aja sih lo? Gue lebih seneng ngelayat bangke lo ketimbang dengar alasan lo ngilang." "Har jangan kasar gitu ama Bayu. lo nggak lihat dia kayak mayat hidup?" Bang Reza mencoba membuka suara, "Dia belum tidur selama lima hari. Sudah untung dia bisa dipaksa buat ikut acara kita. Eh masih aja lo hajar dia habis-habisan." "Nggak bisa Za. Gue udah empet banget ama kelakuan dia. Dia musti dikasih pelajaran biar dia nggak seenaknya lagi." Balas Bang Gahar ngotot. "Apakah pukulan ama tendangan lo tadi belum cukup untuk memberinya pelajaran?" "iya aBang Gaharl, kasian Bayu, abang kasih dia maaf." Steven dengan logat Bahasa Indonesia yang aneh ikut-ikutan nimbrung. Bang Gahar masih merengut. Jengkel, emosi, geram menghadapi seorang Bayu yang masih terpekur memegangi kedua pipinya yang masih perih. Sementara Bayu sendiri mencoba membuka mata lebar-lebar karena demi apapun dia masih sangat mengantuk sekarang. "Lo denger gue bay, sekali lagi lo ganyang hati gue, nggak nunggu-nunggu lama gue langsung matiin aja lo. Sekalian gue-" suara Bang Gahar berhenti sepersekon lamanya. Para anggota Kanvas yang melihat Cuma bisa tersenyum geli. Apalagi Bang Reza yang nggak tanggung-tanggung ketawa melihat Bang Gahar yang langsung mematung begitu mendapat pelukan dari Bayu. "Bang kepala aku sakit banget nih. Mending kita mulai sekarang saja acara penggalangan dananya, keburu malam. Katanya nanti setelah acara baksos selesai kita langsung ke Madiun liat konser S.I.D. Kita berangkat sekarang oke?" Bayu menenggelamkan kepalanya di bahu Bang Gahar, "Oh, sekali lagi aku minta maaf karena udah bikin Bang Gahar kecewa." Bang Gahar mendengus kasar, mengacak-acak rambut Bayu, kemudian melepas pelukan pemuda ceking itu, "Kalau bukan karena gue menghormati mendiang kakek lo, dan bukan karena lo udah gue anggap adik durhaka gue yang paling gue sayang, udah gue damprat lo dari komunitas gue." Kata Bang Gahar gemas, mencium sekilas kening Bayu, lalu matanya tertumbuk pada seorang laki-laki yang tidak menaruh perhatian berlebih pada adegan kekerasan di hadapannya, dan sedang sibuk dengan dunianya sendiri, "Siapa cebol itu?" tanya Bang Gahar menunjuk Erick yang langsung terkesiap dari lamunannya. Erick mendongakkan kepalanya ke arah Bang Gahar seraya menawarkan senyum manisnya. "Dia temanku bang. Sedang depresi, baru dipecat dari tempat kerjanya. Jadi aku ajak ke sini aja biar bisa menghilangkan stressnya." Bang Gahar mengangguk, menaikkan sebelah alisnya. Setelah aksi perkenalan singkat dengan Erick dan juga basa-basi sebentar, Bang Gahar memulai briefing singkat sebelum para anak Kanvas melakukan aksi penggalangan dana buat korban kabut asap. "Sudah sebulan ini saudara kita yang ada di Kalimantan dan Sumatra menjadi korban dari pembakaran lahan sawit. Mereka krisis udara bersih. Dua minggu lalu gue ama BNPB ke sana untuk mengantar hasil sumbangan dari orang-orang yang ada di daerah sepanjang dan sekitarnya. Dan gue sangat miris sekali dengan kondisi yang ada di sana. Jarak pandang Cuma tiga meter doang. Yang namanya asap sudah menjadi udara yang mau tidak mau harus dihisap orang sana. Sangat tidak sehat. Banyak anak terkena penyakit ispa, penyakit mata, dan sesak nafas. Sehari aja di sana rasanya sungguh menyiksa. Makanya gue kumpuin lo-lo pada dalam acara penggalangan dana ini untuk turut membantu meringankan beban saudara kita. Uang hasil dari acara nanti bakal kita belikan masker N95 yang bisa menyaring partikel debu hingga 95persen yang memang sedang banget dibutuhkan saudara-saudara kita. Maskernya nanti kita antar ke posko bencana kabut asap yang ada di kantor BNPB." Suara Bang Gahar menyelimuti sekitar dua puluh anggota Kanvas yang termangu mendengar berita memilukan barusan. "Jadi nanti rencananya kita akan menampilkan pertunjukan seni musik perkusi seperti biasa. Bay karena dari para manusia blangsat di sini Cuma lo doang yang punya suara emejik lo gue kasih tugas sebagai vokalis. Terserah lo mau nyanyi apaan. Temen-temen bakal bisa mengiri lo. Nanti kita bakal tampil di beberapa tempat, diantaranya Monumen Kapal Selam, Tugu Pahlawan, Taman Pelangi dan terakhir Taman Bungkul." Setelah briefing singkat selesai, keduapuluh dua orang yang ada di basecamp komunitas vespa tersebut langsung berangkat ke tujuan pertama yaitu Monumen Kapal Selam (Monkasel) yang ada di Jl. Pemuda No. 39, Genteng. Dengan menggunakan skuter mereka bersama-sama bertolak, kecuali Bang Gahar dan Bang Reza yang naik mobil pick up karena harus membawa peralatan musik dalam jumlah banyak. Jam dua sore mereka sampai di tujuan. Segala macam peralatan seperti galon, botol-botol beling yang di isi air dengan kadar berbeda di tiap botolnya, perkakas dapur bekas seperti panci, wajan, tutup panci, tutup botol minuman soda yang dtusuk pada sebuah besi sehingga jika dikocok akan menghasilkan bunyi krempyengan, ukulele, bass betot dan masih banyak lagi diturunkan dari pickup. Tak lupa juga sebuah standing banner bertuliskan Penggalangan Dana Korban Kabut Asap plus foto kondisi terakhir daerah sana yang sempat Bang Gahar foto sewaktu kesana juga ikut diturunkan. Bang Gahar yang rupanya sudah meminta izin dulu ama pihak monumen langsung mengajak anak-anak Kanvas untuk mengatur segala macam peralatan musik di halaman depan monumen yang sekarang lagi rame banget ama anak-anak sekolah dan para penikmat kapal-kapal selam yang banyak dipajang di Monkasel. Apalagi sekarang banyak pengunjung Plasa Surabaya yang berada di sebelah Monkasel banyak yang sedang beristirahat sambil piknik kecil di sana. "Mohon perhatian semuanya." Ucap Bang Gahar di depan mick yang di colokkan ke soundsystem yang emang udah Bang Gahar siapkan, "Kami ke sini untuk melakukan penggalangan dana buat saudara-saudara kita yang menjadi korban kabut asap di daerah Kalimantan dan Sumatra. Kami mohon teman-teman yang ada di sini mau menyisakan sedikit uangnya buat saudara-saudara kita. Mereka di sana sedang krisis udara bersih. Banyak orang mulai dari bayi, anak-anak, sampai orang dewasa terjangkit penyakit seperti ispa, sesak nafas, dan masih banyak lagi. Uang sumbangan dari kalian nanti akan kita belikan masker N95 dan juga obat-obatan yang memang amat sangat dibutuhkan saudara-saudara kita. Kami mohon kerjasamanya dan jiwa sosialnya dari kalian semua." Bayu berdeham,mencoba membasahi kerongkongannya karena grogi ditonton puluhan pasang mata. "Sebuah lagu buat saudara kita dan Indonesia. Bencana Alam - Iwan Fals." Seperti mendapat kode, para anggota Kanvas pada membunyikan alat musik yang mereka pegang sebagai sebuah intro dengan beat yang agak cepat dari lagu aslinya. Lalu suara serak Bayu yang mendayu-dayu dan menyayat hati terdengar. Sekian manusia resah menatap Wajah sesamanya Duka karena bencana Petaka menimpa diri dan dalam hatinya berkata Besarkah dosa hamba ? Perpaduan antara suara ukulele, bass betot, galon, kelentingan botol, tusukan tutup botol soda dan perkakas dapur bekas menghasilkan symphoni syahdu mengharu-biru. Walaupun tidak dengan beat pelan tapi pesan yang Bayu sampaikan lewat suaranya berhasil menyihir pengunjung yang semakin banyak mengerumuni mereka. Menjelang saat ajal daku Membayang Gapai tangan minta tolong semua Bencana alam melandanya Kehendak yang kuasa Peringatankah bagi kita? Manusia di dunia Suara Bayu yang menyentuh nada tinggi seolah mentransformasi suara jeritan para korban bencana kabut asap. Membuat merinding siapa saja yang mendengar, ditambah muka mengantuk Bayu melengkapi ekspresi menderitanya. Pertunjukan pertama di Monkasel benar-benar sukses, para pengunjung itu tak ragu-ragu menyumbangkan uang mereka dalam jumlah banyak untuk baksos tersebut. Bahkan ada yang minta nomer rekening yang bisa ditransfer uang. Bang Gahar antusias menyambut kedermawanan mereka. Acarapun ditutup dengan lagu Ebiet G. Ade yang Untuk Kita Renungkan. Acara kedua di Tugu Pahlawan yang ada di Jalan Pahlawan, kelurahan Alun-Alun Contong. Seperti tadi Bang Gahar memberikan sambutan terlebih dahulu baru kemudian suara Bayu dengan diiringi musik perkusi mengalun renyah. Di sini Bayu membawakan lagu Angel dari Sarah Mclachlan, Heal The World - nya Michael Jacson dan You Raise Me Up milik Josh Groban yang sukses mendulang pundi-pundi amal. Pertunjukan mini concert ke tiga di Taman Pelangi yang ada di Jl. Ahmad Yani, Gayungan, mengalami kesuksesan serupa di dua tempat sebelumnya. Bayu membawakan lima lagu random di sana. Banyak dari para pengunjung itu yang menyumbang dalam jumlah besar. Ada yang meminta foto Bayu plus anggota Kanvas, ada juga yang memvideo aksi mereka. Bayu jadi semakin antusias. Dia mengeluarkan kemampuan suaranya semaksimal mungkin. Bahkan kadang-kadang turut mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama. Tapi kesuksesan di tiga tempat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mini konser di plasa Taman Bungkul. Bayu sampai ternganga. Kalau tidak ditegur Steven pasti lalat-lalat bisa kesedot mulutnnya yang terbuka lebar. Mereka benar mereka yang ada di hadapannya? Dia sedang tidak dalam mode mimpi kan? Tapi masa benar sih personel band yang sedang tampil di panggung di plasa sana mereka? Bang Gahar mendahului rombongan untuk naik ke atas panggung, dia terlihat akrab dengan para personel band yang sudah ada di atas panggung. Menjabat tangan mereka satu persatu lalu menyuruh anak-anak Kanvas untuk naik. Bayu masih dengan mode melongonya ikutan naik diseret Steven. Tepat di hadapan para personel band itu dia menjabat tangan mereka satu persatu diantaranya Mas Wawan, Cak Man, Kang Ndowe, dan Kang Lukin. Yap mereka adalah personel groub band Klantink. Demi apaaaahhh?? Bayu sampai ngiler bleeeh. Bisa sepanggung plus performa bareng dengan Klantink? Pemusik jalanan yang terkenal karena kemenangannya di IMB di Trans TV. "Aku lagi nggak mimpikan bisa manggung bareng Klantink?" Tanya Bayu katrok, oh dasar pemuda udik. Steven langsung menempeleng kepalanya gemas. "don't embarrass us!!" sengaknya. Para personel Klantink ketawa melihat keluguan Bayu dan kendesoannya. "Aku senang ada pemuda seperti kalian yang mau menggalang dana untuk membantu sesama saudara yang lagi sedang dalam musibah. Semoga dengan duetnya kita, dana yang akan terkumpul banyak." Ujar Mas Wawan tersenyum. Bayu ikutan terenyum, semangatnya jadi terpantik. Bleeh akhirnya Bayu bisa ketemu band terkenal Klantink bahkan bisa duet. Mimpi broo mimpii broo. Bang Gahar seperti biasa memberikan sambutan buat pengunjung Taman Bungkul yang membludak. Apalagi sekarang jam tujuh sore, para penikmat taman tersebut semakin banyak dan semakin banyak. Mereka antusias melihat penampilan Klantink dan juga penampilan Bayu cs. Tapi kali ini tidak ada rasa grogi di hati Bayu. Yang ada semangat menggebu untuk tulus membantu saudara seIndonesia. Kali ini dengan segenap hatinya Bayu menyanyikan Fight The Night karya One Oke Rock. Dengan diiringi musik ciamik dari Klantink yang berkolaborasi dengan Kanvas, Bayu sukses membuat merinding seisi bungkul. Here comes the rain So many scars never fade This is the price of war And we've paid with time We'll fightfight till there's nothing left to say (whatever it takes) Fight fight till your fears they go away The light is gone and we know once more We'll fight fight till we see another day Di tengah-tengah Bayu menikmati nyanyiannya yang diayun dengan sangat manis musik perkusi tiba-tiba matanya melotot lebar. Di antara keruman para penonton yang membludak itu kan, yang mata coklatnya kayak mata singa mau menerkam itu kan? Oh s**t, mother fucker kenapa my f*****g boss ada di sini? Begitu acara penggalangan dana featuring Klantink selesai Bayu langsung meloncat turun panggung. "Bang Reza, aku tunggu di Krian." Teriaknya langsung berlari tunggang langgang menuju parkiran bungkul. Ya ampun kenapa Panji ada di sini sih? Maksudnya kenapa dia benar-benar ada di sini? Dia kan anti yang namanya keramaian berharga murah? Diakan manusia wah yang segalanya harus wah? Jantung Bayu kempot kempit. Baru kali ini dia merasa ketakutan. Ketakutan teramat dalam pada bosnya sendiri. Bayu sebenarnya juga tidak tahu kenapa dia bisa setakut ini bertemu dengan Panji. Padahal aktivitas terakhir mereka tergolong sangat romantis, berciuman di hadapan rising sun yah minus dia kepergok ciuman ama Kevin. Oh lupakan Kevin dengan segala macam t***k bengek keanehannya. Bayu buru-buru menaiki nobita dan sudah akan menstarter tatkala sosok mengerikan itu menjulang begitu saja di hadapannya. Oh my... "Kamu mau lari kemana lagi Lencana?" === Bayu langsung dihempaskan begitu saja di atas tempat tidurnya. Panji terlihat sangat mengerikan sekarang. Matanya menyalak tajam. Tadi di bungkul tanpa kata apa-apa tuh manusia mengerikan langsung menarik tangan Bayu dan menyeretnya ke mobil. Menculik bocah itu begitu saja dari kanvas. No, Bayu dalam masalah. Bang Gahar pasti akan memarahinya lagi. PLAAAKKK!!! Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Bayu. Kepala Bayu langsung kliyengan. Berdenyut-denyut hebat dan mulutnya terciprat rasa getas seperti besi karatan. Begitu dia mengusap bibirnya, darah segar mengalir di sana. "Kamu sudah membuat tiga kesalahan terbesar Lencana!!" desis Panji mengerikan. Bayu bergidik di tempat tidurnya, dia mengkerut ketakutan. "Pertama kamu membiarkan seorang wanita mencium bibir kamu." Seorang wanita? Siapa? Oh, kecupan seperempat detik dengan karina? Hei itu bukan sebuah ciuman. Bahkan bibir Bayu tidak bisa merasakannya. Oh god... berarti waktu Karina mengecupnya, Panji tahu? "Kedua kamu berciuman dengan laki-laki b******n itu." No, Bayu benar-benar merasa bersalah sekarang. Dia mengakui ciuman dengan Kevin. Bahkan tubuhnya memberikan refleks di luar dugaan. Sekarangpun dia masih teringat ciuman itu. "Dan terakhir kamu berusaha kabur dari saya." 'Ya iyalah. Lo menakutkan gitu bego.' Tapi Bayu tidak kuasa mengungkapkan perasaannya. Dia kalut. Dan bagaimana menjabarkan rasa ketakutan berlebihannya kepada seorang Panji. Panji berjalan mendekat. Meringsek kasur Bayu. Dia kemudian merenggut dagu Bayu, hingga pemuda setipis kapur tulis tersebut mendongak. Tatapan Panji benar-benar membuat Bayu terhisap akan pesonanya, dingin membekukan tapi memberi rasa hangat di rongga d**a Bayu. Dia menyentuh ujung bibir Bayu dengan ibu jarinya, "Bibir ini Cuma milik saya lencana. Kamu ingat? Cuma milik saya." Panji mendaratkan bibirnya ke luka robek yang ada di sudut bibir Bayu. Menjilati darah segar di sana, lalu menghisap luka robeknya dalam-dalam. Matanya yang berwarna coklat menyala terang dan menakutkan. Bayu merinding tapi ciumannya melengserkan ketakutan Bayu. Dia mendesah tidak sadar. Membuat Panji tersenyum miring, "Apa yang kamu inginkan lencana?" bisik Panji seduktif, sambil menghembuskan nafas panasnya kepermukaan bibir Bayu yang langsung meremang. Bayu pasti sedang gila, otak dan tubuhnya pasti sedang berada di dunia lain saat dengan kesadaran yang mengayun dia berujar dengan bibir bergetar, "Cium aku." Dan Panji langsung mengabulkan keinginan pembantunya. Dia mencium dalam bibir Bayu. Melumatnya penuh hasrat, menggigitnya hingga Bayu mengerang tidak tahan. Oh persetan dengan Bipolar Disorder yang mungkin diidap Panji. Persetan dengan tunangannya yang terus nempel kayak lintah. Tubuh Bayu sekarang sangat menikmati ciuman ini. Bahkan dia menginginkan lebih. Dia mengimbangi ciuman Bayu yang semakin liar. Panji mengangkat tubuh Bayu ke pangkuannya, dan melingkarkan kaki Bayu di pinggulnya. Tangannya yang kuat menahan pinggul Bayu, sambil meremas p****t Bayu. "ahh..." Bayu mendesah keenakan saat ciuman Panji berpindah kelehernya. Menggigit daging padat miliknya, dan membuat tanda di sana bahwa Bayu adalah milik Panji. Bukan gadis itu maupun laki-laki sundel itu. Bayu menggerak-gerakkan pantatnya liar naik turun. Menggesek p***s Panji yang sudah mengeras. Dia sangat menyukai sensasi ini. Sensasi dimana belahan pantatnya didesak-desak dengan p***s Panji. Tangan besar Panji menyusup ke dalam kaos yang dipakai Bayu, mengusap dengan gerakan erotis perut rata Bayu. Lalu naik ke p****g Bayu yang mengeras, menekan p****g Bayu, mencubitnnya, dan memelintirnya. Bayu memekik. Tubuhnya melengkung. Kedua tangannya bermain di kepala Panji yang sekarang menunduk untuk mencumbu bahu Bayu. Menjilatinya dengan lidah basahnya yang terasa kasar. "Tidak akan saya biarkan kamu menjadi milik orang lain." kata Panji di antara ciumannya, "Kamu adalah pembantu saya. Tugas kamu melayani saya. bukan orang lain. Kamu mengerti Lencana?" Dia mendongak untuk melihat biji mata Bayu yang sekarang terbakar nafsu. Bayu mengangguk berkali-kali, membuat Panji lagi-lagi tersenyum miring. Panji menarik kaos Bayu ke atas sambil menciumi perlahan tiap jengkal kulit yang dilewati kaos itu, perut Bayu, d**a, leher, dagu dan berakhir di bibir Bayu yang membuatnya kecanduan saat kaos Bayu terlepas dari tubuh Bayu lalu membuangnya begitu saja. Bayu membuka mulutnya supaya lidah Bayu yang manis itu bisa bermain di rongga mulutnya. Melilit lidahnya dan menyedotnya tanpa ampun. "pan..jiiihh.." Bayu menggeram. Mengimbangi ciuman Panji, ikut menghisap lidah Panji. Tangan Panji yang bebas menyusup ke celana panjang yang dikenakan Bayu. meremas p****t Bayu yang mulus di tangannya. Tubuh Bayu bergetar hebat menerima remasan itu. Dia meggeliat-geliat. Ya Tuhan dia sangat-sangat ingin di sentuh. Panji membaringkan Bayu di kasur. Kemudian dia menciumi d**a Bayu, mengemut p****g Bayu. Lidahnya yang kasar membelit p****g Bayu yang berwarna coklat muda. Mengecapnya, menghisap dalam-dalam, dan menggigitinya kecil-kecil. Bayu melenguh, tubuhnya melengkung keenakan. Dia memegangi kepala Panji supaya terus mencumbui putingnya. Bayu memekik berkali-kali dibuatnya. Sementara tangan Panji memainkan p****g Bayu yang lainnya, Panji terus memainkan lidahnya di p****g Bayu. Memasukkan p****g mungil tersebut ke dalam mulutnya yang lembab. Bayu kesetanan. Tubuhnya panas. Dia terus mendesah, mengerang. Permainan Panji pindah ke p****g Bayu satunya. Lidahnya yang panjang dan lancip tersebut menekan-nekan p****g Bayu, menggerakkan ujung lidahnya dengan gerakan memutar di sekeliling p****g Bayu. "Enaak Panjiihh.." Bayu meracau. Dia terus menekan kepala Panji supaya dia tidak menghentikan permainannya. "Kamu suka Lencana?" Bayu mengangguk berkali-kali. Tubuhnya menggelinjang, menggeliat di bawah tubuh Panji. Dia terus menggeram, mendesah, memekik mendapat service Panji yang begitu menggairahkan putingnya. Ciuman Panji turun ke perut rata Bayu. Meniup-niup pusar Bayu hingga kulitnya meremang. Dia menggunakann lidahnya untuk masuk ke lubang pusar Bayu. Memaju mundurkan lidahnya, mengecap berkali-kali kulit Bayu. "akh..." Bayu sudah tidak kuat. Celana dalamnya terasa sempit dan basah. Ciuman Panji beranjak turun, ke bawah pusar Bayu yang ditumbuhi bulu-bulu lembut, kemudian dia membuka kancing celana jeans Bayu, menurunkan resletingnya lalu melepaskannya. Sekarang di hadapannya tampak nobita kecil yang sudah merangsek dari celana dalam bergambar doraeman. "engh..." Bayu mengguman saat dengan lidahnya Panji menyentuh p***s Bayu yang masih terbungkus rapi. Menjilatinya atas bawah, membuat celana dalam Bayu yang sudah basah bertambah basah. Dia kemudian membenamkan wajahnya di depan p***s Bayu. Menggesek-gesekkan barang yang sudah mengeras itu di permukaan pipinya. Menghirup aromanya dalam dalam. "Aroma k****l kamu sangat harum Bayu." Bayu mendesis, antara sensasi nikmat yang diberikan Panji dan rasa malu, kakinya secara refleks tertekuk ke atas dan terbuka lebar supaya Panji lebih leluasa mencumbui penisnya. Panji mencium kecil-kecil paha dalam Bayu membuat Bayu mengerang hebat, kedua tangannya meremas seprei di sisi kiri dan kanannya. Dengan mulutnya Panji mengulum p***s Bayu,lidahnya yang liar membelit p***s Bayu yang masih ada di dalam celana bergambar doraemon. Bayu tersentak. Dia seperti disengat ribuan volt listrik begitu penisnya berada di dalam mulut Panji yang hangat dan basah air liur. Tubuhya menggeram keenakan, menikmati sensasi hebat yang diterima penisnya. Panji mengemut p***s Bayu. membelitnnya dengan lidah lancipnya yang kasap, membikin Bayu berkali-kali mendesis dalam nafsu. Kemudian Panji melepas celana dalam Bayu secara perlahan, hingga p***s Bayu yang mungil berwarna merah itu teracung tegak lurus di hadapannya. Bayu tersipu malu. Tidak pede dengan penampilan pusakanya di hadapan Panji. "Sangat indah sekali." desah Panji. Dia kini melepas kemeja flanel yang sedang dia kenakan, lalu membuangnya sembarang, membuat pahatan tubuh indahnya tereksplor di mata Bayu. Bayu meneguk air liurnya berkali-kali, mengagumi tiap lekuk tubuh Panji yang sangat mempesona. "Kamu suka dengan tubuh saya Lencana?" Bayu mengangguk kayak orang dihipnotis. Panji kemudian membuka lebar kaki Bayu, dan hal yang dia lakukan berikutnya semakin membuat Bayu menggeram kesetanan. Panji membenamkan wajahnya di seputar p***s Bayu. menggesek p***s Bayu yang sudah tidak terbungkus dengan ujung hidungnya. Lalu dia memiringkan tubuh Bayu, mengangkat sebelah kaki Bayu keatas lalu menghirup dalam-dalam a**s Bayu. Tanpa rasa jijik sedikitpun, Panji menulurkan lidahnya ke liang a**s Bayu, membasahi lubang imut itu dengan air liurnya. "Enggh.. Panjiiihhh." Bayu terpekik begitu lidah Panji masuk ke dalam anusnya. Rasanya seperti tersengat jutaan volt listrik. Dia menggelinjang hebat, melenguh, mengerang gila-gilaan. Kedua tangannya semakin erat meremas sprei. Bayu benar-benar blank, otaknya melayang-layang di udara. Lidah Panji terus keluar masuk di lubang Bayu. Merojoknya berkali-kali, memijit dinding a**s Bayu dengan permukaan lidah kasarnya. Menghisapnya penuh kenikmatan dan kasih sayang. Kemudian jilatannya berpindah ke atas. Kedua buah zakar Bayu. Dikulumnya dua benda lembut itu dengan penuh perasaan. Sementara sebelah tangan Panji memegangi p***s Bayu yang terasa pas di genggamannya. Mengurutnya perlahan. Naik turun-naik turun. Panji memasukkan biji pelir Bayu ke dalam mulutnya yang lembab dan hangat. Lidahnya yang terlatih mengulumnya lembut, melilit dan menggesek-gesekkannya. Ketika ciumannya beralih di kepala p***s Bayu sebuah ketokan di pintu kamar Bayu terdengar. Kedua pemuda yang sedang dibebat birahi tersebut tersentak kaget. "Panji kamu di dalam sana sayang?" Suara Budhe Irma menggema menembus daun pintu kamar Bayu. "Iya maah.." jawab Panji lantang. Bibirnya masih berada di puncak kepala p***s Bayu, mengemut kecil-kecil, membuat Bayu harus susah payah menahan suara supaya tidak mendesah. "Yani ke sini Panji. Dia sedang sakit. Tolong antarkan dia ke dokter." Panji memasukkan daging berurat itu ke dalam mulutnya, menghisapnya dalam, memaju mundurkan kepalanya, membuat p***s Bayu semakin tegak lurus di dalam liang hangat dan basah mulut Panji. "Do you hear me dear? Buruan Panji, kasihan Yani menunggu. Dia pasti kecapekan habis touring dari Probolinggo." Panji tak menggubris, terus mengoral p***s Bayu yang enak itu. Dor.. dor... dorr... Budhe Irma menggedor pintu kamar Bayu semakin keras. "Panji antar Yani sekarang atau mama dobrak pintu kamar Bayu. Kamu sedang apa sih di dalam?" Panji mengerang frustasi, "f*****g shit." Desisnya, lalu melepas p***s Bayu dari mulutnya, "iya maah, ini Panji mau keluar. Suruh Yani menunggu sebentar." Jawab Panji, mengambil kemeja yang dilemparnya tadi, memakainya lalu mencium sekilas bibir Bayu, "Lain kali kita lanjut lagi Lencana. Ingat kamu milik saya." Lalu pergi begitu saja keluar kamar. Anjing!!! Udah gitu aja? Lo buat gue sange lalu ninggalin gue demi perempuan lintah itu? "Panji bego, b******k. Anjing." Bayu menggeram. Memegangi penisnya, lalu mengocoknya, "Panji sialan. Panji sialan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN