“Dinda Larasati ya Pak? Setau saya sih dari kelas satu memang sudah suka bolos. Berangkat pas absensi pagi doang, terus habis itu dia suka hilang tiba-tiba saat jam istirahat.”
“Suka tidur di kelas dan nggak pernah merhatiin pelajaran. Ini ya Pak, kalau tugas kelompok amit-amit dapet satu tim kayak Dinda. Udah nggak mau berpartisipasi, nggak mau mikir cari bahan, nggak mau presentasi pula. Enak banget tau-tau numpang dapat nilai. Kita yang pusing, dianya ongkang-ongkang kaki doang.”
“Dinda. Entah ya. Saya nggak terlalu kenal dia sih Pak. Soalnya dia jarang sosialisasi dan cuek banget. Kalau dihitung dari kelas sepuluh kayaknya saya pernah ngomong sama dia cuma sekitar ... lima atau enam kali.”
“Nggak ada yang berani negur Pak. Ketua kelas saja pernah ngasih nasehat eh Dindanya malah marah-marah. Ya udah habis itu ketua kelas ngebiarin aja.”
“Dia cantik ya Pak? Cobaaa aja lebih ramah dikit. Pasti deh udah saya jadikan gebetan!”
“Preman dia. Saya pernah ketemu dia di pasar sedang malak pedagang tau Pak. Kasihan banget. Dan Pak Fahri tau habis itu duitnya dipake buat apa? Beli rokok! Saya nggak akan kaget deh kalau sekarang dia ngobat. Pasti deh, saya yakin. Pasti dia pake narkoboy.”
“Sesungguhnya gosip itu adalah dosa, Pak. Tapi karena ini demi kebaikan, baiklah. Setahu saya Dinda itu nggak kenal rasa takut. Pak Fahri tanya aja ke guru-guru lain bagaimana Dinda bersikap pada mereka. Beuh, bikin ngelus d**a deh!”
“Kalau pelajaran suka tidur Pak. Nggak pernah memperhatikan. Atau kalau nggak dia bakal main HP.”
“Dengar-dengar nih Pak, dia itu kabur dari rumah gara-gara ingin tinggal sama cowoknya Pak!”
“Nah! Itu. Dinda itu tipe-tipe cewek yang punya pergaulan bebas. Fix, saya tebak dia pasti sudah nggak gadis lagi. Disentuh sana sini.”
“Lebih dari itu, ada yang pernah lihat Dinda beli tespack di apotek Pak! Apa lagi kalau bukan buat cek dia hamil atau nggak?”
“Dinda itu tipe saya sekali, Pak. Pemberani, nggak punya rasa takut, dan berjiwa bebas. Ah~ andai saja dia mau nanggepin chat dari saya. Omong-omong, Pak Fahri punya tips cara jitu luluhin hati cewek? Kalau iya, bisa dong di share sama saya. Kasihan ini sudah delapan belas tahun tapi masa masih menjomblo.”
“Hmmm ... Saya pernah dengar dia aborsi waktu kelas sebelas dulu. Dia sampai bolos tiga hari dan hampir nggak naik kelas. Tapi gimana ya Pak, kan peraturanya sekarang semua siswa harus naik? Pasti para guru nih tekanan batin juga. Ya kan Pak Fahri?”
Fahri hanya bisa melongo dan tidak bisa mengucapkan kalimat apapun selama ia mendengar penuturan dari murid-murid kelas 12 IPS 6 tentang Dinda Larasati.
Memang. Hari ini adalah hari untuk konseling dengan wali kelas. Dan disela konseling tersebut, Fahri memberikan satu sela pertanyaan yang sama pada tiap murid.
Apakah mereka mengenal Dinda Larasati dengan baik? Jika iya, sejauh apa?
Sama sekali Fahri tidak pernah menyangka jika jawaban mereka begitu beragam. Bahkan jawaban dari beberapa siswa malah nyeleneh alias aneh-aneh.
“Aborsi?” tanya Fahri pada salah satu murid perempuan yang sekarang duduk di seberang mejanya.
Sesi konseling diadakan di sebuah ruang khusus, dengan cara memanggil satu per satu siswa selama sekitar sepuluh hingga lima belas menit per siswa. Di dalam ruang, seorang wali kelas akan mencoba untuk berperan sebagai seorang teman atau pendengar yang baik. Bertanya dengan hati-hati kemudian membiarkan para murid mengeluarkan uneg-unegnya.
Pokoknya apapun yang ingin mereka ceritakan. Fahri akan mendengarkan. Dan jika bisa, ia akan memberikan sedikit nasihat yang membangun. Atau motivasi jika perlu.
Kinara—nama siswi tersebut—mengindikkan bahu. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan agar bisa berbisik.
“Bukan rahasia umum lagi kali Pak, kalau Dinda itu buka jasa plus plus.”
“Hah?”
“Pak Fahri nggak tahu apa itu jasa plus plus?” tanya Kinara.
Dengan polos, Fahri pun menggeleng.
Kinara menepuk jidat, lantas menatap Fahri dengan gemas. “Pak Fahri itu hidup di era tahun berapa sih sampai nggak tau jasa plus plus? Itu lhoo ... yang macam cewek-cewek panggilan yang asal lo mau bayar, gue layanin lo sampai puas.”
“Astaghfirullahal ‘adzim. Yang benar kamu. Kalau ini cuma gosip, jatuhnya fitnah lho.”
Kinara meringis, kemudian menjawab dengan tampang tak berdosa. “Hehehe ... ya kan saya Cuma menyampaikan yang saya tahu. Dari yang saya dengar dari mulut ke mulut.”
Fahri mengangguk-angguk. Kemudian menulis beberapa catatan kalimat di sebuah note.
“Ya sudah. Masih ada lagi yang mau kamu curhatin selain mantan kamu tadi?”
“Hmmm kayaknya udah nggak ada,” jawab Kinara singkat. Ia lantas merogoh saku dan mengeluarkan sebuah cokelat dari sana. “Ini ... buat Pak Fahri.”
Salah satu alis Fahri terangkat naik. Menatap heran pada Kinara yang sekarang tertunduk malu-malu. Berbeda dengan sepuluh menit yang lalu ketika ia sibuk bercerita tentang dirinya dan mantan pacar yang ia anggap sedang nge-ghosting dirinya di media sosial.
“Buat saya?”
Kinara mengangguk cepat. “Ini cokelat dari Swiss, Pak. Cobain deh. Enak banget pokoknya.”
“Terima kasih,” kata Fahri sambil melempar senyum tipis.
Kinara pun membeku sejenak dan lupa bagaimana cara bernapas. Namun saat Fahri mengetuk meja beberapa kali, Kinara pun akhirnya bisa menguasai diri.
“Pak Fahri. Pak Fahri sudah punya cewek?”
Pertanyaan Kinara membuat dua sudut Fahri terangkat naik. Bukan Kinara saja yang bertanya tentang hal ini, melainkan siswi-siswi yang sebelumnya masuk juga menanyakan hal yang sama. Fahri jadi geli sendiri mendengar pertanyaan tersebut dari para anak didiknya.
“Saya rasa ini sudah melebihi waktu. Sekarang waktunya murid dengan absen selanjutnya masuk ke sini. Sudah ya. Kita lanjut lagi di sesi konseling minggu depan.” Fahri berkata tanpa repot-repot menjawab pertanyaan Kinara. Hal yang sama juga sudah ia lakukan sebelumnya tadi.
Dan sesuai dugaan, bibir Kinara jadi cemberut. Namun itu hanya bertahan beberapa detik sebab selanjutnya ia sudah tersenyum lagi dan pamit meninggalkan ruang.
***
Dinda nggak masuk lagi.
Fahri terus mengulang kata tersebut sekembalinya dia ke ruang guru. Bel istirahat sudah berbunyi dan para guru sudah mulai berkumpul di meja untuk makan siang.
“Pak Fahri. Sini!” seru Pak Ridwan sambil melambaikan tangan.
Menyentakkan kepala ke depan, Fahri langsung mengangguk. Diletakkannya buku catatan tentang keluhan siswanya di meja kemudian ia menyusul teman-temannya.
“Habis konseling ya?” tanya Pak Ridwan.
“Kok tau?” tanya Pak Ridwan balik.
“Habis mukanya kayak lagi mikir beban negara. Biasa itu mah. Pasti pusing habis mendengarkan curhatan random para remaja. Saya juga gitu. Lebih-lebih lagi akhir-akhir ini yang saya dengar dari ramaja siswinya adalah tentang Pak Fahri. Saya sampai mengurangi sesi yang ada.”
“Tentang saya Pak?” Fahri berkata tak percaya. Apakah ia telah melakukan sebuah kesalahan yang tidak ia tahu sehingga menimbulkan keluhan para siswa?
“Tenang saja. Bukan dalam arti buruk kok. Yang ada mereka malah tanya Pak Fahri sudah punya pacar belum? Saya kan jadi bingung jawabnya gimana.”
Para guru yang sedikit mendengar percakapan pun tau-tau ikut menimpali. Bahkan Bu Valen juga menyuarakan sesi konselingnya beberapa hari lalu.
“Kok samaan ya. Murid-murid kelas saya juga tanyanya juga gitu ke saya. Ya saya jawab saja Pak Fahri itu pria sholeh, baik-baik dan nggak kenal pacaran.”
Pak Agus lantas tertawa keras. “Lho, kalian ini belum tau to pesona Pak Fahri? Musholla sekolah yang biasanya sepi saja sejak kedatangan Pak Fahri, sekarang tiap sholat dzuhur sama ashar ramai sekali. Terutama para siswi. Hampir memenuhi shof belakang. Tiap Pak Fahri masuk ke musholla, bukannya dzikir malah ngegosip betapa idamannya laki-laki seperti Pak Fahri.”
“Waduh, baru seminggu sudah jadi role mode aja Pak Fahri. Kereeeennn!” sahut Pak Dana.
“Pantas saja apa aplikasi ingsta-ingsta sekolah kita sekarang penuh sama potonya Pak Fahri.” Bu Sari tersenyum geli. “Kayaknya siswa club jurnalis suka ambil foto Pak Fahri dari jauh. Udah mirip paparazzi saja.”
Dalam sekejab, meja makan guru tersebut sudah dipenuhi pembicaraan mengenai Fahri. Mereka seolah tidak melihat ada Fahri di sana. Terus menggosip yang bahkan Fahri sendiri sampai malu mendengarnya karena terus dipuji. Padahal ia merasa ia tidak setampan apalagi sesholeh itu. masih ingat betapa tidak ikhlasnya dia kehilangan Aisyah dulu?
Fahri makan dengan cepat. Kemudian meninggalkan meja diam-diam. Rasanya terlalu berlebihan jika ia terus mendengar cerita baik tentang dirinya di setiap mulut para guru.
Melirik jam tangan sekilas, masih ada sisa waktu sekitar setengah jam sebelum bel masuk berbunyi. Sebelum Fahri ke musholla untuk mengerjakan sholat dhuhur, ia ingin mampir sebentar ke ruang Pak Faisal.
Tok tok tok!
“Masuk!” seru Pak Faisal dari dalam.
Fahri membuka pintu perlahan, mendapati ayah mertuanya sedang makan sendiri di meja kerja.
“Sudah dulu kerjanya, Yah. Nanti dilanjut lagi setelah makan,” tegur Fahri lembut sambil tersenyum kecil. Ia mengambil tempat duduk di depan Faisal.
“Hahaha. Masih banyak yang harus saya cek dan perbaiki.”
“Iya, Fahri tahu. Tapi alangkah baiknya kalau Ayah mau istirahat sebentar saja. Makan di sofa, kertasnya diletakkan dulu, kasih kesempatan buat otak untuk istirahat. Ayah harus jaga kesehatan kan?”
“Kamu ini sudah seperti Aisyah saja nasihatnya,” sahut Faisal. Namun ia menuruti kata Fahri. Meletakkan kertas di tangan untuk mengistirahatkan otak barang sejenak.
“Tumben ke sini? Nasi kotak masih kurang? Ini makan sama saya.”
“Bukan itu, Yah,” ujar Fahri. Iris matanya menatap pigura di atas meja, di mana ada foto Aisyah, Aisyah bersama ayahnya, bahkan foto bertiga Aisyah, Faisal dan dirinya. Fahri memang sosok yang sangat penyayang pada keluarga.
“Saya juga kangen sama Aisyah.” Faisal berkata memecah keheningan.
Fahri tersenyum miris. Ia juga sangat merindukan istrinya sehingga hampir di setiap tahajjud dan sholat lima waktu nama Aisyah selalu ia sebut. Fahri bahkan meminta pada Allah agar sekali saja menghadirkan sosok Aisyah berbicara di mimpinya.
“Tapi kamu ke sini Cuma mau lihatin foto anak saya?” senyum Faisal menggoda kemudian.
“Bukan, Ayah. Ada beberapa hal yang mau Fahri tanya.”
Penasaran, Faisal bertanya. “Apa?”
Fahri ingat pertama kali ia bertemu dengan Dinda adalah di depan lorong ruang guru. Saat itu Dinda baru keluar dari ruang kepala sekolah. Jadi Fahri pikir Faisal pastilah juga mengenal Dinda. Ia ingin tahu pendapat Faisal tentang gadis itu.
“Ayah kenal Dinda? Dinda Larasati dari kelas 12 IPS 6.”
Dahi Faisal mengernyit, nampak berpikir untuk mengingat-ingat nama siswi tersebut.
“Dinda Larasati ya? Cewek yang paling bermasalah di kelas kamu?”
“Iya. Ayah tau?”
Faisal mengangguk kecil. “Kenapa? Dia berbuat kesalahan yang fatal?”
Fahri menggeleng. “Tidak. Hanya saja Fahri ingin tahu pendapat Ayah tentang Dinda.” Jeda sejenak. “Ayah selesaikan makan siangnya dulu saja. Fahri bisa nunggu.”
Faisal tersenyum kemudian ia melanjutkan makan siangnya.
Selang beberapa menit, Fahri dan Faisal sudah berpindah tempat. Mereka duduk di sofa dengan secangkir teh hangat yang dibawakan oleh OB sekolah.
“Dinda itu siswi paling bandel yang pernah saya punya sepanjang berdirinya sekolah ini. Dia rajin membolos, jarang mau mengerjakan PR, bahkan sama sekali tidak mau mendengarkan apa kata para guru. Selama ini banyak guru yang mengeluh agar Dinda tidak dinaikkan kelas saja. Atau diberikan SP supaya dia mau berubah.”
Faisal mulai bercerita. Wajahnya yang sudah nampak sedikit keriput di beberapa bagian nampak tetap teduh meski sedang menceritakan seorang siswi yang bermasalah.
“Sering sekali saya memanggil Dinda ke sini. Menegurnya dengan lembut maupun tegas. Tapi Nak, kita memang tidak bisa menilai seseorang dari covernya.”
Faisal menatap Fahri. Kali ini lebih serius.
“Dinda mungkin orang yang sangat bermasalah. Namun kita sebagai guru bukankah sudah seharusnya melindungi? Ada banyak cerita yang tidak bisa keluar dari mulut remaja seperti Dinda atau remaja-remaja lain dengan mudah. Ada banyak cerita yang mereka simpan dibalik sikap angkuh, tawa dan wajah-wajah bahagia yang setiap hari kamu temui.
“Permasalahan remaja terkadang lebih kompleks. Takut menceritakan kepada orang lain karena memikirkan penilaian mereka, memilih untuk menarik diri dari kehidupan normal akibat dari kerasnya hidup yang dijalani. Kita nggak pernah tahu.
“Dan saya melihat sosok Dinda, meski ia nampak dingin dan acuh di luar, ia memiliki sisi rapuh dalam hati. Seolah jika saya menyentilnya sedikit saja, sekali lagi, sama seperti yang dilakukan teman-temannya dan guru-guru, dia akan hancur. Tidak ada kekuatan lagi dan tidak ada kepercayaan diri lagi. Dinda sering ke sini hanya untuk menemani saya membaca buku. Saya juga sering bertukar pikiran dengan dia. Percayalah, Fahri. Dia adalah siswi yang mengejutkan.”
“Maksudnya?”
“Kamu akan tahu jika kamu mulai mencoba membaca hati para murid. Lebih dekatlah ke mereka dan lakukan tugasmu sebagai guru. Yang tersesat, arahkan. Yang berbelok luruskan. Yang patah, tumbuhkan. Jadilah guru yang benar-benar punya nilai sebagai seorang guru. Jangan cuma title saja yang tersemat sebagai profesi.”
Fahri mengangguk-angguk. Meresapi setiap kalimat Faisal dalam hati.
Tepat saat itu bel tanda masuk sudah berbunyi. Fahri melirik jam tangan dan waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Dan ia ingat belum sholat dhuhur.
“Terima kasih wejangannya Ayah. Fahri mau sholat dulu. Belum sholat tadi.”
“Iya. Iya,” ujar Faisal. Ia berdiri menepuk pundak menantunya untuk mempersilakan.
Saat itu mungkin Fahri belum begitu paham soal penilainnya tentang Dinda, tapi Faisal tahu jika suatu hari Fahri akan mengerti maksudnya.
Di sisi lain, Fahri yang sedang menuju musholla juga memikirkan pembicaraan singkatnya mengenai Dinda dengan Faisal. Ia masih belum paham kenapa Faisal mengatakan demikian. Ia berkata Dinda adalah murid yang bandel, namun ia heran kenapa sampai sekarang Faisal tidak juga mengeluarkannya dari sekolah.
Fahri menghela napas. Sudahlah.
Ia pun mengambil air wudhu.