Kacau, sangat kacau. Zhang Zhenan menghabiskan waktunya untuk merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia lupa selama dirumah sakit dia tidak membawa kendaraan satupun, kunci mobil saja dibuka Xiao Yu lalu darimana dia bisa pergi leluasa kerestoran Italy itu, jelas saja dia menggunakan taksi. Lalu bagaimana dia bisa lupa dan mengolok-olok dirinya sendiri didepan orang banyak terlebih didepan dokter mengesalkan itu.
Argghh, dimana Zhang Zhenan akan menaruh mukanya nanti. Dia belum siap menemui siapapun saat ini, untung dia tadi tak melepas topeng jika tidak pasti beranda sudah penuh dengan foto dan video penyanyi sekaligus aktris bernama Zhang Zhenan mengamuk dipinggir jalan.
Sangat sialan, semua ini karena Xiao Yu yang tak kunjung menjemputnya, juga ini karena ibunya yang terus memaksanya datang ke perjodohan berkedok pesta itu, kenapa hidupnya rumit sekali Tuhan.
Membubuhkan bedak bayi di pipi sekenanya, Zhang Zhenan siap untuk menghadiri pesta terkutuk itu. Berbekal ponsel dia keluar dari kamarnya, namun saat mencapai ambang pintu sebuah benda mencuri perhatiannya. Melangkah mundur dan melihat pantulan dirinya sendiri didalam cermin, ah.. dia lupa jika dia masih mengenakan boxer dan kaos oblong favoritnya.
Zhang Zhenan mendesah, sejujurnya dia tak terlalu suka bepergian untuk menghadiri pesta apalagi yang mempelopori pesta itu adalah orangtuanya, pasti ujungnya tak akan jauh-jauh dari perjodohan. Dia tidak tahu pria mana lagi yang akan dibawa ibu untuknya, sebenarnya Zhang Zhenan sudah tak tertahankan dia ingin berteriak jika dia tak menyukai pria untuk saat ini dan dia tidak mau menikah. Usia 30 tahun baginya masih cukup untuk berpetualang bersama teman-temannya, Xiao Yu bahkan juga belum menikah tapi ibunya keras kepala.
Apalagi keluarga besar neneknya yang selalu menginginkan cucu dari ibunya, berbagai tekanan kadang membuat Zhang Zhenan ingin lari. Dia sudah dewasa tapi cara mereka memperlakukannya seperti dia gadis perawan yang butuh perlindungan, Zhang Zhenan sudah dikatakan tidak ingin menikah.
Dia belum bisa merawat dirinya sendiri lalu bagaimana dia harus merawat orang lain, belum lagi jika suaminya nanti tak sesuai dengan keinginannya, Zhang Zhenan malas bertengkar. Bayangan perutnya membesar membuatnya merinding, dia belum siap dan tidak akan pernah siap untuk memiliki bayi, mengapa tuhan tidak melahirkannya sebagai pria saja.
Zhang Zhenan melucuti kaosnya lalu melihat perut kencangnya didalam cermin, beberapa otot terlihat menonjol dan membidang hampir membentuk sixpack, dia memang sengaja menumbuhkan ototnya ada kepuasan tersendiri saat melihat dirinya berbeda dengan wanita lain, dia tidak ingin dipandang lemah karena itulah dia mengubah gaya hidupnya seperti laki-laki.
Pergi ketempat gym saat pagi dan sore hari setelah itu bermain golf, malam pun sebelum tidur dia gunakan untuk workout dan semua usaha yang dia lakukan berhasil membentuk tubuh yang diinginkannya.
Lalu bagaimana jika nanti Zhang Zhenan menikah, tidak ada waktu bahkan untuk merenggangkan ototnya. Bagaimana dengan karirnya yang mulai meroket ini, undangan di berbagai stasiun televisi berdatangan untuk meminta kontrak dengannya, tapi jika dia menikah apakah popularitasnya semakin menurun, penggemar pun semakin berkurang ketika mengetahui dia sudah memiliki pasangan.
Lalu anak, penampilannya saat menjadi Permaisuri Zhang saja sudah membuatnya ingin melompat dari jurang. Bagaimana jika dia mengalaminya didunia nyata, perutnya akan menggembung besar dan dia akan kesulitan berjalan, tak nyaman dalam tidurnya atau aktifitas sehari-hari dan sering sakit-sakitan.
"ARGHH! Hentikan.." Erang Zhang Zhenan tiba-tiba.
Saat dia mengingat Permaisuri Zhang mendadak warna merah muncul, darah berlinangan dimana-mana membuatnya pusing dan mual dia masih mengingat bagaimana amisnya darah itu.
Sembari mengusir pikirannya Zhang Zhenan berlalu ke almari besar dipojok ruangan, membuka almari itu dengan susah payah dan saat pintu terbuka tumpukan kain jatuh menimpanya. Ah, dia lupa belum menata mereka. Tidak ada waktu setelah kering Zhang Zhenan langsung memasukkannya kedalam al mari, dia menolak jika orang lain berusaha menyentuh pakaiannya karena menurutnya itu hal pribadi.
Dia memiliki banyak pakaian, walk in closet penuh dengan kaos oblong dan boxer, almari utama berbagai model baju casual dan almari lainnya untuk menyimpan kostum atau beberapa baju yang menurutnya cantik untuk tampil dilayar kaca. Tapi dia tak memiliki gaun ataupun hal semacamnya, dia tak pernah membeli pakaian sejenis itu, lalu apa yang harus dia pakai untuk datang ke pesta.
Acara hanya tinggal 5 menit lagi tapi dia tak memiliki gaun, apakah dia harus meminta ibu peri seperti di dongeng-dongeng? Mati saja. Dia akan memakai baju kerjanya, bukankah kostumnya dipanggung tak terlalu aneh jika dibawa ke tempat pesta. Zhang Zhenan kembali menutup pintu almari setelah sebelumnya melempar tumpukan baju kedalam.
Dia berjalan ke ruang tengah dari kamarnya, menghampiri almari kaca bening yang memperlihatkan seluruh isi didalamnya, namun ketika dia berjalan sebuah benda mencuri perhatian ujung matanya. Zhang Zhenan berhenti mendadak dan hampir terjatuh, benar-benar berlebihan. Apa yang membuat dia hampir menjatuhkan diri adalah sebuah kain panjang bewarna biru tua yang di gantung diatas jendela?.
Zhang Zhenan tergagap sebentar, dia tak memiliki gaun seperti itu lalu siapa yang menaruhnya disini? Ah, pasti ulah ibunya. Mengesalkan, sudah dibilang berapa kali dia tak menyukai hal berbau feminim apalagi memiliki gaun, terakhir menggunakan jenis pakaian mengerikan ini saat dia menghadiri pesta sepupunya 16 tahun yang lalu, itupun hasil paksaan sang bunda.
Tapi hal mengerikan membuatnya tak mau memakai gaun lagi, gaunnya terbakar karena seorang anak kecil tak sengaja menjatuhkan lilin diatas gaun besarnya. Sontak saja perayaan ulang tahun itu menambah daftar moment buruk di hidup Zhang Zhehan.
Lalu kenapa ibunya memberikan sebuah gaun mengerikan lagi untuknya, Zhang Zhenan hampir menangis saat melihat gaun itu. Dia menarik gaun itu dari hangernya, dan gaun itu langsung jatuh menimpa wajah Zhang Zhenan seolah mengejeknya, kain itu lumayan tebal dan berat sepertinya mahal.
Zhang Zhenan mengambilnya dari wajahnya, menata sekenanya rambut sebahunya yang rusak tertimpa. Setelah melihatnya beberapa kali gaun ini lumayan bagus juga dan ukurannya tak kekecilan ataupun kebesaran, seperti sengaja dibuat untuknya.
Tiba-tiba rasa penasaran timbul, tidak ada salahnya dia mencoba. Buru-buru Zhang Zhenan memakai gaun itu tanpa perasaan, memakainya dengan brutal seperti saat dia memakai kaos oblongnya. Beberapa tempat tersangkut ditubuhnya tapi Zhang Zhenan dengan tak punya hati menariknya sampai kain itu dipaksa melonggar dengan sudah payah, kesulitan terbesarnya saat memakai gaun adalah karena ukuran bahunya memiliki ukiran yang cukup lebar dari wanita pada umumnya, bahunya sedikit lebih tebal tapi bahu inilah yang membuat pinggangnya nampak lebih menukik.
Berlari kecil Zhang Zhehan membawa tubuhnya kedepan cermin, dia hampir menjatuhkan rahangnya saat melihat pantulan dirinya sendiri didepan cermin. Gaun biru itu tak terlalu terbuka, hanya bagian belakang saja yang memperlihatkan bahu telanjangnya. Lengannya juga panjang dan gaun itu juga menutupi kakinya bahkan hampir menyentuh tanah, poin tambahan karena gaun itu tak memiliki motif dan hanya polos jadi tak terlalu mengundang perhatian orang.
Lidahnya berdecak, baru kali ini dia menyukai selera ibunya. Sepertinya ibunya sudah mendesign dari jauh-jauh hari, Zhenan memiliki bisep karena itulah ibunya sengaja membuat gaun itu lebih lebar pada lengannya agar tak memperlihatkan lekuk bisep Zhang Zhenan yang dibenci ibunya.
Sangat simple dan sederhana, baiklah mungkin kali ini dia tak membencinya tapi bukan berati dia mulai memukai gaun. Cukup sekali ini, Zhang Zhenan memutar tubuhnya, mencari-cari apa yang sepertinya kurang dari penampilannya.
Ah benar, dia tak bisa membiarkan rambutnya tergerai begitu saja tapi dia juga tak bisa menata rambutnya sendiri, bahkan dia saja jarang menyisirnya.
Ditengah kesibukan Zhang Zhenan menilai penampilannya tiba-tiba ponsel ditangannya menyala, notifikasi pop up muncul di ponselnya, Zhang Zhenan hanya mengangkatnya tanpa repot-repot melihat siapa yang mengirimnya pesan.
Waktu tinggal satu menit, Zhang Zhenan benci terburu-buru saat dijalan karena itu mengganggu konsentrasinya, mengambil karet di laci meja riasnya lalu menguncir sekenanya tak perduli helaian rambut lainnya yang tertinggal.
Zhang Zhehan berlari menuruni tangga, memanggil Xiao Yu yang terbengong melihat penampilannya.
"Aku membutuhkan sopir bodoh!"
Xiao Yu yang tersadar hanya cengengesan sembari membuka pintu mobil, begitu keduanya masuk kedalam Xiao Yu lekas menginjak gas.