KH - Setuju Menjadi Guru

1924 Kata
Assholaatu khoirum minan naum! Gema adzan subuh dari masjid terdengar mengudara, membangunkan para insan yang masih terlelap dalam tidur untuk segera bangun dan melaksanakan ibadah. Fahri membuka mata yang masih berat. Bersamaan dengan kumandang adzan, alarm HP-nya juga berbunyi. Beringsut duduk, Fahri meraih benda pipih tersebut dari atas meja kecil samping kasur dan langsung mematikannya. Setelah seharian kemarin Fahri mulai sholat kembali ke masjid dan mendengarkan tausiyah, malam itu Fahri sudah berterkad untuk ikhlas. Ajaibnya, dengan hal tersebut Fahri mulai bisa tidur nyenyak setelah tiga bulan ia selalu bermimpi buruk. “Fahri, ayo sholat!” Pintu kamar Fahri diketuk Ainun dari luar. Seperti biasa wanita itu selalu membangunkan Fahri meskipun Fahri sendiri sudah bangun. “Iya, Bu!” sahut Fahri dari dalam kamar. Pria itu bangun dari kasur, menatanya hingga rapi barulah kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Selesai bersesuci, Fahri berganti pakaian dengan baju koko berwarna putih, sarung dan peci di kepala. “Ibu? Ayo berangkat!” ajak Fahri pada Ainun. Bersama, mereka berjalan beriringan menuju masjid. Tiga puluh kemudian Ainun dan Fahri sudah pulang ke rumah. Ainun langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa, sementara Fahri masuk kembali ke dalam kamar. Di sana dia menyempatkan diri untuk membaca beberapa ayat Al Qur’an. Setelahnya barulah ia beranjak untuk mandi. “Subhanallah ... Fahri. Ini benar-benar anak Ibu si Fahri?” puji Ainun takjub beberapa jam kemudian. Pasalnya, dia melihat Fahri sudah berpenampilan kemeja, dengan rambut disisir rapi, aroma harum khas minyak wangi maskulin pria pun tercium memenuhi udara. “Ya siapa lagi kalau bukan Fahri, Bu?” jawab Fahri sambil tersenyum geli. Ia mengambil tempat duduk di kursi meja makan. Ainun mengikuti. “Jadi, kamu menerima tawaran Pak Faisal buat jai guru di sekolahnya?” tanya Ainun. “Iya, Bu. Tadi malam Fahri sudah ngasih kabar ke Ayah Faisal.” “Alhamdulillah,” syukur Ainun. Ia mencengkeram tangan Fahri dengan dua telapak tangannya. “Ibu senang kamu akhirnya tidak mengurung diri di kamar lagi dan mau mulai bekerja. Ibu pikir bulan depan kita bakalan makan bubur tiap hari buat hemat uang bulanan.” Fahri tertawa. Ia tahu ibunya sedang bercanda. Namun tetap saja membayangkan setiap hari ia akan makan bubur rasanya tidak menyenangkan. Sebab Fahri memang tidak terlalu suka bubur. “Makan yang banyak ya. Ini hari pertama kamu bekerja. Ingat, Nak! Guru itu digugu dan ditiru. Segala tingkah dan sikap kamu di sekolah akan diperhatikan dan dicontoh oleh para murid kamu. Jadi, kamu harus bisa jadi sosok guru yang baik, yang sabar. InshaAllah pahalanya besar.” “InshaAllah. Ibu juga makan yuk.” “Iya.” Selesai sarapan, Fahri berpamitan. Tak lupa ia mencium tangan sang ibunda sebagai permintaan restu agar segala aktivitas sehariannya bisa berjalan lancar. “Hati-hati, Nak!” seru Ainun, seiring dengan Fahri yang sudah melajukan sepeda motor keluar dari halaman rumah. *** Sekolah nampak selalu ramai di pagi hari. Terutama beberapa menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Di sana sini banyak siswa-siswi berkerumun, saling menggosip, atau sibuk saling sapa dan mulai meminta contekan PR yang belum dikerjakan sebab terlalu sulit dipahami. Setelah memarkirkan sepeda motor di tempat parkir khusus untuk para guru, Fahri berjalan menyusuri lorong menuju ruang kepala sekolah. Sangat mudah menemukannya mengingat Fahri sempat beberapa kali mampir dulu, saat istrinya masih hidup. Tok tok tok ... “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam!” sahut suara berat dari dalam. Kepala Fahri menyembul dan ia mengulas senyum pada ayah mertuanya. Ruang kepala sekolah memang terletak di ruangan terpisah dengan ruang guru yang berada tepat di ruang sebelah. “Fahri, kamu sudah datang?” Faisal berdiri dari kursi, menyambut. “Iya, Yah.” “Bagus. Bagaimana perasaanmu sekarang. Jadi lebih baik?” “InshaAllah.” Faisal tersenyum. “Mari, saya kenalkan kamu ke para guru.” Mereka berjalan ke ruang sebelah. Pak Faisal berdehem sehingga para guru yang sedang menyiapkan materi untuk mengisi kelas pagi langsung menoleh. “Bapak-bapak, Ibu-ibu. Ini Fahri, guru yang akan mengampu sebagai guru Agama. Mohon dibimbing ya,” ucap Faisal dengan berwibawa. Semua menjawab dengan kata iya. Mereka pun langsung memberikan senyum bersahabat pada Fahri. Bahkan setelah Faisal menunjukkan kursinya dan pamit kembali ke ruangannya, beberapa orang guru langsung menghampiri. Termasuk seorang wanita yang meja kerjanya tepat di sebelah Fahri. “Hai, Pak Fahri. Omong-omong, nama saya Valensia, tapi Pak Fahri bisa panggil saya Bu Valen. Saya guru kesenian di sekolah ini,” ucap seorang guru perempuan dengan nada kemayu. Sesuai dengan gaya bicaranya, Bu Valen juga berpenampilan penuh make-up. Rambutnya diurai lurus sampai ke punggung dan tatapannya genit menggoda. “Salam kenal,” tambah Bu Valen. Ia menjulurkan tangan untuk bersalaman. Baru saja Fahri hendak menyalami, deheman keras dari meja sampingnya sisi kiri terdengar, membuat dia langsung menoleh. “Ehm! Kalau saya, nama saya Pak Ridwan, Pak Fahri. Saya adalah guru penjaskes atau olah raga di sini. Salam kenal.” Pak Ridwan memiliki perawakan tinggi, meski begitu ia tidak gemuk. Untuk ukuran badan Pak Ridwan sangat normal. Wajahnya memiliki kumis dan rambutnya dimodel seperti gaya orang era 80-an. Disisir klimis menyamping. Fahri tersenyum lurus. Ia pun menyalami tangan Pak Ridwan dengan kaku. “Ish, sukanya ganggu orang kenalan aja,” sindiri Bu Valen sewot. Bukannya tersinggung, Pak Ridwan malah menghiraukan. Alih-alih, ia bertanya pada Fahri. “Eh, Pak Fahri ini menantunya Pak Faisal bukan? Kayaknya saya pernah lihat Pak Fahri pas dulu di nikahannya Aisyah.” Sebagai jawaban Fahri mengangguk jujur. “Iya, Pak.” “Hahahha, pantas saja seperti kenal. Pak Faisalnya ganteng, Bu Aisyahnya cantik. Cocok! Apalagi Bu Aisyah cantiknya natural ya Mas, adem gitu pakai kerudung.” “Halah, para artis juga cantiknya karena make-up! Tetap banyak yang suka tuh!” “Bicaranya Aisyah juga lemah lembut dan sopan santun gitu lho. Suka senyum ramah, membuat hati siapa saja langsung sejuk dan tenteram. Nggak suka sewot gitu kayak someone.” “Heh, saya itu sewotnya juga pilih-pilih kali. Karena apa? Karena saya itu mahal! Dan kamu tahu apa itu definisi dari mahal? Perempuan yang bisa menjaga diri dari laki-laki hi. Dung. Be. Lang!” Bu Valen mengeja kata ‘hidung belang’ dengan penekanan yang sempurna. Pak Ridwan terlihat membuang muka, pun dengan Bu Valen. Kini barulah Fahri sadar jika mereka berdua saling menyindir sejak awal tadi. Teeet ... teeet ... teeeet ... Bel suara masuk sudah berbunyi. Beberapa guru yang mengajar kelas pagi langsung menuju ruang masing-masing. Sementara Fahri yang guru baru tetap duduk di meja. “Pak Fahri, ini saya sudah mengatur jadwal mengajar kelas Bapak. Yang kode huruf ini menunjukkan kelas mana dan yang kode angka ini menunjukkan waktu jam mengajar. Di bawah ini ada keterangannya kok.” Bu Silva yang tadi mengenalkan diri sebagai staff Tata Usaha menyerahkan selembar kertas berisi jadwal pada Fahri. “Oh, iya. Makasih, Bu.” “Sama-sama.” “Ini di mulai hari ini kan ya?” “Iya, Pak. Waktu mengajar bisa langsung dimulai hari ini. Sudah lama sekitar dua minggu posisi guru agama kosong. Kasihan anak-anak.” “Baik, Bu. Kalau begitu saya menyiapkan bahan ajar dulu.” “Iya. Ini buku panduan dan materinya. Jika ada pertanyaan, Pak Fahri bisa tanyakan sama saya atau ke guru lain juga bisa. Semoga betah ya Pak.” “Terima kasih, Bu.” Setelah itu Fahri membaca sekilas jadwal yang diberikan, menandainya dengan stabilo berwarna hijau, kemudian ia tempel di dinding pembatas. Fahri cukup puas dengan apa yang ia lakukan. Nanti ada kelas di 11 IPS 3, 10 IPA 4 sama 12 IPS 6, batin Fahri mengangguk-angguk. Dia mulai membuka jurnal mengajar terakhir yang ditinggalkan oleh guru agama di mejanya dan mulai mempelajari bahan ajar melalui buku panduan. Dua jam pun berlalu. Bunyi bel pergantian kelas terdengar. Ada beberapa guru yang kembali ke ruang guru namun ada juga yang langsung menuju kelas kedua. Fahri menata buku yang akan dia bawa ke kelas sebagai acuan mengajar kemudian berdiri. Sempat bertanya pada salah seorang guru di mana letak kelas 11 IPS 3, Fahri keluar dari ruang guru. Saat itu Fahri tidak menyangka jika ia akan menjadi salah satu guru favorit para murid. Ia dianggap guru paling tampan dan meskipun duda, Fahri tetap terlihat keren! Malah di usia dua puluh lima tersebut Fahri terlihat sangat matang. Maklum saja, wajah Fahri memang cukup tampan. Ia memiliki darah Arab dari keluarga, turunan dari kakek buyutnya. Ditambah dengan kulit sawo cerah, justru menambah kharisma dan maskulinnya sebagai seorang pria. Alis tebal, hidung tinggi dan bibir tipis, pun menunjang pesonanya di kalangan para murid menjadi lebih. Tak ayal, desas-desus tentang adanya guru tampan di mata pelajaran agama pun langsung menyebar di sekolah. “Kalau di lihat-lihat, Pak Fahri memang tampan ya!” puji Pak Agus, guru yang mengampu bahasa Inggris. Kini mereka sedang makan siang. Sebagai guru di sekolah sana—Fahri tidak tau dengan sekolah yang lain—setiap siang mereka sudah dijatah dan disediakan nasi kotak. Jadi, mereka makan bersama di ruang guru. Fahri tersenyum saja mendengar pujian tersebut. Seolah itu adalah hal yang biasa ia dengar di sepanjang hidupnya. “Psst ... psst ... Pak. Mohon maaf boleh tanya. Apa kriteria istri idaman Bapak?” Bu Melda ingin berbisik ketika bertanya, namun malah terdengar di seluruh ruang guru. “Pakai tanya Bu Melda ini. Ya jelas yang seperti Aisyah, anaknya Pak Faisal,” celetuk Pak Agus. Bu Melda menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu tersenyum sungkan. “Tapi nih, kalau butuh suasana baru. Asal Pak Fahri tahu, saya ini masih jomblo lho Pak. Perawan ting-ting!” sahut Bu Valen tak mau ketinggalan. Meski Fahri tidak melihat secara langsung ke meja sebelahnya, namun dia bisa merasakan Pak Ridwan diam-diam melirik tajam. Fahri menggelengkan kepala. Apakah ia yang terlalu peka atau memang dua orang ini memang saling tertarik namun saling mempunyai gengsi yang besar? Entahlah, yang jelas Fahri bisa merasakan bahwa Pak Ridwan dan Bu Valen saling menyukai satu sama lain. Perihal sekarang mereka seperti musuh, Fahri tidak ingin tahu kenapa dan bagaimana. “Habis ini masih ada kelas Pak?” Pak Agus kembali bertanya. “Iya, Pak. Kelas 10 IPA 4 sama kelas 12 IPS 6.” “Oh, begitu. Yang sabar ya Pak menghadapi murid remaja. Memang ada beberapa yang penurut sekali dan baik sekali. Namun nanti Pak Fahri akan menemukan beberapa murid yang sulit sekali diatur bahkan kita harus ngelus d**a tiap lihat dia,” nasihat Pak Agus. Dari segi umur, memang beliau ini dua puluh tiga tahun lebih tua dari pada Fahri. Fahri mengangguk-angguk. Ia mendengarkan setiap petuah dari Pak Agus. “Ya kita sebagai guru harus bisa menjadi pendidik, orang tua sekaligus sahabat buat para murid agar para murid ini bisa menjadi nyaman sama kita. Namun juga tetap hormat sebab bagaimana pun kita adalah guru mereka. Saya miris ketika melihat di berita-berita TV ada guru yang malah berbuat hal-hal laknat dan asusila, melupakan kewajibannya sebagai seorang guru, yang seharusnya bisa melindungi dan mengarahkan pada hal yang baik.” Semua guru mengangguk setuju. Lalu pembahasan mereka berubah ke kejadian yang sedang tren saat ini. Di mana ada seorang oknum guru yang melakukan k*******n fisik pada murid, berkata kasar di depan para murid dan sampai ke oknum guru yang memperkosa anak didiknya hingga hamil. “Jangan sampai ya guru-guru yang ada di sini kayak gitu. Kalau sampai ketahuan ada, saya hajar sampai babak belur terus saya lempar ke laut sana!” seorang guru pria berkata lantang seolah sedang memberi pengumuman. Hebatnya, seluruh guru yang ada di situ mengangkat jempol mereka tanda sangat setuju. “Kamu nggak akan jempol juga Pak?” tegur Pak Ridwan. “Eh?” Mata Fahri menyapu seluruh ruang, kemudian dengan ringisan di bibir, dia mengangkat jempolnya ke udara. Fahri juag setuju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN