Episode 1
= Awal mula =
Azenith Crisanto itulah nama lengkapnya seorang putri tunggal dari sepasang suami istri bernama Crisanto dan Zeni. Tinggal didalam rumah kecil dan kumuh beratap genting yang kondisinya tampak memprihatinkan serta dinding rumah yang masih terbuat dari anyaman bambu.
Mereka adalah satu-satunya keluarga yang paling miskin di desa itu. Crisanto seorang buruh tani, sementara Zeni hanyalah ibu rumahtangga biasa yang tidak memiliki pekerjaan, adapun perkerjaan hanyalah pekerjaan sampingan berupa mencuci pakaian maupun menerima titipan anak (Mengasuh)
Sementara untuk Azenith sendiri hanyalah seorang gadis biasa, ia putus sekolah kala masih remaja dulu lantaran kedua orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Lantas kini sudah berusia 25 tahun.
Disela waktu kosongnya, Azenith hanya mengurus binatang peliharaannya dirumah berupa burung kicau jenis murai dan kacer. Dia memang memiliki hobi yang cukup fantastis bagaikan seorang pria. Tetapi Hobi yang Azenith miliki tersebut tidak hanya sekedar hobi belaka melainkan sebuah bisnis. Lantaran hasil penjualan dari binatang peliharaannya memang cukup mengiurkan, semua terjadi lantaran setara dengan burung jenis itu sendiri, lantaran burung jenis itu sudah langka di alam liar. Hasil pendapatan dari bisnis yang dijalani Azenith ini cukup untuk membantu biaya kehidupan orangtuanya yang kurang dalam ekonomi.
___
Pada pagi hari, sudah menjadi kebiasaannya bagun sejak masih petang, lantas menjalankan sebagaimana mestinya menjadi seorang gadis. Yang mana sudah menjadi tradisi di desa itu seorang gadis bangun pagi, membantu orangtuanya menjalankan aktifitas rumahtangga.
Tepat pukul 05:30 am.
"Apa tidak terlalu pagi Nith kamu mau ke sungai?" Tanya sang ibu seraya menyiangi beberapa bahan masakan berupa kangkung sembari duduk di kursi dapur kala melihat Azenith sedang menata pakaian kotor kedalam wadah yang terbuat dari anyaman bambu hendak ia bawa ke sungai. (Mencuci pakaian)
"Tidak apa-apa bu, supaya cepat selesai pekerjaan ini. Masalahnya nanti sekitar jam delapan, akan ada orang yang kesini untuk menawar burung Zenith, Bu" Jawabnya seraya fokus melakukan apa yang sedang dia kerjakan.
"Oh ... begitu, tapi nanti kamu bisa masuk angin loh Nith, apa kamu tadi sudah minum teh hangat?" Tanya sang ibu.
Azenith hanya mengangguk seraya mata tetap fokus ke arah keranjang baju sembari terus mengerjakannya sampai selesai. Kebetulan jumlah pakaian yang hendak ia cuci hari ini cukup banyak. Karena saat ia mencuci pakaian miliknya, semua pakaian milik orangtuanya pun ia cucikan sekaligus.
Selepas usai bergegas hendak melangkah keluar pintu belakang, tetapi barusaja sampai di ambang pintu berhenti sejenak kala melihat sang Ayah sudah bangun, tengah melangkah ke arah dapur.
Lantas menaruh sejenak pakaian kotor yang ia bawa didalam wadah itu ke tanah nan melangkah langsung menuju meja dapur.
"Ayah sudah bangun Yah ... Zenith buatkan kopi ya, yah ..." Tawar-nya seraya menata gelas nan sendok diatas meja. Ayahnya mengangguk sembari senyum hangat melihat putrinya sangat patuh dan pengertian itu.
"Ini kopinya ya Ayah," Ucapnya kala usai membuatkannya.
Lantas kembali melangkah menuju wadah berisi pakaian kotor yang ia taruh di dekat pintu keluar tadi hendak melanjutkan niatnya ke sungai. Tetapi terhenti lagi kala menyadari sesuatu.
"Bu, itu ... ibu sudah bisa pakai kompor gas, apa ibu sendiri yang memasang regulatornya?" Tanya-nya. Lantaran diketahui selama ini Ibu-nya paling enggan menggunakan kompor gas untuk memasak karena ketakutan. (Trauma)
"Iya Nith, ibu tadi coba memasangnya sendiri, eh ... kebetulan bisa. Sayang juga sudah diberikan oleh pemerintah bila tak di pakek-pakek, lumayan juga mengirit kayu bakar." Jawab sang ibu tampak santai nan tersenyum.
"Oh, yasudah kalau seperti itu. Zenith berangkat kesungai dulu ya Buu, Ayah ..." Pamitnya seraya mengangkat kembali wadah itu.
Ayah-nya mengangguk seraya menyeruput kopi.
Sementara sang ibu jua demikian. "Iya Nith, Yasudah cepat kamu selesaikan, jangan lama-lama di air ya, nanti langsung mandi sekalian dan segera pulang, sarapan." Pungkas sang Ibu.
"Baik bu," Beranjak menuju sungai.
__
Sungai yang di tuju oleh Azenith terletak di belakang rumah berjarak kurang lebih 150 meter. Meniti jalan setapak diantara rumput-rumput liar yang terpampang jelas disepanjang kaki berpijak, tak membuatnya risau meski sinar matahari belumlah tampak.
Meski kini matahari belum menampakkan diri dengan sempurna, tapi hari ini sangatlah cerah. Sesudah sampai di sungai, disana sudah ada beberapa ibu-ibu maupun gadis seusianya sedang mencuci pakaian jua. Lantas ia pun menyapanya seraya menaruh pakaiannya diatas batu.
"Tumben sekali Nith, pagi-pagi begini sudah nyuci, biasanya saat kita pulang kamu baru datang," Sapa beberapa orang yang disana sembari menyikat pakaian mereka.
Kosrek! Sreeek! Kosrek!
"Iya ini, mumpung lagi kumat bu, hehe" celetuk Azenith membuat gelak tawa. Lekas dilanjutkannya untuk mencuci pakaiannya.
Lima belas menit kemudian, hari sudah semakin siang, sang mentari pun mulai perlahan menampakkan sinarnya. Beberapa orang yang disana perlahan bergegas pergi.
"Kita duluan ya, Nith" Pamit para mereka.
Azenith mengangguk seraya mempercepat geraknya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tak selang waktu lama, akhirnya dia menyelesaikan pekerjaannya, lantas dilanjutkannya untuk membersihkan badannya (Mandi)
Semasih membersihkan diri didalam air sungai, tiba-tiba mendengar suara orang dalam jumlah banyak dari arah kejauhan.
"Kebakaran! Kebarakan! Kebakaran!"
"Eh, ada apaan ya ... kok seperti ada suara ramai banget pagi-pagi begini ...? " menoleh ke seluruh penjuru arah saat setengah tubuhnya masih didalam air.
"Apa gara-gara telingaku kemasukkan air?" mengira akibat telinganya kemasukan air sehingga ia mendengar suara banyak orang dari arah kejauhan, Lantas tidak begitu mempedulikannya lagi-melanjutkan kembali misinya (Mandi)
Baru saja lima menit tubuhnya keluar dari dalam air, lantas dikejutkan oleh suara beberapa orang laki-laki datang ke sungai sembari meneriakinya.
"Zen, Azenith! Gawat Zen!" beberapa orang itu tampak sangat tergesa-gesa.
"Ada apaan bang? bikin kaget aja" Jawab-nya seraya hendak meraih pakaian bersih didalam wadah yang ia bawa tadi lekas diangkat kemudian mendekat ke arah orang-orang itu.
"Rumahmu Zen, ayah dan juga ibumu Zen!" Orang-orang itu belum tuntas mengucapkan kalimat kata, lantaran masih tergesa-gesa.
"Iya ada apa? Kenapa kalian gugup macam tu?"
"Itu Zen, Rumahmu kebakaran" jelas orang-orang itu.
Sontak Azenith membelalak terkejut, hingga reflek pakaian yang ia bawa jatuh menimpa kakinya.
Brugh!
Rasa sakit akibat kaki tertimpa wadah itupun tidak dirasakannya, lantas segera ia melanjutkan kata. "Apa! Apa maksud kalian, apa kalian semua bercanda hah!" Pekiknya tak bisa mengontrol diri akibat terkejut yang sangat luar biasa.
"Kami tidak berbohong Zen," Lanjut orang-orang itu masih berbicara, Namun secepat kilat Azenith langsung berlari menuju rumahnya.
'Oh Tuhan, Aku tidak percaya kata-kata mereka, mereka hanya bercanda.' Suara hati menolak percaya, sementara kakinya terus melangkah dalam kecepatan penuh.
Lantas ...