Setelah menyelesaikan administrasi atas nama Natasya, lelaki itu kembali lagi menemui wanita yang kini telah ditentukan sebagai calon istrinya. Natasya kini sudah mengenakan kembali kerudung dan sweaternya. Terlihat wanita itu sedang duduk, tapi sebenarnya, kondisinya semakin parah, Natasya hanya mencoba terlihat baik-baik saja, agar dia bisa segera pergi dari sini.
“Aku mau pulang saja, Mas…” lirih Natasya, setengah memohon dan memelas pada Arsya.
“Iya, kita pulang,” sahut lelaki itu, mendekat pada Natasya yang kini bersiap untuk turun dari ranjang.
Arsya melihat tidak ada lagi infus yang melekat pada tangan kirinya. “Kamu lepaskan itu sendirian?”
Natasya menggeleng, “Aku minta tolong perawat tadi,” sahut Natasya. Suaranya sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
Saat Arsya, akan menyentuhnya untuk membawa keluar dari IGD, wanita itu langsung menolak tidak setuju. “Pakai kursi roda saja, Mas.” pintanya.
Harga dirinya terasa diinjak-injak ketika harus membiarkan kembali Arsya menggendongnya untuk ke sekian kali, memalukan.
“Ribet, dan lama,” jawab Arsya singkat. Ya, lelaki egois yang suka memaksa ini akhirnya kembali menggendongnya. Natasya hanya terdiam kaku, sungguh dia tidak punya tenaga untuk memberontak. Yang dia lakukan hanya diam, tak berani bergerak sedikitpun, dia juga menutup matanya.
“Kamu pikir, aku nggak kuat gendong kamu dengan jarak puluhan meter? hm? ya, walaupun kamu berat, tapi tenagaku masih cukup.” nada bicara Arsya terdengar aneh dan sedikit menggelikan di pendengaran Natasya.
Jarak ranjang IGD yang di tempati Natasya, memang lumayan jauh dari tempat Arsya memarkirkan mobilnya.
Meski Natasya tidak membuka matanya sama sekali, sesekali Arsya menatapnya singkat sambil terus berjalan. Terilihat wajah wanita itu persis seperti orang sedang tidur.
“Kayaknya, kamu terlalu menikmati ya? sampai susah buka mata,” ucap lelaki itu lagi, lalu dia terkekeh pelan.
Menikmati apanya? Dasar nggak punya ot- nggak punya pikiran! orang lagi sakit malah di bercandain.
Natasya menggerutu dalam hati, dan tidak menjawab, dia hanya diam. Harusnya Arysa tidak perlu bertindak sejauh ini. Sikapnya yang berubah menjadi kasar, membuat Natasya enggan bersikap manis dan baik seperti biasanya, seperti pertemuan-pertemuan mereka belakangan ini. Jika Arsya berubah menjadi jutek, kasar, dan tidak bersahabat, maka Natasya pun bisa lebih dari itu.
Sungguh, hal ini terjadi lantaran Natasya tidak berdaya saja. Jika posisinya tidak sedang sakit dan lemah seperti ini, tentu, dia tidak akan membutuhkan Arsya sama sekali. Apalagi, sampai merelakan tubuhnya dibopong ke sana kemari seperti ini.
Natasya ingin memaki keadaan, tapi bukankah di beri sakit adalah bagian dari penggugur dosa?
Setelah Arsya meletakkan tubuhnya di dalam mobil, tepat di samping kemudi, dengan tatapan sayu, Natasya mencoba meraih ponsel dari dalam tasnya. berniat mengabarkan mama atau papanya, bahwa kondisinya sedang seperti ini.
“Mas Arsya tau rumahku?”
Natasya akhirnya bersuara, tanpa sudi menoleh ke kanan, di mana Arsya sedang duduk, hendak melajukan mobilnya.
“Tau,” sahut Arsya, tentu saja dia berbohong. Mereka tidak pernah saling mengunjungi rumah. Tapi, Arsya tidak ingin tahu rumah Natasya untuk saat ini, sebab dia akan membawa wanita itu ke rumah sakit, bukan pulang ke rumah seperti yang Natasya harapkan.
“Beneran tau? kamu kan belum pernah—-“
“Ssst… jangan cerewet dulu! mending kamu tidur selama perjalanan, nanti aku bangunkan.” Arsya memberi titah yang cukup tegas.
Natasya akhirnya memejamkan mata dalam keadaan kesal, bayang-bayang menikahi lelaki kasar ini pun terus menghantui. Natasya berharap pernikahan ini hanya status saja, demi menghargai orang tua mereka. Jika sudah saatnya nanti, mereka harus berpisah dan menjalani hidup masing-masing, dengan mencari kebahagiaan sendiri-sendiri.
“Mas, setelah kita nikah nanti, aku mau tentukan beberapa hal-hal yang nggak perlu kita lakukan dan yang perlu kita lakukan, termasuk nggak mencampuri urusan pribadi. Kita cuma perlu berakting sebaik mungkin di depan orang tua kita, selebihnya aku harap kita seperti orang nggak saling mengenal.” tegas Natasya.
Arsya masih diam memikirkan, omongan orang yang sedang sakit pasti cenderung asal. Ya mungkin Natasya sedang ngelantur, menurutnya. Jadi tak perlu di tanggapi.
Tapi, setelah Arsya pikirkan, dia juga tidak ingin urusan pribadinya di campuri, apalagi itu berkaitan dengan Ratu. “Ya, aku setuju. Dan nanti, setelah nikah. Kita akan punya kamar masing-masing, walau kita hidup satu rumah,” jelas Arsya.
Mata Natasya yang sempat terpejam, kini dia membuka lagi. “Gimana ceritanya kita tidur beda kamar, orang tua kita curiga, dan bertanya-tanya, gimana?”
“Kamu tenang, nggak akan ada yang tau kalau kita pisah kamar, karena nanti kita tinggal terpisah dari orang tuaku. Ayah dan bunda sudah menyipakan rumah untuk kita.”
“Lebih bagus kalau begitu,” sahut Natasya.
“Ya, dan aku bisa bebas untuk nggak pulang ke rumah sama sekali. Mungkin aku akan lebih banyak tidur di apartemen.”
“Bagus, itu akan lebih baik kalau kamu nggak pulang sama sekali, aku juga bisa bebas,” ucap Natasya tak mau kalah.
Arsya mengangkat tangan kirinya untuk meraba kening Natasya dengan telapak tangannya.
“Ada ya orang sakit masih sanggup berdebat?!”
“Aku paksakan, karena ini penting untuk dibicarakan.” Natasya kembali menutup matanya, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela.
“Kamu nggak bisa mengaturku untuk nggak pulang ke rumah sama sekali, itu terserah aku. Kalau tiba-tiba bunda datang, dan aku nggak ada di sana, gimana?”
“Gampang lah, tinggal bilang saja kamu lagi kerja, atau lembur nggak bisa pulang.”
“Terus kalau aku ngga ada di rumah, maksud kamu, kamu bisa bebas bawa cowok nginap ke rumah begitu? Atau cowok berkemeja biru tadi di parkiran kantormu, itu pacarmu?”
Natasya diam dan menggeram, tuduhan lelaki ini memang benar-benar merendahkan harga dirinya .
“Kamu pikir aku perempuan apa? bawa-bawa cowok nginap ke rumah. Jangan nuduh sembarangan! Nggak semua perempuan kayak gitu!” hentak Natasya. Dia lebih memilih mengakhiri perdebatan, lalu matanya terpejam lagi. Ribut dengan Arsya benar-benar membuat kepalanya semakin berdenyut.
“Ya, aku cuma menerka bukan menuduh—“
“Sama saja!”
*
Natasya benar-benar tidur di dalam perjalanan, tubuhnya benar-benar lemah layaknya orang yang sedang flu dan demam. Dan dengan bodohnya dia mempercayai Arsya yang mengatakan mengetahui rumahnya, padahal tidak sama sekali.
Dia membuka mata ketika merasakan sentuhan lembut di pipinya. Wajah Arsya dengan jarak beberapa senti meter adalah yang di tangkap oleh penglihatannya pertama sekali dia membuka mata.
“Su-sudah sampai?” tanya wanita itu dengan suara yang lemah. Tapi kondisi luar yang di lihatnya bukan area rumah orang tuanya.
“Aku hanya menuruti titah bunda, kata bunda kamu harus di beri perawatan yang terbaik.” Arsya membuka sabuk pengaman yang di kenakan Natasya, di luar mobil ada dua orang petugas medis yang sudah menyiapkan kursi roda untuk Natasya.
“Aku mau pulang—“
“Keras kepala!” hentak Arsya.
Dia turun dari mobil, segera memindahkan Natasya ke atas kursi roda. “Mas, aku mau pulang…” Natasya tidak bisa lagi menahan air matanya. Namun percuma, dia tidak bisa berbuat apapun.
*
“Ya ampun Sya, dari pagi, mama sudah ingatkan supaya kamu istirahat di rumah. Tapi, kamu tetap maksa masuk kerja.” Mama mengusap kening Natasya, dengan penuh kekhawatiran. Kini dia sudah berbaring di ranjang rawat, tentu dengan fasilitas yang terbaik. Sebab dia adalah calon anggota keluarga pemilik rumah sakit.
“Kamu kalau sudah kelelahan, pasti kambuh nih sakitnya. Maagnya juga, keseringan nggak sarapan sih.” Lanjut Bu Tyas, masih mengomeli Natasya. Dan wanita itu harus menahan malu sebab di sana juga ada calon suami dan calon mertuanya.
Jadi, Natasya memilih diam, matanya masih terpejam. Berpura-pura tidak berdaya walau sebenarnya dia memang tidak berdaya.
Tak lama kemudian, mengingat sudah jam makan malam, dua orang petugas mengantarkan makanan khusus pasien. Arsya yang kebetulan berada di dekat pintu langsung menyambut.
“Makan dulu, Sya, jangan pura-pura tidur!” ucap lelaki itu, sepertinya hanya dia yang menyadari kalau Natasya hanya berpura-pura.
“Alhamdulillah, perhatian banget… calon suami siaga nih,” puji Maya pada Arsya. Seketika membuat lelaki itu mendengkus kesal tanpa diketahui bundanya.
“Tapi, maaf Bunda, Tante Tyas. Aku harus pergi. Ada urusan penting.” Arsya berucap dengan sangat hati-hati.
seketika Maya menatap tajam ke arahnya. “Mau kemana?”
“Urusan kantor, Ma. Tadi, Airin bilang kalau di atas mejaku banyak dokumen yang harus aku periksa,” jelas Arsya. Tentu dia berbohong, lima belas menit lalu dia baru menerima sebuah pesan dari Ratu, dengan kalimat penuh ancaman.
Aku sudah di apartemen kamu, Mas
Lebih tepatnya di kamar. Kalau kamu nggak pulang dalam waktu satu jam, mungkin aku berubah pikiran dan pulang ke rumah.
Ratu tidak main-main jika sudah mengancam. Bisa-bisa Arsya merasa rugi besar jika dia melewati kesempatan ini. Apalagi, mereka sudah lama tidak quality time di kamar.
“Tapi, nanti kamu balik lagi kan?! temanin Natasya di sini?!” suara Maya mulai meninggi, sungguh dia merasa tidak enak dengan calon menantu dan calon besan. Baru saja di puji sedikit, ternyata sudah menunjukkan sikap yang berbanding terbalik.
“Ehem…” Natasya berdehem, terpaksa dia membuka mata. “Nggak apa-apa Bunda, Mas Arsya pergi saja. Kan ada mama.” akhirnya dia bersuara, membuktikan kalau sedari tadi dia hanya berpura-pura tidur.
“Natasya nggak masalah Bund, dia pasti ngerti aku banyak kerjaan. Ini juga demi Natsya kan? demi masa depan kami, iya kan Sya?” Arsya menaikkan alisya, sepertinya drama, berpura-pura menjadi pasangan yang baik-baik saja akan segera dimulai.
“Iya Mas, pergi saja.”
Kalau perlu nggak usah muncul lagi di depan mataku!
Natasya bukan tidak paham, kemana Arsya akan pergi. Pasti demi menemui kekasihnya, di pertemuan mereka yang ke sekian, lelaki itu pernah sedikit bercerita tentang Ratu yang selalu ingin dituruti permintaannya dan tidak mau menunggu atau ditunda.
“Selamat bersenang-senang Mas!” ucap Natasya dengan sangat sengaja.
“Maksud kamu, apa? aku bukan bersenang-senang, Sya—“
“Aku bercanda, Mas Arsya. Hati-hati ya!” Natasya melembutkan nada bicaranya, tapi justru membuat Arsya menggeram. Apalagi tatapan bunda yang tak bisa dihindari.
“Aku pamit ya Bunda, Tante.” ucapnya ketika sudah di ambang pintu, tanpa ragu lagi, dia melangkah keluar meninggalkan ruangan itu, dengan perasaan kesal karena Natasya hampir saja membongkar semuanya.
Awas saja kalau kamu berani ngomong macam-macam sama bunda dan mama kamu. Tolong kerjasamanya Sya. Aku janji akan kasih apapun yang kamu mau. Tapi ingat, dalam bentuk materi, bukan kasih sayang, atau perasaan.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Arsya menyempatkan untuk mengirim pesan singkat pada Natasya. Saat merasa wanita itu mulai berbahaya, mengancam hubungannya dengan Ratu.