Perpustakaan itu terasa dingin dan bau debu bercampur aroma Kawistara yang samar. Jantung Gendis masih berdetak kencang, bukan karena ketakutan pada Gusti Endah, tetapi karena ancaman Lintang yang nyata, dan gulungan yang harus dia temukan. Gendis bergegas ke sudut di mana Bagas menendang gulungan itu tadi, tapi gulungan itu sudah tidak ada. “Mungkin Mas Bagas menyembunyikan gulungan itu,” batin Gendis sambil menyapu tatapannya ke seluruh ruang perpustakaan. Gendis menghela napas lega. Setidaknya, Bagas masih melindunginya, meskipun dia belum sepenuhnya mempercayai laki-lak itu. Gadis itu mulai merapikan tumpukan buku tua dan perkamen yang berserakan. Dia harus terlihat sibuk, berjaga-jaga jika Karto kembali mengawasinya. Saat tangannya menyentuh rak buku tempat Bagas menyembunyikan P

