Acara syukuran di rumah Bu Zahra yang diadakan di malam hari ternyata hanya mengundang rekan-rekan kerja saja. Keluarga Bu Zahra menjelaskan bahwa syukuran dengan para tetangga sudah dilakukan kemarin terlebih dahulu.
“Kok nggak bareng saja Bu?” Pak Ridwan iseng bertanya.
“Takutnya terlalu ramai Pak. Lagian juga cuma syukuran kecil-kecilan. Nanti rumahnya nggak muat lagi.” Bukan Bu Zahra yang menjawab, melainkan ibunya. Membuat Pak Ridwan tertunduk malu.
“Silakan, silakan duduk,” Bu Zahra menimpali.
Para guru yang berjumlah hampir dua puluhan tersebut duduk di ruang tengah. Disuguhkan berbagai macam camilan dan menu masakan.
Canda, tawa, obrolan ringan memenuhi ruangan. Di mana kian larut obrolan tersebut kian bertambah seru saja.
Fahri hanya menyimak, tidak terlalu banyak bicara maupun menimpali. Sesekali ikut tertawa mendengar celotehan atau cerita lucu dari guru-guru yang lain.
Lalu entah bagaimana, cerita-cerita lucu tersebut berubah menjadi pembicaraan yang lebih serius. Para guru yang sudah berumur mulai membahas rumah tangga, anak-anak mereka dan bahkan menyindir para guru muda untuk segera menikah. Pertanyaan kapan nikah pun terdengar berulang-ulang dari mulut guru-guru yang sudah berkeluarga.
“Jadi kapan ini Bu Valen undangannya?” ucap Pak Roni. Pria berperawakan gemuk dan sudah memiliki dua orang putra.
“Jangan tanya saya, Pak. Saya masih muda. Tuh, ada yang lebih tua dari saya dan belum nikah-nikah.”
Sindiran itu jelas untuk Pak Ridwan, karena lirikan mata Bu Valen memang tertuju padanya.
Pak Ridwan berdehem sebagai jawaban. “Saya itu laki-laki. Mau menikah di umur berapa pun bebas. Beda sama perempuan.”
Keduanya saling bertatapan tajam kemudian juga saling membuang muka.
Bu Ratna—nama ibunya Bu Zahra hanya tersenyum geli saja. Akan tetapi, diam-diam ia menyapukan pandangan, mencari-cari siapa tahu di antara mereka ada pria yang cocok untuk anak gadisnya.
Dan ... Ketemu!
Iris mata Bu Ratna menangkap sosok pria berkemeja putih tengah mengobrol dengan Pak Agus. Sesekali ia mengulum senyum dan menanggapi obrolan.
Penasaran, Bu Ratna pun bertanya pada Zahra. Namun baru saja ia menoleh dan membuka mulut, beliau langsung terdiam.
Bagaimana tidak jika ia melihat Zahra tengah melirik sembunyi-sembunyi ke arah lain?
Bu Ratna mengikuti arah lirikan Zahra, lantas merasa puas ketika mengetahui arah lirikan tersebut tertuju ke arah Fahri.
“Kamu suka dia, nduk?”
Mendapat pertanyaan tidak terduga dari ibunya, Zahra tersentak kaget. Wajahnya memerah mendapati Ratna memergokinya memperhatikan Fahri.
“Siapa namanya? Tapi kayaknya Ibu baru melihat dia. Guru baru?”
“Iya. Namanya Fahri, Bu,” jawab Zahra setengah berbisik.
Bu Ratna mengangguk-angguk. Sebab aji mumpung para guru di sini sedang membahas tentang menikah, ia pun ikut menyeletuk.
“Kalau Pak Fahri, sudah ada calon belum?” tanya Bu Ratna dengan polos.
Seketika ruangan menjadi hening. Sepi senyap. Hingga hampir-hampir membuat Bu Ratna berpikir mereka semua akan kesurupan masal.
“Ibu! Jangan tanya gitu.” Zahra menyenggol lengan ibunya.
Lalu sayup-sayup obrolan pun terdengar lagi.
“Pak Fahri ini baru kehilangan istrinya, Bu. Sudah tiga bulan kira-kira,” jelas Pak Agus sambil menepuk punggung Fahri. “Dia dulu anak mantunya Pak Faisal, Pak Kepala Sekolah.”
Bu Ratna menutup mulut tidak enak. Rupanya keheningan tadi terjadi sebab ia salah bicara.
“Aduh, maaf Nak Fahri. Ibu nggak tahu,” ujar Bu Ratna penuh sesal.
Fahri tersenyum tipis. Meskipun hatinya sedikit sakit diingatkan lagi tentang Aisyah, namun itu adalah sebuah fakta yang tidak akan bisa ia lupakan seumur hidup. Kehilangan orang yang dicintai memang tidak pernah mudah.
“Nggak apa-apa, Bu,” jawab Fahri berusaha nampak santai. “Sudah tiga bulan juga.”
“Benar itu Pak Fahri. Ayo move on. Di sini kan ada guru-guru perempuan yang belum menikah. Kira-kira kita boleh dong tau kriteria perempuan idaman Pak Fahri yang seperti apa? Siapa tahu ada satu yang cocok.” Pak Bagus yang sudah menikah dua kali bertanya. Sama seperti Fahri, dia juga pernah kehilangan istrinya.
Bedanya, Pak Bagus ditinggalkan bukan karena istrinya meninggal. Melainkan diselingkuhi dengan pria yang lebih muda darinya. Dengar-dengar sih mantan si istri.
“Yang seperti Aisyah,” jawab Fahri dalam hati. Tapi yang keluar dari mulut malah, “Nggak ada kriteria khusus kok, Bu.”
“Kebetulan Pak Fahri. Kalau lupa, saya ingatkan sekali lagi kalau saya masih jomblo!” sahut Bu Valen menunjuk dirinya sendiri dengan PD.
“Ah, Bu Valen mah udah jodohnya Pak Ridwan. Nggak bisa diganggu gugat. Sama Bu Zahra saja!’ seletuk Bu Sari.
“Eh eh Bu Sari ini. Jangan menyebarkan berita hoax ya Bu. Saya ini jomblo fii sabilillah—benar kan begitu sebutannya Pak Fahri? Hehehehe,” kekeh Bu Valen. “Lagian, siapa juga yang mau sama Pak Ridwan! Orang dia udah punya gandengan.”
Pak Ridwan yang merasa tidak punya hanya bisa melongo. Gandengan yang mana maksud Valen?
“Owalah ... Jadi cemburu ceritanya? Wah parah Pak Ridwan. Masa PDKT nya sama Bu Valen tapi gandengannya sama perempuan lain? Pantes terjadi perang ke tiga di sekolah!”
Gumaman hmmmm terdengar memenuhi udara. Fahri yang guru baru tentu tidak tahu menahu tentang hal ini. Ia hanya mengernyit bingung .
“Jadi dulu mereka itu dekat banget Pak. Kami sampai ngira mereka mau serius ke jenjang pernikahan lho! Eh tapi tiba-tiba entah ada angin apa Pak Ridwan sama Bu Valen jadi saling sindir satu sama lain. Mungkin ini penyebabnya,” bisik Pak Agus menceritakan gosip yang beredar.
Fahri ber-oh ria. Ternyata dugaannya benar. Bu Valen dan Pak Ridwan ada apa-apanya.
Obrolan terus berlanjut setengah jam kemudian. Baru saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, mereka semua pamit untuk pulang.
“Selamat buat rumah barunya ya Bu Zahra,” kata mereka menyelamati.
“Sama-sama Pak, Bu.”
“Rumahnya sudah, tinggal cari jodoh!”
“Hahahaha.”
Fahri menyalami Zahra dan Bu Ratna bergantian. Sama seperti yang lain, ia juga mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan.
“Ehm, Pak Fahri kalau ada lewat jalanan sini boleh lho mampir-mampir,” ujar Bu Ratna. Yang hanya diangguki oleh Fahri.
“Iya. Makasih Bu.”
Bu Ratna tersenyum, ia pun pamit.
***
Keesokan harinya ...
Fahri masuk ke ruang kepala sekolah sebab panggilan dari Pak Faisal.
Beliau duduk sambil membaca tumpukan file di kertas. Kaca mata plus tebal menggantung di hidung, membantu Pak Faisal dalam hal pekerjaan.
“Assalamu’alaikum, Yah,” salam Fahri.
“Wa’alaikum salam. Sini duduk,” jawab Faisal sambil tersenyum.
“Bagaimana perasaan kamu jadi guru? Suka?” tanya Faisal.
Fahri mengangguk kecil. “Lumayan, Yah. Tapi belum suka-suka banget juga. Fahri masih perlu menyesuaikan diri. Toh, ini baru mau dua hari.”
Faisal tertawa kecil. Ia membuka laci kemudian mengeluarkan secarik kertas di sana.
“Saya baru ingat jika kelas 12 IPS 6 belum punya wali kelas yang baru. Untuk sementara kemarin selama hampir dua minggu Bu Zahra yang menghandle kelas tersebut. Jadi sekarang saya ingin kamu yang jadi wali kelasnya.”
Mengernyit, Fahri menjawab. “Apa nggak apa-apa, Yah? Fahri baru ngajar sehari lho jadi guru.”
“Iya di sekolah ini. Tapi kamu kan dulu pernah bantu ngajar di TPQ Masjid. Di sana sistemnya juga hampir sama seperti di sekolah bukan? Jadi saya yakin kamu mampu. Lagian kasihan juga Bu Zahra kalau harus jadi wali dua kelas.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Ini data siswa kelas 12 IPS 6. Biasanya dalam seminggu ada satu jam khusus yang dijadwalkan untuk para wali kelas mengarahkan kelas yang diampu. Untuk lebih detail dan data yang lebih lanjut, kamu bisa tanya ke Bu Zahra.”
“Baik,” angguk Fahri. Setealah itu dia keluar dari sana.
Fahri berjalan sambil emmbaca daftar nama siswa di tangan. Sampai kemudian ia mendengar namanya dipanggil.
“Pak Fahri!”
Menyentakkan kepala, Fahri melihat Zahra berjalan cepat menghampirinya.
Lorong sedang sepi karena kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Namun Fahri dan Zahra memiliki jadwal kosong sampai jam pelajaran berikutnya.
“Iya Bu? Ada apa?”
Zahra nampak sungkan mengatakannya namun ia sudah bertekad. Lebih baik sekarang dari pada nanti saat banyak guru.
“Tadi Ibu nitip bekal makan siang buat Pak Fahri. Sebenarnya saya sudah larang dan bilang kalau sekolah sudah menyediakan makan siang buat para guru, tapi beliau ngotot banget. Jadi, sekali ini saja terima ya? Bekalnya sudah saya letakkan di atas meja Pak Fahri.”
“Oh nggak apa-apa Bu. Dan bilang terima kasih buat Bu Ratna.”
Zahra tersenyum. Pipinya merona merah kala itu.
“Kalau gitu, saya permisi.”
Zahra baru berbalik, namun Fahri mencegahnya.
“Tunggu, Bu! Saya juga masih perlu bicara sama Ibu.”
“Hmmm? Soal apa?”
Fahri menjelaskan secara singkat yang disampaikan oleh Pak Faisal tadi. Bahwa mulai dari sekarang dialah yang akan mengambil alih untuk menjadi wali kelas 12 IPS 6.
“Oh begitu. Datanya dan yang lain ada di meja saya Pak. Mari saya tunjukkan,” ajak Bu Zahra sopan.
Keduanya berjalan kembali ke ruang guru. Di sana hanya ada mereka dan dua guru lain—Pak Agus dan Bu Sari. Masing-masing sibuk menyiapkan bahan ajar untuk kelas berikutnya.
“Ini Pak data sama sekalian yang lain-lain. Oh iya, Pak Faisal sudah bilang apa saja yang harus dilakukan sebagai wali kelas?” tanya Bu Zahra.
“Kurang lebih.”
“Saya jelaskan sekali lagi ya Pak biar lebih paham. Jadi setiap satu minggu sekali setiap wali kelas disediakan satu jam khusus untuk briefing. Kita bertemu sama anak-anak, mendekatkan diri sama mereka layaknya sahabat dan jika ada, kita juga menampung segala keluh kesah mereka.
“Kelas 12 IPS 6. Entah Bapak percaya atau tidak namun kelas ini terkenal bandel. Dua minggu saya menjadi wali kelas sementara beberapa informasi yang saya dapat saja sudah cukup banyak. Kebanyakan dari mereka dari keluarga yang kurang harmonis, sehingga mereka membuat lebih malas belajar ketimbang siswa lain. Bla ... bla ... bla ...”
Bu Zahra menjelaskan secara detail masalah beberapa siswa di kelas tersebut. Fahri mendengarkan dengan seksama.
Pantas, sekolah ini meskipun swasta memiliki predikat yang cukup baik di masyarakat. Ini bukan sekedar sekolah, namun juga tempat anak-anak untuk berkeluh kesah.
Guru yang ada di sana bukan hanya mendidik, melainkan juga berperan sebagai orang tua kedua yang mengarahkan mereka ke masa depan cerah.
Fahri bahkan pernah mendengar dari Aisyah pernah dulu ada seorang murid yang depresi setiap kali di rumah, namun justru merasa sehat ketika di sekolah. Sampai-sampai si anak tersebut memutuskan menginap di sekolah setiap hari. Hingga si wali kelas tahu dan akhirnya bersedia merawat hingga lulus.
Sekarang, anak tersebut sudah menjadi salah satu model ternama. Ia sering mengunjungi sekolah untuk berterima kasih pada para guru yang selalu men-support-nya hingga menjadi sekarang. Sikap rendah hati pun tertanam kuat di anak tersebut meski namanya di kenal di mana-mana.
“Kalau masih kurang jelas Bapak bisa tanya lagi sama saya atau ke guru lain juga bisa.” Bu Zahra mengakhiri penjelasannya.
Fahri mengucapkan terima kasih. Ia menerima berkas file tersebut yang berisi data siswa kemudian kembali ke kursinya untuk membaca lebih jauh.
Bagi Fahri menjadi wali kelas merupakan suatu amanat. Ia tidak ingin hanya menjadi sekedar wali kelas, melainkan juga orang tua seperti yang dilakukan para guru di sini.
Sungguh mulia.
“Ehm, jadi ... gimana sama Bu Zahra? Cocok?”
Tiba-tiba Pak Agus duduk di kursi Bu Valen, menatap Fahri dengan senyum menggoda.
“Maksud Bapak?”
“Ah, Pak Fahri ini macam anak polos saja. Menurut Pak Fahri nih, Bu Zahra cantik?”
Fahri mengangguk tanpa pikir panjang. “Iya.”
“Nah! Berarti cocok ini! Segera di taarufin Pak. Hehe.”
Pak Agus berdiri, lalu menyanyikan lagu religi berjudul ta’aruf sambil berlalu meninggalkan ruang guru.
Tepat saat itu bel pergantian jam mengajar berbunyi.
Fahri segera menyiapkan bahan materi untuk kelas yang akan dia ajar, tanpa sama sekali memikirkan apa maksud perkataan dari Pak Agus.