Bab 11 Dia Suamiku, Mas!

1022 Kata
"Ayolah … Mas, kenapa kamu berdiri saja di situ? Apa kamu nggak pengen mendekati aku?" "Ini sudah hampir jam tujuh. Kita harus segera kembali ke Surabaya." "Sebentar lagi, Mas. Aku masih pengen di sini. Bisa berduaan dengan kamu selama beberapa hari itu sulit, loh. Makanya lingerie merah ini sengaja aku beli khusus untuk ketemu kamu, Mas. Lihat aku dong, Mas. Apa penampilanku ini tidak menggodamu?" Irawan menghentikan aktivitas berkemasnya dan menoleh ke ujung kasur. Di sandaran kasur ada beberapa bantal yang sengaja ditumpuk. Tampak seorang perempuan bertubuh sintal bersandar di tumpukan bantal itu. Rambut hitamnya sengaja diangkat dan dibiarkan tergerai di bantal untuk memperlihatkan leher jenjangnya. "Sini, dong, Mas," Perempuan itu kembali merayu. Dia membiarkan salah satu tali lingerie merahnya melorot hampir ke siku. Ulahnya itu dia lakukan dengan sengaja untuk mengumbar bahu mulusnya. Irawan menghembuskan napas dengan keras. Jakunnya naik turun melihat pemandangan itu. Lelaki mana yang tidak terpikat dengan perempuan berpose menantang di kasurnya? Pastinya bukan dia. Karena Irawan tahu dirinya termasuk golongan lelaki yang mudah terjerat dengan perempuan seksi. Apalagi penggoda seperti perempuan itu. "Kamu itu … benar-benar perempuan yang sulit ditolak. Bukan cuma karena penampilanmu yang jauh berbeda dengan perempuan yang selalu kutemui setiap hari. Tapi bersamamu aku juga tidak takut berfantasi liar. Karena kamu tidak pernah keberatan mewujudkan fantasiku itu." Perempuan itu mengikik mendengar kata-kata pujian yang baru saja diucapkan Irawan. Dia terkekeh dan bergaya semakin menggoda ketika melihat Irawan meletakkan tasnya kembali dan bergegas naik ke kasur. Kilat kepuasan tampak di mata perempuan berlingerie merah itu. Misinya telah berhasil. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang masih menyisakan bekas lipstik berwarna merah. Rian mendengkus dan segera menggulir layar. Dia keluar dari aplikasi chat itu tanpa menyelesaikan menonton video yang ada di ponsel Irawan. Rian juga segera mematikan ponsel dengan kasar dan mengumpat, "Lelaki tak tahu malu! Kalau mau selingkuh … selingkuh aja. Gak perlu pakai acara merekam perbuatan amoralnya itu." Marisa memperhatikan sepupunya itu meletakkan dengan kasar ponsel milik suaminya kembali ke meja. Dia tidak memarahi ulah Rian itu. Bahkan Marisa tidak melarang Rian ketika melihatnya berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil mengumpat. "Kayaknya bukan dia yang ngerekam, Mas," ucap Marisa, pelan. "Kamu jangan bela suamimu, Ris. Meski bukan dia yang merekam, tapi Irawan tahu kalau sedang direkam. Tuh kelihatan dari matanya yang terus lihat kamera. Lagipula video sebelumnya ada, kan? Sudah dia tonton juga. Berarti dia tahu hobi aneh perempuan penggoda itu." Marisa terdiam mendengar bentakan Rian. Selama beberapa saat di kamar itu hanya terdengar langkah kaki Rian yang mengelilingi kamar. "Menurut Mas Rian, yang dimaksud 'perempuan yang selalu kutemui setiap hari' oleh Mas Irawan itu … aku, kan?" Akhirnya Marisa tidak tahan untuk bertanya. Kata-kata itulah yang sedari tadi menyesaki dadanya. "Jangan berpikiran buruk dulu, Ris. Siapa tahu yang dimaksud Irawan itu bukan kamu tapi orang lain." "Aku belum ngelihat ada orang lain di sini, Mas." "Di sini memang tidak ada perempuan lain, tapi yang dimaksud Irawan di video bukan berarti itu kamu." "Kalau bukan aku, terus siapa orang yang dilihat Mas Irawan setiap hari?" "Bisa aja itu karyawan di kantornya. Mereka kan bertemu tiap hari juga." Marisa terdiam. Dalam hati dia membenarkan perkataan Rian. Melihat Marisa terdiam, Rian kembali berkata, "Sudah … jangan pikirkan itu. Sudah berapa kali aku bilang kepada kamu jangan pernah merasa bersalah dan rendah diri karena kejadian ini. Mereka … suami dan wanita simpanannya itu yang harusnya merasa malu." "Tapi … aku boleh tanya, kan, Mas? Sebagai sesama lelaki, Mas Rian pasti tahu apa bedanya aku dengan perempuan dalam video itu?" "Jelas beda. Dia murahan kamu tidak," sergah Rian. "Jawaban kamu nggak meyakinkan, Mas. Pasti kamu menjawab itu karena kamu kakakku. Coba kalau kamu lelaki lain pasti kamu terperangkap oleh pesona perempuan itu." Marisa mengerucutkan bibirnya. "Terserah kamu aja. Kan aku sudah pernah bilang kalau tidak semua laki-laki itu mata keranjang. Kamu harus percaya tidak seluruh lelaki itu tukang selingkuh. Aku contohnya. Kamu boleh percaya boleh juga tidak, aku orangnya setia. Tapi percuma juga aku kasih tahu kamu, toh kamu sudah milik orang yang tidak bisa setia itu." Marisa menatap Rian dengan pandangan bertanya-tanya. Ada sesuatu dalam kata-kata dan nada suara kakak sepupunya itu yang terasa aneh dan mengganjal hatinya. Namun, Marisa tidak melanjutkan kecurigaannya itu dan memilih membereskan barang-barangnya. Rian menatap bingung dan bertanya, "Kenapa dibereskan? Kamu mau pergi?" "Iya." Marisa menjawab singkat sambil meneruskan membersihkan tempat tidur. "Kembali ke Surabaya?" "Enggaklah, Mas. Kan saya harus jaga Mas Irawan di sini. Tapi Mas Rian pulang aja gak apa-apa. Siapa tahu nanti orang tua Mas Irawan datang. Kalau gak datang pun gak masalah." "Ka-mu masih mau merawat Irawan?" Tatapan Rian menghujam tepat di mata Marisa, membuat Marisa menggigil tanpa sadar. "Memangnya kenapa aku gak mau merawat suamiku sendiri?" "Lho kok kamu malah tanya. Apa kamu nggak sakit hati sudah dikhianati?" "Aku sakit hati, Mas. Aku juga sangat marah. Tapi bagaimana lagi. Mas Irawan itu suamiku, Mas. Sebagai istri aku harus tetap merawatnya selama dia sakit." "Sampai kapan?" tanya Rian dengan tatapan setajam elang yang siap menyambar mangsanya. "Sampai suamiku sadar." Marisa berbisik sambil menunduk. "Gila kamu, Ris!" maki Rian. Dia benar-benar tidak terima Marisa masih merawat lelaki brengs*k seperti Irawan. Marisa berdiri dari kasur dan mengangkat tasnya. Lalu dia berkata kepada Rian, "Kamu masih mau di sini dan mengomel atau mau mengantarkan aku ke rumah sakit?" Rian kembali mengumpat, tetapi dia beranjak mengikuti langkah Marisa. Mereka hampir sampai ke pintu kamar hotel saat Rian teringat sesuatu. "Sebentar, Ris. Minuman dan kue yang kubeli kemarin ketinggalan." Rian berbalik dan melangkah mendekati meja. Dia meraih tas berisi belanjaannya. Mengeluarkan dua botol air mineral berukuran tanggung dan menenteng sisanya. Rian kembali menyusul Marisa yang sudah siap mengunci kamar hotel. Mereka berkendara dalam diam selama menuju rumah sakit. Meski beberapa kali Rian melirik ke samping, tetapi mata Marisa tetap menatap lurus ke depan. Air muka Marisa tampak datar, tetapi Rian tahu Marisa tengah mencoba meredam gejolak emosinya. Halaman rumah sakit tidak seramai tadi pagi ketika Rian dan Marisa menginjakkan kaki pertama kali di tempat ini. Mungkin para wartawan sudah pergi, batin Rian. Setelah memarkir mobil, mereka berjalan memasuki IGD rumah sakit. Baru saja mereka memasuki lobi terdengar suara membentak. "Marisa … kamu kemana aja!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN