7. Pembawa s**l

1217 Kata
Natasya salah mengira. Dia pikir, Arsya adalah lelaki baik, ramah, hangat, dan menyenangkan. Dia tidak pernah menyangka kalau lelaki itu juga bisa kasar. Apalagi, ketika mendapat tatapan tajam yang saat itu seolah ingin menerkamnya. Tak hanya itu, kini, pergelangan tangan kanan Natasya ternyata memerah. Karena tadi, Arsya mencengkeramnya cukup erat. Sakit, Natasya merasakan sakit di pergelangan tangannya. Kini, mereka tinggal berdua saja, para ibu-ibu yang menggerebek mereka sudah pergi dari kamar itu. Natasya sedang duduk sembari menundukkan kepala, tangan kirinya mengusap pergelangan tangannya yang sakit. "Sekarang bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan, untuk mencegah pernikahan ini, nggak ada, kan?" Arsya yang sedang berdiri tepat di belakang kaca jendela, masih menggeram marah. Masalahnya dengan Ratu belum selesai, kini sudah timbul masalah baru. Sejak tadi, sebenarnya Natasya ingin pergi dan kabur meninggalkan Arsya dan kamar hotel pembawa petaka itu, tapi, Arsya jelas-jelas menahannya karena menganggap dia harus bertanggung jawab atas semua ini. "Aku nggak tau, harus ngelakuin apa, semuanya sudah terjadi. Tapi, kita masih bisa berikan pengertian sama orang tua kita kalau---" "Kamu mau tau? Aku baru saja terima pesan singkat dari Ayahku, beliau mengatakan kalau keputusan bunda nggak bisa di ganggu, kalau nggak, aku benar-benar di tendang dari perusahaan keluarga. Aku belum siap hidup miskin, Sya." Lelaki itu berbalik, kembali menghadap Natasya yang sedari tadi masih betah menunduk. Menikah, sama sekali belum terpikirkan oleh Natasya meski usianya sudah mencapai dua puluh lima tahun. Dia masih ingin bersenang-senang, menikmati hidupnya. Menikmati gajinya, berfoya-foya mencari kesenangan. "Maaf Mas, ini memang salah aku. Harusnya aku nggak terjatuh, kita nggak basah dan--" Arsya langsung memotong kalimat Natasya, lelaki itu bahkan belum mengganti pakaiannya yang basa. Itu sudah tidak dia pikirkan lagi. "s**l! Kamu benar-benar pembawa s**l, Natasya! Sejak kita duduk di kedai kopi tadi, diam-diam ada yang memantau kita dan Ratu marah---" "Soal itu, kamu nggak bisa nyalahin aku, Mas. Enak saja kamu bilang aku pembawa s**l, kamu pikir, aku nggak merasa s**l dipaksa nikah sama kamu?! Lagian, siapa yang duluan rangkul-rangkul aku tadi waktu aku pinjam payung?!" Natasya mulai meninggikan suaranya, sedari tadi dia lebih banyak diam dan bersabar. Tapi, u*****n Arsya untuknya tentang perempuan pembawa s**l benar-benar membuat emosinya tersulut. Tidak, dia tidak bisa lebih lama lagi, berada di sini. Dia juga tidak mau disalahkan sepenuhnya atas kejadian ini. Natasya bangkit dari sofa, setengah berlari menuju pintu kamar hotel, dan dia berhasil kabur, karena memang Arsya membiarkannya pergi. Dia melangkah tanpa alas di kakinya karena benar-benar tidak lagi terpikir tentang heelsnya yang masih tertinggal di kamar. Tak hanya itu, paper bag berisi satu set pakaian basahnya pun juga tertinggal. Natasya menangis di sepanjang koridor, sambil berjalan menatap kakinya yang t*******g. Dia benci keadaan ini, dia benci mamanya yang kerap kali memaksakan hal yang bukan keinginannya. Ingin kabur, tapi ke mana? Dia menyesali dirinya sendiri yang terlalu bergantung pada orang tuanya. Dia tidak punya tabungan juga karena gajinya sering habis duluan sebelum tiba awal bulan. Dan di dalam dompetnya kini, hanya ada dua lembar uang seratus ribuan, saldo rekeningnya kosong, tak ada yang bisa dia lakukan selain pulang ke rumah dan menggunakan uang itu untuk ongkos taksi. * Arsya menapaki apartemennya, dia berkerut kening saat mendengar suara televisi dengan volume yang cukup besar. Tak hanya itu, ruangan berukuran lima kali lima meter itu juga cukup berantakan. Bantal sofa berserakan, buku-buku yang awalnya tertata rapi di rak, kini berjatuhan di bawah. "Mas, akhinya kamu pulang juga." Mendengar suara dan melihat siapa yang ada di hadapannya, Arsya bernapas lega, awalnya dia memang sudah menduga kalau ini perbuatan Ratu manjanya yang pasti mengamuk karena kejadian hari ini. "Kamu selalu begitu, barang-barang di apartemenku selalu jadi sasaran amarah kamu." Arsya mendekat pada Ratu yang tengah berjalan menuju sofa, meraih pinggang wanita itu, lalu berusaha memberi kecupan di kepalanya, tapi Ratu segera menghindar. "Apa urusan kamu dengan perempuan berhijab itu, sudah selesai, Mas?" Ratu menjauh darinya. Arsya memijat pelan pelipisnya. Selesai? Pertanyaan Ratu membuat pikirannya semakin kusut. Bukannya selesai berurusan dengan Natasya, tapi dia justru terjebak semakin dalam dengan wanita itu. Ya, walau itu terjadi karena ide gila orang tua mereka. Tapi, ada sebab pasti di balik semua itu. "Mas?!" Diamnya Arsya membuat Ratu semakin curiga, lelaki itu belum memberi respon dengan kata-kata. Dia meraih tangan Ratu, untuk di genggamnya dan menuntun wanita itu untuk duduk di sofa. Perlu keahlian khusus dalam menjinakkan amarah Ratu, jika sudah begini. Dia harus ngobrol empat mata demi memberi pengertian pada wanita itu. "Ratu, kamu tau dan kamu merasa kalau kita saling cinta, kan?" Tangan kiri Arsya terangkat untuk menyibakkan rambut panjang kekasihnya. Wanita itu masih diam, dia tahu Arsya akan melanjutkan kalimatnya meski dia tidak memberi respon. "Kamu cinta aku, dan semua harta yang melekat padaku, benar, kan sayang?" Arsya tersenyum, dia tahu Ratunya tidak hanya menginginkan cinta darinya, tapi, harta yang Arsya miliki adalah pendukung untuk manisnya cinta mereka. Memanjakan wanita itu, ya tentu harus dengan saldo rekening yang banyak. Ratu menangguk, "Bukan berarti aku matre, tapi, aku rasa semua perempuan butuh itu untuk bisa bahagia, Mas--" "Aku tau, sayang..." Arsya menjeda kalimatnya, dia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Jadi, ada satu hal yang ingin aku jelaskan ke kamu, semoga kamu mengerti." Alis Ratu mulai berkerut, berpikir keras soal apa yang akan dibahas Arsya. Sungguh, dia juga takut jika hubungan mereka akan berakhir. Perlahan, Arsya menjelaskan tentang semua kejadian hari ini. Awalnya, Ratu memberi respon dengan tidak bersahabat, namun Arsya tetap sabar menjelaskan. "Ini demi kehidupan kita, sayang... kalau aku nggak nurutin bunda, Ayah mengancam semua aset, dan kepemilikan saham atas namaku, akan di cabut. Kamu nggak mau kita jatuh miskin, kan?" Ratu menggeleng cepat. "Jadi, kalian benar-benar harus menikah? Terus aku gimana? Apa hubungan kita bakalan gini-gini aja--" "Nggak sayang, ini hanya sementara. Dan Natasya juga nggak setuju dengan pernikahan ini, kami hanya terpaksa. Aku lakukan ini demi kamu, supaya kita tetap bisa bersama, demi bunda dan juga demi aset-asetku." Arsya mengusap kepala Ratu yang matanya mulai berkaca-kaca. "Plaese jangan mikir yang aneh-aneh, aku sama sekali nggak punya perasaan apapun ke dia. Dia bukan tipeku, dan kamu tau aku nggak gampang jatuh cinta, kecuali orangnya itu, kamu. Natasya juga tau kok kalau aku sudah memiliki kamu, jadi walaupun aku sudah menikah dengannya, nggak akan ada yang berubah di antara kita, ingat itu." Arsya menjelaskan panjang lebar, lalu lelaki itu meraih dagu Ratu dan memberi kecupan singkat pada bibirnya. Butuh kesabaran ekstra agar kekasih manjanya ini bisa memahami, akhirnya Ratu menerima kekasihnya menikahi wanita lain dengan alasan demi menjaga aset, dan menyelamatkan dirinya agar tetap bisa menjadi bagian penting dari perusahaan keluarga. Arsya bernapas lega, semuanya beres. Ya, menikah sementara tidak ada salahnya. Dia meyakinkan Ratu dan juga dirinya sendiri kalau pernikahan ini hanyalah status belaka. * Sementara itu, di keheningan malam, Natasya menangis dalam sujudnya, meminta pada Yang Maha Kuasa agar hatinya dikuatkan, menghadapi laki-laki kasar seperti Arsya, yang harus menjadi suaminya dalam waktu dekat. Dia juga memohon agar di limpahkan kesabaran seluas samudera. Jika memang Arsya adalah jodoh yang dikirimkan untuknya, tapi mengapa jalannya harus menyedihkan seperti ini. Wanita itu berpikir, apa mungkin ini, karma untuknya karena cukup banyak lelaki yang ditolaknya dengan alasan, masih ingin menikmati kesendirian. Natasya mengaminkan do'a-do'anya, lalu dia meletakkan kembali kepalanya di atas sajadah, hingga dia kembali tertidur dari sepertiga malam, hingga subuh datang. * Nikmati aja alurnya ya gaesss, kalau masih banyak pahitnya dari pada manisnya, sabar aja dulu. hihi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN