KH - Rumah Dinda Bagian Satu

1912 Kata
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa." (Q. S Al Hujurat ayat 12 ) *** “Dinda tidak masuk lagi?” Fahri bertanya pada murid-murid kelas 12 IPS 6. Menyapu pandangannya ke seluruh isi kelas saat pertama kali dia masuk ke dalam kelas tersebut. “Tidak Pak,” jawab murid-murid serempak. “Baru bolos pelajaran saya atau sudah bolos sejak tadi pagi?” “Sejak tadi pagi Pak.” Fahri mengangguk-angguk. Ia mengecek absensi kelas dan menemukan jikalau Dinda Larasati sudah tiga hari ini tidak masuk sekolah. Membuat ia menghela napas kecil. Ke mana sebenarnya gadis remaja ini? Terakhir ia melihat Dinda ada di pasar merokok bersama dengan para preman. Membuat ia makin meragukan perkataan Faisal kemarin bahwa Dinda adalah siswi yang sebenarnya mengesankan. Setelah mengabsen para siswa satu per satu, Fahri mulai mengajar seperti biasa. Sesekali dia melirik ke sebuah bangku kosong sudut ruang paling belakang, di mana bangku tersebut dia ketahui milik Dinda. Selama murid-murid mengerjakan tugas yang dia berikan, pikiran Fahri sedikit berkecamuk. Di dalam sana ada yang namanya hati yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai wali kelas. Bukankah jika ada siswa bermasalah dia harus menanganinya sedini mungkin? Terlebih Dinda adalah salah satu dari murid kelasnya. “Apa kalian ada yang tahu di mana rumah Dinda?” Kembali Fahri bertanya pada anak muridnya sebelum jam pelajaran berakhir. Serempak, semuanya menggelengkan kepala. Pengakuan mereka bahwa Dinda sangat tertutup membuat Fahri mengerti bahwa dia tidak akan mendapatkan informasi pribadi tentang Dinda melalui mereka. “Pak, tapi kemarin saya lihat dia di pasar sih. Lagi-lagi sedang malak pedagang.” Sari tiba-tiba menyeletuk, menyita perhatian seluruh kelas. “Eh, dua hari yang lalu pas malam juga saya kayaknya lihat Dinda Pak. Di depan minimarket lagi makan mie cup!” Kali ini murid yang lain memberi kesaksian. “Saat itu saya sudah mau nyamperin sih, tapi nggak jadi. Soalnya cowoknya ada di sana. Kan takut Pak dia sama preman. Kalau saya digebukin ya mampus.” Sementara yang lain berkasak-kusuk, Fahri terdiam.  Dahinya mengernyit kecil karena berpikir. Itu berarti Dinda mungkin sedang tidak ada masalah, melainkan memang ingin membolos saja dengan pacarnya. “Sudah, sudah. Karena waktu sudah habis, saya tutup pelajaran hari ini. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” “Wa’alaikum salam warah matullahi wabarakatuh!” jawab murid serempak. Fahri keluar dari kelas, lantas menuju ruang guru. Setelah ini ia akan menghadap Faisal untuk membicarakan masalah ini. *** Tok tok tok ... “Masuk!” Fahri membuka pintu ruang kepala sekolah. Ia membalas senyuman tipis dari Faisal yang duduk di balik meja kerjanya. “Fahri. Sini duduk.” Faisal mempersilakan menantunya duduk di depannya. “Ada apa?” tanya Faisal membuka pembicaraan. Karena Fahri tak langsung menjawab, Faisal pun bertanya lagi. “Bu Ainun sehat kan di rumah?” Mengangguk, Fahri berkata, “Iya, Yah. Sehat kok.” “Alhamdulillah.” Jeda sejenak. Faisal menatap Fahri dengan seksama, menunggu pria berusia dua puluh lima tahun tersebut berbicara. “Apa boleh saya ijin pulang lebih cepat?” tanya Fahri kemudian. Ia agak sedikit sungkan sebab memang semua guru meski punya jatah mengajar atau tidak akan pulang di jam yang sama. Sore hari saat semua siswa sudah pulang. Kecuali jika mereka memiliki hal mendesak, barulah mereka akan meminta ijin untuk pulang lebih cepat. “Kenapa? Katanya Bu Ainun sehat?” “Iya. Tapi ini bukan masalah Ibu saya, Ayah,” jawab Fahri. “Tapi Dinda. Anak kelas 12 IPS 6 yang sudah tiga hari ini tidak masuk sekolah.” “Dinda absen tiga hari?” ulang Faisal seolah ingin memastikan pemberitahuan dari Fahri. Fahri mengangguk. “Sebagai wali kelas, bukankah Fahri harus mengecek keadaannya. Siapa tahu ada sesuatu yang terjadi dengan anak murid Fahri.” Sebisa mungkin Fahri menahan diri untuk tidak menceritakan perihal Dinda yang merokok, juga kesaksian dari murid-muridnya tadi di kelas. Ia tidak ingin mengatakan apapun sebelum kebenaran jelas terungkap. Faisal sendiri nampak terpekur lama. Dahinya mengernyit tipis seolah sedang memikirkan sesuatu. “Kamu masih ada jadwal mengajar?” tanya Faisal. “Kebetulan sudah tidak ada, Yah,” jawab Fahri. “Ya sudah kalau begitu.” Faisal berdiri, kemudian ia memutari meja. “Kamu sudah tahu alamat rumah Dinda?” “Tadi Fahri sudah lihat di data siswa.” “Itu alamat rumahnya yang lama,” tukas Faisal. Ia menuju ke sebuah almari dan mengambil sebuah buku tulis dari sana. Dibukanya beberapa lembar sampai ia menemukan sebuah halaman bertuliskan sebuah alamat. Setelah menyalinnya di secarik kertas, Faisal menyerahkan catatan tersebut pada Fahri. “Ini alamat rumah Dinda yang baru. Dia yang tulis alamatnya sendiri pas masih duduk di kelas dua.” Fahri mengamati catatan kecil tersebut. Namun ia tidak terlalu fokus pada alamatnya, melainkan pada ayah mertuanya. Seorang Dinda dengan segudang masalah pastilah mengundang perasaan para guru untuk menyelidiki kehidupannya. Dan jelas, Faisal sudah mengetahui latar belakang Dinda. Hanya saja pra tersebut tidak bercerita apapun pada Fahri. Sepertinya Faisal ingin Fahri mengetahuinya sendiri. “Terima kasih, Yah,” ucap Fahri. “Sama-sama,” kata Faisal, menepuk bahu Fahri. “Jika ketemu Dinda, sampaikan salam saya buat dia.” Fahri mengangguk gamang. Bagaimana bisa dia menyampaikan salam kepala sekolah sementara jika dia bertemu Dinda, pasti Fahri akan mengomelinya karena bolos sekolah berhari-hari. Bahkan mengancam untuk memberikan Surat Peringatan jika perlu. “Kalau begitu, Fahri pamit ijin dulu. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam.” *** “Loh, mau ke mana Pak Fahri?” tanya Bu Valen kepo melihat Fahri sudah membereskan meja kerjanya. Padahal ini masih pukul sebelas siang. “Ijin pulang duluan Bu.” “Tumben? Pak Fahri sakit?” kini pertanyaannya berubah menjadi kekhawatiran. Bu Zahra yang juga ada di ruang guru menyentakkan kepala, ikut khawatir mendengarnya. “Mana sakit? Adem kok,” kata Pak Ridwan yang tahu-tahu muncul di sebelah Fahri dan menyentuh dahi pria tersebut. Fahri mundur selangkah kemudian menggeleng kecil. “Saya nggak sakit kok Bu. Ini Cuma masalah salah satu siswa di kelas saya saja.” “Masalah apa?” Bu Valen terus saja penasaran. “Kepo banget sih Bu Valen. Kayak kelas Bu Valen nggak ada masalah saja.” “Loh, Pak Ridwan nggak tahu apa, kelas saya itu kan kelas murid berprestasi. Beda dong sama kelasnya Pak Fahri,” gerutu Bu Valen. Kemudian ia teringat sesuatu. “Oh, saya tahu. Pasti masalah Dinda Larasati ya Pak?” Fahri mengerjabkan mata. Antara terkejut dan kehilangan kata-kata. Sepertinya Dinda dikenal oleh banyak guru maupun murid. Tanpa menjawab, Fahri mengangguk kecil. Ia pun segera pamit meninggalkan ruang guru. Sementara itu, Bu Zahra ingat akan sesuatu. Ia merogoh tasnya dan mengambil sebuah surat undangan untuk Pak Fahri. “Pak Fahri, tunggu!” teriak Bu Zahra. Berlari kecil menyusul Fahri yang sudah hampir mencapai tempat parkir. Menoleh, Fahri mengernyit. “Ada apa, Bu?” Dengan napas tersengal, Bu Zahra menyerahkan surat berwarna ungu yang dia bawa. “Apa ini?” “Surat undangan.” “Dari siapa?” “Pak Fahri baca aja dulu.” Fahri menurut. Ia membuka surat tersebut dan terbelalak melihat nama siapa yang tertera di sana. Gibran Aditya. “Ini ... Ini Gibran yang orangnya gemuk itu? Yang dulu pernah mondok di pesantren Menuju Surga sama saya?” tanya Fahri tak percaya. Bu Zahra mengangguk. “Bang Gibran ini sepupu jauh saya, Pak. Kebetulan sekali waktu dia berkunjung ngasih undangan, dia nggak sengaja lihat foto Bapak di ponsel saya—“ Menyadari jika ucapannya bisa menimbulkan salah paham, Zahra segera meralat. “—maksud saya itu pas saya buka insta sekolah kan banyak foto Pak Fahri. Nah, Bang Gibran lihat potonya Pak Fahri di sana. Dia bilang Pak Fahri temannya di pesantren dulu. Makanya dia sekalian nitip undangan ini ke saya. Katanya juga minta maaf karena nggak bisa ngasih langsung, soalnya dia harus buru-buru ke kota lain. Maklum saja, waktu pernikahan sudah mepet.” Gibran tersenyum, menatap surat undangan dari teman lamanya dengan bangga. Akhirnya satu temannya akan menikah dan menyempurnakan agamanya. Alhamdulillah. “Harusnya bisa undang lewat chat aja sih kalau nggak sempat,” gumam Fahri tanpa sadar. Bu Zahra yang mendengar langsung menyahut. “Kata Bang Gibran, nomor Pak Fahri hilang. Soalnya ponselnya sempat hilang.” “Oooh.” Fahri manggut-manggut. “Kalau begitu, terima kasih Bu Zahra. InshaAllah nanti saya akan datang.” “Iya, Pak. Sama-sama.” Setelah itu Fahri menuju sepeda motornya. Mengendarainya keluar dari gerbang sekolah. *** Rumah Dinda berjarak kira-kira dua puluh lima menit dari sekolah. Terletak di sebuah perkampungan yang terbilang cukup bersih. Sempat Fahri bertanya pada beberapa orang untuk menunjukkan rumah Pak Banyu—begitulah nama ayah Dinda. “Memang Anda siapa ya, Mas?” tanya seseorang ketika Fahri bertanya di sebuah warung tepi jalan. Di sana ada beberapa pria sedang ngopi sambil merokok. Nampaknya mereka sedang punya banyak waktu luang di siang hari sehingga menghabiskan waktu di warung tersebut. “Saya wali kelas anaknya Pak Banyu, Dinda. Mau ketemu sama beliau. Ada yang mau saya bicarakan.” Saat itu Fahri tidak tahu kenapa tiba-tiba para pria di sana menatapnya aneh. Namun ia juga tidak terlalu memikirkan lebih lanjut karena pria yang ditanya sudah menunjuk ke sebuah rumah. “Itu, rumah bercat biru dan depannya ada pohon jambunya. Itu lho, yang banyak sepeda motor di depan rumah.” Fahri celingukan beberapa detik dan dengan cepat ia bisa menemukannya. “Oh yang itu. Terima kasih Pak.” “Sama-sama, Mas. Oh iya, kalau ada apa-apa, nggak usah takut buat teriak. Saya sama teman-teman saya bakal awasi dari sini. Hati-hati!” Nada itu terdengar seperti sebuah peringatan agar Fahri waspada. Akan tetapi Fahri sendiri tidak mengerti apa yang harus ia waspadai. Dengan sedikit bingung, Fahri pamit pada mereka semua untuk langsung ke rumah Pak Banyu yang terletak beberapa ratus meter dari warung tersebut. Sesampainya di sana, Fahri turun dari sepeda motor. Matanya mengamati rumah berlantai satu dengan tembok yang catnya sudah memudar sebagian besar. Terdapat lumut di sana-sini, pun sampah-sampah daun kering berserakan memenuhi halaman. Sempat membatin bahwa keluarga Pak Banyu adalah keluarga yang kurang bersih, Fahri segera mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum,” ucap Fahri menguluk salam. Ia menunggu beberapa detik namun tidak ada jawaban dari dalam rumah. Aneh. Padahal ada beberapa motor berjejer di depan, batin Fahri. “Assalamu’alaikum.” Lagi, Fahri mengulang salamnya, berikut dengan ketukan pintu. Ia berpikir mungkin si empu tidak mendengar ucapan salamnya. Namun masih tidak ada jawaban dari dalam rumah. Membuat Fahri semakin merasa ada yang aneh. Pantang menyerah, Fahri mengulang salam untuk ketiga kalinya. “Assalamu’alaikum!” Kali ini suara Fahri dibuat semakin keras. Dan memang, usaha tidak menguasai hasil. Karena tepat saat itu, pintu kayu rumah tersebut di buka. “Berisik! Ada apa sih pagi-pagi ganggu orang lagi tidur?!” Seorang pria bertubuh tinggi besar bertato keluar dari rumah, menatap Fahri tajam dan tidak bersahabat. “Siapa lo?!” bentaknya yang hampir membuat Fahri terlonjak kaget. “Eh, a-anu, Pak. Saya Fahri Ramadhan. Guru di SMA Swasta Maju. Saya datang ke sini sebagai wali kelas Dinda Larasati,” jawab Fahri sedikit terbata. “Apa anda benar Pak Banyu, ayahnya Dinda?” Lelaki tersebut mengernyit, nampak mengingat-ingat nama tersebut. Lantas dia berteriak kencang sampai membuat jantung Fahri bertalu kencang. Astaghfirullah ... sebutnya dalam hati. “BAN! BANYU! NYARIIN LO NIH!" Tak berselang lama, muncullah seorang pria yang tak kalah sangar dari pria yang tadi. Bedanya pria yang ini lebih kecil badannya dan memiliki rambut gondrong. Gambar-gambar tatoo pun memenuhi badannya yang setengah t*******g. "Siapa?" "Wali kelas anak lo nih!" Pak Banyu menatap Fahri dari ujung kepala hingga kaki. Lantas bertanya. "Ada perlu apa lo kemari?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN