Husband 06

1091 Kata
Jian langsung memasang wajah khawatir nya ketika melihat Jasmine semakin memucat dan cengkeraman tangannya semakin menguat “Bagian mana yang sakit? " Tanya Jian " perutku, aku memerlukan obat pereda nyeri ada di laci kedua di lemari sana "jawab Jasmine membuat Jian langsung berjalan dengan cepat membuka laci tersebut dan mencari obat pereda nyeri namun baru saja ia mengambilnya ternyata obat tersebut kosong “ sepertinya aku harus membeli obat ini kau kehabisan obatmu "ucap Jian "kalau begitu Cepatlah, aku sudah tidak kuat untuk menahan nya" Lirih Jasmine membuat Jian langsung berlari keluar kamar bahkan saat menuruni tangga pun beberapa kali dia Hampir saja terjatuh membuat perhatian Esa pun tertarik  "Tuan apa yang terjadi?" Tanya Esa melihat wajah panik tuanya  "Jasmine membutuhkan obat pereda nyeri dan aku harus segera membelinya" jawab Jian  "kalau begitu biar saya saja" tawar Esa namun langsung mendapatkan penolakan dari Jian "tidak usah, kau bukannya masih banyak pekerjaan di belakang, jadi ini biar aku saja” jawab Jian setelah itu langsung berlari ke arah garasi karena dia harus segera membeli obat untuk Jasmine Karena tidak tahan melihat wajahnya yang menahan rasa sakit Namun entah apa yang terjadi dengan mobil yang biasa dia kendarai, mobil tersebut tiba-tiba saja tidak bisa dihidupkan membuat Jian beberapa kali mengumpat, Jian langsung keluar dari mobil tersebut kemudian kembali berlari ke dalam untuk mencari kunci mobil lainnya namun Entah kenapa di saat panik seperti ini Jian sulit sekali untuk menemukan Bara sekecil itu " Tuan Anda sedang mencari apa? "Tanya Esa kembali yang terlihat menghampirinya " kunci mobil, kunci mobil yang lain maksudku tiba-tiba mobil yang biasa kukendarai tidak bisa dihidupkan” jelas Jian masih terus mencari keberadaan kunci mobil lainnya yang biasanya akan tersusun rapi di tempatnya tapi entah kenapa malam ini Tidak satu pun terlihat kunci mobil lain yang biasa Jasmine pakai  “ padahal aku harus cepat-cepat untuk membeli ini Jasmine sangat kesakitan "ucap Jian “kalau begitu pakai motor Anggap saja " ucap salah seorang pelayan membuatnya langsung mendapatkan protes dari Esa " Bagaimana bisa kau menyuruh Tuan untuk mengendarai sepeda motor apa Kau tidak lihat di luar sedang hujan deras " sentak Esa  kepada si pelayan yang membuatnya hanya bisa menundukkan kepalanya tapi sepertinya ekspresi Yang Jian Tampilkan berbeda jauh "dimana Motornya apa aku bisa meminjam nya?" Tanya Jian membuat Esa menatapnya dengan tatapan tidak percaya " kami akan mencari kunci mobil, Tuan bisa menunggunya” “ tidak bisa, Jasmine tidak bisa menunggu dia harus segera mendapatkan obat ini, jadi Bisakah aku meminjam motor itu? "Tanya Jian membuat Esa mau tidak mau Akhirnya mengantar Jian untuk meminjam motor satpam mereka namun baru saja ia hendak melajukan motor tersebut tiba-tiba Esa kembali menghentikannya "Tuan sepertinya lebih baik anda memakai jas hujan” “ tidak perlu  itu akan menambah waktu lama lagi "jawab Jian kemudian langsung memacu motornya membuat satpam dan juga beberapa pelayan serta Esa menatapnya dengan tatapan tidak percaya, Jian mengendarakan motor dalam keadaan yang turun hujan untuk membeli obat pereda nyeri " sepertinya Tuan besar benar-benar tidak salah mendapatkan orang yang tepat untuk Nyonya Jasmine” ucap salah seorang pelayan membuat Angga dan juga Esa menganggukan kepalanya. jian kemudian berhenti di salah satu Apotek terdekat dengan keadaan yang sudah basah kuyup, Jian masuk dan memberikan contoh obat yang diinginkan tidak membutuhkan waktu lama Dia sudah mendapatkannya setelah itu kembali membawanya pulang tanpa mengeringkan badannya terlebih dahulu dan mencemaskan kondisi tubuhnya ia langsung berlari menuju kamar Jasmine kembali dengan obat yang sudah dia dapatkan  “mine bangun lah ini obatnya" ucapnya sambil membantu Jasmine untuk menegakkan tubuhnya perlahan Jasmine membuka matanya setelah itu Jian membantu Jasmine untuk meminum obat tersebut dan menidurkannya kembali “apa masih terasa sakit?" Tanya Jian membuat Jasmine hanya bisa mengangguk lemah  "tidak apa setelah  aku minum obat rasa sakitnya akan segera hilang, ini sudah sering aku alami bahkan mungkin setiap bulan "jawab Jasmine membuat Jian mengerutkan keningnya dan sepertinya ekspresi tersebut tidak luput dari perhatian Jasmine  " kau tidak usah cemas setiap wanita merasakan sakit ini ketika mendapatkan tamu bulanan jadi lebih baik kau istirahat saja "ucap Jasmine kemudian kembali menutup matanya mencoba untuk Meng istirahatkan tubuhnya tanpa melihat Bagaimana keadaan Jian yang basah kuyup hanya untuk membelikan obat padanya, Jian pun menuruti perkataan Jasmine memilih untuk meninggalkannya, Jian pun mungkin akan beristirahat dan segera mengganti Pakaiannya yang sudah sangat tidak nyaman di badannya esok paginya Jasmine turun melewati anak tangga dengan kondisi tubuh yang sudah segar dia sudah rapi dan bersiap untuk pergi ke kantor namun langkahnya melambat ketika sampai di meja makan biasanya Jian selalu tepat waktu menunggunya untuk sarapan dan pergi ke kantor, namun kali ini meja makan tersebut masih kosong membuat jasmine menatapnya dengan sedikit heran, Jasmine kemudian duduk di kursinya dan langsung dilayani oleh Esa  "di mana Jian? " tanya Jasmine yang kini  Mulai mengambil beberapa roti “ Tuan masih belum turun "jawab Esa " Tumben sekali l, biasanya dia selalu tepat waktu" gumam Jasmine namun perkataan dari pelayan yang lain membuat perhatian Jasmine kembali tertarik "apa Mungkin Tuan sakit karena hujan-hujanan semalam" bisik para pelayan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Esa namun terlambat ketika Jasmine sudah mendengarkannya " dari mana dia hujan-hujanan? "Tanya Jasmine kembali yang sepertinya tidak ingat dengan kejadian semalam " semalam Tuan mencari obat untuk Nyonya” jelas Esa " lalu? "Tanya Jasmine kembali yang sepertinya ingin mendapatkan penjelasan yang lebih dari sekadar itu " karena mobil yang biasa Tuan bawa tidak bisa dihidupkan dan juga kunci mobil yang mendadak tidak bisa ditemukan, Tuan akhirnya meminjam motor Angga untuk membeli obat untuk Nyonya dalam keadaan sedang turun hujan " jelas Esa akhirnya membuat gerakan tangan Jasmine yang sedang mengoleskan selai kacang pada rotinya terhenti, Jasmine kemudian menatap ke arah esa “ dia hujan-hujanan Benarkah? "Tanya Jasmine kembali membuat Esa mengangguk, Jasmine kemudian terdiam setelah itu beranjak dari duduknya dan kembali berjalan menaiki anak tangga sambil sesekali mengingat kejadian semalam, Jasmine memang tidak terlalu memperhatikan kondisi Jian karena fokus pada nyeri yang dia rasakan " kenapa dia harus pergi hujan hujanan Padahal dia bisa menyuruh pelayan untuk membelinya "gerutu Jasmine kembali yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan nya "Sebenarnya apa yang dia pikirkan naik motor hujan-hujanan seperti seorang bocah apa dia tidak takut sakit "lanjut Jasmine kembali sambil terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang sedikit dia hentakkan karena merasa kesal, akhirnya Jasmine berdiri dihadapan pintu kamar Jian yang bersisian dengan kamarnya entah kenapa rasa ragu mulai muncul di hati Jasmine beberapa kali dia mengulurkan tangannya namun dia Tarik kembali  " Aku harap dia baik-baik saja "gumam Jasmine yang akhirnya mulai mengetuk pintu kamar Jian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN