Perjanjian satu hari

1187 Kata
Arsyla melemparkan beberapa foto yang menunjukkan kebersamaan Aisya dengan Do hyun, “A-apa ini?” Syok Aisya Aisya memungut satu persatu poto tersebut, ‘Bahkan Arsyla memiliki foto saat do hyun memelukku?’ Batin Aisya berkata, Aisya menatap ke arah Arsyla, “Darimana kau mendapatkan semua ini?” Tanya Aisya Arsyla kemudian mengambilnya dari tangan Aisya, “Itu bukan urusanmu,” Ucapnya “Jadi, Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kau masih belum bisa menerima kekalahan mu?” Ungkap Arsyla, Aisya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya, “Apa menurutmu begitu? Bukankah itu sebaliknya?” Aisya mencoba memberanikan diri untuk melawan, Arsyla tertawa kecil, “Jadi, kau ingin menantangku? Baiklah, kita lihat, Bagaimana reaksi keluargamu jika mengetahui yang sebenarnya tentang kau dan juga Do hyun,” Tantang Arsyla, Raut wajah Aisya pun berubah tegang, Arsyla meraih ponselnya yang ia simpan di saku belakang celana, Ia menekan beberapa digit nomor dan menekan tombol panggilan, Beberapa saat kemudian, In Call “Hallo, Assalamu’alaikum?” Terdengar suara dari seberang telpon, Arsyla pun mengukir senyuman di sudut bibirnya, seraya menatap Aisya, “Assalamualaikum, Pak?” Ucap Arsyla, Keringat dingin mulai mengucur, Aisya merasa takut jika Arsyla menceritakan semuanya tentang yang terjadi padanya dan juga pada Do hyun, “Bagaimana kabarnya ibu, Pak?” tanya ramah Arsyla, “Ya, beginilah Nak, Alhamdulillah, bagaimana keadaan mu?” “Alhamdulillah,” Arsyla bersikap seolah tidak terjadi apa apa, Ia kemudian mengaktifkan sistem loudspeaker yang ada pada ponselnya, “Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan Aisya?” Tanya Ayah Aisya, “Oh, tadi aku sudah bertemu dengannya,” Dengan tatapan mengintimidasi, Arsyla terus menatap Aisya, yang membuat Aisya tidak nyaman, “Oh ya, Apa kau tau kenapa ponsel Aisya tidak bisa dihubungi?” “Oh, soal itu.. Maaf ayah dengan sangat menyesal saya harus memberitahukan ini pada bapak,” “Memberitahukan tentang apa?” Arsyla menarik nafas panjang, “Aisya, sengaja mengganti nomor teleponnya, untuk menghindari keluarganya, dia ingin hidup tentram dengan kekasihnya yang bernama Kim Do Hyun,” “A-Apa?” Syok Ayah Aisya Aisya menggelengkan kepalanya, “Tidak! Itu tidak benar!” Aisya bergegas menghampiri Arsyla dan mengambil ponsel Arsyla, “Hallo ayah, itu tidak benar yah! Ponsel Aisya rusak karena..” Ucapan Aisya terpotong, Ia baru menyadari jika telpon tersebut sudah dimatikan sepihak. Buliran bening itupun mengalir begitu saja, “Kenapa kau tega? Kenapa kau membuat hati orang tua ku terluka?” Bentak Aisya, Dengan santainya Arsyla menarik kembali ponsel miliknya dari genggaman tangan Aisya, “Kenapa? Kau marah? Ini akibatnya karena kau tidak pernah mau berhenti mencoba untuk terus bersama dengan Do hyun! Aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini, Jadi menyerahlah, atau kau akan membuat kedua orang tuamu semakin merasakan sakit,” Ancam Arsyla, Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Aisya, Aisya pun terduduk dan memeluk dirinya sendiri, dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya, *** Do hyun membawakan bungeopang berisi krim kesukaan Aisya, Ia mendatangi apartemen untuk menemui nya, “Aisya?” Panggilnya, Namun tidak terdengar sahutan dari dalam rumah, Do hyun pun mencari Aisya di kamarnya, Namun ia tidak menemukan siapapun, Ia kemudian mengetuk pintu kamar mandi, namun tidak ada jawaban, Ia mulai khawatir, dan mencoba mencarinya di seluruh apartemen, namun ia tidak menemukannya, Do hyun bergegas menemui keamanan yang berjaga 24 jam di apartemennya, “Pak, Apa kau melihat seorang gadis yang mengenakan penutup kepala?” “Oh, Apa maksudmu, gadis cantik dengan penutup kepala dan membawa sebuah koper dan tas?” “A-Apa? Koper?” “Iya,” Do hyun pun mengangguk, “Iya pak,” “Dia tadi berjalan kaki menuju halte bis,” “H-halte bis?” Do hyun kemudian berlari ekencang mungkin menuju halte bis, Setibanya di halte, Ia melihat bis yang melewatinya begitu saja, dan menangkap sosok seorang gadis yang duduk di dekat jendela, “Aisya!!” Teriaknya, Namun, Aisya sama sekali tidak melirik ke arahnya, “Aisshh,” Do Hyun pun berlari sekuat tenaga untuk menyusul bis yang berada di depannya, “Aisya!” Teriak Do Hyun Dengan nafas tersenggal senggal, Ia terus berlari dan memanggil manggil nama Aisya, Aisya yang merasa namanya disebut pun, menatap ke arah sekitar, namun tidak ada yang memanggilnya, “Aisya!” Teriakan kali ini membuat Aisya melihat ke arah luar jendela, Aisya hanya melihat ke arah Do hyun yang terus berlari, Do hyun mengetuk ngetuk beberapa kali bis tersebut, Hingga bis itu pun berhenti dan Do hyun masuk ke dalam bis tersebut, “Aisya,” Dengan nafas terengah engah Ia duduk disamping Aisya, “Aku mohon, jangan pergi.” “Maaf, Tapi aku harus pergi.” Ucap Aisya tanpa menatap Do hyun, Do hyun menatap dalam Aisya, “Jangan pergi, Aku mohon.” “Aku harus tetap pergi,” “Berapa lama?” “Untuk waktu yang lama,”’ Do hyun bernafas kasar, “Apa kau benar benar akan pergi dan melupakan cinta kita?” Aisya terdiam, Do Hyun menganggukkan kepalanya, “Baiklah, Tapi Bisakah kau memberikanku satu hari saja untuk bersamamu?” Aisya tetap terdiam, Mata Do hyun berkaca kaca, “Aku tau, pada akhirnya semuanya akan tetap semenyakitkan ini, Karena itu, Aku mohon beri aku satu hari bersamamu sebelum kau kembali ke negaramu, Anggap semua ini sebagai permintaan terakhirku,” Aisya menatap ke arah Do Hyun, Ia kemudian mengangguk perlahan, Aisya menyetujui permintaan terakhir Do Hyun sebelum ia pulang, *** Do hyun membawa Aisya pergi ke beberapa tempat, Tempat pertama yang mereka datangi adalah street food, “Waa.. sepertinya enak,” Do hyun pun tersenyum melihat reaksi Aisya, “Kau mau mencoba yang ini?” Tanya Do hyun yang menunjuk odeng yang ada di hadapan mereka, Aisya mengangguk cepat diiringi senyuman, Do hyun mengambil sebuah cup berukuran sedang, dan mengambil beberapa odeng dan disirami kuahnya yang gurih, “Makanlah,” Aisya kembali mengangguk dan memakannya dengan lahap, “Ini benar benar enak,” “Apa di negaramu ada makanan seperti ini?” “Emm, Aku rasa.. rasa odeng ini seperti.. Em.. rasa otak otak jika di negara ku,” “Ocak ocak?” Aisya tertawa mendengar cara bicara Do hyun yang mencoba mengucapkan bahasanya, “Bukan, yang betul otak otak,” “O.. tak.. O.. ta.. k” Aisya kembali tertawa, “Kenapa rasanya aneh mendengarnya dari mulutmu,” Do Hyun mempoutkan bibirnya, “Kau ini,” Merasa gemas dengan raut wajah Do hyun yang lucu, refleks Aisya mencubit pipi Do hyun seraya tertawa, Hingga tatapan mereka pun bertemu, tawa itu pun terhenti menjadi rasa canggung, Ia kemudian menarik kembali tangannya, “Em, M-maaf.” Aisya kembali menikmati odeng miliknya, Do hyun pun tersenyum, Tatapannya pun beralih ke arah penjual bungeoppang, Do hyun menarik tangan Aisya, “Ayo, kita kesana!” Ajak Do hyun Aisya pun mengikuti langkah Do hyun, “Bungeoppang, Kau menyukainya bukan?” Aisya menganggukkan kepalanya, “Baiklah, mana yang mau kau pesan?” “Emm, Ini saja,” “Permisi Nyonya, Tolong bungeoppang isi krim dua,” Pesanan pun siap, “Terima kasih,” Mereka pun mencari tempat duduk untuk menikmati makanannya, “Waaah, Ini enak sekali.. Memang ini yang terbaik,” Aisya begitu lahap menikmati makanannya, Do hyun kembali tersenyum menatap Aisya yang begitu menikmati makanannya,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN