Fathan menghampiri Ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga,
“Bu,”
“Ya, Ada apa?”
Fathan kemudian duduk disamping Ibunya,
“Ada yang pengen Fathan omongan sama Ibu,”
“Tentang apa?”
“Tentang Aisya,”
Sang ibu pun tersenyum,
“Apa kamu menyukai gadis itu?”
Fathan membalas senyuman sang ibu,
“Ini bukan soal itu bu, Ini tentang keinginan Fathan untuk membantunya, Fathan ingin menjadikannya sebagai sekretaris Fathan, apa boleh bu?”
Ibu pun mengelus lembut kepala Fathan,
“Ibu percayakan semuanya sama kamu, Nak.”
“Terima kasih bu,”
Ibu pun mengangguk pelan,
“Sekarang, Ibu yang ingin menanyakan sesuatu sama kamu,”
Fathan mengerutkan dahinya,
“Tentang apa?”
Ibu menatap serius Fathan,
“Apa kau menyukai gadis itu?”
“Pfft,” Fathan tertawa mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Ibunya,
Sang ibu pun mengernyitkan dahinya,
“Kenapa malah ketawa?”
“Gapapa, Fathan cuman merasa lucu, karena Ibu bisa melihat dengan jelas kayak gitu, Tapi Aisya tidak bisa melihatnya bahkan saat masih di seoul,” Tuturnya
Ibu pun menggenggam tangannya,
“Setiap orang memiliki caranya masing masing dalam menunjukkan rasa cintanya, dan kamu hanya perlu berusaha lebih keras agar ia bisa menyadarinya,”
Fathan pun mengangguk paham diiringi senyuman,
Di tengah perbincangannya,
Aisya pun datang menghampiri, dengan langkah ragu ia memberanikan diri untuk berbicara pada Fathan dan ibunya,
“Permisi,”
Pandangan Fathan dan ibunya pun beralih ke arah Aisya,
“Ada apa Aisya?” Tanya Fathan,
“Emm, Aku mau pamitan sama kamu dan ibu, terima kasih sudah mau menampung saya beberapa hari ini,”
Fathan pun berdiri dari duduknya,
“Kau mau kemana?” Tanya heran Fathan
“Em, Aku sendiri juga belum tau,”
Fathan pun menghela nafasnya kasar,
“jangan pergi kemanapun sya, lebih baik kamu tinggal disini sama saya dan ibu,”
“T-tapi…”
“Aisya bisa tinggal di rumah yang ada di belakang rumah ini, jadi kamu gak usah khawatir akan terkena fitnah,” Terang Ibu Fathan,
Fathan menatap sang ibu,
Ibu Fathan hanya tersenyum tipis padanya,
“Tapi, tetap saja rasanya akan canggung,” Ucap sendu Aisya
Ibu Fathan pun merangkul Aisya,
“Tidak apa apa, Anggap saya seperti ibumu sendiri, tinggalah disini sampai kapanpun kamu mau,”
Aisya menatap ke arah Fathan, dan Fathan hanya memberikan anggukan agar Aisya mau menyetujuinya,
***
Aisya mulai bekerja sebagai sekretaris Fathan di kantornya,
“Aisya, hari ini kita akan meeting dengan beberapa rekan dari korea selatan, tapi sepertinya aku akan datang terlambat, Aku harus menemui ibu dulu, jadi kau bisa kan menemani mereka dulu?”
Aisya mengangguk, “Baik.”
“Siapkan semua berkasnya, dan tunggu aku di ruang meeting,”
“Baik pak,”
Fathan kemudian melangkah pergi menemui ibunya,
Beberapa saat kemudian,
rombongan dari korea pun datang, Aisya dengan sigap menemani mereka, dan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan untuk perusahaan mereka,
Meeting pun berjalan lancar, Aisya akhirnya bisa bernafas lega,
“Akhirnya selesai, rasanya tenggorokanku sakit sekali, lebih baik aku ambil minum dulu di pantry,”
Aisya kemudian melangkah menuju pantry, namun belum masuk ke dalamnya, langkah Aisya terhenti karena terdengar suara yang sedang membicarakan tentangnya,
“Dia itu pake pelet apa sih? Koq bos bisa begitu percaya banget sama dia, padahal kan dia baru beberapa hari masuk kantor, tapi bos udah kasih dia kepercayaan luar biasa gitu aja kayak barusan,” Ucap salah seorang pegawai,
“Iya bener, dukunnya ampuh bener ya, kayaknya gue harus minta alamat dukunnya,”
Mereka pun tertawa terbahak bahak,
Aisya pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam pantry,
***
Fathan mencari Aisya yang tiba tiba menghilang,
“Apa kamu lihat Aisya?” Tanya Fathan pada salah seorang pegawai,
“Oh, tadi saya lihat dia masih di kantin pak,”
“Ya sudah, makasih.”
Fathan pun mendatangi Aisya,
Ia melihat Aisya yang tengah termenung seorang diri,
“Kau disini?” Fathan pun duduk di hadapan Aisya,
“M-maaf, Apa jam makan siang sudah habis?”
Fathan mengangguk,
Aisya hendak berdiri, namun Fathan memegang tangannya,
“Tunggu,”
Semua mata pun tertuju pada mereka, yang membuat Aisya merasa tidak enak,
“Tolong lepas, semua orang melihat kita.”
Fathan perlahan melepaskan pegangannya,
“Maaf, kalau begitu, aku akan menunggumu di ruanganku,” Fathan pun melangkah pergi ke ruangannya,
‘Fathan, Kenapa sikapnya sangat berbeda dari saat di seoul?’ Batin Aisya
Aisya kemudian melangkah pergi ke ruangan Fathan,
“Ada apa pak?” Tanya Aisya langsung
“Aisya, Kenapa kau masih di kantin saat jam makan siang sudah selesai?”
“Maaf Tuan, ada sesuatu yang aku pikirkan sampai aku tidak sadar jam istirahat sudah habis,” Tutur Aisya
“Kau yakin, Hanya itu?”
Aisya mengangguk,
Fathan menghela nafas kasar,
“Ya sudah, kau boleh kembali bekerja,”
Aisya pun melangkah pergi ke ruangan miliknya,
***
Aisya sedikit melamun,
“Hey, Aisya!” panggil seseorang,
Namun Aisya tidak menjawab panggilan itu,
“Aisya?”
Panggilan kedua tetap tidak mengalihkan perhatiannya,
“Aisya!” Panggilnya untuk kesekian kalinya seraya melambaikan tangannya,
“Eh,” Aisya sontak terkejut,
“Kau itu kenapa?” Tanya Fathan penasaran,
“Aku tidak apa apa,” Jawab Aisya
Fathan pun melangkah pergi meninggalkan Aisya, dan kembali ke ruangannya,
Merasa penasaran, Fathan kemudian menghubungi sahabatnya yang sekaligus menjadi tangan kanannya,
In Call,
“Assalamualaikum, san?”
“wa’alaikumsalam, hey bro!”
“Lo bisa gak ke ruangan gue sekarang? ada yang mau gue konsultasikan ke elo,”
“Konsultasi tentang apa dulu nih?”
“Emm tentang.. udah deh lo kesini dulu aja!”
“Iya, iya. Wait ya,”
“Hem, Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumsalam,”
End Call,
Fathan pun menunggu kedatangannya,
Tak lama kemudian,
Tok tok tok,
Terdengar suara ketukan pintu dari luar,
“Masuk,”
Seorang pria seusia Fathan pun masuk dengan setelan jas yang cocok untuknya,
“Hey bro, Ada apa lo manggil gue?” Tanya Pria bernama ilham,
“Bro, gue ada masalah gede banget,”
Ilham membulatkan matanya,
“Serius bro? emang masalahnya apa?”
“Ini tentang hidup dan matinya seseorang,”
“M-maksudnya?”
“Gue pengen lo cari tau tentang sekretaris baru gue, karena akhir akhir ini dia kelihatan stres banget, tapi dia gak mau cerita ke gue,”
“Sekretaris baru? Maksud loh? Lo kepincut ama sekretaris lo itu?”
Fathan hanya terdiam dengan wajah yang memerah ia berpaling ke arah lain,
“Eh, Lo koq jadi malu gitu? iihhh,” Ilham bergidik melihat reaksi wajah sahlan,
Fathan terlihat salah tingkah,
“Udah sana, Lo cari data itu ya, awas kalo lo gak dapet apa apa!” Ancam Fathan
“Yee, koq ngancem?”
Ilham kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Fathan,
Namun saat akan keluar gedung tanpa sengaja ia berpapasan dengan seorang gadis yang tengah menenteng sejumlah berkas menuju ruangan Fathan,
witwiw
Ilham bersiul melihat gadis itu yang melewati dirinya begitu saja,
“Cantik juga, Siapa ya namanya?” Gumam Ilham,”
Ilham pun memutuskan untuk mengikuti langkah Aisya,
Langkahnya pun terhenti saat ia melihat Aisya yang melangkah masuk kedalam ruangan Fathan,
“Eh, Koq dia ke ruangannya Fathan?”
Ilham pun mendekatkan telinganya di pintu, Dan…