10. Calon Suami

1394 Kata
Arsya sudah curiga dari gerak-gerik Natasya, sejak wanita itu masuk ke dalam mobilnya, lalu keluar lagi dan semakin curiga dari cara dia berjalan. Arsya yakin wanita itu pasti tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya pertahanan Natasya runtuh, saat tubuhnya benar-benar tak lagi berdaya. Natasya pingsan dan Arsya dengan sigap segera menangkapnya. Untuk kedua kalinya, Natasya di gendong oleh lelaki yang kini akan menjadi suaminya meski dalam keterpaksaan. Wajah Natasya kian memucat, matanya mengeluarkan air, suhu tubuhnya memang benar-benar panas, hingga Arsya dapat merasakannya meski dari sentuhan di luar pakaiannya. “Ya ampun, benar kan, dugaanku.” Dengan sigap Arsya membawa wanita itu ke dalam mobilnya, meletakkan di kursi tepat samping kemudi. Dan Arsya segera melakukan pencarian klinik terdekat melalui ponselnya. Lelaki yang sedang panik itu bersyukur, karena ada klinik yang tidak terlalu jauh dari butik yang sedang mereka datangi. Dia segera membawa Natasya ke IGD, untuk pertolongan pertama, dan segera di sambut oleh petugas medis. “Pastikan dia baik-baik saja ya, Suster,” ucap lelaki itu setelah dia menurunkan Natasya pada ranjang rawat, dan beberapa orang petugas medis segera menanganinya. Dua orang perawat perempuan langsung mengambil tindakan, dengan membuka kerudung dan sweater Natasya meski tanpa izinnya. Lalu, memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan memasangkan infus padanya. “Maaf Pak, Bapak siapanya pasien?” tanya salah seorang perawat yang hendak mengabari tentang kondisi Natasya. “Saya…” Arsya terlihat berpikir sejenak, “Calon suaminya.” Ya meski lidahnya terasa sulit untuk mengucapkan itu, tapi akhirnya dia ucapkan juga. “Saat ini, kondisi pasien sangat lemah, kekurangan cairan juga, tensi darahnya cukup rendah, tunggu sebentar ya Pak, sebentar lagi ada dokter yang memeriksa,” ucap perawat itu dengan ramah. “Baik, terima kasih, suster.” Arsya menyibakkan tirai yang membatasi antara satu ranjang dengan ranjang yang lainnya yang ada pada IGD. Maju dua langkah untuk lebih dekat pada wanita yang sedang terbaring lemah itu. Dia menyilangkan kedua lengannya di d**a, sembari menatap wajah Natasya yang pucat dan jelas terlihat dari sana bahwa dia memang sedang tidak sehat. Tangannya kirinya tergerak untuk menyentuh kening dan menyibakkan sebagian rambut berserakan yang menutupi wajah Natasya. Arsya meyakinkan apa yang ingin dia lakukan itu adalah sekadar rasa empati terhadap sesama manusia, bukan yang lain-lain. Apalagi, kondisi Natasya yang tidak berdaya, sebagai manusia yang mempunyai hati nurani, tentu punya keinginan demikian. Arsya sempat melamun sejenak, sembari tangannya yang bergerak hampir mendekati wajah Natasya. Sisi berbeda dari Natasya akhirnya, bisa dia lihat. Rambut panjang berwarna kecoklatan, kontras dengan warna kulit Natasya yang cerah dan mulus. Di padukan dengan pipi yang sedikit chubby, Arsya membayangkan, andai wanita itu sedang sehat, dengan senyum yang menghias di wajahnya, pasti pemandangan ini terasa… sempurna. Tapi, niatnya itu segera terhenti ketika ponsel di saku kemejanya bergertar, dan Arsya segera meraihnya. My Queen memanggil. “Ya?” tidak mau Ratu menunggu lama, Arsya langsung menerima panggilannya, meski harus berada di sekitar Natasya, alasannya tidak ingin meninggalkan wanita itu sendirian. Lagi-lagi, dia mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah tindakan normal terhadap orang yang sedang sakit, bukankah saling peduli dan menolong satu sama lain, memang di anjurkan dalam agama? “Ini Mas Arsya bukan, sih?!” Gadis manja di seberang sana menggerutu, protes sebab Arsya hanya menjawab panggilannya dengan kata singkat, dia tidak terima. “Ada apa, sayang?” Tanpa ragu atau takut Natasya mendengar, dia paham apa yang menyebabkan Ratu protes. “Kamu di mana? makan yuk!” Ajak Ratu, disertai rengekan manjanya seperti biasa. “Aku ngga bisa, maaf sayang.” Ya jika dia menolak, Arsya sudah tahu apa yang akan dia dapatkan, pasti ocehan Ratu yang panjang. “Kamu lagi kerja? Gimana kalau aku saja yang ke kantor kamu, Mas. Nanti aku bawakan makanan kesukaan kita—" “Sayang, aku nggak di kantor. Aku lagi di klinik. Temani Natasya, tadinya kami mau ke butik untuk memesan gaun pernikahan, tapi ternyata dia pingsan.” Jelas Arsya. Ratu masih diam, “Kok sedih ya Mas, dengar kamu mau nyiapin pernikahan dengan perempuan lain. Hatiku nggak sekuat itu Mas. Jadi, kamu nggak bisa temui aku karena lagi jagain dia? Kamu lebih memilih dia, Mas?" “Maaf untuk kali ini, sayang. Kalau aku ninggalin dia begitu saja, kamu tau Bunda pasti marah besar. Kamu tenang, aku janji nanti malam kita ketemu.” Arsya memelas, berharap kekasihnya tidak marah. “Atau kita putus saja, Mas?” sungguh Ratu tidak serius dengan ucapannya saat ini. Dia hanya menguji Arsya. “Kamu gila?” suara Arsya agak meninggi, kesal karena kata-kata itu yang paling dia hindari dari Ratunya, dan membuat emosinya tersulut begitu saja. Arsya berkerut kening ketika mendengar tawa nyaring dari Ratu di seberang sana. “Aku bercanda, Mas. Aku cuma menguji kamu saja. Ternyata reaksinya masih sama. Oke, aku tunggu nanti malam. Aku ke apartemenmu ya, dari sore ini. Nanti kita makan bersama di sana.” Ratu menawarkan sesuatu yang sulit untuk di tolaknya, apalagi jika wanita manja itu sudah berada di apartemennya. Pasti mereka akan benar-benar quality time dan sangat sayang jika harus di lewatkan. “Iya, tunggu aku di sana.” tentu saja Arsya menyetujuinya. Tapi, apa dia tega meninggalkan Natasya? sedari tadi, sejak berbicara dengan Ratu, dia tidak melepaskan pandangannya dari wajah Natasya, seperti ada magic, entah kenapa dia merasa betah terus-terusan menatap wajah itu. Tepat jam lima sore, Natasya membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur dan sayu. Hal pertama yang dia lihat setelah membuka mata adalah botol infus yang digantung tepat di sisi kirinya. Lalu, dia mencoba mengedarkan pandangan ke arah lain. Dia ingat, beberapa jam lalu pandangannya gelap dan hitam, lalu kesadarannya benar-benar menghilang. * Wajah Arsya yang di tangkap oleh penglihatannya benar-benar membuatnya terkejut. Apalagi, lelaki itu terlihat sedang benar-benar menatapnya hingga kini tatapan mereka saling bertemu. “Sudah sadar? kamu tau aku, siapa?” Lelaki itu menguji ingatan Natasnya, karena bisa saja, dia hilang ingatan setelah tak sadarkan diri. Dan jika hal itu terjadi, tentu akan lebih bagus lagi, agar perjodohan mereka bisa batal. “Arsya,” sahut Natasya singkat, tanpa sebutan Mas di depannya. “Salah.” Arsya menyangkal. “Aku calon suamimu.” Dia mengoreksi. Natasya langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, kata-kata lelaki itu benar-benar membuatnya ingin muntah. Apalagi, saat ini dia benar-benar mual. Bukan butik dan memilih model gaun pengantin, serta menetapkan ukuran, tapi, kegiatan mereka sore ini justru berakhir di IGD klinik dengan Natasya berbaring di atas ranjang. “Kamu harus rawat inap, seenggaknya selama dua hari, itu kata dokter tadi. Sekarang, aku panggilkan perawat, supaya menyiapkan kamar rawat untukmu.” Arsya berbalik, hendak meninggalkan Natasya. “Nggak usah, aku mau pulang saja!” tegas Natasya, menghentikan langkah Arsya yang sudah membelakanginya. "Sya, kamu perlu di rawat, paling nggak sampai demam kamu turun—“ “Aku mau pulang. Aku nggak betah di sini.” Tukas Natasya. “Nggak ada yang betah di rawat begini, tapi kamu harus. Itu pesan dokter tadi, kamu harus istirahat karena kelelahan!” Arsya menjelaskan dengan nada tegas, dia tidak tahan untuk tidak meninggikan nada bicaranya, sebab Natasya cukup keras kepala. "Mobilku gimana, Mas?" Ya, walaupun sedang tidak sehat, Natasya masih ingat tentang harta satu-satunya yang dia beli dengan jerih payahnya sendiri. "Biar itu menjadi urusanku. Serahkan kuncinya dan--" Arsya berdecak ketika ponselnya berdering, tapi nama bunda yang tertera di sana, perasaan kesalnya seketika dia lenyapkan. “Assalamualaikum bunda.” Arsya tidak pernah melewatkan ucapan salam tiap kali mengawali percakapan dengan bundanya melalui telepon, sebab bundanya itu pasti protes jika dia tidak melakukannya. “Waalaikunsalam, bawa Natasya ke rumah sakit keluarga kita, dia harus diberikan perawatan yang terbaik, segera ya Sya! sebentar lagi Bunda juga menuju ke sana. Wassalamualaikum.” Tegas Maya tanpa basa basi. “Iya Bunda. Waalaikumsalam.” panggilan berakhir, Natasya yang awalnya bersikeras ingin pulang saja. Tapi, tiba-tiba, dia justru menggigil kedinginan, mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kamu dengar, kan? bunda bilang apa? Khawatirnya bunda karena kamu sakit, melebihi khawatir pada anaknya sendiri, waktu aku demam, aku bahkan nggak di paksa pergi ke rumah sakit--" "Ya sudah, nggak perlu curhat," sahut Natasya dengan nada mengejek. Natasya memegang kepalanya yang tiba-tiba saja kembali nyeri. "Mas, tolong pergi dari sini, sekarang juga!” dia sadar akan sesuatu, ternyata kerudungnya sudah terlepas entah ke mana. Dan betapa dia menyesalinya karena Arsya pasti sudah melihat auratnya sejak dia terbaring di sini. Arsya segera menjauh darinya, pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semua. Lalu menuruti titah sang bunda untuk membawa Natasya ke rumah sakit milik keluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN