“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kepadamu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan k**i, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran” (QS an-Nahl:90).
***
“Ada apa lo kemari?”
Sebenarnya Banyu ingin pergi dan menyudahi saja semua ini. Ada perasaan tak nyaman ketika ia melihat Banyu. Wajahnya dipenuhi dengan bulu kumis dan jenggot yang baru tumbuh beberapa hari, rambutnya gondrong dibiarkan terurai, matanya terlihat merah can cekung, entah karena kurang tidur atau malah pengaruh dari alkohol.
Pasalnya, Fahri mencium aroma alkohol yang sangat kuat tepat saat pintu dibuka.
Dugaannya diperkuat dengan adanya beberapa botol minuman keras berserakan di atas meja dan lantai.
“Saya wali kelas Dinda Larasati, Pak,” jelas Fahri. Ia berusaha bersikap profesional.
Banyu berjalan mendekat, sementara temannya yang membukakakn pintu sudah duduk di kursi ruang tamu. Mengecek botol yang masih ada isinya untuk meminum sisaya.
“Wali kelas?”
Fahri langsung saja menahan napas. Bau napas Banyu sangat beraroma alkohol.
“Iya, Pak.”
Mendengus kecil, Banyu menyandarkan tubuhnya ke pintu. “Lo ke sini cari anak gue?”
“Eum, iya. Tapi ada beberapa hal juga yang perlu saya sampaikan ke Bapak mengenai Dinda.”
“Urusan lo sama Dinda, kenapa jadi bawa-bawa gue?” kata Banyu sambil memutar bola mata.
“Iya tapi selaku orang tua, Bapak Banyu harus mendengar—“
“Gue bilang urusan lo sama Dinda! Orang gue nggak sekolah juga!” bentak Banyu.
“Tapi—“
“Ah, berisik lo! Kalau dia bikin masalah di sekolah lo tinggal keluarin dia, gampang kan? Pakai drama ngedatengin gue segala. Asal lo tahu gue juga nggak sudi biayain dia sekolah. Mending duitnya buat judi sama mabok. Ya nggak, cuk?”
Pria yang tadi menjawab, “Yo’i!”
Fahri jadi kehilangan kata-kata. Bahkan tak sadar ia sampai menahan napas. Di ujung lidahnya sudah ingin keluar dalil-dalil tentang bahwasannya kelak di akhirat orang tua akan dimintai pertanggung jawaban terhadap anaknya. Namun Fahri berusaha mati-matian menahan sebab ia tahu jika dalil tersebut keluar, Banyu malah akan semakin marah.
“Kalau begitu, bisa saya ketemu sama Dinda?” tanya Fahri kemudian.
“Nggak ada dia di sini.”
“Lalu di mana?”
“Kalau lo tanya ke gue, gue nanya ke siapa, dodol?!” sahut Banyu dengan nada sengak. Raut mukanya sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan Fahri.
Di sisi lain, lagi, ingin sekali Fahri menjawab ‘Kan Anda bapaknya Dinda,’ namun kembali kalimat tersebut hanya tertahan di mulut saja.
“Dia udah lama nggak pulang. Tinggal sama cowoknya kali di kos-kosan. Wajar aja, remaja kayak Dinda pasti lagi h***y-hornynya hahahahahahaha!” sahut teman Pak Banyu sambil tertawa keras. Banyu ikut tertawa mendengarnya.
“Pak, kita sedang membicarakan Dinda putri Bapak. Ucapan teman Bapak ini melecehkan Dinda,” desis Fahri kehilangan kesabaran. Mana ada orang di dunia ini yang rela bahkan ikut menertawakan anaknya ketika seseorang mengatakan keburukan tentangnya?
“Lah, melecehkan gimana? Orang bener kok apa kata dia,” tukas Banyu santai. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sepuntung rokok dari sana. Berikut dengan pemantik api.
“Nanti kalau lo udah ketemu anak gue, suruh dia pulang sekalian ya. Kalau nggak semua barang ibunya yang selama ini dia simpan-simpan bakal gue lelang semuanya! Lumayan buat beli rokok,” ujar Banyu sambil menghembuskan kepulan asap di udara.
Karena tak ada lagi yang bisa Fahri harapkan di sana, ia pun akhirnya pergi dari sana. Tentu, masih dengan pamit sopan santun yang ia paksakan.
***
Allahu Akbar Allahu Akbar ...
Allahu Akbar Allahu Akbar ...
Adzan dhuhur berkumandang memenuhi jalan raya tepat ketika Fahri sudah keluar dari perkampungan rumah Dinda.
Dia memelankan laju kendaraan bermotornya untuk sekedar mendengarkan suara adzan. Tak lupa menirukan setiap lafal yang terucap mengikuti sang muadzin.
Tidak menemukan satu pun masjid di pinggir jalan raya, Fahri memutuskan untuk membelokkan arah menuju pasar Tanah Abang. Lantas ia memberhentikan sepeda motornya di depan sebuah masjid besar.
Di sana ia segera mengambil air wudhu. Lantas masuk ke masjid untuk melakukan shalat berjama’ah.
Selesai sholat, Fahri menuju sepeda motornya lagi. Namun perut yang lapar membuat ia urung untuk langsung pulang ke rumah. Matanya pun menyapu jalanan yang dipenudi dengan pedagang kaki lima. Ia pun memutuskan untuk berjalan menuju pedagang gado-gado paling dekat masjid.
“Satu, Pak!” kata Fahri memesan. Tak lupa menyebutkan es teh manisnya.
Sembari menunggu, Fahri kembali menatap sekitar. Panas terik matahari memanggang bumi tanpa kenal ampun. Membuat orang-orang lebih senang berdiri di bawah bangunan-bangunan dengan niat berteduh.
“Silakan, Mas,” ucap si pedagang, menyerahkan sepiring gado-gado dan segelas es teh ke meja Fahri.
“Terima kasih, Pak.”
Tak butuh waktu lebih dari sepuluh menit bagi Fahri untuk menandaskan makanannya, berikut dengan minuman di meja.
“Alhamdulillah ...,” do’a Fahri setelah makan.
Ia berdiri, menghampiri si penjual untuk membayar makanannya.
“Sudah, Pak. Berapa?”
Tepat ketika Fahri bertanya, tepat saat itu juga terdengar teriakan dari ujung jalan.
“MALING!!! MALIIIINGGG!!”
Orang-orang pun lantas menyerukan dan menggemakan kata yang sama. Disusul dengan beberapa orang yang berlarian mengejar seseorang dengan hoodie warna hitam.
Fahri sempat bingung. Antara ingin membayar makanannya atau ikut membantu warga mengejar maling tersebut?
“Sudah, Mas. Biarkan saja. Biar diurus sama warga dan keamanan nanti. Semoga saja malingnya ketangkap ya,” tegur si Bapak penjual gado-gado.
“Totalnya dua puluh ribu.”
Mengangguk, Fahri mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dari dalam dompet. Ia berterima kasih pada pak penjual lalu segera pergi dari sana.
***
Mengambil jalur memutar, Fahri masuk ke beberapa g**g sempit menaiki sepeda motornya. Hingga ia menemukan sebuah rumah kosong yang sudah terlantar. Ia turun, lalu mengunci kendaraan dan meninggalkannya begitu saja di sana.
Fahri berjalan beberapa puluh meter hingga teriakan itu kembali tertangkap di indera pendengarannya.
“MALIIIING! MALIIIIINGGG!!”
Fahri semakin mempercepat langkah kakinya. Berbelok di tikungan depan, ia pun langsung menyambar lengan orang berhoodie hitam.
Benar.
Dia adalah pencuri yang sedang dikejar-kejar oleh warga.
Sebenarnya Fahri bisa menemukan dan menangkap orang itu dengan mudah karena ia tahu rute pasar daerah situ. Sejak kecil karena sudah ditinggal mati oleh Ayahanda tercinta, Fahri sering ikut mengantar Ibu ke pasar. Dan di sela-sela ibu berbelanja, kadang Fahri pergi sendiri untuk melihat-lihat sekitar.
Dari menebak arah lari si pencuri, Fahri pun bisa menebak jika dia akan melewati jalur tersebut.
“b*****t!”
Kata makian tersebut pun keluar dari mulut si pencuri.
Namun yang membuat Fahri terkejut adalah suara itu adalah suara seorang perempuan.
“Lepasin gue!” bentaknya, berusaha menyentak lengannya dari cengkeraman Fahri.
Perempuan itu pun mendongak, menyebabkan tudung hoodie kepalanya melorot ke bawah. Memperjelas wajahnya sebagai pencuri.
Akan tetapi hal tersebut malah membuat Fahri dan dirinya terbelalak lebar. Terlalu terkejut dan hampir tak percaya dengan siapa yang menemukan dan ditemukan.
“Lo!”
“Dinda!”
Seru mereka bersamaan.
Belum selesai otak Fahri mencerna, teriakan “Maliiing! Maliiing!!” terdengar lagi. Menyentak kesadaran Dinda maupun Fahri.
Derap langkah kaki orang-orang yang semakin dekat membuat Dinda panik. Ia berusaha menarik lepas lengannya dari cengkeraman Fahri namun Fahri malah semakin mencekalnya kuat.
“Lepasin gue!” geram Dinda penuh ancaman.
Fahri tidak peduli. Ia terus menatap tajam Dinda dan terdiam seribu bahasa. Hatinya bimbang antara membiarkan gadis ini tertangkap oleh warga atau menyelamatkannya sebagai seorang guru. Pasalnya Fahri tau, kebanyakan seorang pencuri di pasar pasti akan babak belur akibat amukan masal yang suka main hakim sendiri.
Wajah Dinda kian memucat ketika suara orang-orang semakin terdengar jelas di belakang. Ia terus berusaha menarik tangannya dari Fahri tapi sia-sia. Guru Agama di sekolahnya ini memiliki tenaga yang kuat.
Sempat Dinda pikir bahwa Fahri akan menyerahkannya pada warga, akan tetapi justru di detik itu juga Fahri menariknya berlari. Sangat cepat dan tergesa. Hingga beberapa ratus meter di depan, Fahri menemukan sebuah celah dinding kecil. Ia mendorong Dinda masuk, kemudian ia menyusulnya.
“Lepasin gue, gue bisa—“
Kalimat Dinda terpotong begitu saja karena Fahri sudah membekap mulutnya agar tidak berisik. Dengan tangan yang lain juga Fahri memberikan isyarat agar Dinda terus tutup mulut sampai para warga yang mengejar melewati tempat persembunyian mereka.
Dinda mengerti. Jika dia ingin selamat maka ia harus menuruti apa kata Fahri. Ia pun langsung terdiam seribu bahasa.
Sayangnya, celah dinding tersebut terlalu sempit untuk berdua. Bahkan d**a mereka harus saling menempel satu sama lain. Fahri berusaha semaksimal mungkin menempelkan punggungnya ke dinding, begitu pun dengan Dinda.
Awalnya Dinda menunduk karena agak kesal dengan Fahri yang memergokinya. Fahri juga terus menunduk karena sibuk dengan pikirannya sendiiri. Kenapa Dinda mencuri?
Namun lama-lama dan tanpa diduga, Dinda mendongak ke atas, membuat mata Fahri terbelalak. Sebab wajah mereka jadi sangat dekat. Fahri bahkan bisa merasakan aroma napas Dinda.
“MALIIIING ... MALIIINNGGG!!”
Drap drap drap drap
“Ke sanaaaaa!!”
“Kejaaarrrr!!”
Orang-orang yang mengejar pun berlari melewati celah dinding di mana Dinda dan Fahri berada.
Perlu beberapa menit bagi Fahri untuk menguasai diri kembali. Ia segera memalingkan muka karena takut akan godaan syaitan. Smenetara Dinda yang juga sempat terkejut tadi langsung mendengus kecil. Meski diam-diam ia mengamati wajah Fahri dari samping. Dinda baru sadar saat itu jika muka Fahri sangat bersih, berbeda dengan mukanya yang kotor dan kusam karena lebih sering berada di bawah terik sinar matahari.
Setelah dirasa aman dan tidak ada orang lagi di sekitar sana, Fahri cepat-cepat keluar dari sana. Tak lupa ia juga menyeret Dinda bersamanya.
“Lepasin gue!” kata Dinda berusaha menarik diri, sedikit memberontak tidak mau mengikuti Fahri.
Fahri baru melepaskan tangan Dinda setelah berbelok di sebuah g**g kecil. Mengamati sekitar, ia menyentak lengan Dinda dengan kasar.
“Tidak hanya bolos sekolah tapi sekarang kamu mencuri?!” tuduh Fahri nyalang. Matanya dingin dan tajam pada Dinda.
Malas menanggapi Fahri, Dinda langsung membalikkan badan. Ia hendak melangkah pergi namun Fahri memutar tubuhnya lagi. Mencegah Dinda untuk pergi tanpa memberikan penjelasan.
“Dinda, Bapak tanya sama kamu!” kata Fahri tepat di depan wajah Dinda. Kedua tangannya menahan kedua lengan gadis itu tidak kabur.
“Apa urusannya sama lo?!” balas Dinda balik membentak. Ia mengegliatkan badan agar Fahri melepasnya lagi.
“Saya guru kamu, wali kelas kamu!”
“Tapi lo bukan orang tua gue!”
“Saya orang tua kamu di sekolah!” seru Fahri marah. Sepertinya panas matahari yang memanggang kepalanya membuat Fahri tidak memiliki kesabaran lebih untuk menghadapi Dinda.
“Sekarang katakan sama Bapak alasan kamu mencuri,” tuntut Fahri.
Dinda nampak enggan. Alih-alih ia terus berusaha keluar dari cengkeraman Fahri.
“Dinda!”
“Lepasin gue dulu!” rengek Dinda.
“Nggak, sampai saya dengar penjelasan dari mulut kamu.”
Kesal, Dinda menatap Fahri. Dinda ikut marah mengetahui Fahri marah padanya. Ia memicingkan mata seolah sedang menantang Fahri tanpa peduli status wali kelas yang disandang Fahri.
“Lo bilang lo guru agama?” tanya Dinda kemudian. Suaranya nampak lebih datar namun menyiratkan tanda bahaya penuh peringatan.
Fahri ikut memicingkan mata, menunggu ultimatum atau ancaman apa yang akan keluar dari mulut kecil Dinda.
“Gue dengar lo juga ustadz yang tiap sore ngajar ngaji di masjid kan?”
Kini dahi Fahri mengernyit kecil. Tidak tahu ke mana arah pembicaraan Dinda akan pergi.
“Lantas gue mau lihat apakah guru ngaji dan ustadz kebanggaan sekolah dan kampungnya ini bisa nahan hawa nafsu kalau gue ngelakuin ini.”
Dengan berani, Dinda menyentuh pipi Fahri. Karena tahu Fahri tidak akan membiarkannya menjauh, Dinda memilih opsi untuk mendekatkan diri.
Sontak saja kedua mata Fahri terbelalak lebar. Terlebih ketika Dinda sengaja berjinjit dan menatap ke satu titik.
Bibir Fahri.
Sadar wajah Dinda semakin mendekat, Fahri langsung mendorong tubuh Dinda menjauh. Ucapan “Astaghfirullahal ‘adzim” pun lolos dari bibir Fahri.
“Kamu gila?” umpat Fahri, yang ditanggapi kekehan mengejek Dinda.
“Akhirnya lo lepasin gue juga!” Dinda menjulurkan lidah lalu segera mengambil seribu langkah menjauh dari Fahri.
“Dinda!!!” seru Fahri. Tak habis pikir bahwa yang tadi adalah trik licik dari Dinda agar bisa lolos dari dirinya.
“Dan asal Pak Fahri tau! Menyentuh perempuan yang bukan muhrim itu dosa! DOSA PAK!” teriak Dinda terdengar seperti nasehat tapi dalam bentuk ledekan yang merendahkan.