Perlahan Aisya pulih dan ia mulai kembali ke aktivitasnya,
“Eh sya, Lo udah sembuh?” Tanya Ilham yang tidak sengaja berpapasan dengan Aisya di lobi,
“Alhamdulillah, Oya.. Makasih ya, karena udah nolongin,”
Ilham menganggukkan kepalanya,
“Sama sama, gue pikir lo gak bakalan bilang kayak gitu,”
Aisya pun tertawa kecil,
“Gue juga manusia kali, yang punya attitude ke manusia lain,” Jawab Aisya
Ilham menatap heran Aisya,
“Gue gak salah denger? Ini lo kan sya?”
Aisya menatap tajam Ilham,
“Jangan mancing gue buat geplak lo ya,”
Ilham pun tertawa,
“Gue cuman merasa aneh, biasanya kalo ngomong sama lo, kudu bahasa baku banget, tapi syukur deh lo akhirnya bisa dibawa ngobrol asik,”
Aisya tersenyum tipis,
“Ya mungkin karena kebiasaan ngomong bahasa kek gitu kali ya,”
“Oke oke,” Ilham mengangguk anggukkan kepalanya
“ya udah, gue ke atas dulu ya.” Pamit Aisya,
Aisya pun melanjutkan pekerjaannya,
“Aisya,” Panggil Fathan
“Ya pak,”
“Tolong siapkan tiket keberangkatan ke seoul untuk tiga orang,”
“Oh, Baik pak.” Aisya bergegas,
“Dan satu lagi, pulang dari kantor, kamu langsung packing ya,”
“O-Oh? Maksudnya?”
“Ya, kamu ikut sama saya juga Ilham ke seoul,”
“Hah?”
“Kenapa?”
“S-saya.. saya..”
“Gapapa, semuanya akan baik baik aja,”
Aisya pun mengangguk paham,
***
Aisya melamun di teras rumah, Hingga perhatian Ibu Fathan pun teralih padanya,
Ibu Fathan pun menghampiri Aisya,
“Ada apa, nak?”
Aisya menatap sendu Ibu Fathan,
“Tidak apa apa bu, Aisya hanya merasa bingung apa yang harus Aisya lakukan di seoul,”
Ibu Fathan pun mengelus lembut kepala Aisya
“Tidak perlu dipikirkan, Nikmati saja semua prosesnya, Apapun hasilnya itu sudah menjadi resiko dalam setiap keputusan yang diambil,”
Aisya tersenyum tipis,
“Bolehkah Aisya meluk ibu?”
Ibu fathan pun merentangkan kedua tangannya, dan Aisya langsung memeluknya erat,
***
Hari pun berganti,
Aisya bersama Fathan tengah menunggu Ilham yang belum terlihat batang hidungnya,
“Emang dasar, dia itu sukanya terlambat mulu,” Gerutu Fathan
“Emang, Ilham gitu ya?” Tanya Aisya
“Hmm,” Jawab singkat Fathan,
Setelah menunggu hampir 30 menit, Ilham pun muncul,
“Hai gaes!” Sapa Ilham,
“Lo dari mana aja sih? lama banget!” Protes Fathan
“Sorry bro, Lo tau kan gue paling gak bisa bangun pagi, so jangan salahin gue, salahin yang beli tiketnya kepagian!”
Aisya membolak,
“Maksud lo, Gue? Eh, yang salah itu lo, karena gak bisa bangun pagi! tidur udah kayak kebo aja!” Balas Aisya
“Wah, ngajak gelud ni anak, masa cowo terganteng di dunia gini dipanggil kebo, gila!”
“Udah, stop! kenapa sih kalian berantem terus? udah kayak tikus ama kucing aja! Udah, ayo berangkat!” Ucap Fathan,
Mereka pun berangkat bersama,
***
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di bandara incheon,
Langkah Aisya tiba tiba terhenti, Dan Ilham yang menyadarinya pun menghampirinya,
“Heh kulkas! Koq lo brenti? buruan, gue cape dan pengen rebahan di kamar hotel,”
Aisya tetap mematung,
Ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Do Hyun di bandara,
“Ckk, Aelah ni anak, sempet sempetnya ngelamun,” Ilham pun menarik tangan Aisya,
Ilham dan Aisya ke hotel terlebih dahulu, karena ada malah di restoran, Fathan pun langsung pergi ke restoran.
“AnnyeongHaseyo, Silahkan.” Sapa seorang supir taksi,
“Aduh mampus, mana gue kagak ngarti bahasa korea lagi,” Ucap Ilham,
Ilham pun mentap ke arah Aisya,
“Sya, lo bisa ngomong bahasa korea kan, jawab dong.” Pinta Ilham,
Aisya menatap sinis Ilham,
“Makanya belajar, jangan ngonten mulu!” Sindir Aisya,
“Ya elah sya, ngonten juga kan belajar,” Jawab Ilham,
Aisya pun meminta supir untuk mengantarnya ke hotel yang disebutkan oleh Fathan,
Dalam perjalanan, Aisya melewati sebuah tempat,
“Maaf pak, apa bisa jika berhenti dulu sebentar disini?” Pinta Aisya
“Baik Nona,”
Mobilpun berhenti,
“Eh eh, koq brenti sya?” Panik Ilham,
Aisya pun turun dari mobilnya,
“Sya! Koq berenti disini?” Teriak Ilham,
Aisya pun terus berjalan ke dalam,
“Lho, ini kan.. Masjid?” Ucap Ilham yang terus mengikuti langkah Aisya,
“Kamu bener, Ini namanya mesjid seoul, mesjid terbesar di negara ini,”
Ilham melihat ke sekeliling,
“Wow, ini benar benar hebat!” ilham takjub melihat sekitar,
“Sya, kita ke hotel dulu yuk, gue cape nih udah berjam jam duduk di pesawat, entaran lagi deh kalo mau jalan jalan kek gini, gue pengen rebahan, gue kangen kasur empuk punya gue!”
Aisya tertawa,
“Dasar, Iya udah kita balik ke hotel aja.”
Mereka berdua pun kembali ke hotel,
Dilain sisi,
Do hyun menatap sosok seorang gadis di halaman masjid, ia mengenakan gamis berwarna mint, dengan hijab yang senada
“Aisya?” panggilnya
Do hyun mencoba untuk memfokuskan pandangannya, dan ia merasa sangat yakin, jika itu adalah Aisya,
“Ya benar, itu Aisya.”
Do hyun berdiri dari duduknya, Ia kemudian berlari ke arah Aisya,
Namun, langkahnya tiba tiba terhenti saat ia melihat sesosok pria yang berada disamping Aisya,
“Siapa dia?” Gumamnya,
***
Setibanya di hotel,
Aisya dan Ilham menunggu kedatangan Fathan,
20 menit Aisya menunggu Fathan, hingga akhirnya Fathan pun muncul,
“Lo darimana aja? gue pengen istirahat tau!” protes Ilham
“Lo kenapa sih ham? protesss mulu, cape gue dengernya!” Ucap kesal Aisya,
Aisya kemudian berjalan lebih dulu diikuti Fathan dan Ilham,
“Lo kalo punya cewek jangan galak kayak singa gitu, kek. gue tiap hari senam jantung mulu gara gara dia,” Bisik Ilham
“Heh, lo gomong apa?” protes Fathan
“Kagak,” Ilham kemudian melangkah melewati Fathan,
Fathan hanya menggelengkan kepalanya,
***
Ilham menekuk wajahnya saat ia mengetahui jika ia satu kamar bersama Fathan,
“Lo kan kaya, kenapa sich lo gak nyewa hotel tuh 3 biji? kenapa mesti satu kamar berdua? udah gitu single bed lagi, emang dasar gila,”
“Udah gak usah protes!” Ucap Fathan,
Mereka pun beristirahat di kamarnya masing masing,
“Than,”
“Hm?”
“Lo tau? Tadi waktu di bandara, Aisya tiba tiba aja mematung, susah banget diajak ngelangkah lagi,”
“Kenapa?”
“Kalo gue tau, gue gak bakalan nanya kali,”
Fathan pun terdiam,
‘Apa ada hubungannya dengan Do hyun?’ Batinnya
“Gue jadi penasaran, Apa sih yang sebenernya terjadi? Apa dia punya masa lalu, yang ngebuat dia kayak gitu?’ Tanya Ilham,
Fathan pun hanya terdiam tanpa mengatakan apaun,
***
Tok tok tok
terdengar suara ketukan pintu dari arah luar,
“Siapa?” Ilham pun membuka pintu,
“Ayo kita pergi,” Ajak Aisya,
“Kemana?” Tanya Ilham yang masih mengantuk,
“Kita akan pergi ke street food korea, tempat dimana makanan korea berada, dan kita bebas mau makan apapun.” Ujar Aisya,
“Benarkah? Wah, Ini sungguh sungguh mengesankan, kalo gitu tunggu gue, oke?”
Aisya pun mengangguk,
Tak perlu waktu yang lama,
Ilham pun datang dengan outfit yang serasi di tubuhnya,