Secretly, Greatly

1760 Kata
* * * Satu bulan setelah berbulan madu, Jeonnel dan Rane tentu kembali disibukkan dengan dunia masing-masing. Rane berpisah dengan Jeonnel sejak di bandara, Jeonnel yang kembali kepada dirinya yang gila kerja, tetapi pria itu sedikit berubah, Ia sedikit meluangkan waktunya untuk Rane,  untuk saling menghubungi, setidaknya sekali dalam sehari. “bagaimana dengan hasilnya? ” tanya Dexter kepada sekretaris Taylor yang baru saja memasuki ruang kerjanya. Jimmy mengendurkan dasi yang mengikat lehernya. “sepertinya ini masalah internal Presiden, saya tidak mendapatkan info sedikitpun.” ungkap Jimmy. Dexter kini tengah mencari alasan yang masuk akal untuk masalah Rane dengan popularitasnya yang berada pada tingkat rendah diantara member lain. Jeonnel mendapati wanita itu tak mendapatkan banyak, bahkan tergolong tak ada pekerjaan sama sekali. Pertama, Jeonnel mengira bahwa itu adalah diri Rane yang tak menginginkan pekerjaan, tetapi kenyataannya wanita itu sangat bersemangat saat membahas tentang pekerjaan dan projek di masa depan yang sangat ingin ia lakukan saat Jeonnel bertanya kenapa tidak pergi untuk meraihnya, wanita itu mengatakan bahwa agensi tempatnya bernaung belum memberikan hal itu kepadanya. Jadi Jeonnel menyimpulkan ada sesuatu yang salah antara Rane dan Agensi itu, dan sekarang ia tengah menyelidikinya. Tetapi, sepertinya mereka memiliki batu penghalang disini. Mereka tak punya kenalan dalam agensi itu, Jeonnel tak pernah tertarik kepada dunia entertainment sebelumnya, sekarang Ia harus mencari cara agar mendapatkan semua informasi penting dari dalam agensi itu. Leon tak bisa pergi kesana, karena dia hanya asisten pribadi Jeonnel. “Agensi itu sangat ketat, mereka mencari pekerja dengan tingkat kerja tinggi, dan menjunjung kerahasian.” Ungkap Jimmy saat mereka tengah memikirkan cara untuk bisa menembus agensi. Jeonnel menarik sudut bibirnya. “kita memiliki seseorang yang bisa dengan mudah menembus semua itu.” ucapnya. “Siapa? Tunggu–kau berbicara tentang— Jeonnel mengangguk membenarkan tebakan Jimmy. —aku tak yakin Ia setuju, kau menyerahkan proyek besar kepadanya beberapa bulan yang lalu.”  lanjut sekretaris Taylor. “serahkan proyek itu kepada anggota lain. Dan bawa ia kembali. ” perintah Jeonnel. “kau tahu Ia bukan seseorang yang akan pergi meninggalkan pekerjaannya jika itu belum tuntas.” jawab Jimmy. Benar sekali, anak buahnya yang satu ini sangat terkenal dengan panggilan si ambisius yang cerdik. “kapan proyek itu selesai? ” tanya Jeonnel. “mungkin delapan bulan.” jawab sekretaris Taylor. “katakan padanya bahwa ia harus kembali dalam lima bulan, jika tidak aku akan memecatnya.” ungkap Jeonnel. “dia tidak akan peduli dengan ancaman.” Sahut Jimmy menebak. “aku akan membiayai pernikahannya, tentunya di hotel bintang lima, Gaun pernikahan yang dirancang khusus oleh designer Inggris, tentunya hingga bulan—” Ucap Jeonnel terpotong. “Baik, akan saya sampaikan, Tuan!” potong sang sekretaris segera . * * * (Note :  ini adalah lanjutan dari bab ‘Her Private Life’ ) Rane tak bisa berhenti tersenyum saat merasakan sentuhan dan ciuman di perutnya. Tentu saja sang pelaku adalah suaminya, tangan Rane menyentuh rambut Dexter yang berwarna hitam legam, Ia memainkan rambut pria itu dengan gemas. Sedangkan Jeonnel, ia tak bisa berhenti menyentuh sang istri. "ah,  ." panggil Rane. Jeonnel mendongak lalu berbaring disamping Rane, menarik wanita itu lebih dekat dengan tubuhnya lalu memeluk sang istri posesif. Dexter menutup matanya. " Besok aku akan pergi kedokter untuk pemasangan kontrasepsi rutin." ungkap Rane. "apa aku harus melakukan pemeriksaan kandungan terlebih dahulu? " tanya Rane meminta saran dari sang suami. Jeonnel membuka matanya lalu mengangguk. "sure." setujunya. "pergilah ke rumah sakit milik paman Miller." suruh Jeonnel. "kenapa harus? Aku sudah terbiasa di rumah sakit agensi." tanya Rane. "itu berbahaya, kau tahu aku tidak percaya dengan orang asing." Sahut Jeonnel. Rane mencibir sesaat mendengar ungkapan pria itu. "lagipula aku ingin pergi menemanimu." tambah Jeonnel. Rane tersenyum menggoda sang suami. "apa suamiku ini ingin mengetahui, apakah ia akan menjadi seorang ayah atau tidak? " goda Rane. Jeonnel menjawil hidung Rane gemas. "kau ini! " ucapnya. Rane terkekeh. "Presiden, kau sensitif akhir-akhir ini, apa aku memang tengah mengandung? " gumamnya. "kalau begitu itu kabar baik." sahut Jeonnel. "baiklah, kau menang." balas Rane lalu membalas pelukan Jeonnel. Rane mengingat ucapan pria itu saat mereka berada di Maldives, aku tidak meminta apapun selain kau harus berhenti bekerja jika kau hamil, maaf jika aku terdengar egois. Tidak, itu bukan keegoisan, itu adalah kewajiban Rane sebagai seorang istri. Tentu saja Rane menyetujui permintaan Dexter. Mengingat Jeonnel sangat banyak mengalah demi kenyamanan Rane. Rane menghargai kerja keras pria itu agar membuat dirinya nyaman saat mereka bersama. Dan juga, menjadi istri seorang Dexter tidak seburuk yang dia pikirkan. Rane pikir bahwa hubungan pernikahan mereka akan berjalan datar tetapi ternyata tidak, pria yang dingin dan terlihat tak dapat tersentuh itu ternyata sangatlah hangat didalam. "Rane." panggil Dexter untuk kesekian kalinya. Rane segera mendongak. "hmm? " sahutnya yang baru saja tersadar dari lamunannya. "kau memikirkan banyak hal, apa kau takut hamil? " tebak Jeonnel. Tidak! Rane tak takut hamil terlebih anak dari Jeonnel. Ia mencintai pria itu, tak ada alasannya untuk takut. Rane tentu saja menggeleng untuk membantah. "kenapa harus takut? " tanyanya kembali. "bukankah menyenangkan memiliki Dexter kecil? " tambah Rane. Jeonnel terkekeh pelan. "kurasa kita tak akan memilikinya dalam waktu dekat." ucap pria itu. "lihat, kau mematahkan semangatku." ketus Rane merengut. "Aku tak masalah sayang, kita bisa memilikinya nanti, saat kau sudah siap." yakin Dexter. Rane selalu tersentuh dengan semua perlakuan Jeonnel terhadapnya, bagaimana pria itu terus mengalah akan dirinya. "terima kasih." ucap Rane tulus." dan maaf. " tambahnya. "kau tak perlu mengatakannya." Jeonnel mengelus puncuk kepala wanita itu dengan lembut. "nyanyikan aku sebuah lagu." minta Jeonnel tiba-tiba. "bernyanyi? " Rane mengulang ucapan Jeonnel. Pria itu mengangguk, dan Rane tiba-tiba merasakan jiwa penyanyi lenyap. Padahal Dexter hanya memintanya menyanyi, apa yang salah? "baiklah." setuju Rane lalu mulai memikirkan lagu yang bagus untuk ia nyanyikan. I, I know where to lay Dexter menutup matanya mendengar suara dari sang istri yang terdengar sangat lembut. I know what to say It's all the same Tangan Rane mengusap kepala sang suami seraya terus melanjutkan nyanyiannya. And I, I know how to play I know this game It's all the same Now if I keep my eyes closed he looks just like you But he'll never stay, they never do Now if I keep my eyes closed he feels just like you But you've been replaced I'm face to face with someone new Rane menyelesaikan nyanyiannya lalu menunggu respon dari sang suami. "suaramu terdengar lebih baik disini." ungkap Jeonnel jujur. "memangnya kenapa dengan suaraku disana? " tanya Rane kembali. "dimusik kalian, suaramu terdengar berbeda." jawab Jeonnel. "kau mendengar musik kami?  " tanya Rane.   "tentu saja." Sahut Jeonnel membenarkan. Toh dia memang tidak berbohong. Jeonnel mendengar musik dari group istrinya, tentu saja. Dan tepatnya saat tidak bersama wanita itu karena jika ia bersama dengan Rane, wanita itu akan dengan cepat mengalihkan chRanel atau apapun itu jika ada dirinya atau groupnya disana. "kalau begitu kau menyukai Rane Riverlyn bukan Rane." sahut Rane. Jeonnel melirik Rane dengan alis yang berkerut, "memangnya apa bedanya? " tanya Jeonnel. Dexter juga merasa aneh terhadap istrinya. Bagaimana bisa, suaranya pada kehidupan nyata dan layar kaca sangatlah jauh berbeda. "Rane adalah mesin buatan agensi, sedangkan Chaeyoung adalah Chaeyoung, wanita biasa yang tak terkenal." jelas Rane singkat namun mengundah rasa perih didadanya. Sakit memang jika pola hidup diatur oleh agensi, disaat kau harus merombak segala kebenaran tentang dirimu demi image yang ingin agensi ciptakan untukmu. "lalu, apakah aku menikahi dua wanita? " tanya Jeonnel. Rane terkekeh pelan. "aku menyukai dirimu yang Rane ataupun Rane Riverlyn, tetapi aku lebih menyukai Rane Riverlyn Dexter." ucap Jeonnel menggoda. Rane merona mendengar ucapan pria itu yang terdengar romantis walaupun sebenarnya pria itu tak bertujuan romantis. "jika tak ingin bertahan lebih lama disana, kau bisa keluar, aku akan membayar pinaltimu." ungkap Jeonnel. "of course, suamiku memang Konglomerat." sahut Rane. "kau ingin sebuah agensi pribadi? " tawar Dexter. "aku bisa mewujudkan itu untukmu." tambahnya. "lalu aku akan terkenal dengan sebutan 'Rane istri Jeonnel Dexter’" sarkas Rane. Rane sangat membenci kesuksesan instan. Ia merasa itu sangat tidak adil untuk orang-orang yang bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya. "yang kita alami, kita lihat, kita pikir, berbeda dengan orang lain. Mereka akan menyebutku istri yang mengisap suaminya seperti lintah. Aku tidak suka itu, Dexter.." "dan aku tak menyukai bagaimana mereka memperlakukan istriku." sahut Jeonnel terdengar penuh penekanan. Tapi, tak membuat Rane takut. "Aku tak tahu kapan, tetapi saat aku menemukan celahnya aku akan keluar dari sana dengan terhormat, sampai saat itu aku ingin kau bertahan dan terus menunggu." ucap Rane. Jeonnel menghela nafasnya, selalu begini, Rane selalu menolak pemberiannya dengan jutaan alasan. "Apa kau tahu bahwa data pribadimu telah diperbarui? " Jeonnel mengalihkan topik mereka, ia terlalu malas untuk berdebat dan membuat masalah di antara mereka. "Astaga! Bukankah itu berarti aku berketerangan menikah dalam tanda pengenal? " Rane menatap Jeonnel dengan mata membesar karena terkejut. Jeonnel mengangguk. "aku tidak bisa menahan catatan sipil lebih lama karena aku juga butuh pembaruan." jelasnya. Tujuh bulan ini Dexter menekan pembaruan data mereka itu, dan sekarang ia tak bisa melakukannya lagi karena ada beberapa berkas yang harus ia lengkapi dan membutuhkan data pribadinya yang valid. "jadi aku harus bagaimana? " tanya Rane. Jeonnel merunduk dan mengecup bibir Rane. "kau percaya kepadaku? " tanya pria itu. Rane mengangguk patuh saat melihat mata elang pria itu. "bagus," ucap Jeonnel. "kau hanya perlu menuruti ucapanku, dan berhenti menjadi keras kepala." peringatnya. Bibir Rane mengerucut tapi mau bagaimana lagi hanya kekuasaan Jeonnel yang mampu menutup fakta ia telah menikah. "Apa kau sangat percaya kepada membermu? " tanya Dexter tiba-tiba. Rane mengangguk, tentu saja! Mereka sudah berteman hampir sepuluh tahun jauh sebelum group mereka debut, bagaimana Ia tidak mempercayai mereka. "baiklah." Jeonnel sebenarnya bukan tipe orang yang mudah percaya, dan Rane adalah kebalikan dari dirinya. Ia tak berpikir bahwa rekan -  rekan Rane itu benar peduli seperti yang kerap Rane ceritakan. Dan juga, kenapa Rane merahasiakan hubungan mereka jika wanita itu tidak memiliki keraguan terhadap rekannya. Tapi, mau bagaimana lagi jika Dexter mengucapkan itu bisa-bisa wanita itu mogok bicara kepadanya. "kau tidak berpikir untuk mengungkapkan hubungan kita kepada mereka, bukan? " Rane bertanya curiga. Rane belum bercerita kepada rekan satu groupnya tentang ia yang telah menikah, lebihnya dengan seorang Dexter Jngkook. Ia percaya kepada teman - temannya itu, tetapi hatinya terasa berat jika ia mengungkapkan fakta itu. Jeonnel menggelengkan kepalanya membantah. "tidak." bantahnya. Rane tersenyum lalu mempererat pelukan itu. "ayo tidur." ajaknya. Pasangan suami dan istri itu pun menyamankan satu sama lain dan memilih untuk pergi tidur. Lebih baik mereka segera tidur agar bisa segera memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada hari esok untuk menghabiskan waktu yang berkualitas untuk mereka berdua.     To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN