KH - Amanat

2047 Kata
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui". (QS: Al-Anfaal ayat 27) *** “Pak Fahri!” Fahri menoleh ketika namanya disebut. Ia tersenyum tipis melihat Bu Zahra menghampiri mejanya. Guru Bahasa Indonesia itu memang terlihat menyenangkan dilihat. Terlebih wajah ayu-nya yang selalu dibalut dengan kerudung segiempat, tak heran jika ada dua orang yang kabarnya ingin mendekati bahkan melamar. Namun apa daya jika hati tidak cocok? Kabarnya Bu Zahra menolak keduanya dengan alasan belum siap membina rumah tangga. “Iya, Bu? Kenapa?” tanya Fahri. Ia menutup data absensi kelas 12 IPS 6 di atas meja. Nampak sedikit ragu, Bu Zahra mengulurkan sebuah kotak bekal yang dia bawa. Pak Ridwan dan Bu Valen melihatnya dengan bibir terperangah. “Ini tadi Ibu saya nitip lagi. Maaf,” tutur Bu Zahra. Beruntung saat itu ruang guru cukup sepi. Hanya ada mereka berempat sementara yang lain sedang mengajar di kelas. “Ecieeee ... Pak Fahri,” sorak Bu Valen kemudian. “Tapi Bu Zahra, kok Cuma Pak Fahri doang sih? Saya juga mau kali Bu,” sindirnya menggoda. Bu Zahra nampak tidak enak hati. Kalau saja bisa ia ingin menyerahkan kotak bekal itu saat tidak ada orang di ruang guru. Namun dilihat dari jadwal, hanya inilah satu-satunya waktu di mana yang ada di ruang guru hanya sedikit. Dari pada nanti pas istirahat dan malah ia disoraki seluruh guru? Mending sekarang bukan? “Oh, saya jadi nggak enak Ibunya Bu Zahra ngasih bekal terus. Tapi, makasih ya Bu. Sampaikan terima kasih saya juga ke Ibu Ratna,” ucap Fahri menerimanya. “Tunggu. Ini bukan pertama kali Pak Fahri nerima bekal dari Bu Zahra?” tanya Bu Valen terkejut. Memang selama ini Zahra memberikan bekal Fahri ketika ruangan sedang sepi. Sering kali saat hanya ada mereka berdua. Atau kadang pula Zahra langsung meletakkannya di atas meja Fahri sambil memberikan note kecil. Akan tetapi tadi saat ia juga akan langsung meletakkannya saja, Bu Zahra malah mendapat panggilan sana-sini. Kelasnya mendapat beberapa masalah yang harus ia tangani. Jadilah ia tidak sempat. Fahri tersenyum tipis, sementara Bu Zahra langsung menunduk malu-malu. “Iya. Nanti saya sampaikan ke Ibu,” jawab Bu Zahra. Setelah itu ia pun kembali ke balik mejanya. “Wah, Pak Fahri. Iri deh dapat bekal gratis. Kapan ya ada orang peka kayak Bu Zahra yang nyiapin makan siang gratis buat saya terus?” ucap Bu Valen. “Ya ngapain disiapkan bekal? Toh sekolah sudah menyediakan makan siang tiap hari. Emang habis makan dua box nasi?” Terdengar gerutuan rendah dari mulut Pak Ridwan. Fahri membuka kotak bekal makan siang dari Bu Zahra. Isinya nasi, rendang, sayur daun pepaya, tahu dan tempe. Aroma lezat pun langsung menggugah selera dan membuat perut meronta ingin diisi. Padahal jam istirahat makan siang masih satu jam lagi. “Bu Valen mau?” tanya Fahri menawarkan. Sebab sejak tadi Bu Valen seperti orang yang akan meneteskan air liurnya. “Ah, itu kan buat Pak Fahri.” Tepat saat mengatakan hal tersebut, perut Bu Valen berbunyi keras. Saking kerasnya, Bu Zahra yang mejanya cukup jauh pun sampai mendengar. Refleks saja Bu Valen menangkup perut dengan dua tangan. Ia dari pagi memang belum sarapan karena kesiangan. Dan sebab dia berangkat buru-buru, Bu Valen juga lupa membawa dompet sehingga ia menahan diri untuk pergi ke kantin. Gengsi rasanya jika ia harus hutang. Lagi pula Bu Valen juga tipe orang yang tidak suka berhutang meski hanya seribu rupiah. Sejak kecil hal itu sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya hingga ia berumur dewasa seperti sekarang. “Hehe ... maaf itu tadi—“ Krucuk krucuk ... Lagi. Perut Bu Valen berbunyi saking laparnya. Ia mengutuk pada bau rendang dari bekal makanan yang dipegang oleh Pak Fahri. “Udah nggak apa, makan saja dulu Bu. Dari pada kena maagh,” ucap Fahri. Menyodorkan bekal makanan di tangan. Bu Valen sempat menoleh sungkan ke arah Bu Zahra, namun Bu Zahra mengangguk kecil sambil tersenyum. Sepertinya tidak masalah jika ia yang memakan bekal tersebut bukan Fahri. “Sudah makan saja nggak usah malu-malu,” Pak Ridwan ikut menimpali. Ia bahkan mengambil air minumnya yang masih utuh dan langung menyodorkannya ke Bu Valen. “Minum dulu sebelum makan.” Fahri menahan senyum melihat dua orang tersebut saling tersipu. Padahal biasanya saling sindir. Ternyata jika sudah begini Pak Ridwan bisa perhatian juga meski wajahnya dibuat sedatar mungkin. Akhirnya Bu Valen menerima bekal dari Fahri. Perutnya berbunyi sekali lagi dan membuat wajah Bu Valen makin merona. “Saya makan duluan ya Pak, Bu,” ucap Bu Valen. “Iya Bu, silakan,” jawab Fahri. Zahra dan Pak Ridwan menjawab dengan anggukan. Namun Fahri tidak tahu ketika diam-diam Bu Zahra menyentuh dadanya yang berdebar lembut. Padahal kebaikan tersebut sangatlah kecil. Tapi entah bagaimana mampu menyentuh hati Zahra. Apakah karena Fahri? *** Fahri meninggalkan ruang guru setelah membereskan meja. Bel pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu, namun para guru baru mulai pulang sekarang. Bersama dengan Pak Agus dan Pak Ridwan, Fahri berjalan menuju tempat parkir. “Ada apa itu? Kok ramai sekali para Ibu guru?” Pak Ridwan berkata karena melihat ibu-ibu guru berkerumun. “Ngadain arisan kali,” jawab Pak Agus. “Masa arisan di tempat parkir.” “Ya kali aja Pak. Kayak nggak tahu wanita saja. Ruwet.” Ketiganya tertawa kecil. Saat lebih dekat baru barulah Pak Agus bertanya langsung. “Ada apa ini Bu Ibu?” Serempak, mereka menoleh ke arah Pak Agus. “Oh, ini Pak. Mau pulang malah ban motornya Bu Zahra bocor,” adu salah seorang guru. “Kok bisa?” Pak Agus maju dan mengecek. Ternyata benar, ban tersebut sudah kempis sekali. “Pak Agus tau tambal ban dekat sini nggak?” Bu Sari bertanya. “Kayaknya kalau dekat-dekat sini nggak ada Bu. Paling dekat ya jarak setengah kilometer dari sekolah. Itu lho yang di perempatan lalu lintas. Tapi nggak tau ya. Pak Ridwan tau?” “Setau saya juga di lokasi itu Pak yang paling dekat,” jawab Pak Ridwan. “Setengah kilometer sambil dorong sepeda motor jauh kali Pak,” celetuk Bu Valen. “Udah ditinggal saja dulu Bu sepeda motornya. Bareng sama saya naik angkot.” “Sebenarnya nggak masalah Bu, tapi sepeda motor ini satu-satunya kendaraan di rumah saya. Kalau saya tinggal nanti Ibu saya kalau mau pergi keluar repot. Kasihan. Ibu saya juga mabuk kalau disuruh naik-naik bis,” jawab Bu Zahra. “Sudahlah. Nggak apa saya dorong motor ke sana. Terima kasih semuanya sudah mengkhawatirkan saya,” lanjut Bu Zahra. “Yah jauh Bu.” “Capek nanti Bu. Setengah kilometer itu jauh lho. Mana motor kan berat.” Dan masih banyak gumaman-gumaman kecemasan yang lain. Tapi mau bagaimana lagi? Jika tidak begini, Bu Zahra tidak akan bisa pulang. “Aduh temenin atuh Pak. Kasihan itu perempuan loh harus jalan kaki sendiri. Kalau ada begal gimana?” Bu Valen berkata pada Pak Agus. Belum sempat Pak Agus menjawab, ponselnya berbunyi. Istrinya menelepon dan menyuruhnya untuk segera pulang. Ayah mertuanya sedang berkunjung dan akan segera pulang. “Maaf, Bu. Saya tidak bisa ada urusan mendadak. Sama Pak Ridwan atau Pak Fahri saja. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam,” jawab semua orang serempak. Setelah Pak Agus pergi, satu per satu para guru di sana pun pergi. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki janji, sebagian pergi ke sekolah naik bis atau angkot jadi mustahil menemani dan sebagian lagi harus menjemput anak-anak mereka dari tempat les. Jadilah tidak ada yang mengantar. Pak Ridwan saja juga harus segera ke TK di mana keponakannya di titipkan tiap hari. Maklum saja, ibu dari sang keponakan sudah meninggal dunia. “Sepertinya ini sudah takdir kamu, Pak Fahri. Kali saja Allah sedang merencanakan sesuatu di balik ini semua,” ucap Pak Ridwan sambil tersenyum penuh arti. Fahri tidak mengatakan apapun. Mungkin enteng bagi Pak Ridwan berkata seperti itu. Beliau hanya belum merasakan saja bagaimana sakitnya kehilangan separuh jiwa. “Kalau gitu, saya duluan ya, Pak. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam.” Kini tinggallah Fahri seorang diri di tempat parkir. Ia menatap ke arah gerbang sekolah yang sudah sepi. Di sana ia bisa melihat Bu Zahra menuntun sepeda motornya seorang diri di jalan raya. Fahri menghela napas. Timbul rasa tak tega dalam diri. Cepat-cepat ia menaiki sepeda motornya dan langsung menyusul Bu Zahra. Saat sampai, ia langsung mematikan mesin dan berkata, “Sudah Bu, biar saya yang dorong motornya. Bu Zahra naik sepeda motor saya saja terus tunggu saya di tambal ban sana.” “Tapi Pak—“ “Sudah nggak apa-apa, Bu. Kasihan Ibu kan perempuan. Biar saya saja.” Fahri turun dari sepeda motor, kemudian ia mengambil alih kendaraan milik Bu Zahra. “Beneran nggak apa-apa Pak? Cukup jauh loh. Saya jadi nggak enak ngerepotin.” “Biasa aja, Bu,” jawab Fahri. Ia pun mulai mendorong sepeda motor Bu Zahra sementara Bu Zahra sendiri—meski masih dengan perasaan tidak enak—pergi lebih dulu ke bengkel tambal ban dan menunggu Fahri di sana. Beberapa menit kemudian, Fahri sampai juga di tukang tambal ban. Napasnya sedikit terengah sementara keringat membasahi kemeja kerjanya. “Sekali lagi maaf Pak sudah merepotkan,” Bu Zahra meminta maaf sekali lagi. Ia menyapu pandangan ke sekitar kemudian saat menemukan sebuah lemari pendingin ia pergi ke sana. Membeli satu botol air dingin untuk Fahri. “Terima kasih, Bu,” kata Fahri, menerima air mineral tersebut dari Bu Zahra. “Harusnya saya yang berterima kasih,” sahut Bu Zahra. Ia mengambil tempat duduk jarak satu meter dari Fahri. Diam-diam, wanita berhijab tersebut melirik malu-malu pada Fahri yang sedang meminum air mineralnya. “Sama-sama,” jawab Fahri kemudian. Keduanya pun mengobrol. Bu Zahra mengatakan jika Fahri sudah bisa meninggalkannya sendiri tapi Fahri menolak. Menurut Fahri ia harus memastikan dulu semua baik dan aman untuk perempuan tersebut sebab gurr-guru tadi memberikan amanat untuk mengantar Bu Zahra. Bukankah menjaga amanat merupakan salah satu hal yang paling ditekankan Rosul untuk dijaga? Barulah setengah jam kemudian ban sepeda motor Bu Zahra selesai diganti. Bu Zahra pun pamit pada Fahri untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. "Biar saya antar sampai rumah, Bu," kata Fahri. "Nggak usah, Pak. Lagian ini udah nggak apa-apa." "Justru itu, takutnya bannya bocor lagi di jalan kan siapa yang tahu." Argumen Fahri tidak dibantah oleh Bu Zahra. Wanita tersebut pun akhirnya mengiyakan kemudian memakai helm-nya. Ada rasa senang berbunga-bunga ketika tahu Fahri berkendara di belakangnya dengan tujuan menjaga. "Mau mampir dulu, Pak?" tawar Bu Zahra sesampainya di rumah. Fahri melirik jam tangannya kemudian menggeleng. Tepat saat itu Bu Ratna keluar dari rumah untuk menyambut putri semata wayangnya. "Lho, ada Nak Fahri juga. Mau mampir?" tanya Bu Ratna, terlihat sangat senang akan kedatangan Fahri. Sempat ia melirik Zahra dengan tatapan menggoda penuh arti. Bu Zahra yang tidak ingin perasaannya terbaca dengan jelas karena malu, segera berkata pada ibunya. "Ini tadi Pak Fahri ngantar Zahra, Bu. Soalnya sempat bocor ban sepeda motornya." Bu Ratna mengangguk-angguk, tapi tak lantas alasan Zahra mampu mengilangkan senyum di wajah keriputnya. "Ayo mampir Nak Fahri. Mumpung saya baru selesai masak. Masih hangat lho!" tawar beliau. "Sebagai rasa terima kasih juga sudah ngantar anak saya selamat sampai rumah." "Terima kasih untuk tawarannya, Bu. Tapi Ibu saya juga pasti sudah masak. Saya belum ijin mau makan di luar. Kasihan beliau kalau makanannya tidak termakan." Alasan Fahri membuat Bu Ratna tersentuh. Sampai-sampai ia menyentuh dadanya haru. "Emang calon mantu idaman ya. Menghargai perempuan," ucap Bu Ratna yang membuat wajah Zahra semakin merona. "Ibu!" tegurnya. "Kalau gitu, saya pamit dulu Bu Ratna, Bu Zahra. Keburu adzan maghrib nanti di jalan," pamit Fahri. "Iya, iya. Eh tunggu, tunggu Nak!" Bu Ratna mencegah Fahri. Ia masuk ke dalam setengah berlari dan tergesa. Fahri yang bingung menatap Zahra, yang dibalas dengan indikan bahu dari wanita tersebut. "Tunggu saja bentar, Pak," ujar Zahra. Hanya sekitar lima menit kemudian, Bu Ratna keluar dari rumah. Sambil membawa sebuah rantang berisi makanan. "Kalau nggak mau makan di sini, makan ini di rumah. Pokoknya tetap saya harus berterima kasih sama kamu karena sudah mengantarkan anak saya pulang." Fahri menerima dengan sungkan. Padahal ia melakukannya dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan. "Terima kasih, Bu." "Sama-sama." "Saya permisi pulang dulu." "Iya. Hati-hati di jalan, Nak!" "Hati-hati di jalan, Pak!" sahut Zahra juga. Mengangguk, Fahri pun melajukan sepeda motornya ke jalan raya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN