Jian menatap pantulan dirinya di depan cermin besar di hadapannya sambil membenarkan dasi yang sedang dia kenakan namun terhenti ketika mengingat Bagaimana malam tadi dia lalui dengan begitu indah, Entah kenapa dia merasa Jika perdebatannya dengan Jasmine terselesaikan dengan baik diakhiri dengan ciuman yang Jasmine berikan kepadanya membuat Jian benar-benar tidak menyangka Apakah itu karena pengaruh alkohol yang menguasai diri Jasmine atau tidak, yang jelas Jian tahu bahwa Jasmine melakukan nya dengan kesadaran hatinya meskipun mengabaikan logika dan ego nya.
Jian tidak sabar untuk melihat Bagaimana reaksi Jasmine ketika bertemu dengannya pasti istrinya tersebut akan merasa malu dengan pipi memerah membuat Jian menarik sudut bibirnya begitu saja membayangkan Bagaimana merah merona tersebut melekat pada kedua pipi Jasmine, Lamunan Jian terhenti ketika tiba-tiba ponselnya berdering membuat Jian langsung berjalan ke sisi tempat tidur dan mengambil ponselnya melihat nama Dixon yang tertera di layar ponselnya membuat Jian langsung mengangkatnya
"ada apa,?” tanya Jian sambil kembali berjalan ke arah cermin besar untuk kembali melihat penampilannya sebelum mengambil jas yang hendak ia kenakan
" Nanti malam akan ada beberapa lukisan yang akan masuk ke galeri seni? "Ucap Dixon membuat Jian hanya menjawabnya dengan gumaman
" lalu apa kau akan datang? "Tanya Dixon kembali membuat Jian terdiam
" sepertinya tidak bisa aku sudah meminta Alpha untuk mempersiapkan keamanan” jawab Jian membuat Dixon berdecak kesal di seberang sana
“Memangnya ada acara apa lagi sehingga kau tidak bisa datang ke galeri seni ,?” tanya Dixon
“ nanti malam aku harus menemani Jasmine ke acara ulang tahun partner bisnis kami” jawab Jian
“ Sekretaris kita benar-benar sangat sibuk lebih subuk daripada pemilik perusahaan nya sendiri, kau bisa membiarkannya pergi sendiri dan kau bisa datang ke galeri seni “ ucap Dixon
"kalau begitu kenapa tidak kau saja yang pergi ke galeri seni untuk menemani Alpha”
“ kau tahu bukan bahwa aku sedang berada di San Fransisco” Jawab Dixon
"Untuk itulah aku menyuruh Alpha yang mengaturnya” Potong Jian dengan santainya
"yah Baiklah terserah kau saja kalau begitu, Tadinya aku berpikir kenapa kita tidak menjual galeri seni saja ke orang yang lebih bisa memperhatikannya ketimbang dirimu yang selalu sibuk dan menelantarkan galeri seni kita" ucap Dixon membuat Jian mendengus dengan kesal
"lalu Bagaimana dengan kau sendiri yang sibuk selalu berjalan-jalan tanpa mementingkan galeri seni itu, Sudahlah jangan terlalu memikirkannya Nikmati saja liburanmu dengan pacar kelima mu itu karena aku sudah memiliki orang kepercayaanku untuk mengurusnya” ucap Jian
" ya tepatnya di sini yang terlihat lebih pantas untuk memiliki galeri seni itu Alpha dibanding kita "ucap Dixon karena merasa jika mereka berdua yang secara resmi pemilik galeri seni selalu sibuk dengan kehidupan masing-masing namun mereka tidak ingin melepaskannya begitu saja karena keuntungan dari galeri seni itu benar-benar membuat keuntungan keduanya tidak bisa dihitung hanya dengan menggunakan jari.
lagi pula Jian pasti tidak akan pernah melepaskan galeri seni peninggalan ibunya tersebut,
“baiklah kalau hanya itu yang ingin kau katakan aku harus menutup nya karena aku akan segera pergi bekerja "ucap Jian membuat Dixon langsung mengeluarkan tawanya di seberang sana
“ ya aku lupa bahwa saat ini aktor kita sedang berperan sebagai sekretaris idaman Atau aku harus memanggilmu sebagai suami idaman ah status itu benar-benar sangat membingungkan "ucap Dixon yang terdengar seperti sebuah ledekan di telinga Jian membuat Jian langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanpa menjawab lelucon Dixon sedikit pun, Jian yakin pasti di seberang sana laki-laki dengan rambut pirangnya tersebut sudah mengumpatinya dan Jian tidak peduli dengan hal tersebut.
Jian kemudian langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar, pagi ini dia ada rapat penting bersama Jasmine dan dia harus menyiapkan semuanya dengan baik dan langkahnya terhenti ketika Jasmine baru saja keluar dari kamar membuat keduanya terdiam sambil mengerjapkan matanya beberapa kali menatap kearah Jian yang juga Tengah menatapnya, Jasmine tidak tahu apa yang harus dia lakukan membuatnya hanya terdiam membuat Jian menarik sudut bibirnya sudah tahu dengan reaksi istri nya tersebut.
Sepertinya Jian yang harus mencairkan suasana di antara mereka, Jian kemudian berjalan mendekat kearah Jasmine membuat Jasmine hanya mengikuti langkahnya saja di saat Jian kemudian mengulurkan tangannya dan menarik anak rambut Jasmine ke belakang telinga membuat Jasmine hanya terdiam sambil mengikuti gerakan tangan Jian
"kau tidur nyenyak,?” tanya Jian membuat Jasmine terdiam beberapa saat sebelum menjawabnya
" Ya tentu saja sangat nyenyak” jawab Jasmine membuat Jian tersenyum hangat kepadanya
"Kalau begitu baguslah jadi bisa dipastikan rapat nya akan lancar bukan" ucap Jian kembali membuat Jasmine hanya mengangguk
“ kalau begitu kita sarapan sekarang "ucap Jian kembali
“ya kita sarapan" Jawab Jasmine yang terdengar seperti mengulangi pertanyaan dari Jian membuat Jian terkekeh geli
“kalau begitu mari kita turun” ucap Jian membuat Jasmine langsung berjalan dengan cepat lebih dahulu, Jasmine merutuki dirinya sendiri yang terlihat gugup di hadapan Jian dan hal seperti ini sebenarnya sudah bisa Jasmine tebak dari semalam bahwa dirinya akan seperti orang bodoh bertemu dengan Jian esok paginya.
Mereka kemudian duduk berseberangan di meja makan besar yang sudah di dipenuhi oleh sarapan yang disiapkan Elsa, Jasmine meneguk jusnya dengan sepotong sandwich sedangkan Jian memilih untuk meminum kopi hangat nya sambil memegang tab nya untuk mengecek beberapa jadwal untuk Jasmine
" kemarin sore ada paket untuk Anda Maaf saya baru mengatakannya karena kemarin Anda dan juga Tuan pulang larut malam jadi saya menyimpannya terlebih dahulu "ucap Elsa menarik perhatian Jasmine dan juga Jian
“paket untukku,? dari siapa?" Tanya Jasmine penasaran membuat Elsa mengangguk
"sebuah buket bunga segar dan saya langsung menyimpannya di vas bunga karena tidak ingin bunga tersebut layu “ jelas Elsa membuat Jasmine semakin tidak mengerti dengan paket yang baru saja terima
" bunga dari siapa?” tanya Jasmine kembali
"bunga lili dan tidak ada nama pengirimnya saya juga sudah menanyakan kepada kurir namun kurir pun tidak ingin memberitahu siapa pengirim tersebut “ Jelas Elsa membuat Jasmine langsung menolehkan pandangannya ke arah belakang di mana terdapat meja kaca bulat yang berada tidak jauh darinya yang diatasnya sudah terdapat vas bunga yang sudah terdapat bunga lili di dalamnya membuat Jasmine menatapnya dengan lama, bunga itu memang kesukaannya tapi Jasmine tidak tahu siapa pengirimnya tersebut, Jasmine kemudian kembali membalikan posisinya dan langsung berhadapan dengan Jian yang tengah menatapnya dengan tatapan datar
“ Aku tidak tahu siapa yang mengirimkan bunga kesukaanku “ Ucap Jasmine begitu saja kepada Jian seolah memberi tahu bahwa dirinya pun bingung
“ Apa kau ingin Aku mencari tahunnya?” Tanya Jian membuat Jasmine hanya terdiam sesaat
“tidak perlu lagi pula itu tidak penting mungkin hanya seseorang yang tidak ada kerjaan dan bingung hanya untuk memberikan bunga kepada seseorang "ucap Jasmine dengan santainya membuat Jian hanya menganggukkan kepalanya setelah itu kembali meneguk secangkir kopi di hadapannya membuat Jasmine pun merasa jika kedatangan bunga tersebut tidaklah menjadi masalah membuat jasmine kembali menikmati sarapannya.