Bab 10 Menemukan Bukti

1015 Kata
"Marisa … Marisa … ada apa? Kenapa kamu berteriak? Marisaaa …." Rian yang baru sampai di depan pintu kamar hotel menjadi panik ketika mendengar teriakan Marisa. Dia mengge44dor pintu sambil memanggil nama Marisa. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Rian semakin gelisah ketika sepupunya itu tidak juga membuka pintu kamar meski sudah digedor berulang kali. Merasa tak sabar, akhirnya Rian berlari menuju lift dan kembali ke lantai bawah. "Tolong … tolong buka kamar adik saya di kamar 510. Saya tadi keluar sebentar dan ketika balik ke kamar saya mendengar dia berteriak. Saya sudah gedor pintu dan memanggil namanya, tapi tidak ada reaksi. Tolong cepetan!" Resepsionis yang mendengar suara panik Rian segera bertindak cepat. Dia menghubungi housekeeping dan memintanya menuju kamar Marisa. Sementara Rian ditemani seorang satpam juga bergegas kembali ke kamar Marisa. Mereka berdua datang bersamaan dengan dua orang housekeeper. Petugas housekeeper laki-laki segera membuka pintu dengan kunci cadangan. Lalu dia mempersilakan Rian masuk lebih dahulu. Rian membuka pintu selebar mungkin dan seketika mukanya memucat melihat pemandangan di hadapannya. Spontan dia berteriak, "Ya Alloh … Marisa!" Dengan langkah lebar Rian memasuki kamar hotel dan segera berjongkok di samping tubuh Marisa yang tergeletak di karpet. Rian mengangkat tubuh Marisa yang sedang pingsan dan membopongnya sendirian. Meski para staf hotel menawarkan bantuan, Rian menolaknya. Dengan wajah tersaput mendung Rian terus menatap Marisa sambil melangkah ke tempat tidur. Perlahan dia meletakkan tubuh lemas Marisa di kasur. "Tolong mintakan minyak angin untuk menyadarkan adik saya." Rian menoleh ke arah para staf yang ada di dalam kamar. "Sebentar, Pak. Teman saya tadi sudah pergi mengambilnya. Nah, itu dia sudah datang," kata petugas housekeeper, sambil menunjuk rekannya yang berlari memasuki kamar. "Ini, Pak, minyak kayu putihnya. Semoga bisa membantu menyadarkan adik bapak." Petugas housekeeper itu menyodorkan botol minyak kayu putih berukuran sedang. Rian menerimanya dan segera membuka tutup botol minyak kayu putih itu. Dia menuangkan minyak secukupnya di jarinya dan mengoleskan di bawah hidung Marisa. "Boleh saya bantu, Pak? Biasanya mengoles telapak kaki dan sedikit memijatnya juga dapat membantu seseorang lekas sadar dari pingsan," ujar staf perempuan yang tadi membawa minyak kayu putih. Rian mengangguk dan memberikan botol minyak kayu putih. Petugas housekeeper itu kemudian mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh permukaan telapak kaki Marisa. Lalu dia memijatnya perlahan. Rian dan kedua staf lainnya menatap Marisa dengan tak berkedip. Mereka semua merasa tegang menanti Marisa membuka mata. Beberapa menit kemudian tampak bulu mata Marisa bergetar lalu dia membuka mata perlahan. "Ehm … M-Mas. Aa-aku ada di ma-na?" "Kamu sudah sadar, Ris?" tanya Rian. "A-aku kenapa, Mas?" "Tadi waktu mas pulang dari toko, kamar terkunci. Mas sudah gedor, tapi gak kamu buka. Jadi, Mas minta bantuan staf untuk membuka pintu. Ketika kami masuk kamar, mas temukan kamu pingsan di karpet. Memangnya tadi kamu kenapa, Ris? Kok bisa pingsan?" Mata Marisa mengelilingi ruangan. Dia menatap staf satu per satu dengan tatapan linglung. Lalu, ketika kesadarannya mulai kembali, Marisa memejamkan matanya lagi dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya pun mulai terdengar. Meski lirih, tetapi membuat semua yang ada di dalam kamar itu merasa heran. "Loh, Ris … kenapa kamu nangis?" tanya Rian. Namun, Marisa mengabaikannya dan tetap menangis. Ketiga orang staf hotel itu berpandangan satu sama lain. Salah satunya memberi kode kepada satpam yang berusia paling tua. Pak satpam mengerti isyarat itu. Dia berdeham lalu berbicara, "Mohon maaf, Pak karena adik bapak sudah sadar dan sepertinya tidak ada kejadian berbahaya yang terjadi. Jadi, kami mohon izin kembali bertugas." Rian menatap ketiga staf hotel yang ada di depannya. Dia tahu ucapan satpam hotel itu benar. Keberadaan mereka sekarang memang sudah tidak dibutuhkan lagi. "Iya, Pak. Terimakasih banyak sudah membantu." "Terima kasih juga Mas dan Mbak untuk pertolongannya." Rian berdiri dan mengambil dompet. Saat dia akan mengambil uang untuk memberi tip, satpam itu kembali berkata, "Tidak usah, Pak. Sudah tugas kami memberi pertolongan." Satpam memberi isyarat kepada kedua orang staf yang segera ikut berpamitan. Rian mengantar mereka ke pintu dan kembali berterima kasih sebelum menutup pintu kamar hotel. Saat Rian kembali ke samping tempat tidur, dia menemukan Marisa berbaring miring dan menutup wajahnya dengan guling. Rian tidak bisa melihat mata adik sepupunya itu, tetapi dari punggungnya yg terus berguncang, Marisa masih menangis. "Risa, berhentilah menangis. Kamu membuat mas bingung. Tarik napas, Ris. Tenanglah. Ceritakan apa yang membuat kamu syok sampai pingsan. Ayuk tenang, mas siap dengar cerita kamu." Rian menepuk punggung Marisa berulang kali. Dia berusaha menghibur dan menenangkan Marisa. Sebenarnya Marisa juga tidak ingin menangis, apalagi sampai syok dan kehilangan kesadaran. Namun, kenyataan yang menyedihkan itu begitu menghantam dadanya dengan kuat dan membuatnya sesak. "Ayolah Risa … Mas tahu kamu itu perempuan hebat. Kamu pasti bisa tegar menghadapi semua permasalahan hidupmu yang datang tiba-tiba. Mas ada di sini, siap mendengarkan keluh kesahmu. Juga siap mendampingi kamu bangkit kembali. Kamu pasti bisa, Ris." Marisa mendengarkan semua ucapan Rian yang memotivasi. Perlahan-lahan dia menurunkan guling yang menutupi wajahnya meski tidurnya masih miring. Dia juga berulang kali menarik napas dalam mencari ketenangan. "Mas …," panggil Marisa sambil dia mengangkat tubuhnya mendekati sandaran kasur. Rian hanya melihat Marisa yang akan duduk. Dia tidak berkomentar apa pun dan hanya menunggu yang akan dilakukan Marisa selanjutnya. Setelah bisa duduk bersandar dengan nyaman di sandaran kasur, Marisa berkata. "Mas Rian bisa ambil ponsel di meja itu. Hal yang membuatku syok ada di sana." Rian mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Marisa. Dia menatap Marisa sejenak. Ketika melihat sepupunya itu mengangguk, Rian berdiri dan mengambil ponsel yang dimaksud Marisa. Lalu dia menyerahkannya kepada Marisa. Marisa menolak dan berkata, "Buka aja, Mas. Itu ponsel Mas Irawan yang baru aku ketahui hari ini. Cari chatnya dengan akun WA bernama Lipstik merah." Kernyit di dahi Rian semakin bertambah mendengar ucapan penuh rahasia dari Marisa. Dengan tak sabar, tangannya menggulir layar dan mencari akun bernama aneh yang disebut oleh Marisa. "Scroll dari pertama kali mereka mulai chat, ya, Mas." Rian tidak menjawab dan hanya menuruti permintaan adik sepupunya itu. Pupil matanya melebar seiring dia membaca satu per satu chat antara suami Marisa dengan akun Lipstik Merah. Tangannya terkepal untuk meredam sesuatu yang menggelegak di dadanya. "Apa-apaan Irawan ini! Dasar manusia tidak tahu malu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN