Episode 5

1026 Kata
Selepas busana melekat kembali di tubuhnya, tidak butuh waktu lama segera hengkang dari sana. Sementara si pria masih terlelap dalam tidurnya, hingga tidak mengetahui bahwa si wanita sudah pergi dari sisinya. Begitu Azenith berhasil keluar dari hotel itu, ia berjalan di sepanjang pinggir jalan raya tanpa mempedulikan kemana langkah kakinya berpijak. Air mata masih terus mengalir diantara kedua pipinya, menyesali sesuatu yang berharga dalam dirinya telah direnggut oleh lelaki yang tidak dikenalinya. Rasa bimbang teramat membelenggunya, lantaran tidak tahu menahu kenapa ia tiba-tiba bisa berada didalam kamar hotel bersama lelaki itu? Niat hati hendak kembali ke rumah sewa teman wanitanya, lantas menghentikan langkahnya sejenak di pinggir jalan raya, lantaran tidak mengetahui ke mana arah jalan pulangnya. 'Apa yang terjadi padaku, kenapa ... kenapa ini semua terjadi kepadaku, Tuhan ... kenapa semua ini terjadi, hiks, hiks, hiks.' Melanjutkan langkahnya kemanapun langkah kaki membawa tubuhnya. Waktu terus berputar sangatlah cepat, tetapi waktu bagi Azenith yang kini sedang melangkah bagaikan drama yang di putar lambat. Ia terus melangkah di sepanjang pinggiran jalan raya hingga akhirnya sampai pada lokasi yang cukup sepi, jauh dari ranah perkotaan. Sinar mentari mulai menampakkan diri walau belum sempurna menyinari bumi, Azenith melangkah sembari menundukkan kepala ke arah bawah tetapi akhirnya ia menyadari bahwa ia melangkah pada posisi yang salah. Lantas terpikir untuk membenarkan posisi berjalannya, hendak menyebrang di jalan raya. Menunggu sejenak jalan raya sepi dari para pengendara yang melintas tak lupa sembari menoleh ke kanan dan kekiri. Sesudahnya jalan lintas sedikit sepi, beranjak menyebrangi jalan itu dengan sedikit berlari. Namun tiada sangka dari arah sebelah barat ada sebuah mobil jenis Fortuner berwarna putih sedang melaju dengan kecepatan penuh hingga sang pengemudi tidak bisa mengendalikan rem dengan sempurna. Maka ... Tiinnnnnn! Ciiitttt! Azenith yang sedang menyebrang jalan itupun terserempet hingga terpental tinggi berujung jatuh ke parit. Braak! Azenith langsung tidak sadarkan diri, serta tubuhnya tertutup oleh rumput liar yang tumbuh lebat disana setinggi orang dewasa. Sementara semula sang pengemudi mobil itu bablas hingga sejauh 100 meter dari lokasi kejadian, lantaran tidak bisa menginjak Rem-nya dengan sempurna, tetapi dia menyadari telah menyerempet seseorang dijalan tadi, maka bergegas putar balik kendaraannya ke tempat semula menyerempet seseorang itu--hendak memastikan. Kebetulan pada lokasi kejadian perkara jauh dari pemukiman penduduk, sehingga saat Azenith terpental ke parit tidak ada satupun orang yang menyaksikan hingga pengemudi mobil jenis fortuner itu kini tiba di tempat itu. Memarkirkan kendaraannya di bahu jalan, beranjak turun untuk memastikan. Begitu turun tidak mendapati insan satupun di sekitar lokasi kejadian. "Aku sangat yakin tadi ada seseorang yang telah ku srempet. Tapi ... dimana dia?" menolah-noleh ke seluruh penjuru arah, lantas berpijak ke arah semak-semak rumput Liar tepatnya di sekitar parit tak jauh darinya. Maka ... "Oh Tuhan" mendapati tubuh seorang wanita tergeletak tampak memprihatinkan dibalik rumput liar itu. Mendekat, kemudian membopong tubuh si wanita dari sana, dia pandangi paras wanita jelita malang itu sejenak, kemudian memasukkannya ke dalam kendaraan untuk di selamatkan. __ Orang yang tak sengaja menyerempet Azenith ini adalah seorang lelaki berparas tampan penuh karisma, bernama lengkap Marvin Muangka Lawrence berasal dari ibu kota. Berusia 28 tahun setatus lajang, putra tunggal sekaligus pewaris perusahaan 'Lawrence Corporation' dari seseorang pembisnis besar dalam bidang properti bernama Muangka Lawrence. Saat ini Marvin tengah dalam perjalanan pulang menuju ke ibu kota usai menyelesaikan urusan bisnisnya di daerah ibukota itu. Begitu Azenith sudah dia masukkan kedalam kendaraannya lekas bergegas menuju rumah sakit terdekat. Selepas sampai pada salahsatu rumah sakit, Azenith langsung ditangani oleh dokter. Begitu dokter usai menanganinya, menghampiri Marvin yang kini sedang menunggunya di ruang tunggu. "Permisi ... apakah anda saudara pasien?" Tanya sang dokter. Sebelumnya Marvin teramat ragu akan menjawabnya cenderung hendak mengatakan 'Bukan' tetapi entah mengapa tiba-tiba belah bibirnya melontarkan sebuah kata lain yang tak sesuai dengan pikirannya. "Benar pak, saya saudaranya" "Baik pak, jadi begini ... Akibat benturan cukup keras pada bagian kepala saudara anda, serta depresi berat yang sedang dialaminya, kini beliau mengalami amnesia sementara, pak" "A--Amnesia?" Marvin terkejut serta bimbang lantaran sesungguhnya ia tidak mengenali siapa gadis itu. "Benar sekali pak, tetapi Amnesia yang dialami oleh beliau akan pulih dengan seiring berjalannya waktu. Berikanlah ketenangan dalam pikirannya supaya beliau dapat secepatnya pulih kembali pak, karena depresi yang menimpa pemikiran beliau adalah pemicu terbesar daripada cedera itu sendiri pak." Jelas sang Dokter. "Ep-ba, baiklah dokter. Saya mengerti, terima kasih banyak pak." Pungkas Marvin. Dia mengambil langkah cepat dengan menjawab kalimat demikian lantaran hendak ia pikirkan lagi setelah semuanya selesai. Dokter menyarankan untuk merawat inap Azenith di rumah sakit itu, tetapi saat ini Marvin masih banyak urusan lain seputar urusan pekerjaannya. Alhasil mengambil langkah cepat dengan cara meminta surat rujukan hendak membawa Azenith ke rumah sakit yang berada di ibu kota. Untuk urusan siapa sebenarnya gadis itu, dapat ia urus lagi nanti, pikir Marvin. Dokter menyetujuinya lekas mengurusnya. Setelah semuanya usai, Azenith dibawa oleh Marvin menuju ke ibu kota. __ Daerah kelahiran Azenith ini adalah daerah yang bisa disebut sebagai gerbang menuju ke propinsi lain, lantaran daerah itu berada paling pinggir bila dilihat dari peta dunia. Untuk mencapai ke ranah ibu kota dari negri ini daratan terputus oleh lautan yang biasa di sebut selat. Maka perjalanan menuju ke ibu kota pun tidak lepas menggunakan jasa kapal laut. Semasih Marvin berada di atas kapal, sempat terpikir olehnya untuk membawa Azenith yang masih belum sadarkan diri ke ruang VIP didalam deck kapal. Tetapi tidak jadi ia lakukan lantaran kondisi fisik Azenih tidak memungkinkan untuk di bawanya. Akhirnya ia yang mengalah untuk menemaninya didalam kendaraan. Kebetulan dia memakirkan kendaraannya di parkiran bagian atas yang terbebas dari rasa panas. Lantaran bila memakirkan kendaraannya pada bagian bawah tidak akan ada celah baginya menetap didalam kendaraan saat kapal sedang berlayar. Begitu kapal berlayar sudah berada dibagian tengah laut, sejenak ia keluar dari dalam kendaraan untuk menghirup segarnya udara. Kebetulan cuaca hari ini sangat bersahabat, matahari tertutup sedikit awan hitam tetapi tidak ada pertanda akan hujan. Rasa sejuk kian sampai ke bagian tulang, melepas pandangan sejauh matanya memandang ke arah lautan. Membuatnya teringat segala kenangan indah maupun kenangan kelam. Tetapi, membuat pikirannya kian runyam kala teringat kembali sebuah perkara yang tidak ingin ia pikirkan, yakni sebuah perjodohan. 'Kenapa hidupku serumit ini ...' Keluh Marvin mengusap kepala lambang bimbang yang kini tengah menganggu pikiran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN