Natasya menerima paper bag yang baru saja Arsya serahkan padanya. Dengan perasaan khawatir, takut dan resah, dia masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lupa mengunci pintu rapat-rapat. Dia tahu Arsya adalah orang baik. Tapi bagaimanapun mereka bukan mahram, berada dalam satu kamar, membuat Natasya resah tak menentu.
Natasya terkesima melihat isi dari paper bag itu, berupa sebuah gamis berbahan super lembut. Dari brandnya, Natasya tahu kalau ini adalah produk yang harganya mahal. Ada kerudung juga di dalamnya. Natasya tersenyum, tak menyangka Arsya adalah lelaki yang pengertian.
“Ini, apa lagi?” Natasya mengeluarkan paper bag berukuran kecil yang ternyata ada di dalam sana. Penasaran, dia segera membukanya. Ternyata isinya adalah satu set pakaian dalam berwarna hitam. Pengertian Arsya yang tak disangka-sangka, membuatnya berdebar tak menentu. Dengan pipi yang merah merona, Natasya memastikan ukuran pakaian dalam itu dan ternyata… sangat pas untuknya. Benar-benar pas seperti yang dia pakai biasanya.
Segitunya Mas Arsya bisa menerka? Luar biasa! Batin Natasya dalam hati.
Nyatanya, Arsya memiliki sebuah skill terselubung yang tak Natasya ketahui, yaitu bisa menilai ukuran wanita hanya dalam sekali melihat. Mata Arsya sempat tertuju pada d**a Natasya karena wanita itu membiarkan kerudungnya terikat ke belakang, menggunakan style ala-ala berhijab anak muda masa kini. Arsya bisa melihat bentuk yang tercetak di balik gamis Natasya.
*
Sambil menunggu Natasya, Arsya sedang sibuk dengan hal lain. Berbalas chat dengan kekasih manjanya yang sedang marah besar karena baru menerima sebuah foto dirinya merangkul Natasya di tengah hujan, di bawah payung yang sama. Tak sabar dengan berbalas chat, Arsya memilih menghubungi Ratu. Bukan video, tapi telepon. Karena dia tak ingin membuat kekasihnya semakin marah melihat di mana dirinya berada saat ini. Kamar hotel.
“Halo, sayang?” lelaki itu menyapa Ratu. Namun, yang terdengar di seberang sana adalah hening tanpa jawaban. Hanya terdengar deru napas yang tak beraturan, seperti seseorang yang sedang menahan tangis.
“Ratu, kamu, nggak apa-apa, kan?” Arsya tak bisa tenang. Dia berdiri, dan berjalan ke sana kemari. Gelisah, karena merasa Ratu sedang tidak baik-baik saja.
“Kamu tega, Mas. Kamu krisis rasa setia. Kamu selingkuh di belakang aku, ya kan? Kamu bilang pergi ke acara keluarga. Tapi nyatanya kamu malah sibuk sama cewek. Hujan-hujanan, peluk-pelukan. Kamu nggak punya hati, Mas! kamu kurang puas dengan aku, hah?!”
Omelan Ratu, beserta isak tangisnya, berhasil memekakkan telinga Arsya. Membuatnya harus menjauhkan ponsel dari telinganya, karena wanita itu berteriak cukup nyaring. Arsya diam dan berpikir. Dari mana Ratu tahu tentang aktifitas yang dia lakukan sore ini?
“Dengarin aku dulu, please, sayang. Itu Natasya, sepupu jauh aku. Kami keluarga. Mana mungkin aku macam-macam dengan dia. enggak mungkinlah.” Arsya bukan menyangkal dan beralasan. Yang Arsya katakan ini adalah fakta.
“Bohong kamu. Aku nggak percaya!”
“Ratuku sayang, aku nggak akan berpaling dari kamu, apapun ceritanya. Aku cuma cinta sama kamu, nggak ada yang lain. Kemarin aku udah bilang ke kamu, kan? kalau hari ini aku pergi dengan ayah bunda ke hotel, acara arisan keluarga. Tolong kamu paham. Lagipula aku cuma ngobrol biasa sama Natasya. Jangan berpikiran aneh-aneh.” Arsya mencoba sesabar mungkin, menjelaskan dan bicara pada Ratunya yang saat ini sedang salah paham.
Lagi-lagi hening. Tak ada jawaban. Arsya yakin, Ratu pasti sedang menangis.
“Jangan nangis. Aku cuma cinta kamu. Nggak ada yang lain. Nanti malam aku ke rumah kamu, ya? Miss you, sayang.”
“Nggak usah. Kamu lanjutkan aja kegiatan kamu dengan cewek sholeha itu, Mas. Selera kamu udah berubah drastis ternyata.” Ratu langsung memutuskan panggilan dan Arsya semakin kesal saat mendengar bell berbunyi.
“Siapa lagi, pengganggu kali ini?!” Arsya membuka pintu dengan sangat terpaksa.
“Bunda?!” Ya, itu memang bundanya. Bukan hanya bunda, tapi juga ada Tante Tyas, mamanya Natasya. Panik dan takut, kedua orang tua itu salah paham dengan keberadaan mereka di kamar ini. Apalagi, bundanya memaksa untuk menerobos masuk ke dalam.
“Dari tadi dicariin, ternyata kalian check in berdua? padahal masih ada keluarga yang lain di sini. Bunda curiga sama kalian, pasti ada sesuatu. Tapi kalian keterlaluan berani macam-macam saat di acara keluarga. Mau bikin malu ayah bunda, iya?” Maya menatap tajam pada putranya.
“Mana Natasya, anak kurang ajar itu,” sambung Tyas.
“Natasya di kamar mandi, Tante. Lagi ganti baju.” Arsya hanya merespon pertanyaan Tyas, dan mengabaikan sang bunda.
Arsya bingung, padahal dia sama sekali tidak memberi tahu nomor kamar yang sedang mereka tempati. Tapi bunda bisa menemukannya di sini. Oh, dia lupa. Bunda adalah tipikal wanita pintar yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun yang dia mau. Termasuk memaksa respsionis untuk memberikan informasi nomor kamar pesanan atas namanya.
Natasya keluar dari kamar mandi, dengan keadaan yang lebih baik dari pada tadi. Sama halnya dengan Arsya, dia juga panik dan kebingungan dengan keberadaan dua orang tua itu di sana.
“Mama?!” Natasya menyebut mamanya dengan rssa khawatir, dia juga langsung berkeringat dingin.
“Ma, aku bisa jelasin—“
“Nggak ada yang perlu dijelasin. Dari awal, mama udah curiga dengan kalian berdua,” sahut sang mama.
“Arsya, kamu jadi laki-laki harus bertanggung jawab. Mengajak perempuan masuk ke kamar hotel. Padahal kalian belum mahram. Apa itu sikap yang baik dan beretika? bunda malu dengan tingkah kamu—“
“Bunda, please jangan salah paham. Aku bisa jelasin. Tante Tyas, juga jangan salah paham ya.” Arsya benar-benar memohon hingga dia berlutut di hadapan bunda.
“Dari awal, kami udah curiga ada sesuatu di antara kalian. Sekarang, kalian nggak bisa mengelak lagi. Arsya kalau diajak ke acara keluarga pasti hilang, buat nyari Natasya. Begitu juga sebaliknya. Udah deh, kalian nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi sekarang. Kalian cocok, lebih baik menikah. Ini udah menjadi keputusan bunda dan Tante Tyas,” ucap Maya panjang lebar. Sebenarnya, hari ini mereka memang ingin mengutarakan niat mereka untuk menjodohkan Arsya dan Natasya. Tapi bersyukur atas kejadian kali ini, usaha mereka tidak perlu lebih keras, karena Arsya dan Natasya sudah tertangkap basah. Tidak boleh dan tidak bisa mengelak.
“Hah? Nikah?!” Natasya terperangah. “Enggak, aku nggak mau. Lagian kita masih terikat keluarga. Apa masuk akal menikah dengan Mas Arsya? Aku nggak mau nikah sama Mas Arysa, titik.” sentak Natasya tanpa peduli dengan siapa dia berhadapan saat ini.
“Kamu pikir, aku mau nikah sama kamu?!” entah sebab apa, Arsya jadi tersulut emosinya. Mendengar Natasya menolaknya mentah-mentah. Apa Natasya tidak tahu kalau di luar sana, banyak wanita yang mengantre untuk bisa bersanding dengannya? Bahkan tante-tante juga sempat terpikat dengan pesonanya.
“Tante Maya… lihat. Kami sama sekali nggak ada kecocokan. Nggak ada hubungan apapun juga, jadi nggak ada alasan untuk kami menikah.” Tegas Natasya.
“Nggak bisa, pokoknya kalian harus nikah. Natasya, kamu jangan sok jual mahal. Memangnya, ada cowok yang dekat sama kamu, selama ini. Nggak ada, kan?” tantang mamanya.
“Ya aku memang nggak dekat dengan cowok manapun. Aku memang nggak punya pacar, Ma. Tapi Mas Arsya, sebenarnya dia punya—“
Ucapan Natasya terhenti seketika saat Arsya membungkam mulutnya dengan telapak tangan. “Oke, Bunda. Kami akan menikah sceepatnya.” Demi menutupi hubungannya dengan Ratu, Arsya rela mengikuti kemauan bundanya. Tapi, jangan harap pernikahan mereka akan berjalan dengan layak. Untuk saat ini, menuruti bunda adalah satu-satunya cara agar hidupnya bisa berjalan aman.