KH - Dinda Larasati

1836 Kata
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S An-Nisa' Ayat 36). *** "Selamat siang, anak-anak!" Seperti biasa Fahri menyapa dengan nada menyenangkan dan penuh semangat. Dia menyapukan pandangannya ke kelas yang sudah resmi ia ampu. 12 IPS 6. "Hati-hati, Pak Fahri. Kelas itu banyak kasusnya lho!" Fahri tiba-tiba ingat dengan kalimat Bu Sari. Beliau langsung berkata setelah Pak Faisal memberi pengumuman resmi jika Fahri ditunjuk sebagai wali kelas saat meeting kemarin. "Iya. Harus ekstra sabar kalau jadi wali kelas mereka, Pak!"  sahut guru yang lain. "Memangnya kenapa, Bu?" Karena pemasaran Fahri pun mulai bertanya. "Di sana Pak banyak masalah. Pertama, semua anak-anak bandel ngumpul di kelas itu. Kedua, tingkat absensi bolos paling banyak juga ada di kelas itu. Ketiga, nilai-nilainya rendah banget! Aduh Pak, bahkan saya saja kalau mengajar sampai putus asa rasanya. Kayaknya saya pas nerangin sudah sangat jelas dan detail, tapi pas ulangan ehhhh... nilai tertinggi cuma 40 dong! Apa nggak pengen garuk tembok saya?" "Mungkin memang mereka belum jelas, Bu," bela Fahri. "Ah, terserah deh kalau Pak Fahri nggak percaya. Cuma kita sebagai guru yang lebih lama di sini dan tau kelas-kelas mana yang baik dan bandel, ngasih nasihat ke Pak Fahri supaya ekstra sabar aja di sana." Fahri meringis. "Iya, Bu. Terima kasih sarannya." "Selamat pagi, Pak!" jawab anak-anak serempak membuyarkan lamunan Fahri. Tersenyum, Fahri mengamati wajah-wajah remaja yang masih terlihat polos. Mungkin benar kata Bu Sari dan guru-guru lain jika kelas ini terkenal punya siswa yang bandel. Sekarang saja Fahri melihat seragam kebanyakan sudah keluar dari bawahan abu-abu, dasi sudah tidak terpasang di leher dan juga beberapa siswa tidak memakai kaus kaki. Pertama kali Fahri mengajar mungkin ia tidak memperhatikan hal ini, namun rasa tanggung jawab sebagai wali kelas membuat ia harus lebih perhatian pada kelas 12 IPS 6. "Pak, Pak Fahri! Tanya dong. Dengar-dengar sekarang yang jadi wali kelas kami Bapak ya?" celetuk salah satu siswi bertanya. Badannya gemuk, pipinya mirip bakpao yang menggemaskan untuk dicubit. "Wah, saya heran berita bisa tersebar secepat itu," ujar Fahri. "Jadi beneran ini?" sahut siswi yang lain. Anggukan Fahri pun diiringi oleh seruan suka cita seluruh kelas. "Yes! Wali kelas kita paling ganteng!" "Alhamdulillah ... Dapat wali kelas Pak Fahri ... " "Bakal pamer ke cewek gue ah, pasti dia iri banget sama kelas gue!" Fahri hanya bisa tersenyum geli mendengar celotehan-celotehan remaja tersebut. Ia mengetuk meja beberapa kali agar semuanya berhenti berbicara. "Jadi, mulai sekarang kalau ada apa-apa, kalian bisa mengadu ke saya sebagai wali kelas. InshaAllah Bapak akan membantu kalian semaksimal mungkin. Anggap saya sebagai teman, sahabat, kakak dan orang tua. Mengerti?" "Siaaapp, Paak!" seru mereka serempak. "Oke, karena ini bukan jadwal untuk konseling melainkan agama, keluarkan buku pelajaran kalian masing-masing!" perintah Fahri. Anak-anak menurut. Kini di atas meja mereka yang tadi sempat kosong sudah dipenuhi dengan buku-buku bersampul dan berjudul sama. Pendidikan Agama Islam. "Sebelum ini Bapak absen dulu ya biar lebih hafal sama kalian." "Oke, Pak!" Fahri pun mulai mengabsen satu per satu murid, sekaligus mengingat wajah dengan nama tersebut. Ia ingin mengenal semua anak di kelas ini agar terasa lebih dekat dan akrab. Mulai dari abjad A, B, C hingga ... "Dinda Larasati." Fahri memanggil nama tersebut dengan keras. Iris matanya menyapu ruang karena tidak menemukan satu pun siswa mengangkat tangan. Ia merasa deja vu, sebab perhatian seluruh siswa kini tersedot ke sebuah bangku paling pojok di belakang. Mengikuti arah pandang, ia menjumpai bangku yang dulu kosong kini terisi oleh sebuah wajah seorang perempuan. Ia duduk sambil memainkan ponsel. Di telinganya terpasang sebuah headset berwarna hitam. "Dinda Larasati!" ulang Fahri memperkeras suaranya. Perempuan tersebut akhirnya mengangkat wajah. Meski nampak malas, ia tetap mengangkat tangannya. Dahi Fahri mengernyit. Sepertinya ia pernah melihat gadis itu. Dan ketika mengingat, Fahri sadar bahwa si Dinda ini adalah gadis yang sama yang pernah ia tabrak di depan ruang guru beberapa hari yang lalu. Mangangguk kecil, Fahri melanjutkan absensi kelas sampai abjad habis di huruf W. Selesai dengan kegiatan mengabsen, Fahri mulai melanjutkankan pelajaran. Dari yang terakhir kali ia membahas tentang keutamaan sholat lima waktu, kini Fahri beralih pada pelajaran keutamaan berpuasa. Sembari menjelaskan sesekali Fahri melempar tanya jawab agar murid juga ikut aktif berpikir. Terkadang ia juga menceritakan sedikit lelucon agar siswa tidak jenuh. "Nah, tadi kan sudah dijelaskan bahwa puasa berarti menahan diri. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkanya dari mula terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata- mata, serta disertai niat dan syarat-syarat tertentu. Sekarang saya mau tanya ke kalian. Sebutkan salah satu manfaat dari puasa!" ucap Fahri. "Saya Pak! Menurunkan berat badan!" celetuk Andi yang langsung mendapat sorakan huuuu dari teman-temannya. Fahri tertawa lantas mengangguk. "Andi benar kok! Salah satu manfaat dari berpuasa adalah menurunkan berat badan. Puasa juga baik untuk menjaga berat badan tetap ideal. Bahkan beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa puasa dapat meningkatkan metabolisme tubuh, sehingga pembakaran kalori dan lemak di dalam tubuh ikut meningkat. Jadi kalau kalian ingin diet, nggak perlu yang ekstrim. Minum ini itu yang ada bukan kurus malah bikin dompet jadi tipis. Lebih baik puasa. Puasalah! Lebih irit dan praktis. Selain itu kita juga masih mendapatkan bonus pahala." Setengah jam kemudian setelah Fahri merasa sudah menyampaikan isi materi, ia menyuruh murid-muridnya untuk mengerjakan beberapa lembar soal di LKS sebab waktu pembelajaran masih tersisa kurang lebih tiga puluh menit. Sempat Fahri duduk di kursi dan hanya melihat wajah-wajah serius anak-anak mengerjakan soal. Namun justru pikiran Fahri malah melayang jauh mengenang Aisyah. Coba Aisyah ada, pasti sekarang ia bangga padanya. Sebab dulu Aisyah pun pernah berkata jika ia peling senang melihat Fahri mengajar di depan kelas. Dulu bahkan waktu Fahri masih aktif di TPQ untuk membantu anak-anak kecil bisa membaca Al Qur'an, Aisyah sering datang dan memberi support dari luar jendela. Yang membuat Fahri geli adalah istrinys tersebut juga ikut mendengarkan dengan seksama ketika Fahri bercerita tentang kisah-kisah para Nabi. "Kelak kalau Allah ngasih kita rejeki seorang anak, Adek ingin Abang sering-sering cerita ke dia tentang kisah para Nabi dan sahabatnya. Adek ingin anak kita tau betapa hebatnya mereka memperjuangkan agama yang benar sehingga anak kita bisa tumbuh dengan mencontoh kisah-kisah tersebut. Abang kan tau pendidikan paling baik dimulai saat anak masih dalam kandungan atau ayunan." Fahri tersenyum miris. Jangankan rejeki seorang anak. Aisyah malah pergi meninggalkannya begitu cepat. Tak ingin mengingat-ingat kesedihan itu lagi, Fahri berdiri. Ia berjalan mengelilingi kelas sambil sesekali melihat kerja anak-anak sampai mana. Sesekali ia mendapati beberapa siswa mencontek jawaban dari para siswi dan beberapa siswa bahkan malah asik mengganggu tugas dari temannya karena ia sudah selesai lebih dulu. Fahri menggelengkan kepala. Mereka semua mengingatkannya pada masa remajanya dulu. Sampai suatu ketika, Fahri telah sampai di meja Dinda. Kini gadis itu tidak lagi bermain ponsel melainkan tidur dengan bertumpu dua tangan. Telinga Dinda masih terpasang headset. Sementara di atas bangku sama sekali tidak ada LKS Agama Islam. "Ehm!" dehem Fahri. Yang disusul dengan memanggil nama siswi tersebut. "Dinda," panggil Fahri. Yang tentu saja tidak dijawab oleh Dinda. Kedua kelopak matanya masih terpejam erat. "Dinda Larasati!" ulang Fahri. Lebih keras. Membuat anak-anak yang lain ikut menoleh ke belakang. Terdengar kasak-kusuk tidak jelas dari mereka namun Fahri memilih untuk tidak mendengarkan. Melainkan ia mencabut headset dari telinga Dinda. "Dinda Larasati." Untuk ketiga kalinya Fahri memanggil nama perempuan tersebut. Oleh sebab kabel headsetnya terlepas, Dinda akhirnya membuka mata. Ia mengerjab beberapa kali sebelum kemudian menegakkan tubuh dan menguap. Kedua tangannya direntangkan lebar khas seperti orang yang baru bangun tidur. Menghela napas sabar, Fahri bertanya, "Sudah selesai tugasnya?" Dinda mendongak, menatap Fahri sekilas. Lalu bukannya menjawab, ia malah kembali lagi meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan mata. "Dinda," tegur Fahri tidak percaya. Baru kali ini ada murid yang terang-terangan membangkang seperti gadis ini. "Berisik lo! Pergi sana. Ngantuk gue!" ucap Dinda. Sama sekali tidak terdengar nada sopan di dalamnya. "Dinda, yang sopan sama Pak Fahr!" Anak-anak yang lain mulai menegur. "Bangun, Din. Nugas dulu." "Iya, bentar lagi kan juga istirahat." Dan masih banyak teguran baik lain dari teman-teman Dinda pada remaja tersebut. Hal yang tentu sangat mengganggu Dinda untuk bisa fokus tidur kembali. "Bacot kalian semua!" teriak Dinda. Lantas ia menatap tajam ke arah Fahri. "Bukannya dia sendiri yang bilang kita bisa anggap dia sebagai teman atau kakak? Hak gue mau sopan atau nggak!" tunjuk Dinda pada Fahri. "Tapi harus pada tempatnya, bukan kayak gini," tegas Fahri. "Sekarang keluarkan buku LKS Agama Islam kamu dan mulai kerjakan tugas dari saya." Dinda mendengus. Ia melipat dua tangan di depan d**a. Iris mata hitamnya menyapu kelas, menatap tanpa rasa takut pada anak-anak sebayanya yang melihatnya dengan berbagai tuduhan. Dinda bukannya tidak tahu banyak sekali di antara mereka atau bahkan mungkin seisi kelas ini tidak menyukainya namun ia sama sekali tidak peduli. Menurut Dinda, ia hidup bukan untuk mereka. Ia hidup untuk diri sendiri. "Dinda--" "Pertama, gue nggak bawa alat tulis. Dan kedua, gue nggak punya buku LKS," ucap Dinda. Kini tatapannya beralih kembali pada Fahri yang langsung diam seribu bahasa. "Kalau lo mau tau kenapa jawabannya adalah karena gue nggak punya duit buat beli buku dengan harga mahal. Mending duitnya buat beli makan sehari-hari dari pada beli buku yang nggak berguna sama sekali." Sungguh, Fahri tidak tau harus menanggapi Dinda seperti apa. Ia terlalu terkejut dengan ketidak sopanan remaja ini dan argumennya tentang buku dan makan. Setelah beberapa saat lamanya, Fahri berhasil menguasai diri. Ia mengambil LKS miliknya kemudian memberikannya pada Dinda. "Kalau begitu, kamu bisa mengerjakan di LKS saya. Dan ini, bolpoin untuk menulis." Fahri menyerahkan dua benda tersebut ke atas meja Dinda. Meski begitu keduanya terus saling menatap dan mengunci satu sama lain. Dinda dengan tatapan tajam menusuk, smeentara Fahri menatap Dinda datar. Ia tidak ingin menggunakan emosi ketika menghadapi remaja berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Sebab Fahri tahu, dalam umur segitu, para remaja memang lebih liar. Nanti ketika beranjak lebih dewasa-lah mereka baru bisa berpikir dengan lebih jernih dan positif. "Tch," dengus Dinda. Ia mengambil LKS tersebut hanya untuk membantingnya kembali ke atas meja. Berdiri, Dinda terus saja menatap Fahri tajam. Lalu tanpa berkata apapun, ia meraih ranselnya dan berlalu pergi keluar dari kelas. Di abaikannya seruan dari teman-temannya yang memanggil namanya untuk mencegahnya bolos pelajaran. Bahkan seruan dari Fahri pun ia abaikan sama sekali. Di sisi lain Fahri menarik napas panjang. Ia memejamkan mata dan menahan diri agar tidak mengejar Dinda dan memarahinya habis-habisan. Fahri yakin remaja pembangkang seperti Dinda pastilah punya masalah yang rumit, maka untuk itu Fahri tidak ingin gegabah dalam menangani. Ia akan mencari tahu lebih dulu bagaimana background Dinda. "Sudah, sudah. Kembali fokus mengerjakan soal lagi," ucap Fahri karena kelas mulai gaduh. Mereka sibuk menggosipkan Dinda di sana-sini. Fahri mengambil LKS di bangku DInda kemudian kembali menuju kursi guru. Ia duduk dan menatap kosong ke arah LKS nya yang tadi di banting keras oleh Dinda. Anak itu ... Entah apa yang menimpanya hingga sama sekali tidak punya sopan santun, batin Fahri dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN