Ilham mendekatkan telinganya ke permukaan pintu dan..
Tiba tiba pintu terbuka dan membuat ilham jatuh tersungkur di kaki Aisya,
“Aww,” Ringis Ilham,
Ilham pun mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah gadis yang ada di hadapannya,
Ia kemudian memasang senyuman kaku di hadapan Aisya, Namun Aisya tidak menggubrisnya dan hanya melangkah melewatinya begitu saja,
“Siapa sih tuh? Jutek amat!” Ucap Ilham seraya berdiri,
Fathan menghampiri Ilham,
“Itu dia sekretaris baru gue, Gimana? Cantik kan?”
“Cantik sih, tapi jutek banget,” Protes Ilham
“Ya kali dia harus ramah sama cowok buaya kayak lo!”
“Jangan salah, Gua buaya berhati, Bukan buaya yang gak punya hati,”
Fathan pun tertawa mendengar ucapan Ilham,
“Udah sana,”
Ilham pun melangkah pergi,
***
Hari ini, Aisya harus lembur untuk menyelesaikan beberapa berkas yang akan dipakai untuk esok hari,
Aisya mengusap wajahnya kasar, rasa kantuk mulai menyerangnya,
“Aisya?”
Aisya menatap ke arah suara,
“D-Do Hyun?”
Aisya seketika berdiri dari duduknya,
“Kau pasti sangat lelah akhir akhir ini kan?” Do hyun hendak menyentuh wajah Aisya, Namun Aisya memilih untuk menghindarinya.
“Kenapa? Apa kau tidak merindukanku?”
Mata Aisya berkaca kaca,
“Tidak, lebih baik kau pergi,” Usir Aisya.
Aisya kemudian duduk kembali dan melanjutkan pekerjaannya,
Do Hyun tiba tiba memeluknya dari belakang,
“Aku sangat merindukanmu, Aisya.” Ucap Do hyun,
Tangis Aisya pun tidak dapat dibendung lagi, Ia menangis tersedu sedu seraya melepas tangan Do hyun yang melingkar di lehernya,
“Lepas, pergilah! Aku mohon,” Aisya terus memohon agar Do hyun pergi dari sana,
Do hyun pun perlahan melepas pelukannya dan melangkah mundur,
“Sepertinya, kau sudah tidak mencintaiku lagi.” Do hyun terus berjalan mundur hingga tembok kantor berubah menjadi atap gedung,
Aisya panik melihat Do hyun yang terus melangkah mundur,
“Do hyun, Apa yang kau lakukan?” Teriak Aisya,
“Untuk apa aku hidup? Jika orang yang aku cintai sudah tidak mencintaiku lagi,”
Langkah terakhir pun diambil Do hyun, Hingga Do hyun pun terjatuh.
Aisya berlari dan menjerit histeris,
“Jangaaannnn!!”
Hap
“Tertangkap!” Seorang pria berhasil menangkap Tubuh Aisya yang hampir saja terjatuh dari atap gedung,
Aisya pun tersadar,
“D-dimana aku?” tanya Aisya,
Aisya langsung kembali berlari,
“Do Hyun! Do Hyun!” Teriak nya histeris,
Aisya tidak menemukan sosok Do hyun dibawah sana,
“Hey, Lo ngapain? Lo hampir aja mati kalo gue gak nolongin lo!” Ucap Ilham,
Aisya pun menangis,
“Aku melihatnya jatuh dari sini, Aku yakin itu!” Teriak Aisya,
Ilham pun memegang kedua lengan Aisya dan menggoyang goyangkan tubuhnya,
“Sadarlah! Kau itu hanya mimpi!” Teriak Ilham,
Aisya pun terdiam dan hanya terdengar isak tangis,
***
Ilham pun mengantar Aisya ke kediamannya,
Namun sesampainya di depan rumah,
“Eh, Bukannya ini rumah Fathan?” Tanya Ilham seraya menatap Aisya,
“Iya, Aku tinggal di sebuah rumah sederhana di belakang rumah Fathan,”
Ilham menganggukkan kepalanya, “Oh,”
Aisya pun turun dari motor Ilham,
“Terima kasih untuk tumpangannya,”
“Sama sama, lain kali jangan pernah terpikirkan untuk mengakhiri hidupmu yang berharga itu,”
Aisya kemudian mengangguk paham,
Aisya berjalan ke dalam rumah,
“Aisya?” Panggil Fathan dari muka pintu rumahnya,
“Iya?”
“Dengan siapa kamu pulang?”
“Temanmu,” Aisya kemudian melangkah melewati Fathan begitu saja,
Fathan mengerutkan dahinya,
“Temanku?”
***
Aisya membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur,
“Rasanya sangat nyata sekali,” Aisya kembali teringat mimpinya,
“Bagaimana keadaan Do hyun sekarang? Dia pasti udah nikah sama Arsyla, Aku harus ikhlas, Ayo Aisya berhentilah memikirkan Do Hyun! Hwaiting!” Aisya pun terbangun dan memilih untuk membersihkan dirinya,
Hari pun berganti,
“Rasanya gak enak badan banget, mungkin karena tidur terlalu malam,”
Aisya menatap jam dinding,
“Astagfirullah udah jam segini,” Aisya terperanjat dan langsung terbangun,
Ia bergegas untuk bersiap berangkat bekerja, Aisya berlari hingga tanpa sadar ia melewati Fathan begitu saja,
“Aisya?” Panggil Fathan
Namun panggilan Fathan tidak dihiraukan oleh Aisya yang terus berlari,
“Kenapa dia berlari seperti itu?” Fathan kemudian melajukan mobilnya,
Aisya tanpa sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang tengah berbelanja dan menenteng belanjaannya yang cukup banyak, hingga isi belanjaannya berhamburan,
“Oh maaf,” Aisya membantu membereskan belanjaan wanita tersebut,
“Maaf, Aku benar benar minta maaf,”
“Lain kali, hati hati! jangan buru buru kayak gitu,” Ucap wanita itu,
Degh
Aisya terhenti, Suara yang ia dengar bukanlah suara yang asing baginya,
Matanya berkaca kaca, Aisya pun menyimpan kantong belanjaan tersebut di belakang wanita tersebut, seraya melangkah mundur,
Aisya pun membalikkan tubuhnya, menghapus kasar air mata yang tiba tiba menetes,
Wanita itu kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat punggung Aisya,
“Sepertinya kenal,” Gumamnya,
Namun wanita itu pun melanjutkan langkahnya,
Aisya yang sudah menaiki bis, menatap wanita paruh baya tersebut yang hendak menaiki taksi, Ia mengelus lewat kaca bis,
“Bu, Aisya kangen.” Air mata itu pun kembali menetes.
Sesampainya di kantor,
Aisya tengah berjalan menuju ruangannya, namun tanpa sengaja melalui celah pintu tangga darurat kantor, ia melihat rekan kerjanya tengah b******u mesra,
Matanya membulat sempurna, Ia memalingkan pandangannya dan memutuskan melanjutkan langkahnya,
“Sepertinya ada yang melihat kita,” Ucap si wanita
“Sudahlah, mungkin hanya perasaan kamu, para pegawai jarang ada yang lewat sini, udah lah, kita lanjutin yuk,” Si pria itu pun melanjutkan perbuatannya.
Aisya tiba di ruangannya dengan wajah syok,
“k-kenapa mereka tadi? bukankah mereka masing masing sudah menikah?” Gumam Aisya,
Di tengah lamunannya,
Suara ketukan pintu mengejutkannya,
Tok tok tok
“Astagfirulloh,” Aisya mengusap kasar wajahnya,
Ia kemudian membuka pintu, dan menampakkan Fathan di balik pintu,
“Ada apa?” Tanya Aisya dengan nada dingin
“Tidak, Aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja,”
“Aku baik baik saja,”
“Apa kau yakin? melihatmu berlari lari seperti tadi, Aku sedikit khawatir,”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku tidak apa apa.” Aisya kemudian menutup pintunya,
Brukk
Fathan pun hanya termangu,
Ia kemudian melangkah kembali ke ruangan miliknya,
“Kau?” Ucap Fathan yang melihat Ilham tiba tiba berada di ruangannya,
“hai!” Sapa Ilham,
Fathan pun duduk di kursinya,
“Apa lo yang anterin Aisya kemarin?”
“Iya,”
“Kenapa?”
“Ya, gue kan lagi di misi buat nyelidikin tentang dia, semalam di tuh lembur sampe ketiduran, parahnya, tuh cewek tidur sambil jalan, Lo tau? dia ampir aja jatoh dari atas gedung ini! kalau gak ada,cewek gebetan lo itu udah almarhum deh tuh!”
“Koq bisa?”
“Ya mana gue tau! cuman semalam dia nyebut nyebut apaan ya? gue juga kurang ngerti, itu tuh ak tau nama orang apa bukan,” Terang Ilham
“Emang dia ngomong apa?”
“Kalo gue gak salah denger, keknya dia bilang Do.. Do.. Do apa ya? Do Hyun kalo gak salah,”
“Do Hyun?” Fathan mencoba untuk mengingat ingat,
“Ya udah, Lo lanjutin pencariannya, tapi inget lo gak boleh lebih dari itu, ntar lo jatuh cinta, tambah berabe.”
“Kenapa berabe? Kita tinggal bersaing yang sehat aja,”
“Kepalamu!”
Fathan kemudian menghela nafas kasar,
“Nape?” Tanya Ilham yang melihat raut wajah sendu Fathan
“Gue heran, perasaan waktu di seoul, Aisya tuh ramah banget, tapi giliran udah di indo, dia kayak kulkas 100 pintu sama gue,”
Ilham pun tertawa,
“Mungkin dia udah nyadar kali, kalo cowok serius kayak lo, gak bisa diajak asik kayak gue,”
“Kurang ajar lo!” Fathan melempar Ilham dengan sebuah gumpalan kertas,
Mereka pun tertawa bersama,