Cale mendengar langkah kaki dan pintu kamar mandi yang terbuka. Disusul seorang wanita seksi keluar hanya menggunakan handuk membungkus tubuhnya sebatas pertengahan paha. Wanita itu pun segera mendekat dan memeluk Cale dari belakang.
"Kamu nggak mau main lagi satu ronde sebelum aku pulang?"
Cale menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di bawah sana. Darahnya berdesir bukan karena wanita seksi yang memeluknya tetapi pada wanita yang wajahnya tak terlihat karena memakai masker berwarna hitam di bawah sana. Bentuk tubuh itu masih sama persis dengan yang ada dalam ingatannya begitu juga cara berjalannya. Sangat mirip.
"Lebih baik kamu pulang sekarang sebelum Mamiku bangun. Akupun ingin tidur."
"Coba kalau semalam kita di apartemen aku akan bisa memuaskan kamu seharian ini. Apa kamu tidak ingin memperkenalkan aku dengan mamimu? Siapa tahu, beliau akan menyetujui aku sebagai menantunya. Aku bisa memasak dan membersihkan rumah sama baiknya seperti memuaskanmu di ranjang."
"Jangan membahas hari yang sudah lalu. Akupun ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan."
"Jangan terlalu keras bekerja, bersenang-senanglah sebentar."
Cale melepaskan pelukan Nora dengan kasar dan berbalik dengan sorot tajam ke arah wanita itu seraya menjapit dagunya hingga Nora meringis. "Dengarkan aku baik-baik Nora. Hubungan kita hanya sebatas seks tidak lebih. Kamu jangan pernah mencoba mengaturku."
"Tidak bisakah kamu membuka hatimu sedikit untukku?" tanya Nora begitu Cale berlalu menuju kamar mandi.
"Tidak. Aku tidak pernah percaya dengan cinta. Tidak usah menangis, air mata kalian itu palsu."
Dengan penuh rasa sakit hati, Nora segera meraih gaun semalam dan memakainya dengan cepat, secepat ia melangkah keluar dari villa tersebut. Bahkan suara air belum terdengar dari pintu kamar mandi yang terbuka.
Cale menghentikan kegiatannya mencukur rahang saat mendengar suara deru mobil dan decitan mobil membelah kesunyian di pagi hari ini dari halaman rumahnya. Wanita itu pergi dengan kecewa dan Cale pun tak peduli yang terpenting ia sudah membayar dan baginya tidak ada seorang wanita pun bisa mengontrol hidupnya.
*
"Jam berapa kamu pulang semalam?" tanya Amina yang sedang mengisi ketel dengan air.
"Hampir jam dua pagi, mungkin," jawab Cale santai seraya menggeser kursi meja makan.
"Pagi sekali kamu bangun atau jangan-jangan belum tidur?"
Cale tersenyum simpul bundanya sangat hapal betul dengan kelakuannya. " Belum," jawabnya singkat.
"Apa yang kamu cari? Enam belas tahun sudah berlalu, kapan kamu akan mencari pengganti dia? Umurmu tidak akan muda selamanya dan berhentilah untuk bermain api dengan para wanita bayaran itu. Mami tidak suka, kamu tahu itu," ujar Amina seraya melirik tajam putra sulungnya.
"Mami tahu, aku belum puas membalas dendam—"
"Sampai kapan … sampai kapan akan terus begini? Otakmu sudah terlalu rusak dipengaruhi oleh dendam lama papimu. Dia tidak bersalah. Lagi pula semalam Mami juga tidak lihat ada dia diantara anggota keluarganya. Mungkin dia sudah menikah lagi dan dibawa pergi oleh suami barunya."
Kalimat terakhir sang bunda menghentikan kegiatan Cale yang sedang mengoles selai nanas. Entah mengapa ia tidak suka dengan pemikiran itu walaupun kemungkinan itu jelas ada. Wanita secantik Esme sudah pasti tidak akan tinggal diam untuk segera mencari mangsa baru. Sementara perihal sang ayah, ia tidak mau banyak berkomentar untuk saat ini.
"Mungkin memang dia sudah punya suami baru," balas Cale, kata-kata itu dengan mulus meluncur dengan lancar tetapi sesudahnya seperti ada sebuah telur menyumbat tenggorokannya.
"Kamu tidak mencari tahu?" selidik Amina yang kini bergabung dengan Cale dengan menyeruput coklat hangat dari cangkir.
"Untuk apa?"
"Ck … katanya mau balas dendam?" Amina berkata seraya mengulum senyum.
Kali ini Amina yakin jika putranya tidak sungguh-sungguh akan membalas dendam setidaknya begitulah sorot kerinduan yang semalam ia lihat dari wajah dingin sang putra. Lidah bisa saja berdusta tapi sorot mata tidak. Acara besar yang dihadiri oleh banyak pebisnis dan banyaknya wanita karir dengan wajah elok tak juga bisa membuat raut dingin dari Cale yang membuat orang penasaran dan ingin berusaha menaklukkannya bergerak lebih dulu mencari pengganti dari Esme. Bahkan Amina sangat yakin, anaknya itu berharap wanita cantik itu bisa saja muncul diantara kerumunan keluarga Ottelo yang hadir.
"Nantilah. Masih banyak urusan kerjaan yang harus diselesaikan."
"Mami mau pergi ke warung makan dekat pasar."
"Ngapain?"
"Mau beli sop ayam rempah. Ayam merah loh, enak."
"Kenapa tidak buat sendiri? Mana Euis?"
"Enak makan di sana. Mami lagi pingin jajan. Euis, Mami liburkan hari ini."
Cale menatap sekitar warung makan itu yang rame dengan para pencari sarapan pagi ini. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Setelah menyantap sehelai roti tawar dengan selai nanas mereka akhirnya berada di sini.
"Enakkan?" tanya Amina begitu pesanan mereka sudah tersaji di meja.
"Tampilannya menggoda sih. Apalagi banyak bawang gorengnya begini."
"Kamu ‘kan suka bawang goreng makanya Mami suruh lebihin tadi."
Cale memilih tempat duduk yang berada dekat dengan jalan, ia ingin sekaligus melihat jalanan dengan segala hiruk pikuk kegiatan di pagi hari ini.
?
"Tahu kalau belanjaan Mama banyak begini, kita pake mobil, Ma," ujar Dary sambil menggeleng melihat banyaknya belanjaan sang bunda. Bagaimana tidak yang awalnya mau belanja sedikit untuk besok eh, sekaligus belanja untuk pesanan kue yang mendadak.
"Udah nggak apa, kita pakai angkot saja. Hitung-hitung berbagi dengan orang lain."
"Kayaknya Mama lebih cocok buka bakery daripada pemilik toko bangunan."
"Semoga ya, Bang. Rencana mama juga begitu. Lumayan untuk bantu anak-anak yang putus sekolah itu. Daripada mereka cuma nongkrong dan main hape mending belajar bikin kue sama mama."
"Mama kalau buka cooking class seperti dulu yang ada tambah nggak istirahat, Ma."
"Sayang … mama buka toko besi kan cuma sampai jam 3 sore setelahnya waktu mama banyak sendiri. Toh, di toko mama cuma duduk di belakang kasir. Apalagi kamu udah kembali ke kota."
"Dary kan udah libur semester, Ma. Cuma besok beresin kos baru saja. Aa Ferdi aja yang tinggal di kota karena sambil kerja, Dary ‘kan balik lagi ke sini."
"Jadi besok rencana langsung balik, nggak tunggu beberapa hari dulu di sana sekaligus adaptasi dengan penghuni lain?"
"Nggak deh. Kasihan Mama sendiri. Lagian Dary bisa bantu Mama beresin taman," ujar Dary yang sudah berubah pikiran.
"Ida katanya jago beresin taman."
"Nggak deh. Mending dia bantu untuk siram-siram saja."
Esme tersenyum kecut. Kesukaan anaknya terhadap bunga terlebih pada anggrek dan mawar adalah turunan dari pria yang sudah meninggalkan dirinya saat malam pengantin. Esme hanya bisa berharap jika sang putra tidak akan pernah menyakiti anak orang dengan berlaku sama seperti sang ayah. Esme yakin anaknya bukan pendendam seperti pria itu.
Dari seberang jalan mereka menunggu angkot. Sendok dalam genggaman Cale berhenti di udara saat matanya tak sengaja menatap sosok dua orang di seberang sana.
"Kamu kenapa?" tanya Amina keheranan karena anaknya yang bengong. Ia pun memutar tubuh melihat ke arah tujuan pandangan Cale.
"Astaga, Alda?! Tapi siapa itu cowok yang di sebelahnya? Mana mereka pake baju hangat kembar lagi?"
Cale menelan salivanya kasar. Napsu makannya sudah menguap, tak menyangka dua orang yang tapi berjalan melintasi depan villa adalah sosok yang selama ini dicari.
"Mami mau ke mana?!" tanya Cale seraya meraih pergelangan tangan sang bunda begitu wanita yang telah melahirkannya itu berdiri.
"Panggil dia."
"Buat apa?"
"Buat ketemu kamu lah. Banyak hal yang perlu kalian selesaikan. Mami tahu kamu belum bisa move on."
Cale mendelik sesaat sebelum kembali pada sikapnya semula, kadang ia tidak habis pikir dengan sikap sang bunda yang sangat spontan dan polos. "Mami nggak perlu lakukan itu," ucapan itu terdengar seperti perintah.
"Kenapa? Kamu mau biarkan dia lolos lagi?" tanya Amina dengan keheranan, tak urung ia kembali duduk. Ia pun tak habis pikir, katanya mau balas dendam. Lah, begitu objeknya sudah ada di depan mata malah dibiarkan.
"Aku bisa mencari tahu. Mami lupa aku bisa membayar orang untuk itu."
"Untuk apa membayar orang. Itu dia di sana," ujar Amina sambil membalikkan badan dan menunjuk ke arah tempat Esme berada tetapi kini kedua sosok itu sudah tidak terlihat lagi.
"Loh, ke mana mereka?!"
"Naik angkot mungkin. Tadi mereka berdua berjalan kaki."
"Kok, kamu tahu?"
"Mereka tadi pagi berjalan melewati villa kita," kata Cale sejujurnya.
"Jadi kamu sudah tahu tapi nggak ada bilang sama mami?"
Cale menggeleng. "Bukan begitu. Aku pun baru tahu sama dengan Mami barusan. Tadi pagi wajah mereka tidak terlihat."
"Cowok yang bareng sama dia juga gagah gitu. Sayang wajahnya nggak kelihatan tertutup masker. Nggak mungkin ‘kan kalau anaknya? Jika anak kalian masih hidup nggak mungkin juga setinggi itu," ujar Amina seraya menerawang.
"Anakku sudah meninggal, Mi. Mami dengar sendiri dari mulut orang tuanya jika dia sudah dengan sengaja menggugurkan anakku," kata-kata Cale dingin dan sarat luka. Sampai detik ini ia masih sangat berduka kehilangan janin yang masih berusia dua bulan kala itu.