KH - Balasan Kebaikan

1654 Kata
"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". QS. Al-Baqarah: 195 *** Allahu Akbar Allahu Akbar Adzan Maghrib berkumandang tepat ketika sepeda motor Fahri masuk ke dalam halaman rumah. Pria yang sekarang berprofesi sebagai guru tersebut mematikan mesin agar kumandang adzan tidak terganggu dengan suaranya yang sedikit bising. Ia pun menuntun kendaraan roda duanya masuk ke dalam garasi. “Assalamu’alaikum.” Fahri mengucap salam. “Wa’alaikum salam,” jawab Ainun. Wanita yang hampir berusia lima puluh tahun tersebut sudah siap dengan mukena putih. “Tumben baru pulang, Nak?” “Iya, Bu. Tadi Fahri antar teman dulu,” jawab Fahri singkat. “Oh iya, ini juga dari ibunya teman Fahri.” Fahri menyodorkan sebuah rantang berisi makanan pada Ainun. Aiunun menerimanya kemudian berkata, “Kamu mau makan dulu? Kalau iya, Ibu siapkan sekarang.” “Nanti saja, Bu. Fahri mau mandi lalu sholat maghrib. Habis sholat, baru makan.” Ainun mengangguk. Ia menuju dapur dan meletakkan rantang tersebut di atas meja. Nanti ia akan mengeluarkan isinya setelha sholat saja, karena Fahri pun makan malam nanti. “Ya sudah, kamu mandi dulu. Ibu pergi ke masjid dulu,” pamit Ainun yang diangguki oleh Fahri. Masuk ke dalam kamarnya yang nyaman, Fahri meletakkan tas kerjanya di meja. Ia melepas kemeja cokelat gurunya dan mengambil sebuah handuk. Sepuluh menit kemudian, Fahri sudah selesai mandi. Ia mengambil kaus bersih yang nyaman di pakai. Tak lupa mengeringkan rambut dengan cara mengacaknya dengan handuk. Rambut hitam pun Fahri jadi berantakan. Barulah setelah itu ia melapisi kausnya dengan baju koko berwarna putih, memakai sarung lantas menyisir rambut dan menggunakan peci. Meraih sajadah yang terlipat rapi di atas kursi, Fahri siap berangkat ke masjid. Sholat berjama’ah di waktu maghrib memang berbeda dengan waktu-waktu sholat yang lain. Fahri tidak tahu mengapa tapi masjid sangat ramai jika sholat di waktu tersebut. Sangat berbeda ketika subuh, dhuhur, ashar maupun isya’. Tapi mungkin saja saat subuh mereka terlambat bangun, dhuhur dan ashar bekerja mencari ma’isyah, dan isya mereka lebih merasa aman dan nyaman sholat di rumah masing-masing. Apapun itu sama saja menurut Fahri. Yang penting mereka tidak meninggalkan sholat lima waktu. Akan tetapi ia sendiri dan Ainun lebih senang jika mengerjakannya di masjid. “Asslamu’alaikum, Nak Fahri.” “Wa’alaikum salam.” Fahri menoleh dan mendapati Pak Yahya, seorang takmir sekaligus imam masjid menghampiri. Rambutnya sudah setengah beruban, tanda jika beliau sudah separuh menjalani hidup di dunia. “Sejak dari kemarin saya ingin bicara sama Nak Fahri. Tapi, belum kesampaian terus,” ujar Pak Yahya. “Memangnya ada apa Pak?” “Ini. Kan dulu Nak Fahri sering bantu ngajar di TPQ sini. Nah, bisa nggak Nak Fahri bantu ngajar lagi?” Fahri memang sudah lama berhenti sejak kepergian Aisyah. Meninggalnya sang istri berimbas pada kehidupan sosialnya yang juga sengaja Fahri menarik diri. “Memang para ustadz-ustadzah mudanya pada ke mana Pak?” tanya Fahri balik. Seingatnya, di sana dulu sudah ada empat guru ngaji. Dua putra dan dua putri. “Nah itu. Yang satu pulang kampung karena menikah, yang satu lagi juga pergi ke kota lain karena saudaranya sakit dan tidak ada yang merawat. Jadi Cuma tinggal dua ustadz saja di sini. Nak Fahri kan tau anak-anak kecil yang mengaji di masjid ini banyak sekali. Jika cuma dua mereka kuwalahan. Saya sudah coba cari guru ngaji tapi belum dapat sampai sekarang,” jelas Pak Yahya. Fahri tidak langsung menjawab, melainkan berpikir sejenak. Dulu ia membantu mengajar ngaji juga karena Aisyah istrinya, bukan karena kesenangan Fahri mengajar. Namun ketika ia teringat sekolah dan profesinya sekarang, sepertinya Fahri memang mulai menikmati menjadi seorang guru. Tidak ada salahnya bukan menjadi guru agama islam di sekolah dan sekaligus guru ngaji di masjid? Toh keduanya sama-sama mendatangkan pahala. “Soal uang saku, Nak Fahri tenang saja. Ada kok meski nggak banyak.” “Oh, nggak Pak. Saya nggak nuntut adanya uang saku. Justru saya ingin melakukannya dengan hati yang ikhlas. Semata-mata mengharap surga dari Allah.” “Alhamdulillah ... kalau begitu besok bisa mulai mengajar? Jam biasa, setengah lima sore sampai menjelang adzan maghrib.” “InshaAllah, Pak. Nanti saya sesuaikan sama jadwal saya,” jawab Fahri. Ainun yang tak sengaja mendengar tersenyum kecil. Ia bersyukur pada Allah dalam hati sebab Fahri mulai membuka diri kembali perlahan-lahan. Meski Ainun juga masih sering sedih dan miris, sebab tiap di sepertiga malam Fahri melakukan tahajjud, ia masih suka menangis tersedu karena mengingat Aisyah. Sesampainya di rumah, Ainun menyiapkan makan malam untuk Fahri. Ia menghangatkan masakannya dan membuka rantang yang tadi dibawa Fahri. Bau harum semur ayam pun menyergap indera penciuman Ainun. “Omong-omong, siapa yang ngasih makanan ini? Semurnya enak sekali.” Ainun bertanya di sela makan. “Teman kerja Fahri, Bu.” “Iya, namanya siapa? Teman kamu kan banyak.” Fahri tersenyum kecil. “Bu Zahra. Ini dari ibunya. Namanya Bu Ratna.” Mendengar nama seorang wanita disebut, membuat sedikt banyak Ainun jadi tertarik. “Oh, namanya Zahra,” gumam Ainun sambil menahan senyum. “Dia cantik?” “Maksud Ibu?” “Ya ... jodoh siapa tau to, Nak,” senyum Ainun penuh arti. Ia memang selalu berdo’a agar Fahri bisa bertemu jodohnya yang lain dan berhenti larut dalam kesedihan. Fahri tidak terlalu memikirkan kalimat Ainun. Lebih asyik menikmati hidangan makan malam dari pada membahas hal tersebut. Ia bukannya jenis pria yang tidak peka sama sekali, di mana orang-orang di sekitar ingin melihatnya dekat dengan perempuan lain. Tapi mau bagaimana jika hati Fahri saja belum siap. Fahri ingin menikmati kesendiriannya dulu. Lagi pula ia baru beberapa bulan ditinggal Aisyah. Rasanya tidak etis jika ia move on begitu cepat. Selesai makan, Fahri membantu Ainun mencuci piring. Kemudian ia pamit ke kamar untuk menyusun jadwalnya kembali. Karena sekarang ia harus pintar membagi waktu agar lebih teratur dalam mengajar di sekolah maupun mengajar ngaji di masjid. *** Keesokan paginya ... Fahri bangun seperti biasa. Sholat subuh di masjid bersama Ainun, kemudian pulang membaca beberapa ayat AlQur’an. Barulah setelah itu Fahri mandi dan berganti pakaian, mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja. “Abang berangkat dulu, dek,” pamit Fahri pada sebuah foto mendiang istri. Ia mengecupnya singkat kemudian tersenyum. Memang sejak dulu ketika Aisyah masih hidup, Fahri selalu melakukan hal ini sebelum berangkat bekerja. Sekarang karena Aisyah sudah berada di alam yang berbeda, Fahri hanya bisa mencium fotonya saja. “Sarapan dulu Fahri,” kata Ainun tepat saat Fahri keluar dari kamar tidur. “Iya, Bu,” angguk Fahri. Mereka pun menuju meja makan. Lauk yang tersedia masih sama seperti tadi malam. Ainun tinggal menghangatkannya saja karena sisa. Sayang kalau dibuang. Mubadzir. Selesai makan, Fahri memakai sepatu. Ia baru saja menstater sepeda motornya ketika teriakan Ainun terdengar. Fahri menoleh dan melihat ibunya lari tergopoh-gopoh sembari membawa rantang di tangan. “Ini. Kasih ini buat Bu Zahra - Bu Zahra itu.” Ainun menyodorkan rantang milik Zahra kemarin yang dibawa oleh Fahri. “Tadi sudah Ibu masakin sama menu lain. Semoga Bu Zahranya suka,” lanjut Ainun dengan wajah berseri. Menatap rantang yang diberikan Ainun, dahi Fahri mengernyit kecil. Belum sempat ia berkata Ainun sudah menambahkan. “Sudah bawa saja. Jangan lupa bilang terima kasih buat makanannya kemarin. Kan nggak baik kalau kamu mengembalikan wadahnya saja,” kekeh Ainun geli. “Oke,” angguk Fahri. Ia pun menyalami tangan sang ibu. “Fahri berangkat dulu. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam. Hati-hati, Nak! Jangan lupa juga kapan-kapan Bu Zahranya suruh mampir ke rumah!” teriak Ainun. Sementara Fahri hanya mengiyakan sambil lalu. *** “Bu Zahra. Ini dari Ibu. Terima kasih buat makanannya kemarin. Katanya masakan Bu Ratna enak!” Fahri menyerahkan rantang yang ia bawa langsung ke meja Bu Zahra. Sontak saja hal itu membuat seluruh kepala di ruang guru menoleh. Kemudian serempak saling berdehem dan menyoraki. “Aduuuuh ... kayaknya kita ketinggalan berita besar.” “Sudah sampai tahap mana nih Pak, Bu?” “Kayaknya kita perlu pesan kain lagi deh buat kondangan.” “Semoga cepat dihalalkan ya ...” Dan masih banyak sorakan-sorakan lain yang membuat wajah Bu Zahra memerah karena malu. Fahri sendiri hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ia baru sadar jika hal begini saja bisa menjadi bahan gosip. “Terima kasih, Pak,” jawab Bu Zahra sambil menahan senyum di bibir. “Cieeee ....” Kini serempak hanya kata tersebutlah yang keluar dari mulut para guru. Semakin menyebabkan Bu Zahra menunduk sebab pipinya memanas. Fahri tersenyum tipis lalu kembali ke mejanya. Beruntung setelah itu bel tanda masuk berbunyi. Karena jika tidak Fahri yakin akan banyak pertanyaan-pertanyaan aneh padanya tentang Bu Zahra. Padahal kan dia tidak ada hubungan lebih jauh dari pada rekan kerja saja. Sama seperti yang lain. “Saya jadi sedih Pak Fahri sama Bu Zahra.” Tiba-tiba Bu Valen berkata. Ia mengusap sudut matanya seolah-olah ingin menangis. “Padahal kan saya yang lebih dulu memperkenalkan diri sama Pak Fahri dan berkata kalau saya jomblo.” Belum juga Fahri mengatakan apapun, Pak Ridwan sudah menyahut. “Makanya, nggak usah gengsi lama-lama. Yang di depan mata dan terlihat gagah gini aja dianggurin terus. Peka dong Bu, pekaaa.” “Di nalar saja deh Pak, mana ada ya cewek yang mau kalau cowoknya nggak romantis? Helloww ... Jaman sekarang yang utama dan dicari para perempuan di seluruh dunia adalah yang pertama keromantisan, kedua kesetiaan dan yang ketiga baru materi dan lain sebagainya.” “Kurang romantis apa sih saya. Setiap pagi saya mampir ke rumah Bu Valen buat jemput, eh Bu Valennya malah lebih milih naik angkot. Apa perlu saya jadi tukang angkot sekalian?” “Ishh ... saya mah pantang diboncengin sama bekas tempat duduk ceweknya orang.” “Lah, angkot kan sama. Bu Valen ngeduduki bekasnya orang-orang.” Perdebatan itu terus berlangsung yang membuat Fahri geleng-geleng kepala. Nampaknya kesalah pahaman di antara mereka masih terus berlanjut. Entahlah, Fahri tidak mau ikut campur. Itu urusan mereka berdua jadi biar saja mereka berdua yang selesaikan. “Permisi, saya duluan mau mengajar dulu,” pamit Fahri, mengambil beberapa buku dari atas meja dan kemudian meninggalkan ruang guru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN