“Jangan sentuh itu, Karto,” ujar Bagas, suaranya terdengar dingin dan tegas, suara seorang bangsawan yang siap mengambil keputusan fatal. “Ini bukan urusanmu.” Karto membeku. “Maaf, Gusti Bagas, tetapi Gusti Putri Endah memerintahkan saya untuk mengawasi Juru Rias ini.” “Aku bilang, jangan sentuh!” Bagas membentak sambil menendang gulungan itu agar menjauh dari kaki Karto. Gendis menatap ke arah Bagas, jantungnya berdebar kencang. Bagas masih melindunginya. Karto pun terkejut, tetapi segera menguasai diri. “Baik, Gusti Bagas, tapi Anda dan Juru Rias harus segera menghadap Gusti Putri. Ada hal yang sangat penting yang harus disampaikan…” “Apa lagi?” tanya Bagas, frustrasi. “Raden Ajeng Lintang Kinanti,” jawab Karto sambil tersenyum sinis. “Dia sudah datang, lebih cepat dari jadwal da

