KH - Pasar

1033 Kata
Hari minggu merupakan hari di mana Fahri terbebas dari rutinitasnya dalam bekerja. Baik sebagai guru sekolah maupun guru ngaji di masjid yang sudah beberapa hari ini ia lakukan. Pagi ini ia mengantar Ainun ke pasar. Fahri baru pulang jogging ketika melihat Ainun keluar dari rumah sambil membawa keranjang wadah belanjaan. "Mau ke mana, Bu?" "Pasar lah. Ke mana lagi? Sayur sama lain-lainnya sudah habis di kulkas. Kan sudah seminggu." "Naik apa?" "Angkot," jawab Ainun singkat. "Biar Fahri antar aja kalau gitu," tawar Fahri kemudian. Ia segera masuk ke dalam rumah, mengambil kunci motor dalam kamar kemudian bergegas menuju garasi. "Tapi Fahri bau keringat nih, Bu. Nggak apa?" tanya Fahri menggoda Ainun. Ah~ rasanya sudah sejak sangat lama sekali Fahri bercanda seperti ini dengan ibundanya. Akibat terlalu terpuruk ditinggal sang istri. Ainun tertawa kecil kemudian menepuk bahu Fahri. "Lah, parah mana sama Ibu yang bau jengkol sama pete?" Sontak saja Fahri menutup hidung. Pria dengan badan atletis tersebut nyatanya sangat tidak menyukai dua jenis makanan tersebut. Sangat berbeda dengan Ainun yang sangat menyukainya. "Ih Ibu, Fahri ambil masker dulu kalau gitu." Ainun tertawa. Tawanya terdengar keras dan renyah. Membuat hati Fahri tenteram. "Kamu ini. Kenapa sih harus mirip almarhum Bapak kamu banget!" ucapnya. "Ibu bercanda. Ibu mana pernah masak jengkol sama pete lagi. Nggak ada yang makan." "Lah, kan Ibu bisa makan." "Udah mulai dikurangin Nak. Udah mulai asam urat." Fahri tersenyum kecil, kemudian menoleh ke belakang di mana Ainun sudah naik di atas boncengan sepeda motornya. "Pokoknya Ibu harus janji sama Fahri bakal jaga kesehatan. Jangan sakit-sakitan sampai nanti Fahri jadi kakek-kakek." Ainun mengangguk-angguk. Keisengannya kembali lagi untuk menjahili Fahri. "Nikah dulu Fahri. Baru punya anak cucu. Habis punya cucu, baru kamu bisa dipanggil kakek-kakek!" Ainun tertawa. Sementara Fahri tersenyum lurus. Andai saja move on bisa secepat itu ... *** "Kalau haus atau lapar ke warung seberang sana. Ada jual nasi uduk, ayam goreng sama telur." Ainun berkata pada Fahri. Mereka sudah sampai di depan pasar. Ainun menunjuk sebuah warung yang baru buka sekitar dua bulan lalu. "Bawa uang nggak?" tanya Ainun. "Iya," angguk Fahri. "Ya sudah, Ibu tinggal dulu." Ainun pun masuk ke dalam pasar dan Fahri menunggunya di parkiran depan, bersama dengan beberapa pria yang juga sedang duduk di atas motor masing-masing. Nampaknya bukan hanyaa Fahri satu-satunya orang yang mengantar ke pasar. Lima belas menit berlalu, perut Fahri mulai berbunyi. Ia merogoh ponsel dari dalam saku untuk mengecek jam. Ternyata sudah hampir jam sembilan. Dan Fahri memang belum sarapan apapun sejak jogging tadi. Akhirnya, Fahri turun dari sepeda motor. Ia berjalan ke seberang jalan menuju warung yang baru buka. Sebab seingat Fahri dulu ketika ia sering mengantar Aisyah ke pasar, di sini tidak ada warung sama sekali. Fahri memesan nasi uduk dengan lauk ayam suwir dan telur dadar. Teh hangat pun menemani menu sarapan paginya. Ternyata cukup enak masakan di warung tersebut. Dan harganya pun terbilang cukup bersahabat. Selesai sarapan, Fahri kembali lagi ke tempat parkiran motor. Suasana semakin ramai siring tingginya matahari. Namun Fahri belum menemukan tanda-tanda keberadaan Ainun. Itu berarti ibunya belum selesai berbelanja. "Mas, rokoknya Mas. Lagi diskon dua puluh persen!" Seorang pedagang asongan menawarkan dagangannya pada Fahri. "Saya nggak ngerokok Mas," tolak Fahri. "Kalau gitu mau air mineral? Murni lho dari pegunungan." "Nggak. Terima kasih," tolak Fahri dengan sopan. Pergi satu, akan muncul kehadiran pedagang-pedangan lain yang menjajakan dagangannya. Mulai dari snack ringan, jamu, keripik bahkan sampai serbet, lap dan panci. Melihat mereka semua Fahri jadi lebih mensyukuri karena ia bisa bekerja di tempat yang lebih baik. Sedang asik-asiknya mengamati lalu lalang dan aktivitas sekitar pasar, tak sengaja sudut mata Fahri melihat sosok siluet seorang gadis. Awalnya Fahri tidak ingin mempedulikannya, akan tetapi otaknya mengingat dengan cepat. Wajah itu terlihat sangat tidak familiar. Memakai kaus kebesaran dengan bawahan lepis ketat robek-robek di bagian lutut, si gadis nampak asik tertawa terbahak-bahak dengan beberapa pria berpakaian urakan. Rambut mereka di semir warna warni, beberapa lagi dibiarkan gimbal tak terurus. Tahulah Fahri bahwa para pria tersebut merupakan para preman pasar. Tapi kembali ke fokus awal. Gadis itu. Sepertinya Fahri mengenalnya. Fahri berpikir cepat. Dan ingatannya pun berhasil mencapai satu titik. Bukankah itu Dinda Larasati? Mencoba membandingkan dengan wajah gadis yang baru sekitar dua kali ia lihat di sekolah, Fahri benar-benar yakin jika gadis tersebut adalah Dinda. Murid kelasnya. Mata Fahri memicing. Ia tidak ingin mencampuri urusan atau kehidupan siswa jika perlu, bahkan Fahri merasa tidak berhak sebab ini di luar jam dan lingkungan sekolah. Tapi sisi tanggung jawab Fahri sebagai seorang guru muncul dari berbagai sisi. Ada pula rasa tak nyaman melihat murid gadisnya bergaul dengan para preman. Detik berikutnya Fahri hampir-hampir menolak kenyataan bahwa gadis itu adalah Dinda. Karena di sana, Dinda tengah mengisap rokok dengan enteng. Menunjukkan bahwa ia memang perokok kelas wahid. "Dinda." Tanpa sadar Fahri menyebut nama itu. Ternyata nalurinya sebagai guru yang harus mengayomi dan melindungi sangat kuat bercokol di hati Fahri. Turun lagi dari motor, Fahri melangkah menuju seberang jalan di mana sosok Dinda berada. Akan tetapi kira-kira baru lima langkah, Ainun sudah menepuk bahunya dari belakang. "Mau ke mana Fahri? Ibu sudah selesai berbelanja." Fahri menoleh. Melihat wajah lelah ibundanya. Saat ia menunduk, barulah Fahri sadar betapa banyak barang yang dibawa Ainun. Maka cepat-cepat Fahri membantu. "Kalau sebanyak ini Ibu mau belanja, tadi suruh Fahri ikut masuk aja Bu. Kan dari pada angkat-angkat banyak. Berat tau." "Sudah biasa, nak," senyum Ainun. Senang karena putra semata wayangnya sangat memperhatikannya. Fahri menata belanjaan di bagian depan motor. Menata sedemikian rupa agar aman ketika nanti ia berkenda. Sebagian belanjaan masih di tangan Ainun, nanti akan ia letakkan di tengah-tengah antara ia dan Fahri. "Langsung pulang?" tanya Fahri. "Iya. Mau ke mana lagi?" Jeda sejenak. "Eh, nanti kalau sudah pulang dan sarapan terus mandi, mampir ke rumah Bu Nur ya. Jahitan seragam kamu sudah jadi katanya." "Fahri sudah sarapan Bu tadi di situ," tunjuknya pada warung nasi uduk. "Ya sudah. Nanti kalau kamu habis mandi." Fahri menaikkan belanjaan terakhir di tas keranjangan ke tengah kursi, lantas ia naik disusul dengan Ainun membonceng di belakang. Ketika menatap lurus ke depan, Fahri baru ingat lagi dengan Dinda. Iris mata hitam tersebut pun mulai menyapu sekeliling, ke tempat Dinda tadi sempat dilihat. Sayang, gadis itu sudah hilang entah ke mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN