Pukul lima sore, waktu lama sekali berlalu saat bersama lelaki itu. Ya, Gara benar-benar menemani dan membantunya bekerja. Walaupun hanya meniup peluit saja, dan Alya tetap yang mengatur semua kendaraan agar terlihat rapih.
Katanya mau membantunya bekerja, lelaki itu malah asyik meniup peluit asal. Seperti tidak pernah mengalami masa kanak-kanak saja. Pak Maman pun tidak mau ikut campur, hanya bertugas berkeliling kantor dan sekiranya. Melihat kedekatan Alya dan Gara hanya mampu membuat pak Tua itu tersenyum.
"Lo selalu jalan kaki?" Gara berjalan dibelakang Alya, karena gadis itu selalu melangkahkan kakinya lebar-lebar. Mungkin jika di ibaratkan, Gara baru selangkah tapi gadis itu sudah maju dua langkah.
Dan sebelumnya mereka pamit kepada pak Maman untuk pulang terlebih dahulu, Gara tidak memakai motor ninja nya. Dia ingin berjalan kaki bermaksud untuk mengantarkan Alya. Setelah gadis itu menolak untuk diboncengi.
Kenapa? Dengan alasan karena rumahnya tidak terlalu jauh. Alhasil, lelaki itu pun mengikuti nya jalan kaki.
"Neng Alya, jawab atuh!" Gara sengaja menggodanya.
Oh ya ampun, langkah Alya malah semakin cepat. Seperti berlari namun tidak, dirinya seperti diikuti preman saja. Tanpa Gara tahu, Alya tersenyum tipis menahan gejolak dan emosinya. Takut dirinya salah tingkah.
"Gue selalu jalan kaki. Kenapa?" jawab Alya sewot tanpa melihat ke belakang.
Lelaki itu tidak menjawab lagi, hanya membulatkan mulutnya berkata oh.
Gadis itu, Gara memperhatikan cara berjalan Alya. Gadis luar biasa, mungkin dirinya pernah menang juara lomba lari waktu masih sekolah. Lelaki itu pun sampai menarik nafas karena selalu saja gagal untuk berjalan tepat di sampingnya. Sampai Gara capek sendiri.
"Lo anak superhero ya, cepet banget jalannya." bahkan Gara harus berteriak untuk berbicara padanya.
"Lo aja yang kayak kura-kura jalannya."
"Terus, lo kelinci?"
"Dan lo onta."
Merasa tidak ingin berdebat lagi, Gara mengalah.
"Tungguin gue, lo gak mau jalan sejajar sama gue ya?"
"Bodo." Alya terus melangkah tanpa berhenti.
Merasa jengah dengan sikap gadis itu. Gara berlari dan tanpa aba-aba lelaki itu menggapai tangan Alya yang seketika membuatnya berhenti. Akhirnya gadis itu berbalik menghadap Gara yang terlihat ngos-ngosan.
"Kenapa gak naik motor aja?" masih berusaha mengatur nafas. "Lo seneng kayaknya nyiksa orang."
"Gue gak nyuruh lo buat nganter gue."
"Gue temen lo sekarang." Gara beralih menatap Alya. "Apa susahnya sih buat lo ngebiarin gue nganter lo? Nganter seorang temen?"
Alya bungkam, apa dirinya sudah keterlaluan membuatnya menderita seperti itu? Nafas ngos-ngosan, wajah penuh keringat. Kalau tidak terbiasa berjalan kaki, pasti besok bangun tidur langsung pegal-pegal kakinya. Tapi, Alya memang sudah terbiasa jalan cepat dimalam hari dan itu sudah menjadi kebiasaannya. Ditambah sekarang ada lelaki yang mengaku sebagai teman mengantarnya pulang.
"Ya udah, lepasin tangan gue."
"Gak."
"Gue gak mau jalan bergandengan begini? Kayak anak kecil aja."
Lelaki itu celingak-celinguk mencari tempat duduk untuk mereka berdua mengobrol, walaupun mungkin hanya sebentar. Satu kursi taman panjang dekat lampu jalan berhasil ia temui. Lantas, Gara menarik tangan Alya untuk mengikutinya.
"Eh?" Alya panik, ia takut lelaki itu akan menculiknya seperti yang pernah terjadi dalam film yang beberapa hari lalu ia tonton.
Pikiran gadis itu sudah dipenuhi dengan beberapa adegan di film.
"Duduk dulu, gue capek." Gara mendudukan dirinya di bangku taman tersebut. Melihat Alya masih berdiri, lelaki itu kembali menarik tangannya untuk ikut duduk disampingnya.
"Tapi rumah gue, bentar lagi nyampe."
"Duduk aja dulu." Gara mengeluarkan ponsel. "Minta nomor lo."
"Nomor hp?"
Gara menghela napas pelan. "Iya, masa nomor togel."
"Buat apa?" lagi-lagi Alya bertanya polos.
"Kita teman, tapi belum tukeran nomor ponsel."
Alya berfikir sejenak lalu mengangguk. Dirinya juga meraih ponsel didalam tas selendangnya. "Tapi jangan dipake yang macem-macem."
Gara tidak ingin menjawab, pandangannya beralih pada ponsel jadul milik gadis itu. Entah keluaran tahun berapa, yang jelas ponsel itu masih bisa dipakai untuk whatssap. Gara lalu membuka ponselnya hendak ingin memasukan nomor Alya, namun gadis itu menghentikannya.
"Siapa mereka?" pandangan Alya terpaku pada layar ponsel milik Gara.
"Itu temen-temen gue yang pernah lo temui."
Gara lupa, untuk mengingatkan Alya tentang teman-temannya kenapa tidak memperlihatkannya foto-foto mereka. Namun sekali lagi, gadis itu tidak berekspresi seolah-olah dia pernah bertemu dengan mereka.
Gadis itu menggeleng. "Kapan gue ketemu sama semua temen lo?"
"Yakin gak pernah?" Gara memastikan.
Namun kembali mendapat gelengan dari Alya. "Gak. Kalau pernah, ngapain tadi gue nanya."
"Ini Rama, Alexa atau Kinan dan yang ini Angga."
Gara memperlihatkan foto kebersamaan mereka sebulan yang lalu saat Kinan berpamitan untuk pergi ke Singapura.
"Terus yang disebelah Rama itu siapa?"
Gara mengernyit bingung. "Lo gak tau? Itu gue."
"Kok disana senyum sih?"
"Kenapa?"
"Ganteng." Alya berucap pelan.
"Apa?"
"Gak."
Mereka kembali ke tujuan, saling menukar nomor whatssap.
"Lo jangan namain gue yang aneh-aneh." Alya memperingati.
"Maunya apa?"
"Ya apa aja, pokoknya jangan yang aneh."
Gara bertingkah seperti berfikir. "Neng Alya?"
Mata gadis itu langsung melotot. "Jangan itu."
"Atau juru parkir?"
Alya refleks memukul bahu Gara sampai lelaki itu mengaduh. "Gak gitu juga, Onta."
"Ya udah nanti gue pikirin nama yang cocok. Butuh seharian mikirin nama buat lo."
"Hem."
"Dan lo, jangan kasih gue nama Onta di hape lo."
"Eh kok lo bisa tau?"
Gara memutar bola mata malas. "Kenapa lo kayaknya suka banget nyebut Onta ke gue?"
Namun gadis itu hanya mengangkat bahu.
"Atau mungkin itu nama panggilan sayang lo ke gue?"
Sekali lagi, lelaki itu mendapat pukulan kali ini di kepala. "Mimpi."
"Hape lo mau di ganti gak?" Gara menawari karena merasa kasihan melihat ponsel jadul yang masih dipertahankan gadis itu.
Namun Alya, dengan sewotnya berkata. "Sorry yah, selama hape ini belum ko-id gue akan tetep pake. Dan lo, jangan coba-coba inisiatif sendiri membelikan gue ponsel keluaran terbaru. Gue otomatis gak akan terima. Dan sorry lagi, gue gak akan terpesona."
Gara menggaruk kepala yang tidak gatal. Gadis ini, pikirannya selalu di penuh drama-drama. Menghayal sana-sini. Dan memang benar, Gara berniat akan memberikannya ponsel baru. Tapi karena temannya ini sudah berkata seperti itu, ya sudahlah.
"Otakmu sudah diracuni sinetron, buang jauh-jauh pikiran konyol lo."
"Bagus deh, kalo lo ngerti."
"Loe mau ketemu sama temen-temen gue?" Gara bertanya setelah mereka kembali berjalan kaki.
"Buat apa?"
"Kenalan lah, biar lo punya temen yang lain juga selain gue. Semua temen gue baik ko."
"Hem, kapan-kapan aja. Tapi gak janji ya."
Langkah Alya terhenti, saat melihat bapaknya berdiri di kejauhan memperhatikan mereka. Memang belum sampai rumah, tapi Deni--bapak Alya kebetulan juga sudah pulang dari sekolah tempatnya bekerja.
Dan Gara juga melihatnya. "Itu bapak lo?"
Gadis itu mengangguk. "Lo sampai disini aja, gue pulang sama bapak."
"Gue ikut, pengen nyapa bapak lo."
Mata Alya beralih menatap Gara. "Jangan sekarang, gue belum bilang sama bapak." Gara berjalan dan sejenak melihat ke arah Gara. "Bye."
Hanya itu, dan Gara masih diam bukan melihat Alya tapi melihat bapak Alya. Lelaki paruh baya itu seperti menampilkan aura ketidaksukaan saat melihat Gara. Ditambah Alya juga bersikap seperti takut-takut melihat dirinya kepergok jalan berdua dengan Gara.
Padahal Gara berniat baik, hanya ingin mengantarnya pulang dan mengetahui rumahnya. Tapi tidak apa-apa, hari ini dia masih belum tahu rumahnya. Walaupun begitu, Gara sudah dapat nomor ponselnya. Sejurus kemudian bibirnya tertarik ke atas menampakkan senyum tampan.