Tiga hari berlalu setelah kejadian di hotel, yang mengakibatkan mereka harus dinikahkan secara paksa dalam waktu dekat. Sebenarnya, orang tua mereka sudah merencanakan ini, sejak satu bulan yang lalu. Memang berniat menjodohkan mereka karena melihat ada kecocokan di antara keduanya setiap kali mereka bertemu di acara keluarga, entah itu arisan, atau acara-acara syukuran.
Arsya tidak pulang ke rumah selama dua hari setelah kejadian itu, namun hari ini dia harus pulang, karena mendapat kabar dari sang Ayah jika bundanya sedang kurang sehat, membuat Arsya merasa bersalah. Apalagi, sejak hari itu, dia terus mengabaikan pesan dan telpon dari bunda.
Menikah, memang sudah terencana di dalam pikiran Arsya. Tapi, bukan begini caranya. Ini jelas jauh di luar rencananya, karena bukan Natasya wanita pilihannya, tapi, Ratu. Dia hanya perlu menunggu sedikit lagi, menunggu Ratu selesai kuliah dan segera melamarnya. Inilah resiko menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa, yang belum siap di ajak menikah. Dan selama ini, orang tuanya tidak mengetahui kalau dia masih menjalin hubungan dengan wanita itu.
“Ayah pikir, kamu sudah nggak tahu lagi, jalan pulang.” tegas sang ayah, ketika melihat sosok putranya yang sedikit keras kepala itu.
Arsya melintasi ruang makan, untuk mencari sosok bunda yang biasanya pada jam segini, berada di dapur. Namun sosok cantik itu tidak dia temukan di sana.
“Maaf Ayah, kerjaan banyak—“
“Kamu nggak bisa jadikan pekerjaan sebagai alasanmu, karena Ayah tahu betul, kamu sedang nggak sibuk apapun.” Sangkal Juna, meski selama ini dia lebih banyak di rumah, bukan berarti dia tidak memantau kinerja Arsya.
Lelaki itu terdiam, dia ketahuan. Padahal, jelas saja dia memang ingin menghindar dari masalah sejenak. “Maaf Yah, bunda di mana?”
“Kamar.” sahut ayahnya singkat.
Ketidakramahan sang Ayah siang ini padanya, semakin membuatnya merasa bersalah. Tapi, dia juga merasa terintimidasi saat ini. Tidakkah orang tuanya memikirkan sedikit saja tentang perasaannya?
Arsya langsung menuju kamar di mana bundanya berada. Juna memperhatikan raut wajah sang anak, dia paham, apa yang Arsya alami, sebab dia juga pernah mengalami itu. Dijodohkan, memang tidak enak. Tapi, untuk kali ini, tak ada salahnya dia dan istrinya bersikap lebih egois, semuanya tentu demi kebaikan Arsya.
“Bunda, maaf.” Arsya duduk di tepian ranjang di mana sang bunda berbaring. Maya menoleh, sosok yang dia rindukan, akhirnya muncul.
“Maaf untuk apa?” Maya berbalik, menghadap Arsya.
"Maaf aku abaikan Bunda selama dua hari ini." Sesal Arsya, sampai mengakibatkan wanita yang di cintainya itu harus terbaring lemah seperti saat ini.
"Kalian, sering berkomunikasi, kan?" Tanpa merespon maaf dari Arsya, Maya langsung ingin membahas hal yang menurutnya penting, selagi putranya ada di sini.
"Maksud Bunda, dengan Natasya?"
Maya mengangguk, "Memang siapa lagi?"
"Kami nggak pernah mengobrol selain saat bertemu di acara keluarga, bahkan kami nggak saling menyimpan nomor." Tegas Arsya, apa adanya.
"Jadi, bukannya selama ini, kamu dekatin dia?"
Arsya berkerut kening merespon pertanyaan lanjutan dari bundanya, hal apa yang pernah bunda lihat hingga dia di tuduh sedang pendekatan dengan Natasya?
"Sama sekali enggak, Bunda. Kami hanya sering mengobrol kalau ketemu saja, selebihnya nggak pernah," jelas Arsya sekali lagi pada bundanya.
"Jadi, sekarang, kamu nggak punya nomor hape Natasya?" Seakan tidak terima dengan kenyataan, Maya terus menyerang Arsya dengan pertanyaan itu. Malas menjawab dengan kata-kata, Arsya hanya menggeleng.
Maya meraih ponselnya, mengirimkan sebuah nomor, kontak yang dia simpan dengan nama Natasya calon Arsya itu kepada putranya.
"Cek hape kamu!" titah sang bunda.
Arsya meraih ponsel dari saku kemejanya, dia bergedik geli melihat bagaimana kontak itu tersimpan di ponsel bundanya.
"Simpan nomornya, gimana sih, kalian sudah kenal lama, tapi nggak nyimpan nomor?" Maya menggerutu kesal, dia kembali berbaring karena tidak sanggup duduk terlalu lama, kepalanya pusing.
"Sekarang, kamu hubungi dia, ajak ke butik langganan bunda untuk memesan gaun sekaligus jas yang akan kamu pakai nanti--"
"Bunda, secepat itu?" Arsya menahan amarah, tapi, dia tetap terlihat santai. Rasanya, sulit menerima kalau mereka harus melangsungkan pernikahan secepat itu.
"Kami, sudah sepakat kalau pernikahan kalian akan dilaksanakan dua minggu lagi," ucap Maya, nadanya tegas.
Natasya adalah anak dari sepupu Juna yang bernama Ervan, mereka memang sudah merencanakan dan menyepakati hal ini, sejak jauh-jauh hari. Dan kejadian di hotel tiga hari lalu semakin menguatkan rencana mereka agar Arsya maupun Natasya tidak bisa mengelak lagi.
Arsya diam, dia menunduk tanpa mau menatap bundanya yang sedang berbaring.
"Kalian sudah kepergok berduaan di kamar hotel apa kamu masih mau mengelak, Sya?"
Arsya tertawa sarkas, "Kami cuma mau ganti baju, bund--"
"Sudah, sudah nggak usah di jelasin lagi. Apapun alasannya apa itu hal yang baik? Gimana kalau kalian khilaf dan--"
"Bunda, maaf, aku perjelas sedikit. Natasya, sama sekali bukan tipe perempuan yang aku suka. Jadi, aku nggak mungkin buang-buang waktu untuk melakukan hal yang seperti bunda khawatirkan. Karena aku, sama sekali nggak tertarik sama dia. Bahkan nanti setelah kami menikah, aku nggak yakin akan menyentuhnya."
Arsya tersenyum miring, saat ini di kepalanya hanya di penuhi oleh Ratu Chava Adinda, perempuan yang dia anggap selalu bisa mengerti dirinya. Bayang-bayang kenikmatan bersama Ratu, cukup sulit dia hilangkan, bahkan saat sebelum memejamkan mata, dia selalu ingat Ratu dan seketika membuat sesuatu pada dirinya menegang.
Maya diam, pernyataan Arsya memang membuatnya tercengang. Tapi, tidak akan membuatnya mundur untuk merusak rencana perjodohan mereka. Maya yang sudah berpengalaman, paham, jika nanti seiring berjalannya waktu, semua pasti berubah perlahan.
"Jadi, tipe perempuan yang kamu suka itu seperti Ratu yang suka pamer aurat itu? Yang bajunya sering kekecilan itu, Sya? Mata hati kamu benar-benar tertutup."
Arysa memejamkan matanya seklias, dia memilih diam, sebab bunda sudah menyebut nama Ratu. Itu artinya dia harus mengakhiri perdebatan ini, dan mengalah.
"Jadi, aku harus ke butik hari ini, dengan Natasya?" Arsya mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kamu hubungi dan temui dia, sekarang!" Titah sang bunda.
"Tapi, kayaknya dia lagi kerja. Bunda kan tau bank tutupnya jam berapa? Dia pegawai bank bagian CS." Jels Arsya, detail.
"Ya, bunda tau. Tapi mungkin bisa saja dia pamit pulang duluan? Lagi pula ini sudah lewat jam dua siang, sebentar lagi pelayanan bank pasti tutup dan dia pasti bisa pergi sama kamu."
Kegigihan bunda dalam usaha mendekatkan mereka, patut di acungi jempol, hingga Arsya terkekeh geli. Sekali lagi, Arsya menegaskan bahwa perempuan pilihannya itu bukanlah seperti Natasya.
Apa sih istimewanya dia, sampai bunda memperjuangkannya sekeras ini?
Arsya bergumam dalam hatinya, lalu dia pamit pada bundanya untuk menjalankan titah itu sebelum omelan bunda lebih panjang lagi.
*
Arsya sudah masuk ke dalam mobilnya, namun belum pergi meninggalkan pelataran parkir di rumah orang tuanya. Dia sedang menatap layar ponselnya, meragu harus menghubungi Natasya, mengingat pertemuan mereka terakhir sangat tidak mengenakkan. Seklias Arsya menoleh, melihat ke jok bagian belakang, di sana ada paper bag yang berisi satu set pakaian Natasya, serta heels yang wanita itu tinggalkan begitu saja di hotel. Arsya mengambil dan membawa barang-barang milik Natasya ke dalam mobilnya.
Kini, dia sedang menempelkan ponselnya pada telinga, menunggu seseorang di seberang sana menjawab panggilannya.
"Halo."
Arsya tidak langsung merespon ketika si pemilik nomor menjawab. Karena dia mencoba meyakinkan benarkah ini Natasya? Suaranya terdengar agak berbeda.
"Natasya?"
"Iya, saya Natasya. Ini siapa dan ada apa?"
"Arsya." Jawabnya singkat tanpa basa-basi.
"Ada apa?” sahut Natasya tak kalah ketus.
"Kamu, di mana sekarang? Nggak usah banyak basa-basi, bunda nyuruh kita ke butik untuk memesan gaun pengantin," ucap Arsya to the point.
Kali ini, Natasya yang diam selama beberapa detik, dia sedang memikirkan sebuah alasan untuk tidak kemana-mana dulu siang ini, dia memang berencana pulang lebih awal dan sudah izin dengan atasannya, karena merasa tubuhnya sedang tidak fit. Kepalanya pusing, hidungnya juga sedikit tersumbat. Lebih tepatnya dia terkena flu akibat hujan-hujanan beberapa hari lalu.
"Sekarang aku masih di kantor, tapi sebentar lagi mau pulang, apa nggak bisa di tunda besok saja atau mungkin lusa.”
"Nggak bisa!" tegas Arsya, "Bunda maunya kita pergi sekarang. Shareloc alamat kantormu, aku menuju ke sana, sekarang!" Titah Arsya lalu memutus panggilan secara sepihak.