“Kamu berhasil mendapatkannya, Gendis,” Bagas terengah-engah. “Apa yang kamu lihat tadi?” “Arimbi Maduasri,” bisik Gendis, matanya terpaku pada abu gulungan di tangannya. “Nenekku adalah keturunan dari Juru Rias Pamungkas dan kuncinya adalah riasan, Mas Bagas. Riasan yang mampu memutus kasta.” Bagas menatap Gendis, antara kagum dan takut. “Gendis, Ndalem Suryawinata tahu kamu ada di sini. Kita harus lari. Gusti Endah pasti akan segera datang.” “Tidak!” Gendis menggeleng, matanya kini memancarkan tekad yang dingin. “Kita tidak akan lari, Mas. Aku nggak akan pergi sebelum merias Mas Bagas di hari pernikahan nanti. Aku harus melakukannya, karena hanya dengan Rias Pamungkas, Mas Bagas bisa bebas.” “Tapi Ndalem Suryawinata akan membunuhmu!” ujar Bagas resah. “Maka biarkan aku yang merias t

