Kehilangan segalanya

1250 Kata
Appa menatap tajam kearah Do hyun, “Ada apa?” tanyanya “Aku ingin mengatakan sesuatu,” “Katakanlah,” “Aku memutuskan akan mengikuti keputusan Appa, menikahi Arsyla,” Senyuman pun berkembang di wajah Appa, “Benarkah?” Do hyun mengangguk pelan, appa langsung menghampiri Do Hyun dan memeluknya erat, “Inilah anak laki laki terhebatku! Yang bertanggung jawab dan tidak egois,” Puji Appa “Tapi, Aku memiliki syarat untuk itu,” Raut wajah Appa kembali dingin, Ia kemudian kembali duduk di kursinya, “Syarat apa?” “Tolong, Jangan sakiti Aisya lagi,” “Menyakiti Aisya?” Appa mengerutkan dahinya, “Appa tidak pernah melakukan apapun pada Aisya, Tapi baiklah jika kau meminta hal itu akan Appa kabulkan.” “Terima kasih Appa,” Do hyun pun kembali ke dalam kamarnya. *** Hari pun berganti, di siang hari yang cerah ini, suara bel mengusik ketenangan Aera yang sedang mengajak Aisya menonton film, “Siapa?” Teriak Aera yang menghampiri pintu dan membukanya, Seorang kurir mengantarkan sebuah amplop, Aera pun menerima amplop tersebut, “Apa ini?” Gumam Aera, Aera membolak balikkan amplop tersebut, “Siapa?” Tanya Aisya “Kurir, dia mengirimkan amplop ini,” “Oh,” Aera kemudian membuka isi amplop tersebut, Matanya membulat sempurna saat ia melihat isinya, ‘U-undangan pernikahan?” Aera membaca teliti isi amplop tersebut, “D-Do hyun? dan A-Arsyla?” Mendengar kedua nama itu disebut, Aisya pun mengambil isi amplop itu dari tangan Aera, dan membacanya dengan teliti, Benar, Nama Kim Do Hyun dan Arsyla tertulis disana, Seketika tubuh Aisya terasa lemas, Ia pun jatuh terduduk, “Aisya,” Aera bergegas memeluk Aisya dan menguatkannya, Aisya hanya terdiam dengan airmata yang menetes membasahi pipinya, *** “Beberapa hari lagi pernikahan Do hyun dan Arsyla akan digelar, Apa kau akan menghadirinya?” Tutur Aera Aisya terdiam sejenak, “Aku hadir ataupun tidak, tidak akan ada pengaruh apapun bukan?” Aera pun tak bisa menjawabnya, Aisya tersenyum kecut, “Aku sudah memutuskan untuk pulang sore ini,” “Apa? Kenapa mendadak sekali?” “Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan disini, Jadi lebih baik aku pulang, menjalani kehidupan yang baru,” Tatapan sendu Aisya membuat hati Aera terenyuh, Aera pun memeluk erat Aisya, “Maaf, Aku tidak membantu apapun,” “Kau sudah cukup banyak membantuku, terima kasih,” Aera menganggukkan kepalanya, *** Aisya kini berada di bandara incheon korea selatan, Ia melihat salah satu sudut bandara yang mengingatkannya saat pertama kali bertemu dengan Do hyun, yang kala itu Do hyun dituduh sebagai seorang pencuri, ia merangsek masuk begitu saja untuk melerai dan menjelaskan kejadian sebenarnya, Aisya menahan sesak di dadanya, karena setiap kenangan tentang Do hyun tiba tiba tertumpuk di ingatannya, “Ya Alloh, Ikhlaskan aku.” Gumamnya, “Aisya, Ini tiketmu,” ucap Aera, Aisya meraihnya, “Terima kasih,” Aera memeluk erat Aisya, “Aku pasti akan sangat merindukanmu,” “Aku juga, Jaga dirimu baik baik, Aera.” Aera menganggukkan kepalanya, Aisya pun menarik kopernya dan berjalan menuju pesawatnya, Ia melambaikan tangannya, dan Aera pun membalasnya. ‘Selamat tinggal seoul, selamat tinggal korea, selamat tinggal Kim Do Hyun,’ Batinnya, *** Beberapa jam kemudian, Aisya tiba di tanah air, “Alhamdulillah, akhirnya sampai.” Aisya melanjutkan perjalanannya menuju ke rumahnya, Dengan langkah ragu, ia memberanikan diri untuk menemui kedua orang tuanya, “Assalamualaikum,” Sapa Aisya “Waalaikum salam,” Mata Ibu Aisya berbinar binar saat melihat sang putri yang sudah dua tahun tidak bertemu ada di hadapannya, Ia langsung memeluk Aisya dan mencium wajah Aisya, Dengan derai air mata bahagia sang ibu menyambut kepulangannya, “Bagaimana kabarmu nak? Ibu kangen sama kamu,” “Aisya juga kangen ibu,” Namun, ditengah keharuan mereka, sang ayah tiba tiba datang dan menarik sang istri dari Aisya, “Ngapain kamu kesini?” Bentak Ayah Aisya “Ayah, Aisya kangen Ayah,” Aisya yang hendak mencium tangan sang ayah pun ditepis kasar olehnya, “Aku tidak punya seorang putri pembangkang seperti kamu! Ngapain kamu kesini? Pergi sana!” Sang ayah tega mengusir Aisya, “Yah, Maafin Aisya.. ayah.” Aisya memohon pada Ayahnya, Namun, Hati ayah seolah sudah sekeras batu, Ia menutup mata dan telinganya, Aisya diusir keluar, pintu pun ditutup rapat. “Yah! Ayah tega! Itu Aisya, putri kita!” Teriak histeris sang ibu, “Dia durhaka! Gak denger kata kata ayah! biar ini jadi renungan buat dia!” “Tapi yah, dia perempuan! Ini udah malam, gimana kalau sesuatu terjadi sama dia yah?” “Gak akan!” Mendengar kedua orang tuanya yang bertengkar, Aisya kemudian memutuskan untuk pergi, Tanpa arah tujuan, tanpa bekal, Aisya terus berjalan, dengan airmata yang belum berhenti keluar dari kedua bola matanya, Di tengah jalan, Aisya yang hendak menyebrang namun tidak memperhatikan sekitar, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat pun melintas, ckiiiitt Terdengar suara rem mobil yang diinjak mendadak, “Aaaaa,” Teriak Aisya yang langsung terduduk Membuat si empunya keluar dari mobilnya dengan raut wajah kesalnya, “Hey, Apa kau tidak punya mata?” Bentaknya Si pemilik mobil itu pun merasa tidak asing dengan sosok gadis yang kini berada di hadapannya, “Aisya?” Panggilnya, Aisya pun melihat ke arah suara, “Fathan?” Aisya kemudian berdiri perlahan, namun tiba tiba keseimbangannya pun goyah dan.. Brugh Aisya terjatuh pingsan, Fathan yang panik pun langsung menggendong Aisya ala bridal style dan memasukkannya ke dalam mobil, Fathan membawa Aisya ke rumah miliknya, dan memanggil dokter keluarga ke rumahnya, Ibu Fathan syok melihat sang putra yang tiba tiba membawa seorang perempuan, “Siapa dia, nak?” Tanya Ibu Fathan “Namanya Aisya, Tadi dia hampir ketabrak sama Fathan, kayaknya dia syok mah, makanya dia pingsan,” “ya ampun nak, lain kali hati hati ya bawa mobilnya,” “Iya mah,” Dokter pun selesai memeriksa, “Bagaimana keadaannya dok?” “Tidak apa apa, Nona ini sepertinya sedang banyak masalah, tingkat stress tinggi, lebih baik ajak dia bicara dengan baik,” Fathan pun mengangguk, “kalau begitu saya permisi,” Pamit dokter “Terima kasih dok,” Fathan terdiam seraya menatap Aisya, ‘Stres? Apa sebenarnya yang sedang ia alami ya?’ Batin Fathan Fathan dan ibunya merawat Aisya dengan baik, Namun, ada perubahan dalam diri Aisya yang terlihat olehnya, ‘Dia sekarang sangat pemurung, berbeda dengan saat kami bertemu di seoul,’ Batin Fathan “Emm,Oh ya Aisya.. Apa kau mau bekerja padaku?” Aisya menatap ke arah Fathan “Tapi, perlakukan aku seperti pegawai lain,” “Kenapa kamu bilang gitu?” “Karena waktu di korea, kamu udah bikin aku kena masalah besar karena tiba tiba menaikkan jabatanku, dan membuat aku kejebak masalah yang hampir membuatku kehilangan nyawa,” Ucap Aisya “Haa, Maaf.. Aku gak tau bakalan jadi kayak gitu jadinya, Maaf ya.” Fathan melipat kedua tangannya memohon maaf, “Gapapa, mungkin ini udah takdir,” “Kalau gitu, buat nebus semua itu, aku bakalan bantu kamu buat kembali nerusin sekolah kamu dan juga kerja sama aku,” “jangan ngasihanin aku,” “Yee, geer amat! Denger ya, kamu tuh kerja, trus aku bayar kamu kayak karyawan aku yang lain, trus buat bayar kuliah kan bisa dari gajian kamu, selain itu, aku butuh penerjemah gitu buat bisnisku, gimana? sama sama diuntungkan kan?” Aisya terdiam, “Dahlah, gak usah banyak mikir napa? Tinggal bilang iya aja susah banget,” Aisya menghela nafas kasar, “Yaa, Baiklah.” Aisya pun menyetujui tawaran Fathan. ‘Semoga dengan cara ini, Aku bisa cepet lupain Do hyun, dan bikin kedua orang tuaku bangga.’ Batin Aisya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN