ESMERALDA GALE

1265 Kata
"Pampis Tongkol, Mie Cakalang, Rica Roa, Cakalang Fufu, Ikan Kuah Asam. Apa lagi ya? Masak dikit aja deh. Besok nggak bisa antar Dary kalau masak banyak," gumam Esme sendiri di dapur mungil tempat ia tinggal. Wanita berusia empat puluh tahun, berbadan sintal dan berkulit putih itu kini sedang mengatur kotak makan plastik thinwall berukuran lima ratus mili liter, berisi berbagai aneka masakan yang telah ia sebutkan tadi. Sengaja Esme menjual dalam kemasan tersebut karena pekerjaan utamanya sebagai pemilik toko bangunan akan menyita waktunya nanti. Toko bangunan miliknya tidak terlalu besar yang menyatu dengan tempat tinggalnya di bagian belakang dengan bangunan yang terpisah dan cukup untuk dirinya yang tinggal bersama dengan anak remajanya. Hari ini Esme mendapat orderan berupa Tinutuan bersama ikan asin, perkedel nike, perkedel jagung, sambal roa, dan nasi jaha tidak lupa sup brenebon kacang merah dengan tetelan sapinya. Masakan khas Sulawesi, pulau indah di mana dulu ia lahir dan tumbuh besar. Esme melihat jam sederhana yang menempel pada dinding, jam empat saatnya ia pergi berbelanja ke pasar. Hal ini ia lakukan hanya sebagai pengobat rindu karena hobi utamanya adalah memasak. "Ma," panggil Dary menghentikan kegiatan Esme. "Ya?" "Dary kok, rasanya ragu tinggalin Mama sendiri ya? Apalagi Mama masih terima catering. Nanti Mama capek. Dary kan, sudah dapat beasiswa Ma. Penghasilan dari toko udah lumayan untuk sekolah dan makan kita." Esme menatap lembut pada anak semata wayangnya yang sudah berpikiran dewasa lebih cepat dari waktunya terlebih anaknya itu adalah anak yang cerdas, beberapa kali lompat kelas dan kini saat berusia lima belas tahun ia sudah menempuh pendidikan di bangku kuliah. "Mama ingin Abang bisa sekolah sampai S3, syukur-syukur kalau Abang bisa dapat beasiswa terus. Kalau enggak, Mama harus siapkan biaya. Begitu juga kebutuhan kita. Mama ingin memberikan yang terbaik untuk Dary." Dary yang baru selesai mandi dan bertelanjang d**a dengan handuk yang menggantung di bahunya segera memeluk Mamanya hangat. "Mama sudah melakukan semuanya untuk Dary lebih dari cukup. Dary cuma punya Mama, jadi Mama jangan sampai kelelahan." "Lelah, sehat, sakit itu hal yang wajar Sayang. Yang terpenting kita harus tetap bersyukur. Lagi pula Mama masih bisa mengontrol dan tidak terlalu memforsir tenaga." "Mbak Ida jadi ‘kan, temani Mama di sini? Kalau cuma Mbak Dewi saja kurang kayaknya, Ma. Mama ‘kan, masih masak terus." "Tergantung Bu Sunti sih. Katanya Ida mau datang hari ini." "Mama mau ke pasar? Dary mau ikut Mama ke pasar." "Iya, tapi nggak usahlah. Kamu di rumah saja, bantu Mama kemasin makanan ini." "Sekali-kali ya, Ma? Dary sudah lama nggak pernah bantu Mama bawa barang. Lagi pula Dary ingin beli bekal untuk di kota nanti." "Kenapa nggak beli saja nanti di sana, Bang?" "Mahal nanti, Ma. Aa Ferdi saja kemarin minta ibunya untuk mengantar sembako karena pasar lumayan jauh dari kos yang baru." Esme menghela napas menatap sang buah hati. Ia sangat bersyukur bahwa anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sederhana. Dengan penghasilannya memiliki toko bangunan yang sudah berusia lebih dari sepuluh tahun, sudah cukup lumayan untuk tabungan hidup mereka. Sang buah hati bisa mendapatkan beasiswa di sebuah universitas negeri ternama. Tak sia-sia ia berjuang sendiri, semua terasa dimudahkan. Semoga selamanya ia tak pernah bersinggungan dengan semua orang yang telah mencampakkan mereka. Sudah enam belas tahun tapi rasa sakit itu masih terasa baru. "Mama ganti baju sebentar.” Setelah mengganti pakaian, Esme menatap bayangan diri pada cermin yang menyatu dengan lemari kayu jadul. Esme patut bersyukur diusianya yang tak lagi muda bentuk fisiknya tak jauh berubah yang menandakan perbedaan adalah garis bekas operasi Caesar. Tubuhnya sangat mulus tanpa parut lain yang menghiasi, paras yang berbentuk hati dengan bola mata sedikit menyipit sangat cantik. Ditambah alis yang rapi alami dan bulu mata lentik yang diwariskan pada anak lelakinya. Rambut hitamnya yang sudah ditumbuhi sedikit uban ia biarkan begitu saja tanpa semir, baginya sayang uangnya untuk itu lebih baik untuk merawat wajah dan lehernya. Tak menampik banyak pria yang masih berusaha mendekati dirinya dengan dalih menjadi ayah sambung untuk Dary, tapi ia sudah menutup hatinya rapat-rapat sejak lama. "Ayo berangkat Ma. Aa Ferdi barusan chat bilang titip nasi jaha sama sup kuah asam," ujar Dary seraya mengetuk pintu kamar. "Ikan kuah asam," koreksi Esme seraya membuka pintu kamar. "Bukan Ma. Aa mintanya kalau ikan diganti ayam gimana atau ganti daging sapi?" Esme terkekeh geli mendengar ucapan sang putra. "Ada-ada aja diganti daging sapi. Ya udah ganti ayam saja ya." "Ya," balas Dary yang kemudian mengetikkan balasan pada temannya itu. Ella mencegat di jalan saat keduanya sudah berjalan cukup jauh. "Esme, nanti agak siangan ya aku bayar untuk pesanan Ferdi. Duh, anak itu sukanya mendadak aja." "Nggak apa-apa, Mbak. Ini mumpung saya sekalian mau belanja dengan Dary." "Cie ... yang besok mulai ngekos lagi. Baik-baik di sana ya? Jangan ngaku udah dewasa kamu ingat umur ya, Bocil," ujar Ella kepada Dary, lalu beralih kepada Esme, "Kalau gitu aku pesan apem gula Jawa bisa nggak ya lima puluh aja untuk kerja bakti besok di masjid?" tanyanya. "Siap Bude. Aa suka banget pindah kos, jadi Dary ikutan. Padahal sekarang lagi libur semester enakan di rumah," ujar Dary. "Bisa Mbak. Saya masak dikit kok, besok." "Kamu libur besok?" "Cuma siapkan untuk pesanan saja, besok ada besi datang soalnya. Tunggu itu dulu baru antar Dary." "Belikan motor saja, napa. Cuma untuk anak semata wayang juga," ujar Sumiati yang tiba-tiba sudah bergabung dengan mereka. "Belum Bu, usia Dary masih lima belas tahun belum layak untuk mengendarai motor." "Halah ... anakku umur sebelas tahun aja sudah bisa naik motor tuh, diajarin sama bapaknya. Masa anakmu yang jenius, nggak bisa naik motor. Bilang aja kamu janda pelit, udahlah aku pergi dulu males urusan sama kamu. Sok alim, bikin emosi," balas Sumiati yang kemudian berlalu meninggalkan mereka bertiga. Esme mengusap kepalan tangan Dary yang sudah bermuka masam sejak kata-kata pertama dari Sumiati. "Sabar ya, Bang." "Nggak usah diambil hati omongan Sumiati, emang mulutnya nggak pernah disekolahin. Sudah benar apa yang dikatakan mamamu itu. Umurmu masih terlalu muda untuk membawa motor. Si Sumi aja yang keterlaluan dan tidak bertanggung jawab, bocah kecil sudah disuruh bawa motor," ujar Ella yang ikut meredakan kekesalan Dary. Jelaslah anak mana yang rela jika sampai predikat janda ibunya dijadikan olok-olokan. "Iya Bude." "Ya sudah ya, Mbak. Saya ke pasar dulu keburu siang." "Ya, hati-hati. Kalian berdua kalau pakai jaket kembar gitu seperti orang pacaran." "Bukan jaket ini, Bude tapi hoddie namanya." "Ya, ya pokoknya baju hangat itu. Hati-hati nanti ada yang goda mamamu di jalan." "Yah, gimana ya resiko punya Mama cantik." "Bisa aja kamu." Setelah sekitar lima belas menit mereka melangkah, Dary kembali berkata,"Ma, tahu villa yang besar dengan cat abu-abu itu?" "Tahu dong. Tiap hari kita lewati kalau ke pasar." "Sudah ada penghuninya sekarang, Ma." "Oh ya, impian Dary itu biar bisa cepat lulus dan kerja. Nanti Dary belikan rumah seperti itu, ya?" "Amin, Bang. Bagi Mama asal Abang sehat dan sukses saja cukup. Jangan lupa bersyukur apapun keadaan kita." "Tentu Ma, semua bisa terjadi karena Dary punya Mama yang hebat, cantik dan tidak ada duanya. Dan benar yang dibilang Bude, Mama kelihatan lebih muda pakai Hoodie kembaran begini." "Ah… bisa aja kamu," kata Esme dengan tersipu. "Cie… masa tiap digoda anaknya wajahnya merah." Esme seperti merasa ada yang melihat keberadaan mereka yang berjalan di trotoar dari arah villa tersebut hingga gelak tawa Dary segera teredam oleh teguran Esme. "Sttt ... jangan keras-keras ketawanya Bang. Bisa sampai kedengaran penghuni villa nanti." Esme bahkan tidak berani untuk melirik ke arah villa tersebut setelah tadi sempat melihat sebentar daa siluet di depan kaca besar di lantai 2. "Mama ah ... alasan aja. Kemarin Abang lihat yang tinggal di sini nggak lebih cantik kok, dari Mama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN