Hatchim.
Wanita yang tengah mengenakan sweater tebal itu sudah masuk ke mobil Arsya dengan sangat terpaksa. Sejak dia memasrahkan hidupnya pada sang mama untuk dijodohkan, berarti dia juga harus menurut dan ikut segala apapun yang berkaitan dengan perjodoh s****n itu, termasuk urusan gaun pengantin, seperti siang menjelang sore ini.
“Baru masuk, langsung nebar virus, ya?” Arsya menggerutu. Dia membuka kaca mobil selebar mungkin. “Gimana kalau aku tertular? kamu tau aku orang sibuk, kalau sampai sakit, akan banyak pekerjaan yang tebengkalai,” sambung lelaki itu sambil mendengkus kesal.
“Maaf Mas, aku memang lagi kurang sehat, makanya aku izin pulang duluan. Tapi kamu maksa ngajak aku ke butik—“
“Lagian kenapa nggak bilang kalau kamu lagi sakit?”
“Belum sempat bilang, kamu sudah putuskan panggilan,” sahut Natasya, tak mau kalah.
Sejenak, dia berpikir sebelum Arsya melajukan mobilnya. Ya, hatinya sedikit teriris di anggap pembawa virus. “Mas, tolong kamu shareloc ke aku ya, alamat butik yang akan kita tuju, kebetulan aku bawa mobil. Dan aku putuskan, aku pergi sendiri saja ke sana.” Natasya menarik handle pintu dan hendak keluar dari mobil itu.
“Kamu lagi kurang sehat, memangnya sanggup nyetir?!” Arsya mencekal lengan Natasya, namun pelan, karena takut menyakiti wanita itu seperti beberapa hari lalu.
Natasya menoleh terlihat dari wajahnya dia memang sedang tidak baik-baik saja. Mata dan hidungnya memerah, bibirnya sedikit memucat.
“Aku bisa, nggak apa-apa.” Natasya harus melawan rasa pusing di kepalanya, padahal tadi dia berniat pulang menggunakan taksi karena memang tidak sanggup menyetir. Dan menitipkan mobilnya pada satpam kantor.
“Sya?!” hentak lelaki itu saat Natasya tetap bersikeras menyetir sendiri. Dia paham bagaimana rasanya jika sedang terserang flu. jangankan untuk menyetir, untuk beranjak dari tempat tidur saja rasanya enggan, karena sakit kepala dan lemas. Tapi, calon istrinya itu ternyata keras kepala juga. Apa? Calon istri? Tidak, sepertinya Arsya tidak menganggapnya seperti itu.
“Kenapa lagi?” jawab Natasya dengan suara yang lemah dan matanya yang berkaca-kaca, bukan karena dia menangis, melainkan karena suhu tubuhnya yang meningkat.
“Aku jauh-jauh ke sini, mau jemput kamu, kalau memang dari tadi kamu mau pergi sendiri, kenapa nggak bilang dari awal? buang-buang waktuku, tau nggak?” Arsya menatap tajam pada wanita yang dia anggap keras kepala. Natasya diam, tapi tidak mengurungkan niatnya untuk tetap membawa mobil sendiri.
“Jangan lupa share alamatnya, Mas!” Natasya mengabaikan keluhan Arsya. Dia lalu pergi meninggalkan Arsya dan mobil mewahnya.
Arsya memukul stir mobilnya, kesal dengan Natasya yang meninggalkannya begitu saja. "Kalau terjadi apa-apa, sama dia, nanti yang repot siapa? Pasti aku juga, kan?"
Menurut Natasya, Arsya berubah, tidak lagi ramah, hangat dan asyik seperti sebelum mereka akan dijodohkan. Lelaki itu, seolah membuat batas dan pertahanan diri, untuk menunjukkan bahwa dia tidak menyukai perjodohan ini. Tujuannya, agar Natasya mundur dan bersikeras menggagalkan. Namun, Natasya bisa apa? sama halnya dengan Arsya yang harus pasrah dengan keputusan orang tuanya, dia pun juga begitu. Tidak bisa melakukan apapun selain pasrah. Natasya berjalan dengan langkah gontai menuju mobil sedan miliknya.
“Natasya.”
wanita itu menoleh saat mendengar suara yang sangt familiar baginya.
“Ya Pak?” dia menjawab Ryan, atasannya yang baru saja keluar gedung kantor.
“Katanya kamu nggak sanggup nyetir dan mau naik taksi?”
“Awalnya begitu, Pak. Tapi ada sesuatu hal yang mengharuskan saya bawa mobil,” jelas Natasya.
“Kamu yakin bisa nyetir? saya khawatir loh, kamu mau kemana? mungkin bisa di antar sama sopir kantor saja,” tawar Ryan.
Natasya menggelng cepat, “Nggak usah Pak, saya benar-benar nggak apa-apa.” Natasya berucap ramah di sertai senyum mengembang di bibirnya, demi menghargai kebaikan atasannya, padahal dia sangat-sangat tidak mood, bahkan hanya untuk tersenyum saja dia enggan.
Tengah asyik mengobrol dengan Ryan, ponselnya kembali berdering. Nomor yang belum dia save sama sekali, itu kembali memanggilnya.
“Iya, sabar.” Natasya menjawab panggilan Arsya tanpa basa-basi.
“Jangan terlalu banyak tebar pesona, aku nggak punya banyak waktu, bisa cepat nggak?” suara Arsya terdengar sangat tidak ramah.
Ya, sejak kepergian Natasya dari mobilnya, dia terus memperhatikan wanita itu, yang dia anggap, Natasya malah asyik mengobrol dengan cowok.
“Iya.” sahut Natasya.
“Alamatnya sudah aku kirimkan, kamu jalan duluan, aku di belakangmu. Tapi tolong, jangan terlalu lama!” Titah Arsya.
Natasya sudah memutus panggilan, juga mengakhiri obrolannya dengan sang atasan dan segera masuk ke dalam mobil.
“s****n!!!” Natasya sedari tadi berupaya untuk memendam amarahnya, tapi Arsya benar-benar membuat mood nya berantakan. Hormon tamu bulanan juga mempengaruhi amarah Natasya saat ini.
Perlahan, dia melajukan mobilnya. Keluar dari parkiran gedung kantor, dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sambil mengikuti arah maps pada layar ponselnya.
“Itu butik kan mahal banget,” ujar Natasya. Ah dia tidak peduli, dia hanya perlu mengikuti alur dan skenario perjodohan ini. Tanpa membantah apapun.
Sambil jalan, Natasya juga memperhatikan mobil yang masih mengikutinya dari belakang, melalui spion.
“Ternyata benar, kita nggak bisa menilai orang dari covernya saja, dan nggak bisa langsung tahu sifat asli orang hanya dengan beberapa kali bertemu.” Yang Natasya ucapkan adalah tentang Arsya, sifat aslinya yang kasar, suka memaksa dan egois, kini terlihat.
Natasya tidak berharap banyak akan pernikahannya nanti, mengingat sifat lelaki itu saja demikian terhadapnya. Berubah seratus delapan puluh derajat.
*
Tiba di butik, Arsya memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Natasya. Lelaki itu duluan keluar dari mobilnya, sementara Natasya masih betah di dalam mobil, dia sedang berbalas pesan dengan calon mertuanya yang kini dia sebut dengan panggilan bunda.
Bunda :
pilih gaunnya sesuai selera kamu, ya sayang. Karena ini pernikahan kalian, jadi kalian bebas pilih. Nggak perlu khawatir soal harga biar itu jadi urusan bunda.
Natasya :
Iya Bunda, terima kasih.
Bunda :
Oh iya, bilang sama bunda kalau Arsya jahat dan kasar sama kamu.
Natasya:
Mas Arsya baik kok, bunda jangan khawatir.
Natasya cukup menghargai siapapun yang bersikap baik kepadanya, apalagi kepada Maya yang sebentar lagi akan jadi mertuanya. Meski dia tidak menyukai pernikahan ini, tapi tidak ada alasan baginya membenci orang baik seperti calon mertuanya itu.
Dia terkesiap saat kaca mobilnya di ketuk sebanyak tiga kali. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada kaca jendela mobil Natasya, untuk memastikan apa yang sedang di lakukannya.
nggak sabar banget sih?
Dia keluar, sambil menahan kepalanya yang nyut-nyutan.
“Bisa jalan nggak?” tanya lelaki itu. Tapi, Natasya mengabaikan, lebih baik banyak diam dari pada nanti ujung-ujungnya mereka harus berdebat. Dan mengakibatkan kepalanya semakin berdenyut hebat.
Natasya memegangi keningnya, sepertinya dia benar-benar butuh istirahat. Harusnya dia memang sudah tiba di rumah saat ini, minum obat, lalu tidur agar demam dan sakit kepalanya berkurang.
Tapi, kenyataannya dia harus berada di sini, masih berupaya meneruskan langkahnya. Tapi, apa daya, tubuhnya justru semakin melemah, pandangannya kabur dan tubuhnya terkulai hingga akhirnya dia jatuh namun tidak di lantai, melainkan dalam dekapan seseorang.