KH - Keutamaan Sholat Lima Waktu

2098 Kata
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan sholat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya" (HR. Ahmad). *** Bel tanda berakhirnya jam istirahat telah berbunyi. Para guru yang memiliki jadwal mengajar langsung bersiap, sementara yang tidak punya jadwal sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang meneliti laporan siswa, mengoreksi tugas dan lain sebagainya. Karena Fahri memiliki jadwal mengajar, ia pun segera bersiap. Membawa beberapa buku ia keluar dari ruang guru. Entah dia yang kurang memperhatikan langkah atau malah justru keteledoran, Fahri bertabrakan dengan seseorang. Namun karena ia adalah seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan tegap, Fahri sama sekali tidak sampai bergeming ke belakang. Justru tubuh mungil yang menabraknyalah yang hampir jatuh ke lantai. “f**k! Kalau jalan lihat-li—“ Seorang siswi menahan diri untuk tidak melanjutkan umpatannya karena melihat siapa lawan bicaranya. Wajahnya terlihat tengil, sorot matanya tajam menusuk. Sementara bibirnya mengerut tipis. Sangat masam untuk dilihat. “Maaf, Pak. Nggak sengaja,” katanya dengan nada ketus. Fahri membuka mulut, hendak berkata sesuatu namun Bu Zahra—seorang guru Bahasa Indonesia—berdehem dari belakang. Membuat Fahri menoleh. “Pak Fahri,” panggil Bu Zahra. “Iya, Bu?” Bu Zahra adalah seorang guru muda yang usianya sebaya dengan Fahri. Ia berhijab dan sangat sopan. Dari obrolan saat makan siang singkat tadi sudah terlihat sekali jika Bu Zahra adalah seorang perempuan yang sangat menjaga tutur bahasa. Ia juga tidak terlalu cerewet alias kalem. Lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara seperti guru-guru lain. “Nanti malam ada acara?” tanyanya. Fahri menggeleng. “Emangnya kenapa Bu?” “Oh, kalau begitu kebetulan. Saya dan keluarga baru pindahan rumah. Kalau Pak Fahri berkenan, datang ke acara syukuran di rumah saya ya sama guru-guru lain. Sebenarnya kartu undangannya sudah saya sebar kemarin, saya nggak tahu kalau hari ini bakal kedatangan guru baru.” Bu Zahra meringis dengan tingkah sedikit bersalah. Jika saja tahu, ia pasti akan membawa sisa undangan di rumah untuk Fahri. “Nggak pakai undangan nggak apa-apa, Bu. InshaAllah nanti saya akan datang. Tapi boleh tau di mana alamat rumahnya?” “Sudah tenang aja, Pak Fahri. Saya juga nggak tahu. Tapi nanti Bu Zahra akan share loc di grup. Ya kan Bu?” Pak Ridwan muncul dari belakang Zahra. Ia sudah tidak memiliki jadwal mengajar karena olah raga jadwal-jadwal kelas pagi. “Iya, Pak,” jawab Bu Zahra. “Gitu. Tapi saya kan belum ada di grup, Pak,” kata Fahri. “Benar juga ya? Sini tukar nomor handphone dulu.” “Tukar nomor saya sama juga ya Pak Fahri.” Bu Valen tiba-tiba ikut bergabung. “Duh, ikut-ikut saja Bu Valen. Nanti kalau sudah saya masukkan ke grup kan bisa di save nomor Pak Fahri.” “Ah kelamaan. Lebih afdol juga minta secara langsung kayak gini,” Selesai, Bu Valen pamit terlebih dahulu untuk menuju kelas 10 IPA 1, Bu Zahra juga pamit dan langsung menuju kelas 11 IPS 2, sementara Fahri sendiri baru ingat dengan siswi yang bertabrakan dengan dia tadi. Fahri memutar tubuh dan melihat tidak ada siapa pun. Tentu saja, pikir Fahri. Pasti siswi tersebut sudah kembali ke kelasnya. “Cari siapa, Pak?” tanya Pak Ridwan yang melihat Fahri celingukan. “Bukan siapa-siapa, Pak. Ya sudah. Saya ke kelas dulu.” “Iya, silakan Pak.” *** Kelas 12 IPS 6. Terdengar sangat gaduh dari luar. Teriakan-teriakan beberapa siswa, obrolan-obrolan para siswi yang mirip seperti sekumpulan lebah, bahkan suara-suara musik handphone yang di speaker sebagai backsound. Fahri menahan senyum tipis. Ia pernah berada di posisi remaja SMA seperti mereka sampai ia akhirnya masuk ke dalam sebuah pesantren. Bahkan rasanya sudah lama sekali sejak ia mendengarkan lagu pop atau dangdut, sebab setelah lulus dari pesantren, hanya lagu-lagu religilah yang Fahri sering dengar. “Selamat siang, anak-anak!” sapa Fahri. Kelas yang tadinya ramai dan gaduh seperti pasar pun mendadak hening. Yang terdengar hanyalah sahutan sapa dari para murid. “Selamat siang, Pak!” Fahri tersenyum, kemudian menyapu pandangan ke wajah siswa-siswi kelas 12 IPS 6. Wajah-wajah remaja yang di masa depan akan menjadi generus bangsa. “Apa kabar, anak-anak?” “Baik, Pak!” seru para murid serempak. “Alhamdulillah. Sudah tahu ini pelajaran apa kan ya?” “Of course, Pak!” “Tentu aja Pak!” “Yuhuuu, guru agama kita ganteng.” “Share insta dong Pak! Face Bi juga boleh!” Celetukan-celetukan random dari para murid membuat Fahri tersenyum geli. Bahkan kelas yang tadi sempat hening kini kembali gaduh. “Sudah-sudah! Kembali fokus ke depan!” seru Fahri sambil mengetuk meja beberapa kali. Ia berjalan ke tengah agar lebih seksama bisa memperhatikan para murid. “Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu, sebelum saya menyampaikan pejaran agama hari ini biarkan saya mengenalkan diri terlebih dahulu.” “Asekkkkk.” Kembali, jawaban serempak dari para murid membuat Fahri tersenyum geli. “Nama saya Fahri Ramadhan, kalian bisa memanggil saya Pak Fahri. Saya mengampu sebagai guru Agama di sini.” Setelah perkenalan singkat, Pak Fahri mulai mengabsen para murid. Ia ingin kenal lebih dekat dengan mereka dan salah satu caranya adalah dengan mengenal nama lebih dulu. “Arya Saloka!” “Hadir, Pak!” seorang siswa berambut jambul mengangkat tangan. “Bianindy Lestari.” “Yuhuu, Pak. Hadir!” kini seorang siswi berambut pendek mengangkat tangan. “Candra Kirana.” “Hadir!” “Dewangga Maimunah.” “Di sini Pak!” Seorang gadis berjilbab mengangkat tangan. “Dinda Larasati.” “ ... “ Hening. Fahri menyentakkan kepala ke depan dan mendapati semua murid sedang menatap sebuah bangku kosong pojok paling belakang. “Dinda Larasati,” ulang Fahri mengabsen. “Nggak ada Pak!” “Bolos Pak!” “Lagi nyabu kali Pak!” “Hahahahaha!” sekelas tertawa. Sebagai guru, Fahri kembali mengetuk meja agar tidak gaduh. “Dinda tidak masuk?” tanya Fahri. “Bukan nggak masuk Pak, tapi bolos. Tadi pagi ada, tapi sekarang hilang,” jelas salah satu murid. Fahri terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Melanjutkan absennya di kelas tersebut. Beberapa menit kemudian ia telah selesai, Fahri mulai menerangkan betapa pentingnya Agama dalam kehidupan moral masyarakat sehari-hari. Agama adalah dasar dari seseorang untuk memiliki hati nurani. Agar orang-orang tahu batasan-batasan ketika menjalani hidup sebagai manusia. “Sekarang Bapak mau tanya sama kalian. Jawab jujur ya. Siapa yang di sini sholatnya lima waktu nggak bolong-bolong?” Beberapa murid mengangkat tangan dan beberapa yang lain menyoraki. “Ngibul lo, Ndra! Kemarin lu nginep rumah gue kagak subuhan lu!”Anton menggeplak kepala Indra yang termasuk dalam satu siswa mengangkat tangan. Indra hanya meringis saja sebagai jawaban. “Ya kan gue sholatnya dalam tidur, Ton.” “Lu juga, Bi. Kalau siang ada adzan mana pernah ke musholla?” “Gue sholatnya di rumah. Gue jamak dhuhur, ashar sama maghrib,” Bianindy berkata, yang langsung membuat beberapa murid bersorak huuuu, sementara Fahri jadi speechless. Tercengang sendiri. “Oke. Sekarang saya mau tanya lagi sama kalian. Apa keutamaan sholat lima waktu?” Arya menyahut lantang. “Di ampuni dosa-dosanya!” “Bagus!” puji Fahri membenarkan. “Masuk ke dalam surga!” kini Candra ikut berseru. “Benar!” “Hati jadi tenang Pak! Habis sholat biasanya hawanya adem!” “Jadi cahaya di akhirat nanti.” “Diselamatkan dari neraka!” “Dijaga dari perbuatan maksiat.” Fahri tersenyum mendengar seluruh jawaban itu lantas mengangguk-anggukkan kepala. “Benar, benar, benar. Jawaban kalian semuanya benar. Lalu kenapa kalian sholat kalian masing bolong-bolong?” “Kan sekolah Pak!” “Lelah Pak.” “Lupa Pak!” “Maaf Pak, khilaf.” Kini Fahri mengelus d**a mendengar jawaban random dari para murid. “Tidak ada alasan dalam meninggalkan sholat. Karena sholat lima waktu itu hukumnya wajib! Seperti dalilnya yang menerangkan bahwa siapapun seorang hamba yang meninggalkan sholat maka ia dihukumi kufur. Jadi, kalau sholatnya masih bolong-bolong, ayuk mulai sekarang dirubah sedikit demi sedikit. “Ditambah lagi sholat adalah amalan yang pertama kali nanti dihisab oleh Allah di akhirat. Ketika sholat kalian baik maka seluruh amalan yang kalian kerjakan di dunia juga akan dikatakan baik. Begitu pula sebaliknya. Ketika sholat kalian rusak, maka seluruh amalan yang kalian kerjakan di dunia juga akan di katakan rusak. Dengan kata lain kita akan nyemplung ke neraka. “Kira-kira kalian mau nggak masuk ke neraka?” “Tidaaaaakkk!” jawab murid serempak. “Tapi Pak, ini si Wildan mau jadi penjaga pintu neraka jahannam! Masa kemarin nyablon kaus tulisannya gitu.” “Anjing, ngadu! Ngajak gelud lu?” Wildan melotot pada Satria yang tertawa-tawa geli. Pelajaran hari itu pun berlanjut dengan disertai celetukan dari para murid. Yang membuat Fahri bingung harus berkata apa. *** “Assalamu’alaikum!” Fahri menguluk salam ketika ia masuk ke dalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. “Wa’alaikum salam Nak. Sudah pulang?” Ainun menyambut dengan wajah berbinar. Nampaknya ibu satu orang anak itu sangat senang akhirnya melihat putranya mau bekerja dan hidup normal kembali seperti dulu. “Iya, Bu. Ini Fahri juga bawakan salad buah kesukaan Ibu.” “Alhamdulillah. Terima kasih, Fahri.” “Kalau gitu Fahr masuk ke kamar dulu ya Bu. Mau mandi. Udah bau keringat ini, sekalian mau sholat ashar.” “Iya. Iya. Mau Ibu siapin makanan? Sudah makan siang belum?” “Sudah Bu, nggak usah. Nanti malam saja. Ini masih jam tiga kan?” Ainun mengangguk. “Ya udah, Fahri ke kamar dulu,” pamit Fahri. Sesampainya di kamar dan menutup pintu, Fahri meletakkan tas kerjanya di meja. Kemudian segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Fahri mandi, wudhu dan menunaikan sholat ashar. Setelah selesai ia duduk di atas ranjang. Iris matanya menangkap bingkai foto pernikahannya dengan Aisyah. Apa kabar dek?  Tanya Fahri dalam hati. Nyatanya seharian dengan kesibukan di sekolah tetap membuat Fahri ingat pada Aisyah. Setiap Fahri melangkah, berbicara atau sedang bercanda dengan guru lain, ada satu sudut hati Fahri yang terus menyebut nama Aisyah. Ia memang sudah mencoba mulai ikhlas dengan kepergian Aisyah, namun rasa cinta yang ia miliki pada mendiang istri sangat kuat dalam hati. Membuat Fahri sulit melupakan bayangannya meski hanya sejenak. Mata Fahri pun menyapu seluruh kamar, kemudian menghela napas melihat baju kotorya berserakan di lantai. Jika ada Aisyah, pasti ia sudha mengomel-ngomel. Protes pada Fahri agar memasukkan baju kotor ke dalam ranjang alih-alih malah menggeletakkannya di lantai. Fahri tersenyum miris, ia berdiri dan menjumputi pakaiannya, kemudian menuju keranjang kotor untuk memasukkan seluruh pakaian. Abang rindu kamu dek, bisik Fahri dalam hati. Triiiingg! Suara notifikasi pesan masuk berbunyi. Fahri menuju nakas dan meraih ponselnya, membuka sebuah aplikasi berwarna hijau yang ada di layar. Setelah mengecek, ternyata Pak Ridwan baru saja mengundangnya masuk ke dalam grup para guru. Banyak pesan selamat datan guru baru di dalam sana. Membuat kedua sudut bibir Fahri naik ke atas. Bahkan ia tersenyum geli melihat chat antara Pak Ridwan dengan Bu Valen. Nampaknya bukan menjadi rahasia umum lagi jika dua guru tersebut sering sekali berdebat satu sama lain. Ridwan Kamiel : “Jangan lupa share loc ya Bu Zahra.” Agus Purnawan : “Siap berangkat 86! Ayo Pak Fahri juga bareng sama kita.” Valensia Denada : “Ih, ketemu di sana aja kali Pak. Rumah Pak Fahri sama Bu Zahra berlawanan arah. Kejauhan nanti. Ya kan Pak Fahri?” Ridwan Kamiel : “Kasiaaaan deh dikacanginnn.” Valensia Denada : “Ada ketikan tapi buram. Sudah ah saya mau jogging.” Ridwan Kamiel : “Kalau jogging itu jangan lima menit selesai! Tiga puluh menit dong Bu baru sehat.” Valensia Denada : “P” Ridwan Kamiel : “P” Zahra Fathimah : (share lokasi) Datang ke sini ya, Bapak-Ibu. Acaranya habis isya atau sekitar jam tujuh. Ari Bowo : “Siap Bu demi makanan! Boleh bawa anak istri kan?” Zahra Fathimah. “Boleh, Pak. Asal jangan bawa tetangga sekampung.” Nurul Fitri : “Hahahahha, Bu Zahra bisa aja. Padahal saya mau bawa teman satu bis. Saya baru pulang dari penataran nih Bu, masih di jalan. Nanti bisnya saya suruh berhenti di lokasi sini soalnya kayaknya lewat sana. Boleh kan ya saya datangnya duluan dari yang lain?” Zahra Fathimah : “Silakan Bu. Sekalian nginap juga nggak apa.” Nurul Fitri : “Emang bestieee akoooohhh!” Agus Purnawan : “Ingat umur Bu Nurul.” Nurul Fitri : “P” Nurul Fitri : “Salam kenal juga buat Pak Fahri, guru baru agama.” Fahri Ramadhan. “Terima kasih. Salam kenal kembali, Bu.” Setelah membalas chat singkat tersebut Fahri meletakkan ponsel kembali ke atas nakas. Ia menjatuhkan tubuh di atas kasur, dan tak lama kemudian ia terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN