“Kamu dari mana saja? Seharian di tunggu di pasar nggak balik-balik. Ibu chat nggak di balas. Ibu telpon juga nggak di angkat-angkat.” Ainun memberondong Fahri dengan pertanyaan sejak saat pria itu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Ainun masih terjaga. Sejak tadi mondar-mandir di ruang tengah karena mencemaskan putra semata wayangnya yang tiba-tiba menghilang dari pasar. “Kamu tahu nggak, Nak Zahra itu juga sampai kemalaman tadi di sini. Nunggu kamu pulang. Nunggu kamu ngasih kabar. Sudah cek ponsel? Nak Zahra juga menghubungi kamu berkali-kali tapi kamu sama sekali nggak angkat. Kamu nggak tahu betapa cemasnya dia?” Fahri duduk di kursi, melepas sepatu berikut dengan kaus kakinya. Didengarnya omelan Ainun tanpa menyela sebab Fahri

