Setelah menghabiskan satu kantung infus, Fahri mengajak Dinda untuk pulang. Dia berjalan di samping gadis itu menuju lobi rumah sakit. "Yakin kuat jalan? Mau saya ambilkan kursi roda saja?" tanya Fahri was-was. Takut kalau Dinda tiba-tiba pingsan lagi. Dinda memutar bola mata jengah, kemudian melirik Fahri sinis. "Gue itu cuma habis pingsan, Om. Bukan cacat. Lagian ini juga udah nggak apa-apa kok gue." "Tapi muka kamu masih kelihatan pucat." "Bukan pucat, tapi emang nggak dipoles make up!" gerutu Dinda. "Pucat apaan sih? Perasaan biasa aja," tambahnya bergumam sambil menoleh ke meja kaca yang dia lewati. Bercermin. "Kamu sudah makan?" "Menurut lo?" "Belum." "Mau nraktir Om?" Fahri mengangguk polos yang langsung membuat Dinda agak salah tingkah lagi. Dia berdehem untuk menyembunyik

